
Malam itu Rex pun kembali ke rumah dalam keadaan letih. Bagaimana tidak, setelah seharian menemani Gama melihat-lihat rumah idamannya, Rex masih harus menemani Gama di bengkelnya. Rupanya usai membahas penampakan wanita bergaun pink itu Gama merasa jika dia diikuti oleh sesuatu.
" Makanya ga usah bahas gituan kalo Lo takut Gam...," sindir Rex saat masih di dalam perjalanan menuju ke rumahnya.
" Gue ga takut Rex, cuma pengen nahan Lo aja biar ga pulang duluan...," sahut Gama sambil tersenyum usil.
" Sia*an !. Jadi Lo ngerjain Gue...?!" kata Rex sambil menoyor kepala Gama dengan kesal.
" Songong Lo...!" maki Gama sambil menepis tangan Rex dari kepalanya.
" Salah Lo, ngapain ngerjain Gue...," sahut Rex sambil melengos.
" Tapi kan Gue tetep nganterin Lo sampe rumah Rex. Nih, buktinya Lo ada sama Gue sekarang..., " kata Gama sambil menatap ke jalan raya di depannya.
" Gue bisa pulang sendiri naik ojol kok. Kan Lo yang nahan Gue pulang daritadi, jadi udah tanggung jawab Lo nganter Gue pulang...," sahut Rex ketus.
" Ck, pake ngomong tanggung jawab segala. Emangnya Lo anak pera*an yang kesuciannya Gue renggut...?!" tanya Gama sambil berdecak sebal.
Ucapan Gama mau tak mau membuat Rex tertawa keras. Sesaat kemudian Gama pun ikut tertawa saat menyadari kalimat nyeleneh dan tak bermakna yang baru saja ia ucapkan.
" Udah sampe Rex. Turun gih...," usir Gama.
" Dasar orang pe'a. Bukan terima kasih udah ditemenin, eh malah ngusir Gue...," gerutu Rex sambil membuka pintu.
Ucapan Rex tak membuat Gama tersinggung, ia justru tersenyum manis dan itu membuat Rex bertambah kesal.
" Ok, makasih udah nemenin Gue seharian.Salam buat semua ya Rex. Assalamualaikum...! " kata Gama lantang sambil melambaikan tangannya.
" Iya iya, wa alaikumsalam..., " sahut Rex dengan enggan.
Gama melajukan mobilnya meninggalkan Rex yang masih berdiri di luar pagar rumahnya. Setelah memastikan mobil Gama tak kembali, Rex pun membuka pintu pagar sambil mengucap salam. Walau hanya gumaman tapi Rex selalu melakukan itu karena halaman rumah baginya juga masuk ke dalam area yang 'suci', karena itu dia mewajibkan dirinya sendiri untuk mengucap salam saat memasuki area rumah.
Saat mengunci pintu pagar, kembali Rex melihat kelebatan bayangan wanita berbaju pink melintas di depannya. Kali ini Rex menatap lekat bayangan yang melintas itu tanpa berkedip karena ingin memastikan kemana perginya bayangan itu.
Saat tiba di sudut halaman, wanita berbaju pink itu berhenti lalu menoleh kearah Rex. Selama beberapa detik tatapan kedua makhluk dari dua alam yang berbeda itu pun terjadi.
Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat wajah wanita berbaju pink itu dengan lebih jelas. Wajahnya tirus pucat dengan kedua mata yang dalam. Rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajah dan dahinya. Wanita itu nampak mengulurkan tangannya kearah Rex sambil tersenyum tipis.
" Siapa Kamu, kenapa mengikuti Aku sampe ke sini...?!" tanya Rex tegas.
" Kenapa ga datang menjemputku ?. Kenapa...?" tanya hantu wanita berbaju pink itu dengan suara parau.
" Apa maksudmu...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.
" Kenapa ga datang menjemputku ?. Aku terus menunggu tapi Kamu ga datang juga. Kenapa...?" ulang wanita berbaju pink itu.
" Menjemput kemana ?. Memangnya Kamu siapa ?. Kenapa Aku harus menjemputmu...?" tanya Rex tak mengerti.
Mendengar pertanyaan Rex, hantu wanita itu nampak menggelengkan kepala lalu menunduk sedih.
" Jadi semudah itu Kamu melupakan Aku...," kata wanita berbaju pink itu dengan suara lirih namun masih bisa terdengar oleh Rex.
" Tunggu. Aku ga bermaksud melupakanmu. Andai Aku pernah mengenalmu, tolong katakan. Jangan membuat teka-teki yang sulit untuk kupahami. Hei, mau kemana Kamu...?! " panggil Rex sambil menghampiri hantu wanita itu.
