Kidung Petaka

Kidung Petaka
223. Udah Ketemu


Seolah tak terpengaruh dengan kehadiran dokter Aksara, Rex melanjutkan niatnya memapah Shezi lalu membantunya masuk ke dalam Taxi.


Sikap Rex yang mendahulukan Shezi membuat dokter Aksara sedikit kecewa. Namun sang dokter cantik itu sadar jika ia tak punya hak lagi untuk cemburu pada wanita lain yang dekat dengan Rex.


Setelah membantu Shezi duduk dengan nyaman, Rex pun menutup pintu Taxi lalu berbalik menghadap dokter Aksara.


" Alhamdulillah Aku baik. Kapan Kamu pulang Sa ?, bukannya pendidikan Kamu belum selesai ya...?" tanya Rex sambil bersandar pada Taxi.


" Aku..., dua Minggu yang lalu Aku pulang. Aku ga menyelesaikan pendidikanku Rex. Aku... mundur...," sahut dokter Aksara terbata-bata.


Rex terkejut mendengar jawaban mantan kekasihnya itu. Sedangkan dokter Aksara nampak tersenyum diam-diam melihat wajah terkejut Rex. Ia sengaja mengucapkan itu dan berharap Rex akan bertanya banyak hal padanya hingga mereka bisa kembali berbincang hangat seperti dulu.


Namun sayangnya dugaan dokter Aksara salah. Rex tampak datar saja menanggapi ucapan dokter Aksara.


" Oh gitu, sayang banget ya. Tapi maaf Aksara, Aku harus pulang sekarang. Senang melihat Kamu pulang ke Indonesia dengan selamat Aksara. Aku duluan ya, Assalamualaikum..., " pamit Rex sambil tersenyum lalu segera masuk ke dalam Taxi dan meninggalkan dokter Aksara begitu saja.


" Mama bilang Mama pake uang Kamu buat bayar kamar Papa ya Rex...!" kata dokter Aksara mencoba menunda kepergian Rex.


" Iya. Tapi ga usah diganti Sa. Kalo Kamu mau ganti, lebih baik Kamu sumbangin ke orang yang membutuhkan aja nanti. Duluan ya, jalan Pak...," kata Rex sambil menutup pintu mobil.


" Siap Mas...," sahut supir Taxi lalu mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan area Rumah Sakit Sentosa.


Dari kaca spion Rex bisa melihat dokter Aksara melepas kepergiannya dengan wajah kacau. Perlahan Rex meraba dadanya dan merasakan getaran di sana. Rex menghela nafas panjang untuk menepis rasa yang masih bersemayam di hatinya itu. Lalu Rex menoleh ke kursi belakang dimana Shezi berada. Rex tersenyum melihat Shezi tengah terlelap seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di hadapannya tadi.


\=\=\=\=\=


Setelah mengantar Shezi pulang ke rumah kost, Rex pun pamit pulang. Rex sempat berkenalan dengan teman sekost Shezi yang bernama Amira dan Agnes tadi.


" Kok bisa sih Lo kenal sama cowok ganteng kaya gitu Zi...," kata Agnes sambil menatap Taxi yang membawa Rex pergi.


" Ga sengaja, kebetulan doang...," sahut Shezi sambil memutar kursi rodanya.


" Udah punya cewek ya Zi, atau Istri...?" tanya Amira penasaran.


" Lagi jomblo...," sahut Shezi cepat.


" Wah kesempatan dong buat Kita...," kata Agnes dengan wajah berbinar bahagia.


" Tapi Kalian terlambat. Tadi Gue ketemu sama cewek cantik yang keliatannya punya story khusus sama Kapten Rex...," kata Shezi hingga membuat nyali Agnes dan Amira menciut.


" Cantik banget Zi...?" tanya Amira.


" Iya. Makanya Lo berdua ga usah ngarep deh. Saran Gue, daripada sakit hati mendingan cari cowok lain aja...," sahut Shezi sambil tersenyum lalu melajukan kursi rodanya ke dalam rumah.


Agnes dan Amira saling menatap sejenak kemudian menghela nafas panjang. Lalu keduanya bergerak masuk setelah menutup pintu.


" Kayanya cowok ganteng itu emang ga ditakdirkan untuk Kita ya Nes...," kata Amira dengan wajah sendu.


" Iya...," sahut Agnes lesu lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.


Sementara itu di perjalanan Rex nampak melamun memikirkan pertemuannya dengan dokter Aksara. Ia tak memungkiri jika masih mencintai sang dokter. Namun ingatan akan sikap dan kata-kata Itje padanya membuat Rex kecewa lalu memilih mundur. Apalagi Aksara percaya begitu saja dengan cerita sang mama tanpa mau mengecek kebenarannya lebih dulu.


Lamunan Rex buyar saat ponselnya berdering. Rex tersenyum saat melihat nama sang kakak di layar ponselnya.


" Assalamualaikum Kak...," sapa Rex.


" Wa alaikumsalam. Kamu dimana Rex...?" tanya Lilian.


" Baru pulang dari nganter Shezi. Ada apa Kak...?" tanya Rex.


