
Setelah berbincang sejenak, Ramon dan Rex memutuskan kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Rex berbaring di atas tempat tidur. Ia kembali mengingat pertemuannya dengan hantu wanita berbaju pink itu dan pertanyaannya yang terus menggema di kepalanya.
" Suruh jemput, tapi jemput kemana ? Duh, Gue kok ngerasa khawatir ya. Jangan-jangan Gue udah pernah bikin janji sama cewek dan dia nungguin terus sampe dia meninggal dunia. Buktinya ruhnya datang buat nagih janji. Hiiyyy...," gumam Rex sambil bergidik.
Karena lelah mengingat ditambah lelah seharian menemani Gama, akhirnya Rex pun tertidur.
Tapi tengah malam Rex terbangun karena mendengar suara isak tangis perempuan. Rex membuka mata dan mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar mengira jika suara itu berasal dari kamarnya.
" Siapa yang nangis malam-malam kaya gini. Jangan-jangan Kak Lian, atau Ibu...," batin Rex sambil mengucek matanya lalu bergegas turun dari tempat tidur.
Rex membuka pintu kamar lalu menuju ke kamar sang kakak. Saat akan mengetuk pintu kamar, Rex lebih dulu menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengar suara di balik pintu. Hening, tak ada suara apa pun. Tapi saat itu suara isak tangis perempuan itu masih terdengar samar.
Rex pun bergeser ke kamar orangtuanya dan melakukan hal yang sama sebelum mengetuk pintu. Tapi nihil. Tak ada suara tangisan dari balik pintu kamar.
Karena penasaran, Rex pun mencari sumber suara ke sekeliling rumah. Rex berhenti di ruang makan. Ia duduk sambil meneguk segelas air. Tiba-tiba Rex tersentak saat sadar jika suara itu terus mengikuti kemanapun dia pergi.
" Suaranya daritadi ngikutin Gue...," gumam Rex sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Kemudian Rex teringat pada hanfu wanita berbaju pink itu. Rex pun melangkah cepat menuju ruang tamu lalu menyibak gorden jendela untuk melihat ke halaman.
Rex menghela nafas panjang saat melihat hantu wanita berbaju pink itu duduk di lantai teras sambil membelakangi pintu.
Perlahan Rex membuka pintu lalu berdiri di ambang pintu.
" Ada apa lagi ?. Kenapa Kamu datang dan mengganggu. Apa salahku sama Kamu hingga Kamu berbuat begini. Aku capek mau istirahat. Kalo emang mau dibantu, tolong jangan ganggu Aku sekarang. Kita omongin besok ya...," pinta Rex.
Wanita berbaju pink itu menghentikan tangisnya.
" Kenapa Kamu ga datang ?. Kamu janji kan mau menjemput Aku. Kamu ga tau kan apa yang menimpaku saat Aku menunggu Kamu...?" tanya hantu wanita itu dengan suara bergetar.
" Aku ga tau Kamu siapa. Tolong jangan berputar-putar dengan pertanyaan yang sama. Katakan siapa Kamu dan kenapa ngikutin Aku sampe ke sini....?" tanya Rex mulai kesal.
Wanita berbaju pink itu berdiri lalu berjalan menjauh dan hilang menembus dinding pagar.
Rex mengusak rambutnya dengan kasar karena kesal tidurnya terganggu. Setelah memastikan wanita itu tak kembali, Rex pun menutup pintu lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
" Dasar wanita aneh...," gerutu Rex sambil menutupi wajahnya dengan guling.
Tak butuh waktu lama Rex pun kembali terlelap.
\=\=\=\=\=
Usai menunaikan sholat Subuh berjamaah di masjid, Gama menarik tangan Rex untuk mengajaknya bicara empat mata.
" Ada apaan sih Gam...?" tanya Rex.
" Gara-gara Lo ngomongin hantu cewek itu seharian, semalam dia datang ke rumah Gue Rex...!" sahut Gama kesal hingga mengejutkan Rex.
" Datang gimana maksud Lo. Emangnya Lo ngeliat gimana wujudnya...?" tanya Rex.
" Iya lah. Dia pake baju pink kan ?. Mukanya tirus, badannya kurus...," sahut Gama sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena tak ingin pembicaraan rahasia itu didengar orang lain.
" Betul. Terus dia ngomong apaan...?" tanya Rex.
" Ya Allah, udah bagus dia ga ngomong apa-apa Rex. Kalo sampe dia ngomong sesuatu, Gue ga yakin bisa bangun dan sholat Subuh di masjid sekarang...," sahut Gama.
" Lho, emangnya kenapa...?" tanya Rex tak mengerti.
" Ya Gue pingsan dong dodol !. Kalo ga ada yang bangunin gimana Gue bisa siuman...?!" tanya Gama lantang hingga membuat Rex tersenyum.
" Emangnya serem banget ya sampe Lo harus pingsan segala...?" tanya Rex.
" Serem lah, apalagi dia bolak-balik aja di depan Gue kaya ga ada capeknya...," sahut Gama cepat.
