Kidung Petaka

Kidung Petaka
146. Diam-diam


Setelah meluapkan kekesalannya Lanni pun tersadar karena suaminya hanya diam dan tak merespon ucapannya seperti biasa. Lanni pun memberanikan diri bertanya.


" Kamu kenapa Yah...?" tanya Lanni.


" Gapapa. Maaf Bu, ada dokter mau ngecek Ramzi. Aku tutup dulu ya...," kata Ramon tanpa menunggu jawaban Lanni.


Lanni pun menatap layar ponselnya sambil mengerutkan kening karena bingung. Dan kini ia bertambah bingung pada siapa harus menceritakan mimpinya tadi. Kemudian Lanni mengusap wajahnya sambil berdzikir untuk menenangkan diri.


Sementara itu di Rumah Sakit terlihat Ramon tengah menundukkan wajah sambil menangis. Beruntung saat itu Ramon masih berada di masjid hingga tangisnya tak menarik perhatian orang lain.


Ramon ingat, saat ia selesai menunaikan sholat malam beberapa menit yang lalu, ia mendapat telephon dari nomor asing. Semula Ramon ingin mengabaikan panggilan itu namun karena penasaran Ramon pun menerima panggilan itu.


" Assalamualaikum selamat malam...," sapa sebuah suara dari seberang telephon.


" Wa alaikumsalam, selamat malam...," sahut Ramon.


" Apa betul ini dengan Pak Ramon, Ayah dari Kapten Rex Aldan...?" tanya suara di seberang telephon.


" Betul, maaf ini dengan siapa ya...?" tanya Ramon mulai cemas.


" Siap Pak. Perkenalkan Saya Serda Irfan, dari kesatuan tempat Kapten Rex Aldan bertugas. Kami menghubungi Bapak karena memang nomor ini termasuk dalam nomor darurat yang bisa Kami hubungi jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Kapten Rex Aldan...," sahut Sersan Irfan.


Mendengar ucapan pria di seberang telephon membuat Ramon terkejut. Dengan susah payah ia menelan saliva nya lalu bertanya.


" Memangnya apa yang terjadi sama Anak Saya Pak...?" tanya Ramon dengan suara bergetar.


" Malam tadi sekitar jam tujuh, Kami mendapat kabar dari Kepolisian Cikampek tentang penemuan kartu anggota milik Kapten Rex Aldan di lokasi kecelakaan...," sahut Serda Irfan sedih.


" Lokasi kecelakaan. Maksudnya gimana ya Pak...?" tanya Ramon gusar.


" Begini Pak. Kapten Rex Aldan menjadi salah satu korban ledakan mini bus milik Jagasa Travel di sebuah SPBU. Saat itu mini bus yang sedang mengantri membeli bahan bakar tiba-tiba meledak. Kondisi Kapten Rex Aldan kritis dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Sengaja dibawa ke sana karena lokasi kecelakaan memang dekat dengan Jakarta...," sahut Serda Irfan.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...!" kata Ramon sambil menjerit tertahan.


" Kami berharap keluarga segera menjenguk karena mengingat kondisi Kapten Rex yang..., ehm maaf. Maksud Saya, bisa kah keluarga segera menjenguk Beliau. Mungkin kehadiran keluarga bisa membuat Kapten Rex cepat pulih seperti sedia kala...," kata Serda Irfan dengan suara tercekat.


Bukan tanpa alasan Sersan Dua Irfan mengatakan hal itu. Ia lumayan dekat dengan sang Kapten. Dan ia tak bisa membayangkan sang Kapten yang baik, ramah dan berprestasi itu harus meninggal dunia dalam usia muda.


" Insya Allah Kami akan segera ke sana. Terima kasih Sersan Irfan, Assalamualaikum...," kata Ramon cepat.


" Sama-sama Pak, Wa alaikumsalam..., " sahut Serda Irfan sambil mengusap ujung matanya yang basah.


Dan setelah mendengar kabar duka itu persendian di seluruh tubuh Ramon seperti tanggal satu per satu. Ia merasa tubuhnya mendadak lemah tak berdaya. Saat sang istri menghubunginya pun Ramon tak punya daya untuk merespon karena saat itu ia sedang sibuk menata hati dan pikirannya agar tetap tegar.


Ramon kembali mengusap matanya yang basah lalu dengan tangan gemetar ia menghubungi Gama, menantunya sekaligus sahabat Rex.


" Assalamualaikum Gama...," sapa Ramon dengan suara bergetar.


" Wa alaikumsalam, ada apa Yah. Kok suara Ayah kedengarannya agak beda ya...?" tanya Gama cemas.


