
Rex dan pasukannya pun membangun sekat antar ruangan, musholla kecil, tenda-tenda dan tempat khusus untuk memasak. Hingga dalam waktu sehari, lapangan yang lengang itu disulap menjadi tempat yang ramai.
Para penduduk pun berdatangan ingin melihat apa yang terjadi di lapangan yang biasanya sepi itu. Mereka tampak antusias melihat kedatangan team relawan karena yakin kesulitan mereka akan segera teratasi.
" Kalo ngeliat antusias warga, keliatannya baru kali ini team relawan masuk ke wilayah ini...," kata dokter Farhan.
" Keliatannya sih begitu. Selama ini para relawan kemanusiaan yang datang biasanya dikirim ke wilayah lain. Regu Kita adalah yang pertama sekaligus membuka lahan di tempat ini...," sahut Rex.
Dua orang pria berkulit hitam bernama Banga dan Foot nampak mendekat lalu bicara banyak hal. Rupanya Foot dan Banga menceritakan keluhan warga selama ini. Rex dan dokter Farhan mendengarkan dengan serius lalu mengangguk.
" Kami memang datang untuk membantu warga. Insya Allah mulai besok warga bisa datang ke sini untuk mengambil makanan dan memeriksakan kesehatan mereka...," kata Rex.
Ucapan Rex membuat Banga dan Foot tertawa gembira lalu menjabat tangan Rex dengan erat. Setelahnya dua pemuda berkulit hitam itu bergegas meninggalkan tempat itu untuk memberitahu warga tentang tujuan kedatangan Rex dan teamnya ke sana.
\=\=\=\=\=
Rex dan para relawan mulai disibukkan dengan kegiatan membantu warga. Ternyata selain kesulitan mendapat pasokan air bersih, warga juga kekurangan makanan. Beberapa anak bahkan terserang penyakit busung lapar yang ditandai pertumbuhan tak normal, tubuh kurus, rambut rusak, kulit kering dan perut membesar.
Rex bergidik ngeri menyaksikan seorang anak penderita busung lapar yang dibawa ke tenda pengobatan nampak mengejang sekarat.
Beruntung dokter Farhan dan teamnya sigap membantu, hingga anak yang sempat kritis itu berhasil diselamatkan.
Kemudian Rex berkeliling memantau kegiatan teamnya. Bahkan ia sempat membantu memotong beberapa sayuran di tenda memasak. Rex juga membantu mengangkat nasi dari atas kompor bersama rekan lainnya.
Setelahnya Rex kembali berkeliling memantau tenda lainnya. Di salah satu tenda ia melihat Elvira tengah mengajar berhitung. Rupanya wanita itu adalah guru yang ikut mendaftar menjadi relawan kemanusiaan sama seperti dirinya.
Rex tersenyum melihat Elvira menggelengkan kepala saat salah satu anak memintanya menyanyi.
Rex kembali melangkah dan tersenyum puas saat proses pembuatan sumur telah berhasil diselesaikan oleh sebagian pasukannya. Rex melihat mereka tengah tertawa sambil membiarkan tubuh mereka dibasahi air yang muncrat dari dalam tanah.
" Alhamdulillah, makasih ya Allah...," gumam Rex sambil tersenyum.
" Apa Kita perlu membangun toilet lagi Kapten...?" tanya salah seorang rekan Rex.
" Ga perlu. Dua toilet di dalam sana udah cukup untuk Kita. Setelah ini Kalian bersiap-siap karena waktu makan siang hampir tiba. Kalian berdua bertugas untuk membagikan makanan biar antrian ga terlalu panjang, sisanya menjaga keamanan. Saya khawatir warga ga sabar dan merusak tenda lagi kaya kemarin...," kata Rex.
" Siap Kapten...!" sahut rekan-rekan Rex bersamaan.
Rex mengangguk lalu kembali ke depan untuk menemui warga yang mulai berbaris untuk mengantri makanan.
\=\=\=\=\=
Malam telah larut saat itu. Sebagian besar anggota relawan tengah beristirahat di dalam bangunan. Sedangkan dokter Farhan, Rex dan lima rekannya masih berjaga di teras bangunan sambil berbincang-bincang.
" Besok akan ada relawan dari Filipina yang bakal bergabung dengan Kita di sini...," kata Rex sambil menyesap kopi di gelasnya.
" Wah tambah seru dong. Berapa orang Kapten...?" tanya salah satu rekan Rex.
" Ga banyak, cuma sekitar empat atau lima orang aja...," sahut Rex.
" Berapa lama mereka di sini Kapten...?" tanya rekan Rex lainnya.
