
Dua hari setelah pertemuan Rex dengan Fadlan dan teman-temannya, Fadlan pun datang ke rumah Ramon untuk mencari Rex.
" Bang Rexnya ada Om...?" tanya Fadlan setelah Ramon menjawab salamnya.
" Belum pulang. Tumben nyariin Bang Rex...?" tanya Ramon.
" Iya Om, lagi ada perlu sedikit. Emang biasanya Bang Rex pulang jam berapa Om...?" tanya Fadlan lagi.
" Harusnya sih jam limaan udah di rumah. Tapi kadang Bang Rex mampir ke bengkelnya Bang Gama. Ntar pulang ke rumah kira-kira jam sembilan atau sepuluhàn gitu lah...," sahut Ramon.
Jawaban Ramon membuat Fadlan kecewa. Ia nampak gelisah dan itu membuat Ramon iba. Karena yakin jika remaja itu memang perlu bantuan Rex, Ramon pun menawarkan untuk membantu menghubungi Rex.
" Om telephon dulu biar Bang Rex pulang cepet dan ga mampir kemana-mana ya...," kata Ramon hingga membuat Fadlan tersenyum.
" Boleh deh Om...," sahut Fadlan dengan wajah berbinar.
Ramon pun menghubungi Rex dengan ponselnya. Di seberang telephon Rex nampak menepuk dahi karena lupa akan janjinya kepada Fadlan dan teman-temannya itu.
" Kamu pulang dulu aja Nak. Rex bilang bakal nemuin Kalian di masjid nanti. Dia juga pesen kalo Kalian harus ikut sholat Maghrib berjamaah di masjid...," kata Ramon.
" Ok deh, kalo gitu Aku pamit Om. Sekalian mau ngasih tau temen-temen supaya kumpul di masjid nanti. Makasih ya Om, Assalamualaikum...," kata Fadlan sambil mencium punggung tangan Ramon dengan khidmat lalu bergegas pergi.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Ramon sambil melepas kepergian Fadlan sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Rex menepati janjinya untuk menemui Fadlan dan teman-temannya usai sholat Maghrib berjamaah di masjid.
Kini mereka duduk di teras masjid. Sambil menunggu waktu sholat Isya Rex pun mulai menasehati para remaja di hadapannya itu. Fadlan dan teman-temannya nampak serius mendengarkan ulasan Rex.
" Ada hal yang ga bisa dijadiin mainan termasuk tentang arwah atau makhluk halus. Sebenernya Kalian tau kan kalo main jailangkung artinya Kalian manggil arwah orang yang udah meninggal dunia...?" tanya Rex sambil menatap remaja di hadapannya satu per satu.
" Tau Bang...," sahut Kevin mewakili teman-temannya.
" Yang Abang ga paham tuh kenapa Kalian punya ide buat mainin permainan itu. Apa ga ada jenis permainan yang lain ya...?" tanya Rex.
" Itu gara-gara Fadlan Bang...!" sahut Kevin dan teman-temannya sambil menunjuk kearah Fadlan.
" Kok Gue...?!" kata Fadlan tak terima.
" Emang Lo !. Sebenernya Kita kan cuma mau jalan aja ke mall yang baru buka itu. Tapi Lo malah ngusulin ide g*la buat uji nyali...!" hardik Emir kesal.
" Itu kan gara-gara si Kevin nantangin Gue...," sahut Fadlan.
" Gua ga nantangin. Kan Gue cuma bilang kalo dulunya lahan yang dibikin mall itu banyak hantunya. Makanya ga heran kalo orang yang kerja di sana pada kesurupan...," kata Kevin tak mau kalah.
" Tapi Lo ngatain Kita semua penakut...!" sahut Fadlan kesal.
" Itu karena Lo semua ga percaya sama cerita Gue. Padahal kan cerita itu Gue dapat dari sumber yang terpercaya. Orang itu kerja sebagai security di mall itu, sering kebagian shift malam juga. Lo bisa bayangin kan ngontrol tempat segede itu pas malam hari, sepi, ga ada orang. Gue percaya sama ceritanya tapi Lo malah ngeremehin cerita Gue. Makanya Gue tantangin aja sekalian buat uji nyali. Secara Lo semua kalo ngomong kan pada jago tuh...," kata Kevin sambil mencibir.
Fadlan, Emir dan teman-temannya pun terdiam mendengar jawaban Kevin. Sedangkan Rex tak kuasa menahan tawa mendengar alasan utama mereka memainkan permainan konyol itu. Rex sadar jika usia mereka sedang ada dalam tahap ingin tahu dan ingin mencoba banyak hal.
