
Tako menjerit saat ujung jemarinya menyentuh sosok Nyai Hadini. Zada pun terkejut saat menyaksikan tiga ujung jemari Tako terluka. Rupanya ujung jemari Tako terputus dan kini tiga ujung jarinya tergeletak di lantai begitu saja.
Tako menatap marah kearah Nyai Hadini dan yakin jika wanita itu lah yang telah melukai tangannya.
" Sia*an. Rupanya Kau mau main-main denganku ya...!" kata Tako lantang.
" Kenapa marah, Aku tak melakukan apa pun padamu...," sahut Nyai Hadini sambil tersenyum.
" Diantara Kita bertiga hanya Kau yang membawa parang, jadi pasti Kau yang melakukannya...!" kata Tako kesal.
" Kalo Iya, Kau mau apa...?" tantang Nyai Hadini.
" Aku mau ini...!" sahut Tako sambil merentangkan kedua lengannya sambil merangsek maju menyerang Hadini.
Zada hanya menggelengkan kepala melihat kebodohan Tako. Setelah tahu dirinya dilukai tanpa tersentuh, tapi Tako masih nekad mendekati Nyai Hadini.
" Dasar bod*h...," maki Zada sambil melengos.
Dugaan Zada benar. Detik berikutnya Tako menjerit saat kedua tangannya terputus hingga ke siku. Setelahnya tubuh Tako ambruk ke lantai saat kaki kirinya terputus hingga ke lutut. Zada membulatkan matanya karena tak melihat sang Nyai melakukan sesuatu pada Tako tapi pria itu sudah jatuh tersungkur bersimbah darah.
" Ampuuunn..., hentikaaan...," rintih Tako sambil menangis.
Tapi rintihan Tako tak membuat Nyai Hadini iba. Ia terlihat mengayunkan parangnya dan membabat habis kaki kanan Tako hingga ke pangkal paha. Darah muncrat kemana-mana hingga membasahi lantai dan dinding rumah.
Jeritan Tako membahana di dalam rumah itu. Zada yakin jika jeritan Tako terdengar hingga keluar rumah, namun anehnya tak satu pun orang datang untuk melihat apa yang terjadi.
Tak berhenti sampai di sana, Nyai Hadini kembali mengayunkan parangnya hingga beberapa kali dan membuat tubuh Tako tak lagi berbentuk. Kini Tako menggelepar di lantai dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh yang terpotong-potong.
Zada memejamkan mata karena tak sanggup melihat kondisi Tako.
" Buka matamu Zada !. Sekarang lihat dan saksikan bagaimana orang yang selalu berniat jahat padamu hampir jadi bangk*ai...!" kata Nyai Hadini ketus.
Zada mengikuti perintah sang Nyai dan menatap potongan tubuh Tako sambil bergidik ngeri. Tako masih hidup ditandai dengan kedua matanya yang berkedip dan erang kesakitan yang keluar dari mulutnya.
" Aku tak mengerti mengapa Kau terus mengejarku dan berniat menyakiti Aku...," kata Zada sambil menatap lekat kearah Tako.
Tako tak menjawab pertanyaan Zada. Ia hanya menyeringai lalu mati. Tak lama kemudian tubuh Tako menghitam lalu hancur menjadi abu dan hilang tertiup angin. Zada menghela nafas panjang saat melihat jasad Tako hilang dari hadapannya.
" Terima kasih Nyai. Aku tak peduli mengapa Nyai menolongku. Yang penting Aku tak harus bertemu dia lagi nanti...," kata Zada sambil tersenyum.
" Sama-sama Zada...," sahut Nyai Hadini sendu.
" Mmm..., bisa kah Nyai membantuku untuk keluar dari sini...?" tanya Zada yang diangguki sang Nyai.
Rex mengerutkan keningnya saat menyaksikan Nyai Hadini membantu Zada keluar dari rumah. Karena setelahnya Nyai Hadini tak mengikuti Zada seperti biasanya. Ia tampak melepas kepergian Zada begitu saja dengan tatapan sedih.
Dan sesaat kemudian Rex tahu jawabannya. Ternyata Zada mengalami kecelakaan tunggal. Zada ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju cepat dari arah kanan hingga terhempas ke tengah jalan raya. Setelahnya si pengemudi terus memacu mobilnya dan membiarkan tubuh Zada tergeletak sekarat begitu saja.
