
Rex menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah pohon mangga. Ia mengamati daun pohon mangga yang bergerak tak wajar itu.
Saat itu angin memang berhembus lumayan kencang hingga membuat semua benda yang ringan bergerak, termasuk dedaunan di pohon. Namun gerakan daun di pohon mangga terlihat lebih energik dibanding pohon yang lain dan itu menarik perhatian Rex.
Rex menghela nafas panjang saat melihat sosok wanita bergaun putih dan berambut panjang tengah duduk santai di atas pohon mangga. Meski pun sosoknya tersembunyi di balik dedaunan yang lebat namun Rex bisa melihatnya dengan jelas.
" Ternyata Tante Kun...," gumam Rex sambil menggelengkan kepala.
Seolah sadar jika sedang diamati, kuntilanak di pohon mangga itu pun nampak makin berulah. Ia mengayun kedua kakinya dengan cepat sambil tertawa renyah hingga membuat Rex tersenyum. Timbul niat iseng di hati Rex, ia pun menyapa kuntilanak yang memang dikenal suka dengan pria itu.
" Wah seru banget mainnya. Hati-hati jatuh yaa...," kata Rex sambil tertawa.
Mendengar sapaan Rex membuat kuntilanak itu senang. Ia pun menggoyangkan pohon ke kanan dan ke kiri hingga membuat Rex khawatir.
" Hei ga usah kaya gitu !. Nanti kalo pohonnya patah dimarahin Pak Ustadz lho...!" kata Rex mengingatkan.
Sontak pohon itu berhenti bergerak. Kemudian kuntilanak di atas pohon mangga itu pun melayang turun dan berdiri di bawah pohon mangga. Kedua matanya menatap Rex dari balik rambut yang panjang menjuntai menutupi wajahnya seolah sedang membaca karakter Rex.
Rex pun tersenyum ramah lalu memperkenalkan diri.
" Namaku Rex. Aku datang ke sini bersama temanku namanya Elvira. Kami tamu di sini. Dan keliatannya temanku bakal tinggal lebih lama di sini. Jadi tolong jangan ganggu dia ya...," pinta Rex.
Bukannya menjawab kuntilanak itu malah tertawa lalu melayang pergi dan hinggap dari pohon ke pohon.
" Ada apa Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar dari ambang pintu.
" Gapapa Ustadz. Saya lagi ngobrol aja sama Tante Kun yang ada di pohon mangga itu...," sahut Rex santai.
" Oh ya. Dia memang biasa menampakkan diri sama orang asing atau orang yang baru pertama kali datang ke sini. Apalagi Mas Rex kan ganteng. Udah pasti dia langsung heboh...," kata ustadz Akbar sambil tertawa kecil.
" Saya cuma minta sama dia supaya ga ganggu Bu Elvira selama tinggal di sini nanti Ustadz. Eh, bukannya jawab dia malah melayang ke sana...," kata Rex sambil menggaruk kepala.
" Itu artinya dia ga keberatan sama permintaan Mas Rex...," sahut ustadz Akbar sambil menepuk punggung Rex dengan lembut.
" Oh gitu...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Iya. Ayo masuk Mas, Pak Usup udah siapin makan malam buat Kita...," kata ustadz Akbar.
" Siap Ustadz...," sahut Rex lalu mengikuti ustadz Akbar yang melangkah menuju ruang makan.
Tiba di ruang makan tampak Elvira yang sedang menyantap makanan. Ia terlihat sangat lahap seolah lama tak berjumpa makanan enak.
" Maaf Aku duluan Pakde...," kata Elvira dengan mulut penuh.
" Gapapa Nak. Pakde tau Kamu pasti kesal karena tiga hari harus makan makanan Rumah Sakit yang terkenal hambar itu...," sahut ustadz Akbar.
" Iya Pakde...," kata Elvira malu-malu.
" Santai aja, makan yang banyak biar cepat pulih. Ayo, silakan Mas Rex...," kata ustadz Akbar saat Rex duduk di sampingnya.
Rex mengangguk lalu mulai mengambil nasi dan lauk setelah sebelumnya meneguk air putih.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Elvira pun masuk ke kamar milik kakak sepupunya untuk istirahat. Ustadz Akbar dan Rex masih melanjutkan makan malam mereka sambil berbincang banyak hal.
" Lho, Saya justru nunggu aba-aba dari Ustadz...," sahut Rex bingung.
