Kidung Petaka

Kidung Petaka
39. Ga Baik - Baik


Kemudian Rex dan Gama bergabung dengan Ramon dan Hasan. Keempatnya terlibat pembicaraan santai hingga sesaat kemudian wajah Hasan berubah saat Gama bertanya sesuatu.


" Kalo boleh tau dulunya sebelum dibangun jadi ruko, ini tempat apaan sih Om...?" tanya Gama.


" Bukan apa-apa. Cuma tempat kumuh yang disulap jadi ruko berdaya jual tinggi. Kenapa Gam...?" tanya Hasan.


" Gapapa Om, cuma pengen tau aja. Soalnya Mama Saya tuh banyak nanya. Kalo Saya ga bisa jawab pertanyaannya nanti bisa habis Saya...," sahut Gama asal namun membuat Hasan tersenyum.


" Apa itu artinya Kamu setuju untuk nyewa ruko ini Gam...?" tanya Ramon.


" Insya Allah Saya setuju Om. Saya ngerasa cocok sama tempat dan lingkungannya...," sahut Gama cepat.


" Kalo begitu Saya akan siapkan semua dokumen yang diperlukan. Tapi mengenai harganya gimana Gam, apa Kamu ga keberatan sama harganya...?" tanya Hasan.


" Sebenernya sih agak keberatan Om. Tapi Saya bakal seneng lho kalo Om Hasan ngasih Saya discount karena Saya udah setuju menyewa saat pertama kali masuk ke dalam sana...," gurau Gama.


" Oh, kalo itu Kamu tenang aja. Saya bisa kasih Kamu harga khusus karena Kamu keponakannya Ramon...," kata Hasan sambil tersenyum.


" Beneran Om...?" tanya Gama tak percaya.


" Iya, apa Saya keliatan lagi bohong ya Gam...?" tanya Hasan sambil menekuk wajahnya.


" Maaf, maaf Om. Saya ga bermaksud begitu. Abisnya Saya seneng banget denger Om mau kasih Saya discount...," sahut Gama malu-malu.


Ucapan Gama membuat Rex, Ramon dan Hasan tertawa. Kemudian Hasan pamit untuk mengambil dokumen yang diperlukan.


" Apa Om Hasan biasa bisnis sewa dan jual beli ruko Yah...?" tanya Rex saat Hasan menjauh.


" Iya Nak. Ini bisnisnya dari dulu. Memang penghasilannya ga tetap tapi sekali berhasil menjual atau menyewakan tempat dia dapat komisi yang besar. Makanya dia bisa beli mobil dan rumah dari penghasilannya itu...," sahut Ramon.


" Jadi ruko ini bukan punya Om Hasan dong Om...?" tanya Gama.


" Iya. Dia hanya mediator alias calo yang bantu masarin ruko ini...," sahut Ramon cepat.


" Emangnya Ayah kenal Om Ramon dimana...?" tanya Rex.


" Ehm..., Ayah sih kenal sama Om Hasan bukan di tempat yang baik Rex. Kami pertama ketemu dan kenal itu pas ada tawuran antar genk preman dulu...," sahut Ramon sambil memutar gelasnya.


" Tawuran antar genk ?. Jangan-jangan Om Ramon dan Om Hasan salah satu anggota genk preman...?" tanya Gama sambil membulatkan matanya.


" Lo salah Gam. Ayah ini justru ketua genknya. Nah kalo Om Hasan mungkin anggota genk lain...!" sahut Rex dengan mimik wajah bangga.


" What ?!. Yang bener Om...?!" tanya Gama setengah menjerit.


" Iya Gam. Tapi semua cuma masa lalu. Sekarang Kami udah tobat dan ga mau terlibat pergaulan yang meresahkan masyarakat itu lagi...," sahut Ramon malu-malu.


" Emangnya apa yang Om and the genk lakuin sampe harus tobat segala...?" tanya Gama sambil tersenyum penuh makna.


" Banyak Gam. Pokoknya hampir semua perbuatan jelek pernah Kami lakuin. Bodohnya, dulu Kami merasa kalo apa yang Kami lakuin itu sebuah prestasi yang patut dibanggakan...," kata Ramon sambil tertawa diikuti Rex dan Gama.


" Hampir semua perbuatan jelek...?" ulang Gama.


" Iya. Kecuali zina dan membunuh orang. Kalo cuma bikin bonyok orang mah sering Gam...," sahut Ramon sambil tersenyum.


" Kenapa Om...?" tanya Gama penasaran.


" Kenapa apanya...?" tanya Ramon.


