
Rex nampak menggelengkan kepalanya sambil berusaha mengusir bayangan makhluk yang dilihatnya tadi dari kepalanya.
" Itu pasti makhluk jadi-jadian, mana ada manusia bentukannya kaya gitu. Pake hilang mendadak ga tau kemana perginya...," batin Rex sambil terus berdzikir.
Rex dan kedua rekannya baru saja duduk di kursi teras saat sebuah jeritan terdengar melengking di tengah malam. Kali ini bukan jeritan wanita tapi lebih mirip suara jeritan laki-laki.
Semua orang berdiri, bahkan tentara yang sedang istirahat di dalam bangunan pun keluar karena terkejut mendengar suara jeritan itu.
Rex bernafas lega karena jeritan itu tak didengarnya seorang diri. Rex berharap jika jeritan tadi tak menimbulkan 'kekacauan' seperti biasanya.
" Datangnya dari perumahan penduduk di sana Kapten...!" kata salah seorang rekan Rex.
" Iya. Kita ke sana dan yang lain tetap stay di tempat. Jangan lupa siapkan senjata karena Kita ga tau orang seperti apa yang bakal Kita hadapi nanti...," kata Rex mengingatkan rekan-rekannya.
" Siap Kapten...!" sahut para tentara itu.
Kemudian Rex dan empat orang tentara berjalan cepat menuju perumahan penduduk yang letaknya tak jauh dari kamp mereka.
Saat memasuki perumahan yang sebelumnya pernah mereka lewati saat pertama kali datang ke sana, Rex dan empat rekannya berhenti sejenak.
Di kejauhan mereka melihat gerombolan penduduk tengah berkumpul di tengah jalan sambil menatap ke sebuah rumah. Mereka nampak membicarakan sesuatu yang menimpa si pemilik rumah.
Rex dan keempat rekannya pun menyapa penduduk dengan ramah. Para penduduk yang telah mengenal mereka pun tersenyum lalu mulai menceritakan apa yang terjadi. Rex dan keempat rekannya sempat dibuat bingung karena para penduduk bicara dalam bahasa asli yang sulit dimengerti. Hingga akhirnya Banga datang dan menjelaskan semuanya.
" Salah satu penduduk baru saja diganggu popobawa Kapten...," kata Banga sambil mengusap peluh di keningnya.
" Popobawa ?. Apaan itu...?" tanya Rex tak mengerti.
" Popobawa itu siluman atau makhluk jadi-jadian Kapten. Wujudnya mirip kelelawar besar. Bertubuh manusia tanpa busana tapi berkepala kelelawar, memiliki taring dan sayap juga...," sahut Banga gusar.
Rex terkejut mendengar ucapan Banga karena ciri-ciri makhluk yang disebutkan Banga sama persis dengan makhluk jadi-jadian yang dilihatnya di balik pohon tadi.
" Siluman kelelawar...," gumam Rex namun masih terdengar oleh rekan-rekannya dan membuat mereka bergidik ngeri.
" Masa ada siluman di tempat kaya gini. Ini kan udah jaman canggih...," sela salah seorang rekan Rex sambil menahan tawa.
" Jangan sembarangan bicara Hadi !. Kita di sini bertamu dan ingat, tiap tempat pasti punya kepercayaan sendiri. Hargai itu meski pun yang Kamu dengar itu hanya mitos...!" kata Rex sambil menatap rekannya dengan tatapan tajam.
Menyadari kekeliruannya, Hadi pun menunduk malu.
" Siap, maaf Kapten...," sahut Hadi tak enak hati.
" Jangan minta maaf sama Saya. Tapi minta maaf sama Allah dan istighfar saja dalam hati. Saya harap makhluk yang Kamu tertawai itu ga menyerang Kamu nanti...," sahut Rex sambil melengos.
Mendengar ucapan Rex membuat Hadi panik lalu menatap ketiga rekannya satu per satu seolah meminta dukungan. Tapi ketiga rekan Hadi nampak tak menggubris karena mereka juga kesal melihat tingkah sembrono Hadi tadi.
" Maaf sebelumnya, tapi Saya dengar yang menjerit laki-laki tadi. Apa itu suara jeritan suami dari perempuan yang diganggu popobawa itu...?" tanya Rex penasaran.
