
Ustadz Akbar segera menyusul Elvira ke Bandung. Ia mendapatkan informasi tentang keberadaan Elvira dari sekolah tempat Elvira mengajar.
Ustadz Akbar tiba di hotel yang dimana Elvira menginap saat jam sembilan pagi, jauh lebih awal dari kedatangan Rex.
Saat ustadz Akbar bertanya tentang Elvira pada petugas receptionist, mereka mengatakan jika Elvira dan rekan-rekannya sedang mengawal para siswa ke Lembang.
" Jam berapa mereka kembali...?" tanya ustadz Akbar.
" Kami ga tau Pak. Tapi biasanya orang-orang yang berkunjung ke sana kembali sebelum Maghrib..., " sahut petugas receptionist.
" Begitu ya. Kalo gitu tolong berikan Saya kamar untuk istirahat..., " pinta ustadz Akbar yang diangguki sang petugas hotel.
Setelah meletakkan tasnya di kamar, ustadz Akbar pun menuju ke taman. Ia mencoba menghubungi Rex. Berkali-kali mencoba namun Rex tak merespon panggilan sang ustadz.
" Kemana dia. Jangan-jangan berhalangan datang karena ada tugas baru untuknya...," gumam ustadz Akbar.
Dugaan ustadz Akbar ternyata benar. Rex memang mendapat perintah baru dan harus menyelesaikan tugasnya saat sore nanti. Karenanya keberangkatan Rex ke Bandung pun tertunda.
Rex meraih ponselnya dan segera menghubungi Ustadz Akbar saat istirahat makan siang. Ia menceritakan semuanya dan ustadz Akbar pun mengerti.
" Gapapa Mas Rex. Saya mengerti kok. Selesaikan dulu tugasmu baru menyusul ke Bandung...," kata ustadz Akbar.
" Baik Ustadz, makasih...," sahut Rex di akhir kalimatnya.
Setelah menunaikan sholat Dzuhur, ustadz Akbar pun memutuskan istirahat di kamar.
\=\=\=\=\=
Setelah menunaikan sholat Maghrib ustadz Akbar bergegas ke loby hotel. Di sana ia melihat rombongan siswa dari SMP tempat Elvira mengajar baru saja turun dari bus.
Ustadz Akbar tersenyum saat melihat Elvira ada diantara mereka. Ia mendekati Elvira dan menyapanya.
" Assalamualaikum, selamat malam Bu Elvira...," sapa ustadz Akbar dengan ramah hingga membuat kedua mata Elvira berbinar.
" Wa alaikumsalam Pakde...," sahut Elvira antusias.
" Apa Kamu sibuk...?" tanya ustadz Akbar sambil mengamati para siswa.
" Setelah ini istirahat, jadi Aku bebas dari tugas untuk sementara. Kapan Pakde sampe sini...?" tanya Elvira.
" Jam sembilan tadi...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Kok ga nelephon Aku ?. Maaf ya, Pakde pasti bete ya nungguin Aku seharian...," kata Elvira tak enak hati.
" Ga masalah. Terus kamarmu dimana...?" tanya ustadz Akbar.
" Lebih baik Pakde ikut aja ke kamarku sekalian kenalan sama temanku...," ajak Elvira sambil menggamit lengan sang ustadz.
Ustadz Akbar pun tertawa karena tak kuasa menolak ajakan Elvira.
Saat tiba di depan kamar Elvira, ustadz Akbar tahu jika telah terjadi sesuatu di sana sebelumnya. Mengerti arti tatapan ustadz Akbar, Elvira pun mengangguk.
" Pakde betul. Dia memang datang ke sini. Tapi Pakde ga usah khawatir. Sebentar lagi semuanya akan berakhir..., " kata Elvira sambil tersenyum.
" Berakhir gimana maksud Kamu Vira...?" tanya ustadz Akbar cemas.
" Dia dan Aku udah buat janji untuk mengakhiri semuanya setelah Aku selesai dengan tugas ku mengawal anak-anak muridku Pakde...," sahut Elvira santai.
" Apa itu artinya Kamu dan dia telah sepakat berdamai...?" tanya ustadz Akbar.
" Iya...," sahut Elvira sambil membuka pintu kamar.
" Tapi itu mustahil Nak. Melihat caranya mengejar Kamu Pakde ga percaya kalo dia bisa dengan mudah menuruti keinginanmu...," kata ustadz Akbar.
" Tapi kenyataannya begitu Pakde, gimana dong...?" tanya Elvira sambil bersedekap.
" Pakde ga bisa masuk ke dalam karena ga ingin ada fitnah. Selamat malam Nak, tidur nyenyak ya...," kata ustadz Akbar sambil menepuk pipi Elvira dengan lembut.