" Oh gitu. Rumahnya jauh ya Rex, berapa jam perjalanan terus rumah kostnya bagus atau kumuh...?" tanya Lilian hingga membuat Rex curiga.


" Tumben nanya hal ga penting. Emangnya ada apaan sih Kak...?" tanya Rex curiga.


" Mmm..., Kakak baru aja ketemu Aksara Rex...," sahut Lilian ragu.


" Oh itu. Aku juga udah ketemu dia dan Ibunya tadi...," kata Rex sambil tersenyum.


" Gitu ya. Apa Aksara ngeliat Kamu sama Shezi tadi...," tanya Lilian.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Biasa aja...," sahut Rex seolah tahu kemana arah pembicaraan sang kakak.


" Masa sih...?" tanya Lilian tak percaya.


" Iya. Ngomong-ngomong Om Azam itu sakit apa Kak...?" tanya Rex mengalihkan pembicaraan.


" Diagnosa awal sih lever Rex...," sahut Lilian.


" Kasian ya...," kata Rex sambil menghela nafas panjang.


" Iya. Tante Itje tuh keliatan shock banget. Untung Aksara datang jadi Mamanya bisa lebih tenang...," sahut Lilian.


Rex tak bereaksi apa pun dan itu membuat Lilian yakin jika Rex memang tak ingin membahas soal Mama mantan kekasihnya itu.


" Terus gimana Rex...?" tanya Lilian penasaran.


" Apanya yang gimana Kak...?" tanya Rex tak mengerti.


" Ya perasaan Kamu sama Aksara lah. Apa masih mau lanjutin hubungan yang sempet putus dulu atau...," ucapan Lilian terputus karena Rex memotong cepat.


" Aku ga tau Kak. Sekarang Aku ga mau berandai-andai. Aksara pasti punya banyak cerita dan alasan. Mungkin setelah dia jelasin semuanya Aku baru bisa ambil sikap mau melanjutkan hubungan atau justru cukup berteman aja...," sahut Rex dengan enggan.


" Ok Rex, Kamu tau kan kalo Kakak pasti dukung apa pun keputusan yang Kamu ambil. Terserah Kamu siapa yang bakal Kamu pilih, Aksara atau cewek lain. Asal dia bisa membuat Kamu bahagia Kakak pasti suport Kamu...," kata Lilian sungguh-sungguh.


" Siap, makasih Kakakku Sayang...," sahut Rex sambil tersenyum.


" Sama-sama Adikku Sayang. Sekarang Kakak lanjut kerja lagi ya. Assalamualaikum..., " kata Lilian di akhir kalimatnya.


Setelah memasukkan ponselnya ke saku baju, Lilian pun kembali melanjutkan tugasnya. Sambil melangkah menuju kamar pasien ia kembali teringat moment pertemuannya dengan Aksara tadi.


Saat itu Lilian dipanggil ke IGD untuk membantu rekannya yang kerepotan menghandle keluarga pasien yang mengamuk. Dan Lilian terkejut saat mengenali siapa keluarga pasien yang membuat kekacauan itu.


" Tante Itje...?" panggil Lilian hingga membuat Itje yang sedang marah-marah itu menoleh.


" Siapa...?" tanya Itje sambil menyipitkan matanya.


" Saya Lian Tante, Kakaknya Rex...," sahut Lilian sambil mendekat kearah Itje.


" Oh Lian, maaf Tante lupa. Apa kabar Lian, Kamu kerja di sini ya...?" tanya Itje sambil mengamati seragam perawat yang Lilian kenakan.


" Iya Tante. Eh, Kita ngobrol di luar yuk Tan. Di sini ga enak, bau obat...," bisik Lilian yang diangguki Itje.


Di sudut lain tampak dokter Aksara tersenyum lega melihat Lilian berhasil menenangkan sang Mama. Tak lama kemudian dokter Aksara menyusul mereka.


" Apa kabar Kak Lian...," sapa Aksara dengan ramah.


" Alhamdulillah baik. Kapan Kamu pulang Sa ?. Ini lagi liburan atau...," ucapan Lilian terputus karena Itje memotong cepat.


" Aksara ini bod*h Lian. Masa dikasih fasilitas buat ambil gelar S2 gratis kok ditolak. Alasannya ga masuk akal lagi. Makanya gara-gara itu Om jadi sakit...," sela Itje kesal.


" Mama...," panggil Aksara sambil menggelengkan kepala.


" Terserah Kamu deh. Mama mau nemenin Papa aja di kamar. Tante pergi dulu ya Lian...," kata Itje sambil berlalu.


" Iya Tante...," sahut Lilian.


" Makasih udah nenangin Mama ya Kak...," kata dokter Aksara.


" Sama-sama. Tapi maaf Kakak ga bisa nemenin Kamu lama-lama soalnya ini kan masih jam kerja...," kata Lilian tak enak hati.


" Gapapa Kak, Saya paham kok. Saya titip salam aja buat Om, Tante dan Rex ya Kak...," kata dokter Aksara.


" Insya Allah Kakak sampein nanti...," sahut Lilian sambil tersenyum.


Dan Lilian masih tersenyum mengingat jawaban Rex tentang kemungkinan hubungannya dengan Aksara tadi.


\=\=\=\=\=