
"Kuatkan aku, Tuhan!" Gumam Julian dengan mata memerah.
Kini tubuh Julian bersimpuh dengan kedua lutut yang tertekuk. Tubuhnya mulai melemah. Namun tekadnya masih tetap bulat untuk mendapatkan jawaban dari ibu panti.
Tiba-tiba penjaga panti menghampiri Julian.
"Tuan, Ibu panti menyuruh Anda masuk," ucap si penjaga.
Julian mengembangkan senyumnya.
"Aku berhasil," gumam Julian.
"Mari, Tuan. Saya bantu!" Si penjaga memapah tubuh Julian yang hampir saja ambruk.
"Kenapa Tuan sangat keras kepala? Jika terjadi sesuatu pada Tuan, maka pihak panti yang akan disalahkan."
"Makanya ibu pengurus panti harusnya lebih cepat menyuruhku masuk. Jadi, tidak akan ada drama seperti ini."
Julian dipersilakan duduk di ruang tamu khusus pengunjung. Si penjaga meminjamkan handuk untuk menghangatkan Julian.
"Terima kasih, Pak. Lalu, dimana ibu pengurus panti? Aku harus bertemu dengannya hari ini juga."
"Kenapa Anda keras kepala sekali, Tuan? Bukankah pagi tadi sudah ada kerabat Anda yang datang kemari?" Suara Nur membuat Julian menoleh kearahnya.
"Kau benar. Adikku dan istrinya datang kemari untuk mencari anak mereka yang hilang. Kau selalu berurusan dengan anak kecil, apa kau tega melihat kesedihan mereka? Wanita yang lima tahun lalu menyerahkan bayi mereka adalah wanita yang jahat dan berbahaya. Dia menukar putranya yang meninggal dengan putra adikku yang terlahir sehat. Mereka sudah lima tahun meratapi kematian putra mereka. Dan aku tidak akan membiarkan mereka bersedih lagi karena hal ini. Jadi, jika kau masih punya hati, tolong katakan dimana keponakanku? Siapa orang yang sudah mengadopsinya? Kumohon katakan! Aku bersumpah aku tidak akan pergi dari sini sebelum mendapatkan informasi tentang keponakanku!" Julian bicara dengan nafas terengah.
Nur menatap Julian dengan iba. "Maaf..."
Julian memejamkan mata. "Aku tidak butuh maaf darimu. Yang aku butuhkan adalah kejujuranmu. Tolonglah!"
Nur menyodorkan sebuah dokumen di depan Julian.
"Orang itu yang mengadopsi putra adik Anda. Maaf saya tidak bisa mengatakan apapun kepada Anda, karena dia ... dia mengancam jika saya membocorkan hal ini, maka nyawa anak itu akan terancam. Tolong maafkan saya!"
Julian membaca berkas itu dengan seksama.
"Noel Alexander?" Julian menatap Nur dengan penuh tanya.
"Iya. Pria itu yang mengadopsi keponakan Anda."
Julian mengumpati Noel dalam hati.
"Kurang ajar! Jadi dia yang selama ini menyembunyikan anak Lian. Tapi kenapa Zara tidak mengetahui soal ini?"
"Maaf, Bu. Apa ... sebelum keluargaku datang, ada orang lain yang pernah datang kemari?"
"Eh? Soal itu..."
"Katakan saja! Jangan takut! Jika pria yang bernama Noel Alexander adalah orang yang sudah mengancam Anda, maka jangan khawatir. Orang itu sudah berada di penjara."
"Hah?! Sebenarnya ... Pak Noel sendiri pernah datang kemari bersama seorang wanita bernama Esther. Sekitar beberapa bulan lalu. Dia meminta saya untuk mengatakan pada Esther jika anak yang dulu dititipkan disini sudah di adopsi oleh keluarga di luar negeri. Saya tidak tahu jika ternyata Pak Noel tidak seperti yang saya kira."
Julian memang kesal dan marah, tapi dia juga merasa lega karena paling tidak, pencarian terhadap anak Lian akan menemui titik terang.
Setelah berbincang dengan Nur, Julian pamit undur diri. Nur sempat menawari Julian untuk mengganti bajunya terlebih dahulu namun Julian menolak. Ia sudah tak sabar ingin memberitahu kabar baik ini pada Lian dan Roy.
......***......
Kediaman Keluarga Avicenna,
Lusi dan Lono berkunjung ke rumah besar itu setelah di hubungi oleh Roy mengenai kondisi Lian. Tentu saja Roy tak enak hati jika tidak mengabari kedua orang tua Lian.
