
Karena baru kali pertama mendengar suara wanita bersenandung di tengah malam, Shezi pun nampak merapat kearah Rex karena takut.
" Kamu denger suara itu Kapten...?" tanya Shezi.
" Iya...," sahut Rex santai.
" Kamu ga takut...?" tanya Shezi sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
" Ga tuh, Aku kan udah biasa denger suara kaya gini. Kalo menurut Kamu ini suara apa Zi...?" tanya Rex sambil mengamati wajah Shezi lekat.
" Suara hantu lah, apalagi emangnya. Aneh banget sih, katanya hotel bintang lima tapi kok ada hantunya...," kata Shezi gusar.
Ucapan Shezi membuat Rex tertawa namun sayangnya membuat sang istri terlihat tak nyaman.
" Sssttt..., jangan ketawa Kapten...!" kata Shezi sambil menutup mulut Rex dengan kedua telapak tangannya.
Aksi Shezi membuat tawa Rex terhenti seketika. Namun tak hanya itu. Posisi Shezi yang sangat dekat dengan sebagian pakaian yang tersingkap membuat Rex menelan saliva nya dengan sulit.
Sadar kemana arah tatapan Rex tertuju, Shezi pun segera melepaskan Rex lalu merapikan pakaiannya yang tersingkap itu.
" Jaga pandangan Kamu Kapten...!" kata Shezi kesal.
" Lho kenapa harus jaga pandangan. Kamu kan Istriku Zi...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Iya iya. Udah jangan bahas itu dulu. Ayo Kita cari sumber suara itu Kapten. Kalo ga ketemu juga, Kita pindah ke kamar lain ya. Aku ga mau nginep di kamar yang berhantu...," kata Shezi sambil berusaha turun dari tempat tidur.
" Ga perlu dicari Zi...," kata Rex sambil menarik tangan Shezi lalu membawanya kembali berbaring di sampingnya.
" Kenapa ga boleh dicari...?" tanya Shezi tak mengerti.
" Itu suara senandung yang biasanya diperdengarkan Nyai Hadini untuk ngasih tau Aku kalo bakal terjadi sesuatu yang buruk di sekitar Aku...," sahut Rex.
" Kalo gitu, apa bakal terjadi sesuatu yang buruk di sekitar Kita Kapten, kan Aku juga denger suara itu...?" tanya Shezi cemas.
" Insya Allah ga bakal terjadi apa-apa kok Sayang. Kita balik tidur aja yuk...," ajak Rex sambil kembali memejamkan mata.
" Aku ga mau...," sahut Shezi cepat hingga membuat Rex kembali membuka matanya.
" Kenapa...?" tanya Rex.
" Aku ga bisa tidur kalo masalah ini belum selesai...," sahut Shezi gusar.
" Masalah apa sih Zi. Kita kan belum 24 jam menikah, jadi mana mungkin ada masalah...?" tanya Rex tak mengerti.
" Ada Kapten...," sahut Shezi cepat.
" Iya ada. Dan satu-satunya masalah sekarang adalah Kamu yang ga ngijinin Aku mengambil hakku. Tapi Aku ga keberatan dan masih bisa bersabar kok. Jadi Aku rasa masalah Kita clear dan Kita bisa balik tidur lagi Zi...," kata Rex dengan sabar.
Shezi nampak kesal mendengar ucapan suaminya itu. Namun sikap Shezi berubah saat ia kembali mendengar suara senandung wanita di kamar itu. Bahkan kini terdengar lebih dekat seolah berada tepat di telinganya.
Shezi yang semula menolak dipeluk pun langsung menghambur memeluk Rex dan menenggelamkan wajahnya di pelukan suaminya. Rex pun menerima pelukan Shezi dengan senang hati sambil tersenyum puas. Rex juga mengacungkan jempolnya kearah Nyai Hadini yang berdiri di sudut kamar.
" Makasih Nyai...," bisik Rex hingga nyaris tak terdengar.
" Cukup kali ini Kamu memintaku menakuti Istrimu Rex. Ke depannya Kamu harus berusaha sendiri menaklukkan dia...," sahut Nyai Hadini sambil menggelengkan kepala.
" Iya, Aku tau Nyai. Tapi senandungmu tadi berbeda dengan senandung yang biasa Kamu lantunkan saat memberi isyarat bahaya padaku. Apa Aku betul Nyai...?" tanya Rex.