" Jujur Saya keabisan ide Mas Rex. Padahal biasanya Saya punya banyak ide di kepala Saya saat membantu orang lain. Tapi pas ngalamin sendiri kok malah jadi blank ya...," kata ustadz Rex sambil tersenyum kecut.
Rex pun mengangguk. Ia maklum bagaimana perasaan ustadz Akbar saat itu.
" Gapapa Ustadz. Keliatannya Kita memang belum bisa ngambil tindakan apa pun karena Bu Elvira juga ga mengeluh apa pun Ustadz. Mungkin belum, jadi Kita harus tetep waspada...," kata Rex cepat.
" Oh gitu. Saya sih seneng karena itu artinya Kita bisa bernafas sebentar ya Mas. Bukannya apa-apa Mas. Saya lumayan capek lho karena beberapa hari ini mengawal Elvira...," kata ustadz Akbar sambil menggeliatkan tubuhnya.
" Ustadz memang perlu istirahat. Jadi sebaiknya Saya pulang karena Saya juga mau istirahat..., " sahut Rex sambil bangkit dari duduknya.
" Eh, Saya ga bermaksud ngusir lho Mas. Saya cuma bilang kalo beberapa hari ini Saya lumayan capek menjaga Elvira di Rumah Sakit, apalagi Saya juga ga bisa tidur nyenyak di sana...!" kata ustadz Akbar tak enak hati.
" Saya juga ga mearasa diusir kok Ustadz. Ini emang udah waktunya Saya pulang. Jadi Saya pamit ya...," sahut Rex cepat.
" Tapi...," ucapan ustadz Akbar terputus karena Rex memotong cepat.
" Istirahat Ustadz. Kalo ada apa-apa telephon aja. Insya Allah kalo ga ada halangan Saya bakal datang...," kata Rex.
" Iya deh, makasih Mas Rex...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Sama-sama. Sekarang Saya pulang ya, Assalamualaikum Ustadz...," pamit Rex sambil mencium punggung tangan sang ustadz.
" Wa alaikumsalam, hati-hati ya Mas...," kata ustadz Akbar yang diangguki Rex.
\=\=\=\=\=
Rex melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Saat itu ia sedang dalam perjalanan menuju ke rumah usai berkunjung ke rumah ustadz Akbar.
Tiba-tiba Rex teringat senandung yang terdengar bersamaan dengan angin yang berhembus di rumah ustadz Akbar tadi.
" Ada apa ya, kok senandung itu terdengar lagi. Pasti bakal ada sesuatu yang buruk deh. Atau jangan-jangan gangguan yang dialami Bu Elvira emang belum tuntas ya...?" tanya Rex dalam hati.
Tak lama kemudian Rex tiba di rumah. Setalah memarkirkan motor di halaman rumah, Rex pun bergegas menutup pintu pagar.
Saat hendak menutup pintu pagar Rex melihat sekelebat bayangan melintas cepat di jalan tepat di depan rumah. Rex pun mengurungkan niatnya menutup pintu pagar lalu keluar untuk mengejar bayangan itu.
Rex membelalakkan mata saat melihat bayangan itu berhenti di tengah jalan. Ternyata bayangan itu tak sendiri. Ada bayangan lain yang datang bersamanya. Bayangan lain itu berjumlah banyak dan saat digabungkan menjadi satu bisa membentuk bola hitam sebesar rumah yang bisa menghancurkan apa pun yang ada di depannya.
" Ya Allah, apalagi ini...," gumam Rex.
Seperti mendengar apa yang Rex ucapkan, bayangan itu menoleh kearah Rex lalu bergerak liar seolah marah. Rex hanya mematung sambil melantunkan dzikir yang panjang di dalam hatinya.
Di saat bersamaan sebuah mobil tampak datang dari arah berlawanan. Rex terkejut karena mobil itu menerobos gumpalan bayangan itu hingga terpecah menjadi beberapa bagian. Jerit kesakitan dan makian marah pun terdengar di telinga Rex dan itu membuatnya gusar.
Rex makin terkejut saat menyadari mobil yang menerobos bayangan hitam itu adalah mobil Gama. Dari balik pintu mobil yang terbuka tampak Lilian keluar sambil tersenyum manis. Rex pun mengusap wajahnya dengan kasar karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada sang kakak yang sedang hamil itu.
bersambung