
Rex masih berdiri sambil menunggu wanita itu bicara lagi. Namun setelah menunggu beberapa saat, wanita itu tak jua bicara. Bahkan sosoknya yang tadi mulai terlihat jelas perlahan memudar lalu hilang sama sekali.
Rex kembali mengedarkan pandangannya, namun sayangnya ia tak berhasil menjumpai wanita itu lagi.
Sesaat kemudian Rex membuka matanya. Rex merasa suhu di dalam kamarnya menjadi lebih dingin dari biasanya. Nafasnya pun terasa berat. Perlahan Rex bangkit dari posisi tidurnya lalu menyentuh kepalanya.
" Mimpi ?. Tapi kok sebentar banget...," gumam Rex sambil melirik jam di dinding kamarnya.
Rex mengabaikan mimpi itu dan mencoba berpikir positif. Ia merasa jika mimpi tadi terjadi karena ia terlalu memikirkan sosok wanita di bawah pohon mahoni itu. Setelahnya Rex melangkah keluar kamar karena berniat mencuci pakaian kotor yang direndamnya tadi.
\=\=\=\=\=
Hari itu adalah hari dimana Gama menggelar pengajian dalam rangka tasyakuran pembukaan bengkelnya. Keluarga Rex kembali dilibatkan dalam persiapan acara tersebut. Gondo dan Mira terlihat bahagia melihat usaha Gama mewujudkan impian mereka. Keduanya hadir untuk mensuport Gama, walau mereka harus segera kembali ke Riau untuk menyelesaikan urusan mereka nanti.
Tiga orang karyawan yang direkomendasikan Rex pun turut hadir dalam acara tersebut. Mereka sigap membantu menyiapkan semua keperluan tasyakuran nanti. Ramon yang telah mengenal ketiganya pun menyapa mereka dengan hangat.
" Jadi Kalian yang bakal bantuin Gama nanti...?" sapa Ramon.
" Iya Om...," sahut Edi, Ipung dan Riki sambil mencium punggung tangan Ramon dengan takzim.
" Bagus lah. Gama memang baru di sini, tapi dia anak yang baik...," kata Ramon.
" Iya Om. Bang Gama orangnya asyik sama kaya Bang Rex. Kami malah merasa kaya temen dan bukan karyawan...," sahut Ipung yang diangguki Edi dan Riki.
" Syukur lah kalo chemistry Kalian udah dapet. Selanjutnya tinggal dirawat biar bisa memajukan bengkel ini bersama-sama. Kan kalo bengkelnya maju otomatis Kalian juga kena imbasnya...," gurau Ramon.
Edi, Ipung dan Riki pun tertawa karena paham dengan maksud Ramon. Tawa mereka terhenti saat melihat Lanni dan Lilian datang dengan membawa tumpukan kardus berisi makanan. Ketiganya sigap membantu Lanni dan Lilian lalu membawa kardus-kardus itu ke dalam bengkel.
Tak lama kemudian acara pengajian pun berlangsung, terlihat ramai namun khidmat. Rupanya Gama juga mengundang tetangga di sekitar ruko untuk hadir dalam acara pengajian itu.
Setelah pengajian selesai, acara dilanjutkan dengan berbincang santai sambil menikmati hidangan yang telah disajikan. Mira tampak berbincang dengan Lanni. Sedangkan Ramon dan Gondo terlihat menemani para tamu. Saat itu lah Lilian tertarik untuk melihat-lihat lantai atas.
" Ada apa di atas sana Gam. Boleh liat ga...?" tanya Lilian saat Gama mengambil piring berisi buah.
" Boleh Kak. Tapi sendirian gapapa ya, soalnya Gue lagi repot nemenin tamu...," sahut Gama.
" Gapapa, Gue bisa sendiri kok...," kata Lilian.
" Ok, hati-hati ya...," pesan Gama sambil berlalu.
Lilian mengangguk lalu mulai menaiki anak tangga perlahan. Tiba di lantai atas Lilian nampak tersenyum kagum.
" Ternyata pinter juga dia ngatur tempat dan milih barang...," gumam Lilian sambil mengamati sekelilingnya.
Di lantai atas terdapat musholla mini, kantor dan ruang istirahat. Lilian mengamati beberapa foto yang dipajang di dinding ruangan.
Saat sedang asyik mengamati ruangan di lantai atas, tiba-tiba Rex datang dan mengejutkan Lilian. Bisa ditebak bagaimana reaksi Lilian. Ia langsung mencubiti Rex dengan keras saking kesalnya. Sedangkan Rex nampak meringis sambil tertawa.
