
Rex tampak mondar mandir mengamati sekelilingnya. Saat itu ia memimpin regu yang bertugas menjaga keamanan lingkungan sekitar markas tempatnya berkantor selama ini.
Walau raganya berada di markas, namun pikiran Rex mengembara entah kemana. Sejak menerima kabar dari Gama tentang situasi di Rumah Sakit Sentosa, Rex menjadi cemas bukan kepalang. Ia khawatir jika pria asing itu melukai kakaknya.
" Kalo sampe dia berani menyentuh Kak Lian seujung kuku aja, Gue pastiin dia bakal nyesel selama sisa hidupnya. Dia bakal mohon ampun dan lebih milih mati daripada hidup...," gumam Rex sambil menggertakkan giginya.
Beberapa kali Rex melangkah mondar mandir sambil menggumam tak jelas hingga seorang prajurit tentara datang menghadap.
" Selamat malam Letnan !. Saya Sersan Dua Andi melapor...!" kata sang prajurit.
" Selamat malam. Ada apa Sersan...?" tanya Rex.
" Kondisi medan sebelah barat dan selatan aman. Tak ada hal yang mencurigakan, laporan selesai...!" sahut Andi.
" Bagus, lanjutkan. Dua jam lagi Kita berkumpul di lapangan...," kata Rex.
" Siap Letnan...!" sahut Andi sambil memberi hormat lalu berbalik menghadap pintu.
Sersan Satu Andi pun bersiap melangkah keluar saat Rex kembali memanggilnya.
" Sebentar Sersan Andi...!" panggil Rex.
" Siap Letnan...!" sahut Andi hingga membuat Rex tersenyum.
" Ga usah terlalu formil, Saya mau ngobrol sedikit sama Kamu...," kata Rex sambil menunjuk kursi di sampingnya.
Sersan Satu Andi pun tersenyum lalu menghampiri Rex dan duduk di sampingnya.
" Ada apa Letnan, Keliatannya lagi galau ya...?" tanya Andi.
" Iya nih...," sahut Rex sambil mengusap wajahnya.
" Wah kira-kira apa ya yang bikin Letnan Satu Rex Aldan ini galau...," goda Andi sambil menarik turunkan alisnya.
" Ck, jangan mulai lagi deh Ndi. Gue baru aja dapat kabar kalo ada pelecehan pasien lagi di Rumah Sakit Sentosa. Lo paham kan maksud Gue...," kata Rex gusar.
" Iya Gue paham. Terus apa mau Lo...?" tanya Andi.
" Gue bakal kejar orang yang udah bikin kekacauan ini ke mana pun. Sampe ujung dunia kalo perlu...," sahut Rex gusar.
" Ok, Gue dukung niat Lo. Gue siap bantu, kapan pun Lo perlu tinggal bilang aja sama Gue...," kata Andi sambil menepuk pundak atasannya itu.
" Makasih Ndi...," sahut Rex sambil tersenyum.
Sersan Andi mengangguk. Ia melangkah keluar ruangan meninggalkan Rex seorang diri untuk melanjutkan tugasnya.
\=\=\=\=\=
Rex tiba di Rumah Sakit lebih awal dari waktu yang ia janjikan. Rupanya ia tak sabar untuk segera menemui Lilian.
" Rex...!" panggil Gama saat melihat sahabatnya itu turun dari motor kebanggaannya.
" Mana Kak Lian...?" tanya Rex sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Masih kerja ngecek pasien sama dokter. Kok udah di sini aja sih Rex, bukannya Lo bilang jam enam ya...?" tanya Gama.
" Kebetulan pasukan yang mau tuker jaga udah siap. Gue juga udah ijin sama Komandan jadi bisa ke sini lebih awal...," sahut Rex.
" Oh gitu...," kata Gama sambil menganggukkan kepalanya.
" Terus dimana Lo denger suara aneh itu Gam...?" tanya Rex.
" Di sini, di parkiran ini...," sahut Gama cepat.
" Kok tempatnya sama persis ya sama tempat dimana Gue denger suara itu...," kata Rex sambil mengamati sekelilingnya.
" Sekedar info aja nih Rex, entah berhubungan atau ga. Semalam waktu nganterin Kak Lian ngambil obat, Gue juga ngeliat orang lompat keluar pagar Rumah Sakit Rex. Gue ga tau dia cowok atau cewek. Tapi Gue yakin dia berniat ga baik karena keluar masuk dengan cara yang ga lazim...," kata Gama.
" Oh ya. Pagar sebelah mana Gam...?" tanya Rex.