" Begini Gama, Ayah telephon Kamu diam-diam. Kalo bisa jangan sampe Lian denger tentang ini. Ayah cuma mau minta tolong sama Kamu supaya Kamu pergi ke Rumah Sakit Polri secepatnya...," kata Ramon.


Mendengar ucapan sang ayah mertua membuat Gama bertambah cemas. Namun ia paham dan berusaha bersikap setenang mungkin agar Lilian yang saat itu terjaga karena suara dering ponselnya tadi tak curiga.


Gama pun keluar dari kamar sambil membawa gelas kosong. Ia mengacungkan gelas kosong itu kearah Lilian dan sang istri mengangguk tanda mengerti jika Gama akan mengambil air minum.


" Ayah baru dapat kabar kalo Rex kecelakaan dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Polri Jakarta...," sahut Ramon.


" Apa...?!" tanya Gama lantang hingga mengejutkan Lilian.


" Sssttt..., pelankan suaramu Nak. Ingat, rahasiakan ini dari Istrimu karena dia lagi hamil muda. Ayah ga mau dia terguncang mendengar berita ini. Saat ini Ayah masih di Rumah Sakit nemenin Om Ramzi yang baru aja selesai operasi. Makanya Ayah minta tolong sama Kamu buat mastiin kondisi Rex di sana...," kata Ramon gusar.


" Iya, maaf Yah. Kalo gitu Aku bakal ke Rumah Sakit sekarang. Aku harap kondisi Rex baik-baik aja Yah...," kata Gama sambil mengusap tengkuknya.


" Aamiin. Kabari Ayah kalo Kamu sampe di sana ya Nak...," pinta Ramon.


" Insya Allah. Sekarang Aku tutup dulu ya Yah. Assalamualaikum..., " kata Gama mengakhiri percakapan mereka.


" Wa alaikumsalam...," sahut Ramon sambil menatap layar ponselnya.


Ramon mengusap wajahnya sekali lagi sambil tersenyum tipis karena merasa bebannya sedikit berkurang setelah menghubungi Gama. Setelahnya Ramon kembali berdzikir sambil menunggu waktu Subuh tiba.


\=\=\=\=\=


Gama nampak berdiri mematung di depan meja makan dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Gama tak ingin menangis, tapi entah mengapa air mata itu meluncur begitu saja di wajahnya. Gama bergegas menghapus air matanya saat mendengar Lilian memanggil namanya dari ambang pintu kamar mereka.


" Sayang. Kok lama banget ngambil airnya...?" tanya Lilian sambil mengucek matanya.


" I... iya. Ini udahan kok...," sahut Gama gugup sambil berusaha tersenyum.


" Kamu nangis ya ?. Kok wajah Kamu basah...?" tanya Lilian sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah sang suami.


" Aku gapapa kok Sayang. Aku buru-buru waktu nuang air tadi, jadi airnya muncrat kemana-mana...," sahut Gama berbohong.


" Masa sih ?. Terus siapa yang nelephon tadi ?. Ga mungkin pelanggan bengkel kan, ini masih pagi banget lho Sayang...," kata Lilian.


" Emang pelanggan bengkel, tapi Aku udah suruh dia langsung ke bengkel aja jam tujuh nanti. Biasanya kan Ipung udah datang jam segitu...," sahut Gama cepat.


Lilian mengangguk lalu kembali berbaring di atas tempat tidur dibantu Gama.


" Aku keluar sebentar ya Sayang...," kata Gama tiba-tiba.


" Sekarang...?" tanya Lilian.


" Iya...," sahut Gama cepat sambil mengambil jaket dari balik pintu.


" Kata Kamu udah nyuruh pelanggan bengkel ke bengkel jam tujuh nanti. Kok malah pergi sekarang. Kamu ga lagi ngumpetin sesuatu kan Sayang...?" tanya Lilian sambil menatap Gama lekat.


Gama menghela nafas panjang lalu tersenyum. Kemudian Gama mengecup kening Lilian dengan mesra.


" Aku emang ga pernah bisa bohong sama Kamu. Ok, Aku ngaku deh. Aku mau ke Rumah Sakit jenguk saudaraku. Dia kecelakaan dan sekarang dirawat di Rumah Sakit Polri. Ayahnya minta tolong sama Aku buat ngecek kondisinya karena masih ada urusan di luar kota...," kata Gama sambil menggenggam jemari Lilian erat.


" Subhanallah, kasian banget sih. Ya udah, Kamu cepetan ke sana gih. Tapi ingat, ga boleh ngebut ya...," pinta Lilian sambil mengusap lengan Gama.


" Ok Sayang. Makasih ya...," sahut Gama sambil mengecup bibir Lilian dengan lembut.


Lilian tersenyum lalu mengekori Gama keluar kamar untuk menutup pintu rumah.


\=\=\=\=\=