Kidung Petaka

Kidung Petaka
133. Kembali Bersama


Rak lama kemudian Taxi tiba di halaman Rumah Sakit Gunung Jati. Daud tampak berdiri menunggu di depan loby untuk membantu Ramzi turun dari Taxi nanti.


Saat membantu Ramzi membuka pintu Taxi, tak sengaja Rex melihat sosok wanita melintas di depan Taxi yang mereka tumpangi. Semula Rex menganggap itu biasa. Tapi Rex tersentak kaget karena merasa jika penampilan wanita itu begitu familiar di pandangan matanya.


Rex mengedarkan pandangannya mencoba mencari sosok wanita itu, tapi nihil. Wanita itu raib entah kemana.


" Itu dia kan...?" gumam Rex sambil menutup pintu Taxi.


" Rex...!" panggil Ramzi.


" Eh, Iya Om...," sahut Rex sambil menoleh kearah kedua pamannya.


" Udah dibayar kan ?. Kita bisa masuk sekarang dong...?" tanya Ramzi tak sabar karena melihat keponakannya masih berdiri mematung di samping Taxi.


" Iya, bisa Om...," sahut Rex cepat.


Kemudian Rex membantu memapah Ramzi. Saat Daud menawarkan kursi roda, Ramzi menolak.


" Ga usah. Aku mau menikmati proses ketemu Mamak dengan kedua kakiku sebelum Aku ga bisa jalan sama sekali...," kata Ramzi dengan suara bergetar.


Ucapan Ramzi membuat Rex dan Daud saling menatap kemudian mengangguk setuju.


Tak lama kemudian ketiganya tiba di depan kamar rawat inap Rusminah. Ramzi menghentikan langkahnya dan itu membuat Rex dan Daud mengerutkan kening.


" Ada apa Om...?" tanya Rex.


" Om khawatir Nenek Kamu lagi istirahat Rex. Apa ga ganggu ya...," sahut Ramzi ragu.


" Udah lama Nenek nunggu kedatangan Om. Kaget sedikit kan Gapapa. Ayo Om...," ajak Rex yang diangguki Ramzi.


Pintu terbuka dan Daud masuk ke dalam kamar lebih dulu sambil menunjuk kearah pintu. Semua orang yang ada di dalam kamar menoleh kearah pintu dan terkejut melihat sosok pria yang berdiri di samping Rex. Saat itu Ramzi menolak dipapah dan berdiri di ambang pintu tanpa bantuan Rex.


" Mas Ramzi...!" kata Tini lantang hingga membuat Rusminah yang tengah terpejam itu membuka kedua matanya.


" Iya Tin. Ini Aku...," sahut Ramzi sambil melangkah masuk mendekati tempat tidur dimana Rusminah berbaring.


Namun langkah Ramzi terhenti saat Ramon menghadang langkahnya. Tak hanya itu, Ramon juga melayangkan tinju ke wajah Ramzi hingga pria itu terjengkang jatuh. Setelahnya Ramon kembali menyerang Ramzi. Sedangkan Ramzi terlihat pasrah dan tak melakukan perlawanan.


" Bajing*n, breng**k !. Belum puas ya bikin Mamak nangis ?. Kemana aja Kamu selama ini, jawab Ramzi...!" kata Ramon lantang sambil terus memukuli Ramzi.


Tindakan Ramon membuat Rusminah, Lanni dan Tini bungkam sambil bergidik ngeri. Daud nampak berdiri gusar karena tak mampu mencegah Ramon. Rupanya Daud juga tak ingin mendapat semprotan Ramon yang sedang marah itu. Rex pun maju untuk menenangkan sang ayah.


" Cukup Ayah...," kata Rex sambil memeluk tubuh Ramon dari belakang lalu menariknya mundur.


" Jangan larang Ayah Rex. Om Kamu ini kurang ajar. Udah lama Ayah kesal sama dia...!" sahut Ramon sambil menatap Ramzi dengan tatapan nanar.


" Iya Ayah, Aku paham. Tapi tolong jangan lanjutkan, kasian Om Ramzi Yah. Dia lagi sakit...," kata Rex.


" Sakit ?. Itu bukan sakit namanya Rex, tapi karma buat dia karena udah membuat orangtuanya menangis...!" sahut Ramon kesal.


" Tapi Om Ramzi emang lagi sakit Yah. Kanker usus stadium dua...," bisik Rex hingga membuat Ramon terkejut.