" Popobawa itu siluman apa, kenapa mengincar laki-laki. Bukan kah biasanya siluman itu menyerang wanita dan anak-anak...? " tanya Rex bingung.
" Siluman popobawa itu menyerang pria dan wanita Kapten. Mereka gemar melecehkan korbannya. Membuat mereka terbuai dan setelahnya terus menerror korbannya. Ga jarang korban popobawa itu harus meregang nyawa karena terus menerus diikuti popobawa itu. Popobawa baru berhenti kalo targetnya meninggal dunia...," sahut Banga.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun, Subhanallah. Masa kaya gitu sih ?. Apa ga ada cara untuk menghadapi makhluk siluman itu Banga...?" tanya Rex gusar.
" Ada Kapten. Biasanya Kami meminta bantuan dari tetua adat atau kepala suku. Sayangnya beliau ga lagi tinggal di sini sejak wilayah di sini mengalami kekeringan ekstrim...," sahut Banga sedih.
" Ya Allah, kasian sekali. Kalo boleh tau ritual apa yang dilakukan oleh para tetua mengusir popobawa itu Banga...?" tanya Rex.
Kemudian Banga menyebutkan urutan ritual yang biasa dilakukan sukunya untuk mengusir popobawa.
" Kalo gitu lakukan saja !. Kamu yang mimpin, bisa kan...?" tanya Rex.
" Saya ga bisa Kapten. Saya bukan anak ketua adat atau ketua suku di sini. Karena yang memimpin ritual itu biasanya orang yang memiliki darah pemimpin suku dalam tubuhnya...," sahut Banga sambil menggelengkan kepalanya.
" Tapi Kamu kan hapal ritual dan bacaannya. Ga penting siapa yang melakukannya yang penting bisa mengusir popobawa itu dari sini. Iya kan...?!" tanya Rex.
" Yang Kapten Rex bilang betul Banga. Apa Kamu ga kasian sama korban dan keluarganya itu ?. Terus gimana kalo popobawa itu menyerang warga lainnya setelah puas membunuh korbannya...?" tanya rekan Rex.
" Biasanya popobawa bakal pergi kalo target dan keluarganya sudah meninggal dunia Pak...," sahut Banga santai namun mengejutkan Rex dan keempat rekannya.
" Jadi keluarga korban juga menjadi incarannya. Sekarang berapa jumlah orang di dalam keluarga korban tadi...?" tanya rekan Rex.
" Ada sebelas sama bayi yang berusia sebelas bulan Pak...," sahut Banga cepat.
" Kamu g*la Banga !. Itu artinya sebelas orang yang harus mati menjadi korban siluman itu baru Kalian bertindak ?. Dasar aneh, egois...!" kata Rex lantang hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.
" Tapi begitu lah peraturannya Kapten...!" sahut Banga tak kalah lantang.
" Kalo Kalian ga bisa membantu korban popobawa itu, ngapain Kalian berkumpul di sini ?. Tinggalkan mereka dan biarkan popobawa memangsa dia dan keluarganya sampe mati...," kata Rex ketus.
" Kami di sini untuk memberi dukungan pada keluarga korban Kapten. Setidaknya dia tak merasa sendirian saat mautnya datang menjemput nanti...," kata Banga mencoba menjelaskan.
" Saya ga paham sama jalan pikiran Kalian. Tapi gapapa. Karena kehadiran Kami ga diperlukan, lebih baik Kami kembali ke kamp sekarang. Selamat malam Banga, makasih telah berbagi cerita dengan Kami tadi...!" kata Rex sambil membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi meninggalkan tempat itu bersama keempat rekannya.
Banga hanya membisu. Tatapannya terus mengikuti Rex dan keempat rekannya yang menjauh dari pemukiman penduduk. Banga mengusap wajahnya dengan kasar saat teringat ucapan Rex tadi.
" Kayanya apa yang Kapten bilang tadi bisa dicoba. Toh semua orang ga ada yang berani melawan popobawa itu. Mungkin Aku bakal bisa mengusir siluman itu dan membuat suasana kampung yang udah rusuh ini jadi lebih baik ke depannya...," gumam Banga sambil tersenyum tipis.
Kemudian Banga mengejar Rex dan menyatakan kesanggupannya mengusir siluman popobawa itu. Rex dan keempat rekannya itu tersenyum senang mendengar ucapan Banga.
bersambung