
Di waktu yang telah ditentukan, teman ustadz Mahdi pun datang berkunjung. Saat itu Rex baru saja menyelesaikan sholat Ashar berjamaah di masjid.
" Mas Rex, ini lho Ustadz Akbar yang Saya bilang kemarin. Beliau tertarik saat Saya ceritakan apa yang menimpa Fadlan. Sekarang Beliau di sini mau membantu anak-anak itu lepas dari kejaran hantu...," kata ustadz Mahdi.
" Alhamdulillah..., apa kabar Ustadz. Kenalkan Saya Rex dan ini Gama...," kata Rex memperkenalkan diri.
" Iya Mas Rex, Mas Gama. Senang berkenalan dengan Kalian...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum.
" Sebentar, maksudnya hantu apa ya Pak Ustadz. Saya kok malah ga tau apa-apa soal hantu...," sela Gama sambil menatap tiga pria di hadapannya dengan tatapan bingung.
" Lho, apa Mas Gama belum dengar ceritanya ?. Saya kira Mas Rex udah cerita makanya Kalian di sini sekarang...," kata ustadz Mahdi.
" Saya belum sempat cerita Ustadz, Saya baru aja pulang terus langsung ke masjid karena khawatir ketinggalan sholat Ashar berjamaah. Saya juga baru tau Gama ada di sini ya pas selsai sholat...," sahut Rex sambil tersenyum.
" Oh gitu. Jadi Saya atau Mas Rex aja yang cerita nih...?" tanya ustadz Mahdi.
" Saya aja ya Ustadz. Soalnya Gama ini agak lemot. Saya khawatir Ustadz keburu emosi kalo ngobrol sama dia nanti...," sahut Rex sambil melirik kearah Gama.
" Eh, monyong. Gue ga gitu ya...!" protes Gama kesal hingga membuat Rex tertawa.
" Gimana kalo Kita cari tempat yang enak untuk ngobrol Ustadz. Sambil ngopi deh biar enak...," kata Rex.
" Setuju. Ayo Kita ke depan sana Mas. Kopi di sana lumayan enak, cocok buat lidah orangtua seperti Saya dan Ustadz Akbar...," sahut ustadz Mahdi sambil melangkah lebih dulu.
" Ok Ustadz...," kata Rex dan Gama bersamaan.
\=\=\=\=\=
Gama nampak membulatkan mata mendengar cerita Fadlan tentang pengalamannya dan teman-temannya.
" Ga nyangka kalo Fadlan ini lebih berani dari Kita dulu ya Rex...," kata Gama.
" Bukan berani tapi nekad plus sembrono. Mereka ga sadar kalo main jailangkung itu artinya manggil arwah. Kalo arwah yang datang baik sih gapapa. Tapi ternyata kan yang datang arwah yang jahat dan susah diusir. Harus pake ritual khusus biar bisa nyuruh arwah itu pulang. Dan ujungnya mereka yang Lo bilang berani itu ketakutan juga. Apa itu yang disebut berani, kayanya ga deh...," sahut Rex kesal.
Fadlan yang saat itu berada di sana pun hanya terdiam. ia tak tahu harus bicara apa karena semua telah terjadi. Nyatanya hantu yang dipanggilnya itu juga menerror teman sekelas Fadlan yang kebetulan dekat dan sering berinteraksi dengan Fadlan.
Awalnya Fadlan tak percaya. Tapi saat sang teman menceritakan apa yang ditemuinya di toilet sekolah, Fadlan pun makin takut.
" Mana ada hantu hari gini Nald, ini kan masih siang...," kata Fadlan saat Ronald menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
" Gue berani sumpah Fad. Gue ga bohong. Gue denger sendiri kalo ada yang pipis di urinoir yang di ujung itu. Padahal Kita semua tau kan kalo urinoir itu rusak. Karena penasaran Gue tengok dong, ternyata emang ga ada apa-apa di sana...," kata Ronald.
" Tapi di sebelah toilet cowok kan ada toilet cewek. Kali aja suara itu berasal dari sana, gimana sih Lo...," bantah Fadlan mencoba positif thinking.
" Bukan Fad, Gue yakin suara itu berasal dari urinoir yang rusak itu. Yang lebih nyeremin lagi Gue ngeliat cowok berdiri di depan pintu toilet sambil menghadap tembok. Kepalanya menunduk, terus kedua tangannya juga ke depan kaya megang sesuatu. Dia ga pake baju Fad, cuma celana panjang doang. Dari ciri-cirinya Gue yakin itu bukan anak sekolah Kita. Tau-tau dia ngangkat tangannya sambil megang sesuatu. Tau ga Fad, ternyata yang dia pegang itu kepalanya sendiri !. Cowok itu ga punya kepala karena kepalanya ada di tangannya. Serem ga tuh...?!" kata Ronald lantang.