" Kenapa harus ngagetin sih. Tau kan kalo Aku ga suka dikagetin...!" kata Lilian gemas.
" Sorry Kak, ga sengaja. Lagian serius amat sih sampe ga denger suaraku...," sahut Rex di sela tawanya.
" Tau ah...!" kata Lilian sambil melengos.
" Ck, foto begini masih aja dipajang. Malu-maluin aja...," gumam Rex sambil menatap foto dirinya dan Gama saat remaja.
Foto itu diambil saat pihak Kepolisian sibuk menggali lapangan yang katanya menjadi sumber suara misterius dulu. Disebut misterius karena hanya terdengar di saat Maghrib dan malam hari tanpa tahu darimana asalnya.
Salah satu wartawan meminta Rex dan Gama berpose dengan berlatar belakang lapangan yang dipasangi police line. Rex dan Gama dengan senang hati berpose di depan kamera sang wartawan. Dan wartawan itu datang sehari kemudian sambil menyerahkan selembar foto kepada Rex dan Gama.
Karena hanya ada selembar foto, bisa ditebak bagaimana endingnya. Rex dan Gama bertengkar hebat untuk memperebutkan selembar foto itu. Masing-masing mengklaim dirinya berhak atas foto itu.
Perkelahian pun tak bisa dielakkan. Gondo yang melihat keduanya berkelahi di jalan dekat rumah pun datang melerai. Semula Gondo meminta Gama mengalah dan memberikan foto itu kepada Rex. Namun Gama menolak dan itu membuat Gondo bingung.
Saat itu lah Ramon datang dan memberi solusi. Rex dan Gama diharuskan menjawab beberapa pertanyaan. Barang siapa yang paling banyak menjawab dengan benar, dialah yang berhak memiliki foto itu. Akhirnya Gama lah yang berhasil memiliki foto itu setelah berhasil mengalahkan Rex.
Rex nampak menghela nafas panjang saat ingatannya tentang asal muasal foto itu berakhir.
" Foto apaan sih Rex...?" tanya Lilian tiba-tiba sambil ikut mengamati foto yang dilihat Rex.
" Foto yang diambil pas ada galian di lapangan dulu itu Kak...," sahut Rex.
" Oh, galian yang katanya ada suara misterius itu ya...?" tanya Lilian.
" Iya. Kalo diinget-inget pengen ketawa deh. Masa iya satu kampung bisa dikibulin pake suara misterius itu...," kata Rex sambil tertawa.
" Ga taunya suara rekaman kaset ya Rex...," kata Lilian ikut tertawa.
" Iya...," sahut Rex.
" Ngetawain apaan sih, seru banget keliatannya...?" tanya Gama dari anak tangga.
Rex dan Lilian pun menoleh kearah Gama yang baru saja tiba di lantai atas.
" Lagi ngetawain foto ini...," sahut Lilian sambil menunjuk foto Rex dan Gama yang saling merangkul itu.
" Oh, ini foto bersejarah buat Gue. Karena untuk mendapatkannya harus ada perjuangan dan pengorbanan yang besar. Iya kan Rex...?" tanya Gama sambil tersenyum penuh makna.
" Cih, itu karena Lo curang Gam...!" kata Rex kesal.
" Gue ga curang Rex. Lo aja yang kurang pinter...!" sahut Gama tak mau kalah.
" Sssttt..., udah sih. Cuma selembar foto aja kok ribut. Foto ini ga lebih penting dari persahabatan Kalian. Foto bisa rusak dan hilang akpan aja. Tapi persahabatan yang pake hati ga bakal hilang walau dimakan jaman. Ngerti ga...?!" tanya Lilian sambil menatap Rex dan Gama bergantian.
Rex dan Gama menganggukkan kepala. Sedangkan Lilian nampak tersenyum bahagia karena berhasil melerai pertikaian Rex dan Gama kali ini.
Sesaat kemudian Mira memanggil Rex, Gama dan Lilian untuk makan. Lilian yang pertama menuruni anak tangga disusul Gama. Rex yang berada di barisan paling belakang harus bersabar menunggu giliran. Saat itu lah tak sengaja Rex menoleh keluar jendela tepatnya kearah pohon mahoni di pinggir jalan raya. Dan Rex dibuat terkejut karena melihat sosok wanita aneh itu lagi di sana.
" Dia lagi. Siapa dan mau apa sih dia...," gumam Rex.
Kemudian Rex mengalihkan tatapannya saat Gama memintanya segera turun.
bersambung