" Karena resikonya besar. Om lebih suka berantem dan mabok miras. Om juga ga suka make narkoba walau pun anggota genk sebagian make itu. Menurut Om, berzina itu selain merusak badan juga merusak hati dan pikiran. Kita jadi jahat sama orang dan ga bakal objektif lagi dalam memandang sesuatu. Semua akan dibawa pake naf*u dan itu berbahaya. Bisa-bisa Kita menghalalkan segala cara supaya bisa melampiaskan hasrat yang sebenarnya suci itu...," sahut Ramon.


" Hasrat suci karena jika disalurkan di tempat yang benar maka akan jadi ibadah. Gitu Gam...," sela Rex yang melihat kebingungan di wajah Gama.


" Oh gitu ya...," sahut Gama sambil nyengir.


" Kok Kamu keliatan bingung. Apa jangan-jangan bener kata Mama Kamu kalo Kamu udah pernah menghamili perempuan Gam...?" tanya Ramon sambil menatap lekat kearah Gama.


" Eh, apaan nih. Om jangan kebawa gosip yang Mama bilang deh. Aku ga hamilin perempuan ya Om !. Gaya pacaranku tuh sehat lho Om, yah walau pun mantan pacarku banyak. Abis gimana dong Om, Aku kan keren jadi penggemarku juga banyak. Tapi Aku ga sembarangan milih Om. Cuma cewek baik-baik yang bisa jadi pacarku...!" sahut Gama bangga.


" Wah kasian banget ya mantan-mantan Lo itu...," kata Rex.


" Kok kasian ?. Gue kan ga ngapa-ngapain mereka Rex. Lepas dari Gue mereka tetep utuh kok, tetep virgin...!" sahut Gama lantang.


" Iya percaya. Kan tadi Lo bilang cuma cewek baik-baik yang bisa jadi pacar Lo. Artinya mereka rugi karena dapat cowok ga baik kaya Lo...!" kata Rex.


" Ga baik apanya sih...?" tanya Gama tak suka.


" Mana ada cowok baik-baik yang suka gonta ganti pacar seenaknya. Walau ga sampe melakukan persetub**an tapi Lo kiss dan peluk mereka juga kan. Itu artinya lepas dari Lo, mereka juga udah ga baik-baik lagi...," sahut Rex sambil mencibir hingga membuat wajah Gama memerah.


" Namanya pacaran kan emang kaya gitu. Itu masih normal kok. Emangnya Lo ngapain aja sama cewek Lo...?!" tanya Gama sambil membulatkan matanya.


" Rahasia. Itu ranah pribadi Gue dan cuma Gue, dia dan Allah yang tau...," sahut Rex santai namun membuat Gama meledak.


" Jangan sok suci Lo Rex...!" kata Gama lantang.


" Ups, Lo salah Gam. Istilah itu cuma tepat ditujukan untuk cewek...," kata Rex mengingatkan sambil menggelengkan kepalanya.


" Sia*an, banyak bacot Lo...!" kata Gama kesal.


Menyaksikan perdebatan Rex dan Gama membuat Ramon tertawa keras. Namun tawanya terhenti saat Hasan kembali dengan membawa dokumen sewa ruko yang harus ditandatangani Gama.


" Uangnya cash atau transfer aja Om...?" tanya Gama.


" Transfer aja ya Gam. Om ga mau pegang uang banyak, apalagi uang orang. Takut khilaf...," sahut Hasan sambil nyengir.


Ucapan Hasan membuat Rex dan Gama tertawa sedangkan Ramon dan Hasan hanya tersenyum penuh makna.


" Saya sewa setahun dulu ya Om...," kata Gama sambil membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermaterai.


" Iya Gam. Ini aja udah lumayan bagus. Karena biasanya orang cuma berani nyewa ruko ini per tiga bulan...," sahut Hasan.


" Kok gitu, emang kenapa Om...?" tanya Gama.


" Setau Om, penyewa ruko yang membuka usaha di sini rata-rata mengalami peningkatan dalam tiga bulan. Tapi biasanya setelah usaha mereka berkembang, mereka cari tempat lain. Padahal menurut Om lebih baik stay di sini karena para pelanggan kan udah banyak. Tapi itu sih keputusan mereka ya Gam. Om kan cuma orang luar yang ga punya hak apa-apa..., " sahut Hasan sambil memasukkan berkas ke dalam tas.


Ucapan Hasan membuat Rex dan Gama saling menatap curiga. Mereka yakin jika itu berkaitan dengan suara lengkingan yang mereka dengar tadi.


" Mungkin ada sesuatu yang bikin mereka ga betah Om...," celetuk Rex.


" Mungkin juga. Tapi setau Om semua baik-baik aja kok Rex...," sahut Hasan.


Rex mengangguk namun dalam hati tetap yakin jika ada yang tak baik-baik saja di tempat itu.


\=\=\=\=\=