" Ramoonn... Ramziii..., cukuuupp...," kata Rusminah lirih.


Ramon dan Ramzi menatap Rusminah dengan tatapan tak terbaca. Kemudian Rex memberi kode kepada Daud agar membantu Ramzi bangkit sedangkan dia akan menahan sang ayah agar tak memukul Ramzi lagi.


" Mamak...," panggil Ramzi lirih.


" Iya Nak...," sahut Rusminah sambil merentangkan kedua tangannya.


Ramzi pun menangis lalu menghambur ke pelukan sang ibu. Untuk sejenak suasana dalam ruangan itu menjadi penuh tangis karena ternyata Tini dan Lanni ikut menangis terharu melihat pertemuan Ramzi dan Rusminah.


Ramon berhasil melepaskan diri dari pelukan Rex lalu bergegas keluar dari kamar itu. Daud pun menyusul dan meminta Rex untuk tetap tinggal di dalam kamar.


" Mas Ramon...!" panggil Daud.


" Dimana Kamu ketemu dia Daud...?!" tanya Ramon gusar.


Daud pun meminta Ramon duduk dan mulai menceritakan semuanya. Ramon nampak mengusap wajahnya dengan kasar usai mendengar cerita Daud.


" Makasih Daud. Kamu udah bawa dia pulang dan bikin Mamak bahagia...," kata Ramon dengan tulus.


" Saya ga sendiri Mas. Rex juga ikut membantu lho...," sahut Daud mengingatkan.


" Iya. Aku juga bakal berterima kasih sama dia nanti...," kata Ramon sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Ramzi sedang menceritakan perjalanan hidupnya selama 'lari' dari keluarga. Ramon yang telah menerima kehadiran Ramzi pun nampak mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menghela nafas panjang karena tak menyangka sang adik menjalani hidup yang memprihatinkan.


Rusminah yang duduk di samping Ramzi pun berkali-kali mengusap punggung Ramzi saat pria itu kesulitan bicara. Wajah tuanya terlihat bahagia karena si anak hilang telah kembali.


" Kata Daud Kamu sakit. Sakit apa Zi...?" tanya Ramon pura-pura tak tahu.


" Kanker usus stadium dua Mas...," sahut Ramzi lirih.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Kok bisa sih. Emangnya Kamu ngapain aja...?" tanya Rusminah.


" Aku..., Aku menghabiskan banyak waktuku dan uang untuk mabuk Mak. Aku merasa dengan mabuk Aku bisa melupakan semuanya...," sahut Ramzi sambil menundukkan kepalanya karena malu.


" Astagfirullah aladziim..., kenapa Kamu tersesat jauh banget sih Nak. Kamu tinggal di sini tapi kenapa Kamu ga pernah nengok Mamak ?. Kamu tau kan kalo pintu rumah selalu terbuka untukmu. Kenapa menanggung semuanya sendiri Ramzi...?" tanya Rusminah penuh sesal.


" Maaf Mak. Tapi Aku udah berhenti minum sekarang Mak. Penyakit kanker usus yang menggerogoti tubuhku ini membuat Aku sadar kalo selama ini Aku udah menyia-nyiakan hidupku...," sahut Ramzi sambil mengusap matanya yang basah.


" Ga ada gunanya menangis Ramzi. Lebih baik Kamu pulang. Temani Mamak untuk menebus kesalahanmu itu. Gimana, Kamu setuju kan...?" tanya Ramon setengah memaksa.


" Apa Aku masih pantas pulang Mas...?" tanya Ramzi.


" Kalo Aku sih jelas bilang Kamu ga pantas masuk ke dalam rumah lagi. Tapi Mamak kan pemilik rumah itu, jadi terserah Mamak mau terima Kamu atau ga...," sahut Ramon ketus namun membuat Ramzi tersenyum.


" Pulang lah Ramzi. Mamak mau Kamu temenin Mamak sampe ga ada umur lagi. Jangan pergi lagi ya Nak. Bisa kan Kamu turuti keinginan Mamakmu kali ini...?" tanya Rusminah penuh harap.


Ramzi memeluk sang ibu sambil menangis. Ia mengangguk mengiyakan permintaan ibunya itu.


" Iya Mak, Aku mau pulang. Aku capek sendirian. Aku kangen sama pelukan Mamak...," kata Ramzi hingga membuat Rusminah menangis bahagia.


Semua orang di dalam ruangan pun tersenyum mendengar pernyataan Ramzi.


\=\=\=\=\=