Beberapa mobil lain yang menyaksikan kecelakaan itu berhenti. Lalu beberapa orang keluar untuk membantu Zada. Dan dalam sekejap saja tempat itu telah dipadati warga, polisi dan petugas Rumah Sakit.
Rex menoleh kearah Nyai Hadini dan melihat sang Nyai menitikkan air mata.
" Kenapa Kamu membiarkannya pergi begitu saja Nyai. Kenapa tak membantunya padahal Kamu mampu...?" tanya Rex sedikit kesal.
" Aku tak bisa menentang takdir Tuhan Rex. Takdir hidupnya memang berakhir hari ini. Aku hanya membantu membuat akhir hidupnya lebih terhormat. Bukan kah lebih baik meninggal menjadi korban tabrak lari daripada mati menjadi korban perk*s*an...," sahut Nyai Hadini lirih.
" Lalu kenapa Kamu terus membantunya selama ini...?" tanya Rex penasaran.
" Apa maksudmu...?" tanya Rex tak mengerti.
" Akhir hidup Zada mirip dengan akhir hidupku. Jika Aku mati karena dibunuh oleh orang suruhan istri kedua Suamiku, maka Zada meninggal karena dibunuh langsung oleh orang yang membencinya...," sahut Nyai Hadini.
Mendengar jawaban Nyai Hadini membuat Rex menelan saliva nya dengan sulit. Kematian Zada karena kecelakaan saja telah membuat Rex kacau. Dan keterangan Nyai Hadini membuat Rex kembali dibuat terkejut.
Tiba-tiba Rex teringat dengan cerita Arini. Ia sadar jika ada perbedaan yang jelas antara kejadian sebenarnya dengan cerita Arini tentang kematian Zada waktu itu.
Seolah mengerti apa yang ada di benak Rex, Nyai Hadini pun memperlihatkan siapa pengemudi mobil yang telah menabrak Zada itu.
Rex melihat si pengemudi mobil adalah seorang wanita. Dia tampak tertawa puas setelah berhasil melukai Zada.
" Mamp*s Lo...!" kata wanita itu di sela tawanya.
Mobil itu terus melaju cepat dengan pengemudi yang tertawa-tawa di dalamnya.
Kemudian mobil itu berhenti di suatu tempat. Lalu dengan santai wanita itu turun dari mobil dan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di kursi.
Pria itu nampak tersenyum menyambut kedatangan wanita itu. Keduanya nampak saling memeluk lalu duduk berdampingan.
" Udah lama ya nunggunya...?" tanya wanita itu dengan manja.
" Lumayan. Kamu dari mana aja, kok lama...?" tanya pria itu.
" Ada urusan sebentar...," sahut wanita itu cepat.
" Urusan apa...?" tanya sang pria penasaran.
" Urusan penting tapi bisa dibilang ga penting. Urusan yang lumayan mengganggu pikiranku karena berhubungan sama Kamu...," sahut wanita itu sambil tersenyum simpul.
" Ga usah berbelit-belit kenapa sih...," kata sang pria sedikit kesal namun membuat wanita itu tertawa.
" Ga usah dibahas lagi ya. Udah selesai juga kok...," kata wanita itu sambil bersandar manja di bahu sang pria.
" Yakin...?" tanya pria itu.
" Iya...," sahut wanita itu sambil tersenyum manis.
Kemudian Rex menoleh kearah Nyai Hadini sambil bertanya.
" Siapa mereka...?" tanya Rex tak mengerti.
" Itu Andra dan wanita itu kekasihnya...," sahut Nyai Hadini namun mengejutkan Rex.
" Andra anaknya Bu Arini...?" tanya Rex.
" Betul. Sampai di sini Kamu paham kan kenapa kematian Zada terlihat aneh dan seperti tak terungkap...?" tanya Nyai Hadini.
Rex termenung sesaat lalu mengangguk.
" Jadi Bu Arini sengaja menutupi penyebab kematian Zada karena melibatkan pacar anaknya. Bukan begitu Nyai...?" tanya Rex.
" Betul. Sekarang terserah Kamu, apakah akan mengungkap kematian Zada atau membiarkannya begitu saja...," sahut Nyai Hadini hingga membuat Rex terdiam.
\=\=\=\=\=