
Rex sedang berlari mengelilingi lapangan bersama rekan-rekannya. Seperti itu lah rutinitas yang dilakukan para anggota TNI itu setiap pagi sebelum memulai aktifitas di divisi masing-masing.
Saat itu Rex sedang berlari di belakang dua rekannya sekaligus anak buahnya yaitu sersan Andi dan Satria. Secara tak sengaja Rex mendengar keduanya bicara tentang penampakan yang dilihat rekan mereka.
" Serius Lo...?!" tanya Andi.
" Iya, ngapain Gue bohong...," sahut Satria cepat.
" Dimana ngeliatnya...? " tanya Andi.
" Katanya pas balik ke mess ga sengaja dia ngeliat cowok bertelan**ng dada dan pake ikat kepala lagi berdiri di bawah pohon. Tio kirain itu warga sekitar yang lagi bantuin beresin taman. Pas dia noleh lagi eh, orang itu udah ga ada...," kata Satria.
" Pergi kali kemana kek gitu atau sembunyi di balik pohon...," tebak Andi asal.
" Gue juga bilang gitu, tapi Tio keukeuh bilang kalo cowok itu ilang. Yang bikin ga enak karena malamnya Tio demam tinggi persis kaya anak kecil yang sawan tiap abis ngeliat hantu. Dia bilang yang dia liat di bawah pohon itu emang hantu. Dia juga bilang sejak kecil dia bakal demam tinggi kalo liat penampakan. Ngerti kan maksud Gue...?" tanya Satria.
" Iya iya. Terus sekarang gimana kondisinya...?" tanya Andi.
" Masih demam dan meracau terus...," sahut Satria.
" Bawa ke klinik dong...," kata Andi.
" Udah. Makanya Gue bisa jalan karena Tio udah Gue titipin di klinik tadi...," sahut Satria sambil menghentikan larinya lalu melakukan lompatan kecil.
" Kalo gitu ntar jam istirahat Kita jenguk bareng-bareng yuk...," kata Andi.
" Ok. Ajak yang lain juga ya...," sahut Satria.
" Siap...," sahut Andi sambil mengacungkan jempolnya.
" Saya juga ikut, boleh kan...?" tanya Rex tiba-tiba hingga mengejutkan Andi dan Satria.
" Siap, boleh Kapten...!" sahut Andi dan Satria bersamaan sambil memasang sikap sempurna hingga membuat Rex tersenyum.
" Kalo gitu ingetin Saya nanti ya...," kata Rex sambil bergegas melangkah menuju ke ruangannya.
" Siap Kapten...!" sahut Andi dan Satria sambil tersenyum.
" Itu yang Gue suka dari Kapten Rex Aldan. Orangnya care dan sama bawahan tuh ga jaim...," puji Satria sambil menatap punggung Kapten Rex yang menjauh.
" Betul...," sahut Andi sambil tersenyum bangga.
Kemudian Andi dan Satria pun berpisah untuk kembali ke divisi masing-masing di ruangan yang berbeda.
\=\=\=\=\=
Siang itu Rex dan rekan-rekannya datang menjenguk Tio di klinik yang ada di lingkungan kesatuan mereka.
Saat dijenguk kondisi Tio sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat, kedua kantung matanya menghitam, keringat membasahi tubuh dan wajahnya padahal saat itu Tio demam tinggi. Selain itu Tio terus meracau hingga membuat dokter dan perawat di klinik bingung.
" Jadi gimana kondisinya dok...?" tanya Rex mewakili keingin tahuan rekan-rekannya.
" Kalo boleh jujur sih ga ada perubahan Kapten. Sejak dibawa ke sini tadi pagi hingga saat ini jam setengah satu, kondisinya tetap sama. Bingung dan terus meracau...," sahut dokter Rian.
Rex mengangguk karena memang saat itu Tio terlihat bingung dan takut.
" Apa dokter percaya kalo dia sakit karena diganggu makhluk halus...? " tanya Rex hati-hati.
" Saya percaya Kapten. Saya juga sempet berpikir seperti itu tadi...," sahut dojter Rian cepat.
" Kalo gitu Kita harus bantu dengan cara syar'i. Gimana dok...?" tanya Rex.
" Silakan Kapten, apa pun itu selagi baik dan bermanfaat untuk membantu menyembuhkan pasien Saya pasti dengan senang hati membantu...," sahut dokter Rian.
" Silakan Kapten. Biar Saya minta mereka keluar supaya Kapten bisa lebih leluasa membantu pasien...," kata dokter Rian.
" Jangan !. Justru kehadiran mereka bisa membantu Tio pulih lebih cepat...," sahut Rex.
" Maksudnya gimana Kapten...?" tanya dokter Rian tak mengerti.