Di pagi buta itu terlihat dua sosok pria rupawan bertubuh tegap melangkah beriringan. Siapa pun yang melihatnya akan dibuat terkagum-kagum terutama kaum hawa. Mereka yang merupakan tenaga medis, pasien dan keluarga pasien nampak menatap Rex dan Gama dengan tatapan mendamba dan tanpa berkedip.
" Ngeliat apaan sih Kalian...?" tanya Lilian sambil mengikuti arah tatapan para perawat itu.
" Dua cowok macho...," sahut Mia sambil tersenyum penuh makna.
Lilian pun tersenyum saat mengetahui dua orang yang dimaksud Mia adalah Rex dan Gama.
" Ck, kurang kerjaan banget sih Kalian...," kata Lilian sambil berdecak sebal.
" Ish, Lo tuh ga normal ya Li. Masa ngeliat cowok cakep plus keren gitu ga tertarik sama sekali. Jangan-jangan Lo punya kelainan ya Li...," kata Mia sambil mengerucutkan bibirnya.
" Sembarangan kalo ngomong. Jelas aja Gue ga tertarik karena yang Lo liatin itu adik Gue sama sahabatnya...!" sahut Lilian kesal.
Ucapan Lilian membuat semua rekannya tertawa keras, sedangkan Mia nampak salah tingkah.
" Ups, sorry Li. Gue kan ga tau...," kata Mia dengan wajah memelas.
Lilian mengabaikan ucapan Mia dan memilih kabur karena tak ingin meladeni ucapan Mia yang terkenal absurd itu.
\=\=\=\=\=
Jika Rex dan Gama tengah mengamati situasi di balik pagar Rumah Sakit, para Polisi justru tengah memeriksa rekaman CCTV yang ada di Rumah Sakit Sentosa.
" Kayanya orang ini lumayan mahir karena bisa ngadalin CCTV sebelum bertindak...," kata salah seorang polisi.
" Cuma lumayan mahir tapi ga mahir banget...," sela polisi lainnya hingga membuat semua tersenyum.
" Itu artinya pelaku adalah orang yang paham sama situasi Rumah Sakit..., " kata salah seorang polisi.
" Betul. Tapi sebentar, coba Kalian liat dua orang pria di sana itu...," kata seorang perwira polisi bernama Taufan.
" Ini sih kejadian sekarang Pak...," sahut security Rumah Sakit.
" Kalo gitu Kita ke sana sekarang...!" ajak Taufan.
Kemudian Taufan dan beberapa orang polisi beserta security Rumah Sakit bergegas mendatangi lokasi dimana Rex dan Gama berada.
Sempat terjadi kesalah pahaman diantara mereka. Namun beruntung saat itu Rex mengenakan seragam PDL tentara hingga membuat para Polisi sedikit segan padanya dan mau mendengarkan penjelasannya.
" Jadi begitu. Maafkan Kami karena mengira Kalian adalah pelaku...," kata Taufan sambil mengulurkan tangannya.
" Gapapa. Kita berada di pihak yang sama. Jadi alangkah baiknya kalo Kita bekerja sama untuk menangkap pelakunya...," sahut Rex bijak sambil menyambut uluran tangan Taufan.
" Setuju...!" sahut Gama dan para polisi lainnya bersamaan.
Lalu mereka pun saling bertukar informasi. Akhirnya Taufan mengerti mengapa Rex dan Gama tertarik mengungkap kasus pelecehan pasien Rumah Sakit Sentosa.
" Jadi rupanya perawat bernama Lilian itu Kakak Anda Pak Rex...," kata Taufan sambil tersenyum.
" Betul Pak. Karenanya Saya merasa ikut bertanggung jawab menjaga keamanan Rumah Sakit ini...," sahut Rex cepat.
" Kalo gitu Saya ga akan sungkan lagi. Sebenarnya Kami sudah mencurigai beberapa orang. Mereka adalah tenaga medis pria, bagian kebersihan dan security...," kata Taufan serius.
" Terus kenapa ga langsung diciduk aja Pak...?" tanya Gama penasaran.
" Kami masih harus mengumpulkan sedikit bukti lagi Pak Gama. Karena bukti yang akurat bisa membuat mereka tak berkutik...," sahut Taufan memberi alasan.
Jawaban Taufan membuat Rex dan Gama kesal karena merasa kinerja polisi sangat lamban. Tapi mereka sadar tak bisa terlalu jauh ikut campur karena itu bukan wewenang mereka.
" Jadi apa bisa lebih spesifik lagi siapa kandidat pertamanya Pak...?" kejar Rex tak sabar.
Taufan mengangguk lalu menyebut sebuah nama yang membuat Rex dan Gama terkejut.
bersambung