" Melakukan sesuatu...," gumam Rex sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Rex membuat Nyai Hadini ikut tersenyum lalu menghilang begitu saja.
Tiba-tiba Shezi mengurai pelukannya sambil menatap Rex kesal. Ia juga meraih bantal lalu memukul suaminya dengan bantal itu.
" Jadi Kamu sengaja nakutin Aku dan manfaatin rasa takut Aku untuk memenuhi ambisimu Kapten...!" kata Shezi sambil terus menyerang Rex dengan bantal meski pun Rex juga terus menghindar ke kanan dan ke kiri.
" Eh, apa-apaan ini. Aku ga ada niat nakutin Kamu dengan sengaja lho Zi...," sahut Rex sambil turun dari tempat tidur untuk menghindari pukulan Shezi.
" Kamu pikir Aku tuli ya sampe ga denger apa yang Kamu dan Nyai omongin barusan...!" kata Shezi sambil membulatkan matanya.
Rex terkejut karena tak menyangka jika Shezi juga mendengar apa yang ia bicarakan dengan Nyai Hadini.
" Jadi Kamu juga denger Zi...?!" tanya Rex.
" Iya...!" sahut Shezi lantang.
" Kalo Kamu emang denger apa yang Aku dan Nyai omongin, coba sebutin apa yang Kami bahas tadi...!" tantang Rex.
" Kamu bilang kalo senandung yang Nyai bawain itu beda dari biasanya. Terus pas Nyai bilang kalo lagu itu emang dibawain untuk menggugah orang lain melakukan sesuatu, Kamu langsung punya ide itu kan di kepalamu...?!" kata Shezi sambil berkacak pinggang.
" Ide apa sih maksud Kamu...?" tanya Rex pura-pura tak tahu.
" Ya ide malam pertama lah. Apalagi emangnya...," sahut Shezi sambil melengos.
Rex terdiam takjub dengan kemampuan Shezi mendengar pembicaraannya dengan Nyai Hadini. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.
" Kalo Kamu udah denger semuanya apa itu artinya Kamu ijinin Aku ngambil hakku sekarang Zi...?" tanya Rex sambil melangkah kearah Shezi.
Shezi nampak panik karena tak menyangka Rex justru berbalik menyerangnya dengan pertanyaan yang masih ingin ia hindari. Saat Rex berjalan mendekatinya, Shezi pun mundur perlahan hingga langkahnya terhenti karena kakinya membentur tempat tidur.
Shezi jatuh terduduk sambil memejamkan mata karena tak kuasa membayangkan apa yang akan Rex lakukan.
Namun ternyata apa yang Shezi khawatirkan tak terjadi. Rex memang mendekatinya untuk mencium keningnya. Setelahnya Rex ambruk di samping Shezi dalam posisi telungkup.
Shezi menoleh melihat Rex terbaring menelungkup. Sesaat kemudian terdengar dengkuran halus Rex pertanda pria itu telah tertidur lelap.
Shezi nampak tersenyum melihat bagaimana Rex bisa tidur dengan cepat padahal sebelumnya mereka sempat berdebat.
" Maafin Aku ya Kapten. Aku bukan ga mau memberikan hakmu, tapi saat ini Aku masih malu. Semoga setelah beberapa hari Aku bisa terbiasa dengan status baru Kita dan bisa segera memberikan apa yang jadi hakmu itu...," kata Shezi lirih sambil mengecup pipi Rex dengan lembut.
Setelah mengatakan itu Shezi pun berbaring di samping Rex. Sambil berbaring Shezi mengamati dekorasi kamar dengan nuansa hijau dan gold itu dengan tatapan kagum. Rupanya karena tegang Shezi tak sempat mengamati dekorasi kamar pengantin mereka sejak pertama masuk ke sana tadi.
Shezi nampak tersenyum saat melihat namanya dan Rex terpampang manis di dinding kamar. Lalu tak lama kemudian ia pun terlelap.
Menyadari istrinya terlelap Rex pun membuka mata lalu mengganti posisi tidurnya. Rupanya Rex sengaja pura-pura tidur karena tak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Shezi tadi.
" Aku pasti sabar nunggu saat itu Sayang...," bisik Rex sambil balas mengecup pipi Shezi dengan lembut.
Kemudian Rex menarik selimut untuk menutupi tubuh sang istri. Rupanya Rex memilih berbaring tanpa selimut karena khawatir khilaf jika harus berbaring dalam satu selimut dengan Shezi.
\=\=\=\=\=