" Mereka akan ikut membantu berdzikir dan membaca beberapa surah pendek dalam Al Qur'an untuk mengusir hantu atau makhluk halus yang saat ini bersemayam di tubuh Tio...," sahut Rex mantap hingga membuat dokter Rian mengangguk sambil tersenyum.
" Oh gitu. Saya bakal ikutan nanti, boleh kan...?" tanya dokter Rian dengan mimik wajah kocak.
" Tentu dok, terima kasih...," sahut Rex yang diangguki dokter Rian.
Kemudian Rex keluar untuk berwudhu lalu kembali ke ruangan dan meminta semua rekannya termasuk dokter Rian agar berwudhu. Setelahnya Rex memimpin ritual meruqyah Tio.
Rekan-rekan sekaligus bawahan Rex yang berjumlah sebelas orang ditambah dokter Rian, nampak berdzikir dengan khusu. Dua diantaranya membaca beberapa surah pendek secara bersamaan. Sedangkan Rex menyentuh puncak kepala Tio yang nampak mendelik gelisah dengan telapak tangannya.
Tak lama kemudian makhluk halus yang bersarang dalam tubuh Tio mulai bereaksi. Dia menggeram marah, menjerit dan memukuli dirinya sendiri. Empat orang rekan Tio maju untuk menghalangi niat Tio menyakiti dirinya sendiri.
" Jangan sakiti dia. Katakan apa yang mau Kamu sampaikan. Kamu meminjam raganya jadi Kamu ga boleh menyakitinya. Kalo Kamu tetap melakukan itu, Aku ga akan segan melukaimu...!" ancam Rex dengan suara datar.
Ajaib. Setelah mendengar ancaman Rex, makhluk halus yang mendiami tubuh Tio nampak melunak lalu diam.
" Bagus. Sekarang ceritakan apa yang jadi ganjalan dalam hatimu...," pinta Rex.
Tio nampak terdiam sejenak. Tatapannya jauh ke depan seolah ingin menembus dinding yang tebal itu. Rex membiarkannya sesaat hingga akhirnya makhluk halus dalam tubuh Tio bicara.
" Aku sengaja menunggumu di sini. Ada yang ingin Aku sampaikan padamu. Maaf jika cara ini membuatmu terganggu...," kata makhluk dalam tubuh Tio.
" Aku mengerti...," sahut Rex.
" Aku hanya ingin bicara denganmu, tolong suruh mereka pergi...," pinta makhluk dalam tubuh Tio yang dikenali Rex sebagai Angko, suami Tsania.
Rex melirik kearah rekan-rekannya juga dokter Rian. Mereka paham lalu mengangguk dan meninggalkan Rex bersama Tio.
" Kami akan berjaga di pintu Kapten...," kata Andi sebelum berlalu.
" Ok, makasih Sersan...," sahut Rex sambil tersenyum.
Setelah semua orang keluar dari ruangan itu, makhluj dalam tubuh Tio melanjutkan ucapannya.
" Aku Angko, suami Tsania...," kata makhluk itu.
" Aku tau. Jadi kemana Kau pergi ?. Kenapa tak menjemput Tsania ?. Kamu ga tau kan penderitaan macam apa yang dialami Istrimu itu...?" tanya Rex tak sabar.
" Aku..., Aku tertangkap oleh warga. Mereka mengikatku dan membawaku ke balai desa. Di sana Aku ditanyai banyak hal dan akhirnya Aku dipaksa menikahi Kakak Tsania yang hamil itu. Padahal Aku sudah bersumpah dengan menyebut nama Tuhan bahwa bayi dalam rahimnya bukan anakku tapi mereka ga percaya...," sahut Angko sedih.
" Terus...?" tanya Rex.
" Mereka menggelar pesta pernikahan mewah selama tiga hari tiga malam. Aku ga bisa kemana-mana karena banyak orang yang ditugaskan mengawasi Aku. Walau Aku bingung dan khawatir dengan keadaan Tsania, tapi Aku ga berdaya...," kata Angko.
" Jadi begitu. Di sana Kau bercinta dengan wanita itu, di tempat itu Tsania justru diperk*sa secara bergilir oleh saudara laki-laki ibu tirinya hingga tewas...," kata Rex sambil mencibir.
Ucapan Rex mengejutkan Angko. Ia menatap kesal kearah Rex.
" Aku tak pernah bercinta dengannya walau pun dia selalu berusaha menggodaku !. Dan apa Kau bilang tadi, Tsania diperk*sa oleh mereka...?!" tanya Angko marah.
" Iya...," sahut Rex cepat.
Wajah Angko yang meminjam raga Tio nampak menggelap. Amarah dan kesedihannya memuncak. Ia menjerit sekali lalu jatuh pingsan.
\=\=\=\=\=