" Terus...?" tanya Fadlan penasaran.
" Terus Gue kabur lah, apalagi emangnya...," sahut Ronald sambil menghela nafas lega.
Mendengar jawaban Ronald membuat Fadlan panik. Ia yakin jika makhluk halus yang dilihat Ronald adalah makhluk yang sama yang telah menggangunya beberapa hari belakangan.
" Gue takut sekolah Kita jadi heboh dan ga aman gara-gara penampakan itu...," kata Ronald.
" Asal Lo ga cerita kemana-mana, Gue yakin kalo sekolah Kita tetep aman dan kondusif untuk belajar...," sahut Fadlan.
Ronald pun mengangguk setuju untuk menyimpan pengalamannya di toilet itu seorang diri.
Namun meski Ronald sudah berusaha merahasiakan tentang penampakan itu, toh masih saja ada yang melihat penampakan makhluk di toilet itu. Dia adalah Eko, teman sekelas Fadlan.
Jika Ronald masih bisa bertahan dan tak lari, hal berbeda justru dialami Eko.
Saat melihat penampakan hantu itu Eko justru jatuh pingsan. Dan itu membuat sekolah gempar hingga gunjingan pun tak bisa dielakan.
Fadlan pun tak mengerti bagaimana cara menghentikan semuanya. Karenanya ia memilih diam sambil berharap tak ada lagi korban berikutnya. Hingga akhirnya Rex datang dengan membawa kabar gembira. Rex mengatakan jika Fadlan dan teman-temannya harus diruqyah untuk melepaskan pengaruh iblis itu. Dan tanpa pikir panjang Fadlan mengiyakan semuanya.
Malam itu Fadlan, Kevin, Emir dan teman-temannya tampak duduk membentuk lingkaran sambil berdzikir. Di tengah lingkaran terlihat ustadz Akbar duduk sambil membaca kan ayat-ayat ruqyah. Rupanya ustadz Akbar memilih melakukan ruqyah massal untuk menetralisir pengaruh jahat para arwah yang terpanggil itu.
Saat itu mereka tengah berada di rumah kosong, lokasi awal tenpat Fadlan cs bermain jailangkung untuk memanggil arwah. Dibantu cahaya beberapa lilin yang diletakkan secara acak, membuat suasana mistis di tempat itu makin terasa kental.
Rex dan Gama nampak sibuk membaca beberapa surah pendek yang mereka hapal di luar kepala untuk memberi suport kepada Fadlan dan teman-temannya dalam menjalani ruqyah.
Di tempat itu hadir juga Pak Komar, ayah Fadlan. Ia nampak kesal melihat tingkah Fadlan yang merupakan anak bungsunya itu. Beruntung ustadz Mahdi berhasil menenangkan Pak Komar hingga tak mengganggu ritual pemulangan arwah yang dipimpin ustadz Akbar itu.
" Daripada Pak Komar marah-marah, lebih baik ikut berdzikir aja ya. Supaya arwah yang mengikuti mereka ga pindah ke badan Pak Komar...," bujuk ustadz Mahdi.
" Kok bisa pindah ke Saya sih Ustadz. Saya kan ga ikutan main jailangkung..., " protes pak Komar.
" Tapi saat ini energi kemarahan Pak Komar hampir mirip sama energi mereka. Jadi jangan heran kalo mereka pindah mendekati Pak Komar karena merasa nyaman...," kata ustadz Mahdi.
" Astaghfirullah aladziim. Iya iya, Saya paham Ustadz. Kalo gitu Saya dzikir aja deh biar hantu-hantu itu ga ngikutin Saya...," sahut Komar sambil duduk bersila di belakang Fadlan.
" Itu bagus Pak Komar...," kata ustadz Mahdi sambil tersenyum.
Suasana mendadak hening. Sesaat kemudian lilin yang dijadika alat penerangan saat itu padam. Bukan hanya satu tapi semua lilin. Fadlan dan teman-temannya mulai terlihat gelisah karena tahu betul jika arwah yang menerror mereka selama ini telah hadir. Hal itu mereka ketahui dari padamnya lilin yang sama persis seperti saat permainan jailangkung tempo hari.
\=\=\=\=\=