Kidung Petaka

Kidung Petaka
234. Kok Gitu Sih


Rex tersenyum saat melihat sosok Shezi berdiri tak jauh darinya. Saat itu Shezi terlihat kacau. Rambut, wajah dan sekujur tubuhnya dipenuhi debu. Pakaiannya pun sebagian sobek dan kotor. Di belakang Shezi nampak kepulan debu beterbangan hingga membuat tempat itu menjadi gelap dan sesak.


Rex bergegas menghampiri Shezi lalu menggamit tangannya agar menjauh dari lokasi runtuhan bangunan. Setelah tiba di tempat aman Rex berbalik lalu memeluk gadis itu dengan erat. Kali ini tak ada penolakan dari Shezi. Gadis itu bahkan membalas pelukan Rex sama eratnya.


" Alhamdulillah Kamu selamat Zi...," bisik Rex dengan suara bergetar.


" Alhamdulillah. Nyai Hadini nunjukin Aku jalan keluar tadi. Cuma karena Aku sedikit lelet, makanya semua badanku kotor terkena debu dari runtuhan bangunan itu...," sahut Shezi lirih.


" Nyai Hadini ngasih tau Kamu jalan keluar...?" tanya Rex sambil mengurai pelukannya.


" Iya...," sahut Shezi cepat sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi debu itu dengan punggung tangannya.


Rex masih ingin bertanya lebih lanjut namun ia urungkan karena melihat Dina dan Tia mendekat kearah mereka.


Kemudian Dina dan Tia memeluk Shezi dari belakang hingga membuat gadis itu terkejut.


" Ya Allah, Lo selamat Zi. Lo Gapapa kan Zi...," kata Dina sambil menangis.


" Alhamdulillah Gue gapapa Na. please jangan nangis ya...," sahut Shezi sambil tersenyum.


" Gimana ga nangis sih Zi. Kita pergi berempat, tapi cuma Lo yang ga keliatan. Gue kan jadi takut Zi...," kata Dina sambil terisak.


" Tau nih Shezi. Kita sedih kan karena Kita care sama Lo Zi...," omel Tia hingga membuat Shezi tertawa.


" Iya iya. Makasih udah khawatirin Gue yaa...," sahut Shezi.


Dina dan Tia pun mengurai pelukan mereka sambil mengangguk. Kemudian mereka menoleh kearah Rex yang sedang berbincang dengan Aris.


" Jadi Lo bener calon Istrinya Kapten Rex ya Zi...?" tanya Dina setengah berbisik.


" Apaan sih Na. Kok ngomongin soal itu di sini, kaya ga ada tempat lain aja...," Sahut Shezi sambil cemberut.


" Tapi ini info penting dan ga bisa ditunda Zii. Soalnya Kapten Rex tuh panik banget waktu tau Lo ga ada sama Kita tadi. Dia juga orang pertama yang lari ke sini waktu denger gedung itu runtuh. Iya kan Ti...?" tanya Dina sambil menoleh kearah Tia.


" Iya juga sih. Apalagi pas Kita nyusul ke sini Kita ngeliat Lo lagi pelukan sama Kapten Rex...," sahut Tia sambil tersenyum simpul.


" Itu darurat. Orang yang pertama Gue liat saat Gue keluar dari kepungan debu itu ya cuma Kapten Rex. Jadi Gue refleks nerima pelukannya begitu aja tadi...," kata Shezi sambil menepis debu yang mengotori pakaian dan wajahnya.


Tiba-tiba seorang wanita berpakaian dokter menyapa Shezi.


" Apa Mbak baik-baik aja, ada yang luka ga...?" tanya dokter wanita itu.


" Saya gapapa dok. Makasih...," sahut Shezi sambil tersenyum.


" Syukur lah. Saya salah satu anggota team kesehatan yang ditunjuk untuk membantu korban musibah di gedung ini Mbak. Kalo boleh Saya cek kondisi Mbak ya. Biar Kami tau ada yang luka atau ga. Kalo ada yang luka, Mbak bisa meminta biaya kompensasi sebagai bentuk pertanggungjawaban pihak pemilik gedung nanti...," kata dokter wanita itu.


" Ok, Saya bersedia dicek. Tapi bukan untuk meminta biaya kompensasi ya dok. Saya melakukannya karena Saya khawatir sama kesehatan Saya. Apalagi belum lama Saya mengalami luka akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Kalo pun ada biaya yang harus dikeluarkan nanti, Saya ga akan menuntut pihak mana pun untuk bertanggung jawab...," sahut Shezi menjelaskan hingga membuat sang dokter tersenyum.


