
Setelah fitnah yang dilontarkan Itje, hubungan Rex dan Aksara benar-benar merenggang. Bahkan tak lama kemudian hubungan keduanya berakhir begitu saja tanpa kata putus.
Rex mengikhlaskan semuanya karena tak sanggup jika harus berjuang seorang diri demi gadis yang tak bisa menghargai pengorbanannya itu.
" Gue capek Gam. Lebih baik berakhir sekarang daripada dilanjut tapi makan hati. Apalagi Aksara sekarang udah hampir punya gelar S2. Sebuah jabatan penting pun menanti dia di Rumah Sakit itu. Setelah semua diraih, Gue ragu kalo dia masih punya keinginan untuk menjalin hubungan sama Gue yang cuma prajurit TNI ini...," kata Rex.
" Jangan minder gitu lah Rex. Lo harus optimis. Cinta itu kan butuh perjuangan. Kalo Lo sama Aksara saling cinta, harusnya semua bisa diatasi dong...," kata Gama.
" Gue bukan minder, tapi Gue sadar aja sama kondisi Gue. Profesi dan pendapatan Gue sama dia yang berbeda mungkin bakal jadi sumber pertengkaran Kami saat menikah nantinya. Apalagi Mamanya kan ga suka sama Gue. Tante Itje juga tega memfitnah Gue dan sayangnya Aksara percaya itu. Makanya Gue pikir percuma menjalin hubungan sama cewek yang ga percaya dan ga bisa menghormati Gue. Sebelum terlambat dan saling menyakiti lebih jauh, Yah mending udahan aja...," kata Rex sambil tersenyum kecut.
" Kalo gitu kondisinya sih Gue setuju Rex. Belum nikah aja dia udah ga bisa menghargai Lo, apalagi kalo nikah nanti. Semoga setelah ini Lo dapat pengganti yang jauh lebih baik dari Aksara...," sahut Gama sambil menepuk punggung sang adik ipar.
" Aamiin. Suport Lo tuh berarti banget buat Gue. Makasih ya...," kata Rex sambil tersenyum.
" Sama-sama...," sahut Gama sambil ikut tersenyum.
\=\=\=\=\=
Sejak hubungannya dengan dokter Aksara berakhir, Rex pun makin selektif memilih pasangan. Namun ia tetap membuka diri untuk wanita lain yang hanya ingin dekat dan berteman dengannya. Salah satunya Shezi, gadis cantik yang bekerja di apotik langganan Lanni.
Perkenalan Rex dan Shezi terjadi secara tak sengaja.
Malam itu Rex sedang berada di sebuah apotik karena harus membeli obat untuk sang ibu. Obat yang biasa diminum Lanni adalah obat yang diresepkan oleh dokter keluarga, karenanya Lanni merasa cocok dan meminta Rex membelinya di apotik.
Kondisi apotik saat itu lebih ramai dari biasanya hingga membuat Rex harus sabar di dalam antrian. Rex baru bisa bernafas lega saat nomor antriannya dipanggil oleh karyawan apotik.
Saat Rex menyerahkan contoh obat yang dibawanya, sang karyawan apotik nampak mengerutkan keningnya. Berkali-kali pula karyawan apotik itu menatap kearah Rex dan sample obat di tangannya bergantian hingga membuat Rex sedikit bingung.
" Kenapa Mbak, apa ada yang aneh sama obatnya...?" tanya Rex.
" Oh ga ada Mas...," sahut sang karyawan apotik.
" Terus kenapa ngeliatin Saya kaya gitu...?" tanya Rex.
" Saya ga ngeliatin Masnya kok, tapi ngeliat ke belakang sana...," sahut sang karyawan apotik sambil berlalu.
Rex pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa yang dilihat wanita itu. Rex terkejut saat melihat penampakan Luna yang terlilit kain itu tengah berdiri di dekat pintu masuk yang terbuat dari kaca.
Karena bangunan apotik itu dikelilingi kaca tembus pandang, maka semua benda yang ada di kedua sisi kaca bisa terlihat jelas. Meski beberapa bagian dibuat buram untuk menjaga kenyamanan karyawan dan pengunjung apotik.
Rex menatap kearah karyawan apotik yang kemudian ia ketahui bernama Shezi itu dengan tatapan intens. Ia tertarik dengan kemampuan gadis itu melihat penampakan arwah Luna.
Meski wajah gadis itu ditutupi masker, namun Rex yakin jika gadis itu adalah gadis yang cantik. Namun bukan itu yang jadi fokus Rex saat ini. Rex justru dibuat penasaran dengan sikap Shezi yang terlihat biasa saja saat melihat penampakan arwah Luna yang lumayan menyeramkan itu.
Tak lama kemudian Shezi memanggil nomor antrian Rex lalu menyerahkan obat yang dipesan Rex tadi.
" Semua jadi empat ratus dua puluh ribu rupiah Mas...," kata Shezi sambil menyerahkan kantong plastik berisi obat kepada Rex.
Rex mengangguk lalu membayar harga obat. Setelahnya Rex bergegas keluar dari apotik itu. Bukan pulang ke rumah, tapi Rex lebih memilih duduk di depan sebuah warung yang berada di sekitar apotik.
Letak warung yang bersebrangan dengan apotik memudahkan Rex dalam mengamati pergerakan semua orang di apotik itu.
Rupanya Rex penasaran dengan Shezi dan sengaja menunggu gadis itu pulang.
