
Suara senandung wanita itu perlahan memudar dan hilang di telan angin malam. Rex sedikit kecewa karena tak memperoleh informasi apa pun dari wanita misterius itu.
Kemudian Rex keluar menuju ke jalan di depan rumah untuk menyambut sosok yang ia yakini akan segera melintas itu. Dan Rex tersenyum saat melihat penampakan rombongan pengusung jenasah di kejauhan sedang berjalan cepat kearahnya.
" Kali ini Aku harus tau apa maksud mereka terus menerus menerror warga di sini. Dan sebenarnya apa yang mereka inginkan...," gumam Rex dengan sikap waspada.
Rombongan pengusung jenasah itu makin cepat melangkah. Saking cepatnya langkah mereka seakan melayang di udara dan itu membuat jantung Rex berdetak makin cepat.
Tiba-tiba rombongan pengusung keranda itu berhenti melangkah tepat di hadapan Rex. Walau berhenti cukup jauh darinya, namun Rex merasa makhluk itu mampu membuat suasana yang semula hangat mendadak terasa dingin, sunyi senyap tanpa suara.
Rex menelan saliva nya dengan sulit karena merasa jika makhluk halus di hadapannya bukan makhluk halus biasa yang hanya sekedar melintas. Makhluk halus yang kedua kalinya berpapasan dengannya ini nampak memiliki maksud tersembunyi. Dan itu membuat Rex khawatir sekaligus tak nyaman dengan penampakannya.
" Apa maumu, kenapa terus berkeliaran di sini...?" tanya Rex tanpa basa-basi.
Tak ada sahutan. Rombongan pengusung jenasah itu hanya membisu dengan tatapan terarah ke depan. Rex mengikuti arah pandangan mereka dan terkejut saat melihat sosok mirip pocong tengah berdiri tegak di belakangnya.
" Astaghfirullah aladziim, siapa Kamu...?!" tanya Rex sambil bergeser menjauh.
Makhluk menyerupai pocong itu menggeleng lalu terdengar merintih. Rex menggaruk tengkuknya karena lagi-lagi harus berhadapan dengan sesuatu yang tak jelas asal usulnya.
Di saat Rex tengah gusar, suara lembut seorang wanita mampir ke telinganya hingga membuat Rex mendongakkan kepalanya.
" Tolong bantu dia...," kata suara itu lirih.
" Yang mana yang harus Kubantu...?" tanya Rex sambil menatap ke atas pohon dimana suara wanita itu berasal.
" Sosok yang berdiri di belakangmu...," sahut suara itu.
" Kenapa Aku harus membantunya...?" tanya Rex penasaran.
" Kamu bisa menyelesaikan semuanya karena kondisimu berbeda dengan Kami. Kamu bisa menyebrang dimensi sedang Kami sulit berinteraksi dengan orang lain selain Kamu...," sahut suara wanita itu.
" Nyai Hadini...?" panggil Rex ragu.
" Iya, ini Aku Rex...," sahut suara wanita itu.
" Jika Kamu yang meminta insya Allah akan Aku sanggupi...," kata Rex sambil tersenyum hingga membuat Nyai Hadini ikut tersenyum lalu pergi dan lenyap begitu saja.
Rex pun menoleh ke belakangnya dan mengamati sosok yang mirip pocong itu dengan seksama.
Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat kondisi sosok itu sangat mengenaskan. Ternyata dia bukan dikafani layaknya jenasah yang akan dimakamkan tapi lebih mirip digulung dengan asal ke dalam gulungan kain lebar. Saking lebarnya kain itu bisa menutupi seluruh tubuh dan wajah sosok itu.
" Siapa yang telah membuatmu seperti ini...?" tanya Rex sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh sosok itu.
" Aku tak tau...," sahut sosok itu.
Suara yang halus dan lirih membuat Rex yakin jika sosok yang terbungkus kain lebar itu adalah seorang wanita.
Saat ujung jemari Rex hampir menyentuh soal itu, sebuah angin kencang menerpa hingga membuat daun-daun bertebaran. Angin kencang itu juga berhasil menyibak kain hitam penutup keranda lalu menerbangkannya hingga jatuh ke tengah jalan.
Rex membulatkan matanya karena terkejut melihat sosok tanpa busana terbujur kaku di dalam keranda. Yang membuat miris adalah karena sosok tanpa busana itu juga memiliki kulit yang berlendir dan mengelupas hingga memperlihatkan daging tubuhnya yang berwarna kemerahan itu.
Tiba-tiba Rex merasa mual melihat wujud sosok di dalam keranda itu. Rex pun memalingkan wajahnya untuk melihat reaksi wanita yang berada dalam gulungan kain itu. Sayangnya Rex tak melihat penampakan sosok itu lagi di sana.
" Siapa yang Kau cari...?" tanya sebuah suara parau yang Rex yakini merupakan suara salah satu pengusung keranda itu.