" Mungkin tiga hari. Setelahnya mereka harus keliling ke kamp lainnya. Nanti bakal ada relawan dari negara lain yang bakal singgah juga di sini...," sahut Rex.
" Wah, Kita jadi tuan rumah nih ceritanya...," kata dokter Farhan.
" Kurang lebih sih gitu. Tapi Banga sama Foot bakal ngawal mereka selama di sini. Jadi Kita tetap sama tugas Kita seperti biasa. Paling besok ditambah patroli malam bergantian karena Saya dengar ada sedikit kekacauan saat malam hari di sekitar sini..., " kata Rex yang diangguki semua orang.
" Kayanya suasana malam ini agak beda ya...," kata dokter Farhan sambil merapatkan jaketnya.
Meski pun musim panas, tapi udara malam hari sangat dingin di sana.
" Beda gimana dok...?" tanya rekan Rex.
" Agak horror aja rasanya. Iya ga sih ?. Apa ini cuma perasaan Saya aja ya...?" tanya dokter Farhan sambil nyengir.
" Emang agak beda dari biasanya kok dok. Tapi dengan berdzikir insya Allah Kita jadi lebih tenang...," kata Rex bijak.
" Iya Kapten. Saya malah jadi kaya anak kecil ya, daritadi ngeluh terus...," sahut dokter Farhan tak enak hati.
Ucapan dokter Farhan membuat Rex dan rekan-rekannya tertawa. Namun tawa mereka terhenti saat melihat bayangan manusia tengah berdiri menunduk di balik pohon.
Rex bangkit lalu menajamkan penglihatannya. Ia juga mengeluarkan senter dari saku bajunya lalu menyoroti pohon besar itu.
" Siapa di sana...?!" tanya Rex lantang.
Dokter Farhan dan rekan Rex berdiri siaga untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
" Jangan-jangan pencuri Kapten...," bisik dokter Farhan.
" Mau ngapain mencuri di sini. Kan semua yang ada di sini Kita kasih buat mereka...," sahut Rex.
" Namanya juga orang khilaf, bisa aja dia ngerasa jatah yang Kita bagikan tadi ga sesuai dengan keinginannya...," kata dokter Farhan.
" Di sini semua serba sulit. Kalo mengharapkan sesuatu sesuai dengan keinginan juga mustahil karena Kita harus berbagi dengan sesama yang sama-sama mengalami nasib serupa...," sahut rekan Rex.
" Sssttt..., Kalian diem dulu bisa ga sih. Suara Kalian tuh mengganggu konsentrasi Saya. Lebih baik Saya ke sana dan Kalian tetap di sini...," kata Rex sambil melangkah perlahan mendekati pohon besar itu.
" Hati-hati Kapten...," kata salah satu rekan Rex yang dijawab lambaian tangan oleh Rex.
Rex pun tiba di bawah pohon besar itu sambil mengeluarkan pisau dari balik pinggangnya. Sambil menggenggam erat pisau Rex mencoba melihat orang yang diyakininya sembunyi di balik pohon itu.
Dari jarak sedekat itu Rex bisa mendengar suara nafas yang berat. Rex mengerutkan keningnya karena merasa jika suara itu terdengar tak biasa. Lebih mirip hewan besar yang usai berlari karena dikejar musuhnya.
Rex melongokkan kepalanya dan terkejut saat melihat penampakan sosok menyeramkan di balik pohon itu.
Bagaimana tidak. Sosok makhluk yang lebih mirip monster itu, berdiri tegap di balik pohon. Kepalanya sebesar kepala manusia tapi menyerupai kepala kelelawar dengan sayap besar di belakang tubuhnya. Sosok makhluk yang berjenis kelamin laki-laki itu juga tampak bertelan**ng dada dan tak mengenakan sehelai pakaian pun. Ia menyeringai hingga memperlihatkan deretan gigi runcingnya hingga membuat Rex terkejut bukan kepalang.
" Astaghfirullah aladziim...! " kata Rex lantang.
Bersamaan dengan ucapan istighfar Rex, makhluk jadi-jadian itu pun menghilang. Lenyap tanpa bekas meninggalkan Rex dalam kebingungan.
" Makhluk apaan tuh...?" gumam Rex sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk mencari keberadaan makhluk itu.
" Ada apa Kapten...?!" tanya dua orang rekan Rex yang menyusul Rex karena mendengar Rex mengucap istighfar tadi.
" Bukan apa-apa. Ayo Kita balik lagi ke sana...," ajak Rex sambil berlalu.
Kedua rekan Rex nampak menatap sejenak dengan tatapan bingung, namun sesaat kemudian mereka mengikuti Rex yang berjalan menjauhi pohon besar itu.
\=\=\=\=\=