" Hantu mana kenal capek sih Gam, aneh aja Lo. Lagian bukan cuma Lo yang didatengin, Gue juga kok. Malah sempet ngobrol segala sama Gue...," kata Rex santai hingga mengejutkan Gama.
" Anjrit, yang bener Rex !. Lo ngobrol sama hantu itu ?. Ngobrol apaan...?!" tanya Gama setengah menjerit.
" Sorry keceplosan. Terus dia ngomong apaan Rex...?" tanya Gama penasaran.
Kemudian Rex menceritakan pengalamannya dua kali bertemu dan berkomunikasi dengan hantu wanita berbaju pink itu.
" Gue salut sama Lo Rex. Bisa ngeliat sampe ngobrol segala tanpa rasa takut. Gue aja yang ngeliat dia mondar-mandir doang sampe keringat dingin dan ga bisa tidur...," kata Gama sambil mengusap tengkuknya.
" Justru itu yang bikin Gue bingung Gam. Gue ngerasa cewek itu nagih janji seolah udah kenal lama. Gue udah berusaha ngingat nama cewek itu atau siapa dia, tapi Gue benar-benar lupa...," kata Rex gusar.
" Parah Lo Rex. Janji apaan sih sama cewek itu sampe bikin dia nungguin lama. Ga heran kalo dia jadi hantu gentayangan yang datangin Lo buat nagih janji...!" kata Gama dengan mimik tak suka.
" Eh monyong, Gue bilang kan kayanya. Belum tentu itu Gue kan...?" kata Rex tak terima.
" Bisa aja Rex. Coba Lo inget-inget udah berapa kali Lo tugas luar. Nah mungkin di tempat tugas Lo itu ada cewek yang ngejar-ngejar Lo karena cinta mati sama Lo. Supaya cewek itu berhenti ngejar, Lo pura-pura membalas cintanya dan menjanjikan sesuatu sama dia...," kata Gama.
" Selama Gue tugas Gue ga pernah terlibat hubungan sama cewek mana pun Gam. Itu karena Gue ga mau bikin anak orang berharap dan menunggu tanpa kepastian karena Gue sadar Gue anggota TNI yang harus siap ditugasin kemana pun. Lain cerita kalo itu Istri Gue nantinya...," sahut Rex mantap.
" Yakin...?" tanya Gama.
" Yakin lah...," sahut Rex cepat.
" Jadi siapa dong cewek itu...?" tanya Gama gusar.
" Gimana kalo Lo traktir Gue makan bubur ayam di ujung jalan sana. Mungkin setelah perut Gue diisi sesuatu, otak Gue jadi lebih pinter dan bisa mikir lebih cepet...," kata Rex sambil tersenyum usil.
" Ck, kebiasaan Lo. Masih pagi udah malakin Gue. Gue mau ngopi bukan makan bubur ayam...," gerutu Gama hingga membuat Rex tertawa.
" Kopinya Gue yang traktir deh. Gimana...? " tanya Rex.
" Ok deal...!" sahut Gama cepat.
Kemudian keduanya tertawa sambil melangkah perlahan menuju pedagang bubur ayam yang mangkal di ujung jalan.
" Dibungkus aja Rex. Jangan lupa buat Ayah, Ibu dan Kakak Lo...," kata Gama sambil mengeluarkan selembar uang berwarna merah.
" Ok siap...," sahut Rex sambil tersenyum.
Lima belas menit kemudian Rex dan Gama telah tiba di depan rumah Ramon dan berpapasan dengan Lilian.
" Mau beli sarapan ya Kak?. Ga usah, nih Gama udah beliin bubur ayam buat Kita...," kata Rex sambil memperlihatkan kantong kresek di tangannya.
Lilian tersenyum lalu kembali ke dalam rumah diikuti Rex dan Gama.
" Kok balik lagi, warungnya tutup ya Kak...?" tanya Lanni.
" Ga Bu. Kata Rex, Gama udah beliin sarapan buat Kita...," sahut Lilian.
" Alhamdulillah, makasih ya Gam...," kata Lanni sambil tersenyum.
" Sama-sama Bu...," sahut Gama.
" Tapi dia mau numpang ngopi di sini lho Bu...," sela Rex sambil melangkah ke ruang makan.
" Oh ga masalah. Kebetulan Kak Lian udah nyiapin kopi di teko...," sahut Lanni.
" Tumben ngopi, biasanya susu...," kata Rex.
" Hari ini semua orang di rumah ini boleh ngopi. Kak Lian beli kopi yang ada rempah-rempahnya, katanya bagus buat kesehatan...," sahut Lanni.
" Pantesan nyeduh kopi banyak. Pasti ga enak rasanya..., " kata Rex kecewa.
" Siapa bilang ?. Coba dulu baru koment...!" sahut Lilian cepat.
" Udah ga usah ribut. Mana bubur ayamnya ?. Ayah mau makan sekarang...," kata Ramon menengahi.
Rex menyodorkan sekotak bubur ayam pada sang ayah. Kemudian semua duduk di ruang makan untuk sarapan.
\=\=\=\=\=