" Makasih atas pengertiannya Mbak. Kalo gitu mari ikut Saya...," kata dokter wanita itu sambil memapah Shezi dan membawanya ke tempat aman untuk mengecek kondisi kesehatan Shezi.


Dina dan Tia pun setia menemani Shezi hingga selesai melakukan pemeriksaan kesehatan. Sedangkan Rex tetap berdiri di tempat sambil mengamati Shezi dari kejauhan.


" Gimana hasilnya dok...?" tanya Rex sambil mendekat kearah Shezi dan sang dokter.


Dokter wanita itu tampak tersenyum melihat kecemasan di wajah Rex.


" Alhamdulillah semua stabil. Mbaknya cuma kaget aja tadi. Istirahat sebentar dan tidur yang cukup bakal membantu memulihkan semuanya nanti...," sahut sang dokter.


" Sama-sama Mas...," sahut sang dokter sambil tersenyum.


Kemudian Rex menutupi tubuh kotor Shezi dengan jaket miliknya hingga membuat Shezi mendongakkan wajahnya untuk menatap Rex.


" Apaan nih...?" tanya Shezi.


" Jaket...," sahut Rex cepat.


" Udah tau. Tapi untuk apa...?" tanya Shezi.


" Nutupin badan Kamu lah. Liat, baju Kamu sobek besar di beberapa bagian. Kalo Aku aja ga nyaman ngeliatnya, itu artinya orang lain juga pasti ga nyaman. Makanya Aku tutupin pake jaket biar pandangan mata semua orang tetap terjaga...," sahut Rex sambil berlalu hingga membuat Shezi mendengus kesal mendengar jawabannya.


Meski pun Rex mencemaskannya tadi bahkan membantu Shezi menutupi bagian tubuhnya yang terekspos, toh pria itu pergi begitu saja tanpa mau mengantar Shezi pulang seperti yang diduga Dina dan Tia.


" Kemana Kapten Rex...?" tanya Tia sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Udah pergi...," sahut Shezi santai.


" Dia ga nganterin Lo pulang Zi, kok bisa gitu sih...?" tanya Tia tak percaya.


" Ya bisa dong. Emangnya dia siapa Gue kok pake nganter Gue pulang segala...," sahut Shezi cuek.


Jawaban Shezi membuat Tia melongo. Namun sesaat kemudian Tia nampak menggelengkan kepala saat menyadari hubungan Shezi dan Rex bukan lah hubungan dua sejoli yang saling mencintai.


" Gue bingung sama Lo berdua Zi. Sebenernya gimana sih hubungan Lo sama si Kapten itu...?" tanya Tia saat mereka sudah berada di dalam Taxi.


" Biasa aja, ga ada yang istimewa..., " sahut Shezi cepat.


" Tapi tadi Lo sama dia kan pelukan erat banget Zi...," kata Tia gusar.


" Sssttt..., udah ya Ti. Gue ngantuk nih, pengen tidur sebentar. Ntar kalo udah sampe kasih tau ya...," pinta Shezi sambil mulai memejamkan mata.


" Ish, nyebelin banget sih Lo. Harusnya Gue terima aja tawaran Aris buat nganter pulang tadi...," gerutu Tia.


" Jangan belajar jadi pelakor deh Ti. Lo tau kan kalo Aris lagi usaha buat pedekate sama Dina. Jadi jangan coba-coba ganggu mereka ya...," kata Shezi sambil tetap memejamkan mata.


" Tapi Dina kan ga mau sama Aris, Zi...," sahut Tia.


" Siapa bilang. Ntar juga lama kelamaan Dina luluh juga sama perhatian Aris yang tulus itu...," kata Shezi.


" Masa sih, kayanya susah Zi...," sahut Tia.


" Liat aja. Sebentar lagi mereka bakal jadian. Lo pegang kata-kata Gue ya Ti...," kata Shezi yakin.


" Jadi menurut Lo, cewek bakal luluh sama perhatian tulus yang bertubi-tubi Zi...?" tanya Tia.


" Iya...," sahut Shezi cepat.


" Apa itu juga berlaku untuk Kapten Rex sama Lo Zi. Kan Kapten Rex juga ngasih Lo perhatian yang banyak dan bertubi-tubi...?" tanya Tia sambil menoleh kearah Shezi.


Tak ada sahutan. Rupanya Shezi pura-pura tertidur agar tak harus menjawab pertanyaan Tia.


\=\=\=\=\=