" Ok Pakde...," sahut Elvira sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Rex datang ke hotel saat dini hari. Ustadz Akbar sengaja menunggunya di loby hotel karena tak sabar ingin menceritakan semuanya.
" Berdamai tanpa syarat apa pun ?. Itu mustahil Ustadz...," kata Rex.
" Saya juga berpikir seperti itu. Tapi mau gimana lagi Mas Rex. Apalagi Elvira Keliatannya yakin banget sama ucapannya itu...," sahut ustadz Akbar.
Rex termenung sejenak kemudian melangkah mengikuti ustadz Akbar yang masuk ke dalam lift.
" Kita tinggal satu kamar aja gapapa kan Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar sambil membuka pintu kamarnya.
" Alhamdulillah, gapapa Ustadz. Saya ga keberatan sama sekali karena Saya kan biasa berbagi kamar dengan teman-teman di kesatuan...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Syukur lah, Saya lega dengernya. Sekarang Mas Rex silakan bersih-bersih dulu. Saya telephon layanan kamar supaya mengantar makan malam buat Mas Rex...," kata ustadz Akbar.
" Ok, makasih Ustadz...," sahut Rex sambil bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri dan ganti pakaian, Rex keluar untuk menemui ustadz Akbar. Namun ia melihat ustadz Akbar yang terlelap di atas tempat tidur. Tak tega membangunkannya, Rex pun memilih duduk di sofa sambil meluruskan kakinya.
Rex menoleh ke samping dan melihat satu porsi sate beserta lontong tersaji di atas meja. Rex yakin jika itu disediakan untuknya. Dengan lahap Rex menyantap sate dan lontong itu sambil menatap ke sekeliling kamar.
Setelah selesai Rex pun melangkah kearah jendela untuk melihat situasi di luar kamar. Di keremangan malam Rex bisa menikmati pemandangan kota yang cantik itu. Setelah puas mengagumi keindahan pemandangan di luar kamar, Rex pun membalikkan tubuhnya untuk kembali ke sofa karena ingin istirahat.
Namun Rex mengurungkan niatnya karena melihat bayangan Nyai Hadini berkelebat cepat di balik pepohonan. Jantung Rex berdegup cepat dan itu membuatnya tak nyaman.
" Pertanda apa ini. Kenapa Nyai Hadini memperlihatkan diri di sana...," gumam Rex sambil mengawasi kelebatan bayangan sang Nyai dengan lekat.
Setelah menunggu beberapa saat dan yakin tak akan terjadi hal buruk, Rex pun melanjutkan langkahnya menuju sofa.
Kemudian Rex membaringkan tubuhnya dan perlahan mulai terlelap. Belum lama Rex memejamkan matanya, sayup-sayup Rex mendengar suara senandung sang Nyai. Terdengar lirih dan nyaris tak terdengar. Namun buat Rex senandung itu terdengar jelas.
Dengan enggan Rex pun membuka matanya lalu duduk di sofa sambil menunggu sesuatu. Rex nampak tak kuasa menahan kantuk namun ia tetap berusaha untuk tetap terjaga.
" Udah lama banget ga denger suara senandung kaya gini. Mudah-mudahan bukan pertanda yang buruk...," batin Rex penuh harap.
Tiba-tiba Rex mendengar suara wanita yang seolah sedang berbisik di telinganya.
" Hati-hati Rex. Ada musuh dalam selimut...," kata suara wanita itu mengingatkan.
" Musuh dalam selimut apa maksud Nyai...?" tanya Rex.
" Pikir lah sendiri...," sahut sang Nyai.
" Kalo Kamu peduli kenapa bukan Kamu aja yang membantuku menyelesaikan semuanya Nyai. Kenapa harus repot-repot memberiku tanda lalu menyuruhku melakukan sesuatu...?" tanya Rex dengan suara lirih.
" Sekarang bukan giliranku lagi Rex. Masaku telah lama berakhir dan sekarang Kamu lah yang harus maju. Aku hanya bisa memberitahu apa yang akan terjadi, tapi bagaimana Kamu mengatasinya silakan pikirkan sendiri...," sahut Nyai Hadini lirih.
Rex hanya tersenyum mendengar ucapan sang Nyai.
" Sejak awal Kamu selalu membuatku menebak apa yang akan terjadi Nyai. Kali ini bisa kah Kamu sedikit berbaik hati dan tak memberiku teka-teki yang hanya membuatku pusing...," kata Rex penuh harap.
" Baik lah. Kali ini saja ya...," kata sang Nyai yang diangguki Rex.
Kemudian Nyai memperlihatkan sesosok pria. Tak jelas bagaimana raut wajahnya, namun Rex merasa terbantu. Setelahnya ia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tulus.
\=\=\=\=\=