Namun terlambat, perlahan tubuh wanita berbaju pink itu berubah menjadi asap lalu terbang ke udara dan hilang di kegelapan malam.
Rex menghela nafas panjang sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru berharap melihat wanita itu lagi. Sayangnya wanita itu tak lagi terlihat di sana.
" Ayah. Assalamualaikum Yah...," sapa Rex.
" Wa alaikumsalam. Kamu baru pulang Nak, sama siapa...?" tanya Ramon sambil mengedarkan pandangan ke penjuru halaman.
" Sendiri Yah...," sahut Rex cepat.
" Tapi Ayah denger Kamu ngobrol sama seseorang tadi...," kata Ramon tak percaya.
" Mungkin Ayah salah denger. Ga ada siapa-siapa kok. Aku pulang diantar Gama, mungkin yang Ayah denger suaranya tadi. Tau sendiri kan gimana suaranya kalo pamitan...," sahut Rex menenangkan sang ayah.
" Gitu ya...," kata Ramon lalu melangkah ke ruang tengah disusul Rex.
Kemudian Rex masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Setelahnya ia bergabung dengan sang ayah di depan televisi.
" Ada berita viral apa Yah...?" tanya Rex sambil meraih toples berisi keripik kentang.
" Seperti biasa. Pelecehan, penggelapan dan perampokan disertai kekerasan...," sahut Ramon sambil tersenyum kecut.
" Kok pulang malam sih, emangnya Kamu ga capek terus menerus memforsir tubuh untuk bergerak. Jangan lupa Rex, tubuh Kita bukan robot jadi tetap perlu istirahat...," tegur Ramon sambil melirik sang anak sekilas.
" Iya Yah...," sahut Rex cepat.
Jawaban Rex tak membuat sang ayah puas. Kini Ramon menoleh kearah Rex untuk minta penjelasan.
" Emangnya Kamu darimana aja seharian...?" tanya Ramon penasaran.
" Kenapa Yah ?. Ayah ga lupa kan kalo Aku udah dewasa...?" tanya Rex sambil tertawa mendapati sikap posessif ayahnya kali ini.
" Kamu juga ga lupa kan kalo Kamu Anakku dan masih tinggal bersamaku. Jadi ikuti aturan main di rumah ini, itu yang benar...!" kata Ramon tegas sambil menatap lekat sang anak.
Ucapan Ramon membuat Rex mati kutu. Ia menggelengkan kepala karena sadar tak akan mungkin menang berdebat dengan ayahnya itu.
" Aku nganterin Gama liat-liat rumah Yah...," kata Rex sambil mengunyah keripik kentang dengan perlahan.
" Rumah, rumah yang mana...?" tanya Ramon tak mengerti.
" Jadi ceritanya kemarin ada sales properti dateng ke bengkel Gama buat betulin mobil dinasnya. Nah di situ lah Aku, Gama dan yang lain kenalan sama sales itu. Namanya Gusur. Sesuai profesinya sebagai sales, tentu aja Gusir ga menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia nawarin rumah sama Aku dan Gama. Setelah liat-liat brosur keliatannya Gama tertarik sama sebuah rumah type sedang. Nah sesuai kesepakatan bersama, hari ini Gusur ngajakin Gama ngeliat calon rumah idamannya itu. Gama ngajak Aku, karena lagi senggang ya Aku ikut...," kata Rex panjang lebar.
" Kenapa harus diliat sekarang, emangnya rumahnya udah selesai dibangun...?" tanya Ramon
" Justru itu yang bikin Gama tambah penasaran. Gusur bilang rumahnya udah jadi dan siap huni. Makanya Gama mutusin ngeliat langsung calon rumahnya itu biar ga kejebak macam beli kucing dalam karung gitu Yah...," sahut Rex.
" Terus...?" tanya Ramon.
" Akhirnya Gama cocok sama satu rumah dan langsung tanda tangan dokumen pembelian rumah di kantor tadi...," sahut Rex.
" Oh ya. Kedengerannya Gama buru-buru banget mau beli rumah. Apa dia mau pindah ?. Terus yang ngurus rumah orangtuanya siapa...?" tanya Ramon.
" Gama udah punya calon istri Yah. Kalo dia married nanti, dia ga mau tinggal di rumah orangtua atau mertua, gitu katanya. Tapi sampe detik ini Aku ga tau siapa ceweknya. Lagi pula Om Gondo sama Tante Mira kan bakal balik dan tinggal di rumah itu nanti Yah...," sahut Rex.
Ramon mengangguk tanda mengerti. Dalam hati ia salut akan keseriusan Gama mengejar cinta putrinya itu. Entah mengapa Ramon berharap jika Gama dan Lilian berjodoh hingga bisa ke jenjang pernikahan kelak.
\=\=\=\=\=