" Jadi urusanku jika menyangkut wanita berselimut kain itu...," sahut salah satu pengusung keranda dengan suara dalam.
Rex menggelengkan kepalanya lalu merangsek maju untuk melihat siapa yang terbaring di dalam keranda itu. Sikap berani Rex membuat para pengusung keranda panik.
" Apa yang mau Kau lakukan...?!" tanya salah seorang pengusung keranda.
" Aku mau tau apa yang Kalian bawa dan kenapa selalu ditutupi kain hitam seperti ini...," sahut Rex cuek sambil meraih kain hitam yang tergeletak di jalan lalu mendekat kearah keranda.
" Jangan mendekat !. Tetap di sana...!" kata para pengusung keranda sambil memasang sikap waspada.
Tapi Rex nampak tak peduli. Ia terus melangkah mendekat kearah keranda sambil membawa kain hitam yang tadi diambilnya.
Saat jarak semakin dekat dengan keranda itu, Rex seperti mendapat penglihatan tentang peristiwa yang melatari semua yang ada di hadapannya itu.
Rex dibawa ke sebuah masa dimana seorang gadis sedang dipasung di sebuah ruangan gelap. Gadis itu menjerit dan memaki karena tak kuasa menahan lapar, dingin dan takut yang membaur menjadi satu.
" Berhenti menjerit Luna...!" maki sebuah suara hingga membuat gadis yang dipanggil Luna itu terkejut lalu menghentikan jeritannya.
" Aku mohon lepaskan Aku. Apa salahku, kenapa Bapak perlakukan Aku seperti ini...?" tanya Luna.
" Kamu bersalah karena lahir dengan membawa takdir buruk. Kelahiranmu membuat semua mimpiku hancur. Harapanku memiliki besan kaya dan terkenal musnah gara-gara Kau. Apa Kau tak tau berapa keuntungan yang bisa Aku peroleh andai bisa menjadikan anak laki-laki mereka sebagai menantuku atau Suamimu...?!" kata suara pria di balik pintu.
" Maafkan Aku Pak. Jika itu yang Bapak mau, Aku bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi bagaimana Aku bisa menikah jika Bapak memasung Aku di sini...?" tanya Luna dengan suara bergetar.
" Itu karena saat hampir membuat laki-laki itu masuk perangkap Kau justru menggagalkannya...!" sahut pria itu kesal.
" Bagaimana Aku menggagalkan rencana Bapak sedang Aku ga tau siapa laki-laki yang Bapak maksud...," kata Luna membela diri.
Pintu terbuka dan masuk lah seorang laki-laki bertubuh kurus. Lalu dengan sigap laki-laki itu mendekati Luna dan melayangkan pukulan pada gadis itu hingga gadis itu menjerit kesakitan.
" Buka matamu dan lihat baik-baik siapa laki-laki yang Kuinginkan untuk jadi menantuku...!" kata pria itu sambil menjambak rambut Luna lalu memaksanya melihat sebuah foto.
Rex sedikit kesulitan melihat wajah pria dalam foto itu karena saat itu pandangannya perlahan menjadi kabur.
Dan sesaat kemudian Rex diperlihatkan sebuah pesta pernikahan. Rex merasa familiar dengan suasana pesta itu. Dekorasinya, orang-orang yang hadir, juga sepasang pengantin berbahagia yang duduk di pelaminan itu.
Rex menoleh saat mendengar sapaan hangat tertuju pada sepasang pria dan wanita yang duduk di kursi utama.
Rex pun membelalakkan matanya saat mengenali sepasang pria dan wanita itu. Mereka adalah almarhum kakeknya dan Nenek Rusminah yang masih dalam usia muda.
" Almarhum Kakek masih hidup. Keliatan muda dan gagah. Nenek juga masih cantik dan sehat...," gumam Rex sambil tersenyum.
Kemudian Rex teringat pada sepasang pengantin yang duduk di pelaminan itu. Karena letak panggung pelaminan lumayan jauh, Rex terpaksa harus berjalan di tengah padatnya tamu agar bisa tiba di depan panggung pelaminan itu.
Rex terpaku menatap sepasang pengantin yang ternyata adalah kedua orangtuanya yaitu Ramon dan Lanni.
Rex memutar kepalanya dan menyaksikan semua orang tertawa bahagia pertanda pernikahan Ramon dan Lanni direstui keluarga. Hanya wajah Tini, sang bibi, yang terlihat tak bahagia dan Rex tahu apa sebabnya.
" Apa hubungannya pernikahan Ayah dan Ibu dengan kisah mistis Luna...," batin Rex gusar.
Rex kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari jawaban dari pertanyaannya itu. Diantara para tamu Rex melihat Ramzi tengah duduk sambil tersenyum mengamati Ramon dan Lanni di atas pelaminan.
bersambung