"Ayah, Ibu, maaf jika aku membuat kalian datang kemari saat sedang hujan begini," ucap Roy.
"Tidak apa, Nak Roy. Dimana Berlian?" Tanya Lusi.
"Berlian sedang istirahat di kamar."
"Ibu temui saja Lian dulu," ucap Lono.
"Mari, Bu. Ikut dengan saya," balas Roy.
Belum sempat Roy dan Lusi melangkah, sosok Julian hadir dengan langkah tertatih.
"Kakak!!!" pekik Roy lalu menghampiri Julian.
"Apa yang terjadi dengan kakak? Kenapa pakaian kakak basah kuyup begini?"
Julian tak menjawab dan malah tersenyum.
"Apa maksud kakak?" Roy masih tak paham dengan kata-kata Julian.
"Dimana Lian?"
"Dia ada di kamarnya."
"Aku harus memberitahunya soal ini."
"Tapi kakak basah kuyup. Sebaiknya ganti baju kakak dulu."
"Tidak ada waktu, Roy. Ayo kau juga ikut denganku!"
Julian menarik tangan Roy. Kemudian Lusi dan Lono pun ikut mengekori Roy di belakang.
Roy membukakan pintu kamarnya untuk Julian. Terlihat Lian sedang duduk didekat jendela dan memandangi tetesan air hujan.
"Lian!" Panggil Julian.
Lian menoleh dan mengernyitkan dahi kala melihat Julian basah kuyup.
"Kak Julian? Ada apa? Kenapa kakak basah kuyup? Ayah? Ibu? Kalian juga ada disini?"
"Lian, aku berhasil menemukan jejak putramu. Anakmu dan Roy," ucap Julian dengan mata berbinar.
"Benarkah? Dimana anakku sekarang, Kak?"
"Bersabarlah! Kita akan menemui orang itu besok." Tegas Julian.
"Orang itu?" Lian menautkan alisnya.
"Iya. Orang yang sudah mengadopsi putra kalian."
Lian tersenyum gembira. "Mas, akhirnya kita semakin dekat dengan putra kita." Lian begitu bahagia mendengar berita dari Julian.
Keesokan harinya, Lian pergi bersama Julian menuju rumah tahanan dimana Noel berada. Gemuruh di hati Lian mulai membara saat melihat Noel di kawal petugas dan berjalan menghampirinya.
Tanpa pernah di duga ternyata Lian malah berlari kearah Noel dan berteriak.
"Dimana anakku?!" Suara menggelegar Lian membuat pengunjung lain ikut menoleh padanya.
Julian segera memegangi lengan Lian.
"Tenanglah, Lian. Kita jangan membuat keributan disini! Ayo duduk! Kita bicara baik-baik dengan Noel." Julian memapah Lian duduk di kursi pengunjung.
Lian duduk berhadapan dengan Noel.
"Ada apa lagi kau menemuiku, Tuan Julian?" Tanya Noel dengan gaya santainya.
"Baiklah, karena aku juga tidak begitu suka dengan berbasa basi, maka akan kukatakan langsung saja. Dimana anak Lian yang dititipkan Zara di panti asuhan? Jangan mencoba membohongiku atau kau akan tahu akibatnya!" Tegas Julian.
Noel tertawa. "Jadi, kalian datang kemari hanya ingin menanyakan ini?"
"Noel, aku mohon katakan dimana anakku?" Lian mulai menurunkan emosinya.
"Terlambat, Lian. Kurasa kau tidak akan bisa menemukannya. Sudahlah! Menyerah saja!"
Lian menggeleng. "Tidak! Aku tidak percaya. Aku yakin anakku pasti ada di suatu tempat. Dimana kau menyembunyikannya?!?" Air mata Lian kembali luruh.
Hingga waktu berkunjung habis, Noel sama sekali tidak berkata apapun mengenai anak Lian. Lagi-lagi Lian harus menelan pil pahit karena tak mendapatkan informasi apapun tentang putranya.
Untuk menenangkan hati Lian, Julian membawanya ke sebuah kafe.
"Aku akan pesankan secangkir coklat hangat untukmu." ujar Julian.
Lian hanya diam dengan semua perlakuan Julian padanya. Tatapan matanya kosong seakan tidak bernyawa.
Ketika Julian hendak kembali ke mejanya, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Julian!!" Seru seseorang memanggil nama Julian.
...B E R S A M B U N G...
"Siapa yang memanggil Julian?"
Hari senin sudah berlalu, tapi barangkali ada yg mau sedekah VOTE juga masih mamak terima dengan senang hati😊😊😊