Setengah jam kemudian Rex melihat Shezi keluar dari apotik sambil adu toast dengan karyawan lain yang baru saja tiba. Rupanya itu waktu pergantian shift. Dan Shezi bisa pulang setelah temannya yang menggantikan tugasnya datang.
" Gue balik ya Ris...," kata Shezi sambil meraih kunci motor dari tasnya.
" Ok, hati-hati ya Zi. Ga usah ngebut. Cari jalan lain aja jangan jalan kemaren, Gue khawatir begal yang kemarin masih nungguin Lo lewat di sana...," kata Aris mengingatkan.
" Iya, makasih diingetin. Tapi biasanya begal itu ga datang ke tempat yang sama dua hari berturut-turut Ris. Itu cari mati namanya...," sahut Shezi sambil tersenyum.
" Sok tau Lo...," kata Aris sambil mencibir.
" Ga usah bercanda deh Zi. Gue serius nih...," kata Aris kesal.
" Iya iya. Gitu aja marah...," sahut Shezi mengerucutkan bibirnya hingga membuat Aris tertawa.
" Susah banget sih ngomong sama Lo Zi. Udah malam nih, buruan jalan sana...," usir Aris hingga membuat Zhesi tersenyum.
Zhesi pun bergegas menstater motornya lalu melajukannya perlahan meninggalkan parkiran apotik.
Rex yang melihat Shezi meninggalkan apotik pun bergegas mengekori. Ia bahkan menghadang laju motor Shezi hingga membuat gadis itu terkejut.
" Astaghfirullah aladziim...! " kata Shezi lantang sambil mengerem laju motornya.
" Maaf Mbak. Saya ga punya niat jahat kok. Saya cuma mau ada perlu sedikit sama Mbak...," kata Rex berusaha menenangkan Shezi.
" Ada perlu apa Mas...?!" tanya Shezi sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah khawatir Rex akan menyakitinya.
Kemudian Rex mengeluarkan KTA TNI yang ia miliki dan memperlihatkannya kepada Shezi. Gadis itu meraih kartu tersebut dan membacanya sejenak. Untuk berjaga-jaga, Shezi juga mengabadikan kartu pengenal Rex dengan ponsel nya.
" Kalo Mbak ga percaya sama Saya, pegang aja Kartu pengenal Saya. Sekarang bisa Kita bicara sebentar di sana...?" tanya Rex penuh harap.
" Boleh. Tapi jangan macam-macam ya, Saya bakal teriak biar orang-orang datang dan mukulin Kamu...!" ancam Shezi.
" Siap. Mbak boleh teriak sekencang-kencangnya kalo emang Saya melakukan gerakan yang mencurigakan nanti...," sahut Rex cepat sambil tersenyum.
Shezi pun mengikuti Rex yang mengajaknya menepi di sebuah kios penjual nasi goreng. Setelah memesan dua porsi nasi goreng dan teh hangat, Rex pun mulai mengajak Shezi bicara serius.
" Jadi Mas mau ngomong apa...?" tanya Shezi.
" Kamu...," ucapan Rex terputus saat Shezi memotong cepat.
" Shezi. Nama Saya Shezi Mas...," kata Shezi cepat.
" Ok. Begini Mbak Shezi, Saya tau Mbak Shezi bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. Dan Saya tau kalo Mbak Shezi baru aja ngeliat penampakan wanita dililit kain yang berdiri di luar apotik tadi...," kata Rex sambil menatap Shezi lekat.
" Iya, terus kenapa...?" tanya Shezi sambil menyuap nasi goreng ke dalam mulutnya.
" Saya cuma mau mengingatkan Mbak Shezi supaya berhati-hati karena akan ada sesuatu tak kasat mata yang bakal menyusul memperlihatkan diri nanti...," sahut Rex cepat.
" Maksudnya gimana ya Mas...?" tanya Shezi tak sabar.
" Maksud Saya, Mbak jangan melakukan sesuatu yang diminta oleh penampakan apa pun yang bakal Mbak liat nanti karena itu berbahaya. Jangan tanya bahayanya apa, yang penting Mbak waspada aja dulu...," kata Rex tegas.
Ucapan Rex membuat Shezi ketakutan. Ia tak pernah ada dalam situasi seperti ini dan tentu saja itu membuatnya tak nyaman.
" Terus Saya harus gimana Mas...?" tanya Shezi putus asa.
" Minta bantuan Ustadz atau siapa pun yang paham dengan hal ghaib. Satu pesen Saya, jangan turuti apa pun permintaannya andai dia ngajak berkomunikasi nanti...," sahut Rex.
Shezi mengamati Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Mas ini ga lagi modusin Saya kan...?" tanya Shezi hati-hati namun membuat Rex terkejut.
" Modus gimana sih maksud Kamu...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.
" Yah, kali aja Mas emang pengen kenalan sama Saya. Terus Mas ngarang cerita biar Saya percaya dan minta bantuan sama Mas deh. Iya kan...?" tanya Shezi sambil tersenyum penuh makna.
Ucapan Shezi membuat Rex melongo. Ia tak menyangka jika gadis di hadapannya punya kepercayaan diri yang sangat tinggi. Sementara itu Shezi nampak asyik makan dengan lahap seolah tak menyadari jika ucapannya tadi telah membuat lawan bicaranya merasa jengkel.
bersambung