" Jadi, makhluk apa yang datang saat Kalian main jailangkung itu...?" tanya Rex setelah tawanya mereda.
" Mmm..., kayanya sih arwah laki-laki yang meninggal karena dibunuh Bang...," sahut Fadlan cepat.
" Ga lah Mir. Betul yang Fadlan bilang...," kata Kevin dan seorang lainnya.
" Tapi Gue mimpinya begitu. Perempuan itu datang sambil bilang harus dinikahin secepatnya gitu lah...," sahut Emir tak mau kalah.
Melihat para remaja di depannya berdebat lagi, Rex pun tersenyum. Ia ingat dulu juga sering melakukan hal yang sama dengan Gama, Fatir dan teman mereka lainnya.
" Udah cukup. Coba ceritain kenapa Kamu bisa yakin kalo itu arwah korban pembunuhan...?" tanya Rex sambil menatap Fadlan.
" Kan waktu Kita selesai baca mantra, tau-tau lilinnya mati. Terus ada suara mirip karung berisi beras yang jatoh ke tanah gitu Bang. Ada suara orang mengerang kesakitan juga. Pas lilinnya dinyalain lagi, ga ada apa-apa di sana. Tapi badanku merinding semua Bang...," sahut Fadlan sambil bergidik.
Kevin dan seorang temannya mengiyakan pernyataan Fadlan. Sedangkan Emir dan teman lainnya saling menatap bingung karena yakin bukan itu yang mereka alami saat permainan jailangkung.
" Dia juga datang dalam mimpi Bang, sama kaya yang Emir alamin. Mukanya sih ga jelas, kaya siluet cowok tapi ga ada kepalanya. Badannya berlumuran darah, ga pake baju terus tangannya terulur sambil merintih minta tolong dicariin kepalanya...," kata Fadlan menambahkan.
" Terus kalo Kalian gimana...?" tanya Rex sambil menatap Emir dan remaja lainnya bergantian.
" Kalo Aku sih pas lilinnya mati ngerasa ada cewek jalan di belakang Aku. Bajunya panjang sampe ke lantai, jadi kalo dia jalan terdengar suara srek srek mirip orang lagi nyapu. Udara di sekitar Kita emang dingin sih tapi wangi Bang...," sahut Emir yang diangguki teman-temannya.
" Kamu juga dimimpiin kaya Fadlan dan Emir ga...?" tanya Rex sambil menatap Kevin.
" Ga Bang...!" sahut Kevin dan teman-temannya bersamaan.
" Kalo Kamu, mimpinya apa Mir...?" tanya Rex sambil menatap Emir.
" Mmm..., itu Bang...," Emir nampak ragu menceritakannya.
" Itu apa...?" tanya Rex dengan sabar.
" Gapapa Mir, ceritain aja semuanya biar Bang Rex bisa bantuin sampe tuntas. Emangnya Lo mau tiap malam diajak begituan sama hantu...?" tanya Kevin setengah berbisik.
" Ya ga mau lah Vin. Emang enak sih, tapi lama-lama ngeri juga. Gue ga mau mati dikejar-kejar hantu gara-gara ngelakuin maksiat yang Gue sendiri ga ngerti...!" sahut Emir cepat.
Ucapan Emir membuat Rex mengerutkan keningnya. Ia menatap penuh selidik kearah Emir yang duduk sambil sesekali menatap ke sekelilingnya dengan gelisah.
" Kamu diajak berhubungan int*m sama hantu itu Mir...?" tanya Rex hati-hati.
" Iya Bang...," sahut Emir lirih lalu menundukkan wajahnya karena malu.
" Astaghfirullah aladziim...," kata Rex sambil menggelengkan kepalanya hingga membuat para remaja di hadapannya panik.
" Kok istighfar Bang. Emang itu berbahaya ya Bang...?" tanya Emir cemas.
" Iya...," sahut Rex cepat.
" Terus Kita harus gimana Bang...?!" tanya Fadlan.
" Kita harus cepet bertindak. Karena hantu yang datang ke mimpi terus sampe ngajak melakukan hubungan int*m biasanya makhluk yang beraliran hitam alias jahat. Efeknya bisa merugikan karena aura positif dari orang yang diajaknya melakukan itu akan terkuras habis. Dan makhluk itu ga bakal melepaskan korbannya sampe korbannya mati...," sahut Rex.
Ucapan Rex membuat Fadlan cs terkejut. Mereka saling menatap dengan tatapan bingung dan takut. Dalam hati mereka menyesal karena telah memainkan permainan jailangkung yang berbahaya itu.
bersambung