
Setelah berbincang dengan Roy, Boy menghubungi Lian jika ia akan pulang terlambat. Boy ingin menemui Natasha di kediamannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan meminta maaf pada Natasha.
Boy sedang belajar menjadi pria sejati dengan cara menepati apa yang diucapkannya.
Tiba di kediaman Watanabe, Boy menekan bel dan munculah Riana dari balik pintu.
"Boy?" Riana mengerutkan dahi.
"Selamat sore, Bibi. Apa Natasha ada? Supirku bilang jika tadi dia mengantar Natasha kemari."
"Iya, benar. Dia datang dengan wajah muram. Apa kalian bertengkar?"
"Sebenarnya bukan bertengkar. Tapi aku sudah membuatnya marah karena sudah membuatnya menunggu terlalu lama."
Riana tersenyum. "Semoga kau sabar menghadapi sikap manja Natasha. Sejak kau kembali dia sering merengek dengan alasan yang tak jelas."
Kini giliran Boy yang tertawa. "Aku mengerti, Bibi. Ini semua adalah salahku. Kalau begitu, apa aku bisa langsung ke kamarnya?"
"Tentu saja. Kamarnya ada di sebelah kanan."
"Baik, Bi. Aku naik dulu."
Boy menaiki tangga dan tiba di sebuah kamar yang ia yakin adalah kamar Natasha. Boy mengetuk pintu kamar itu. Tak ada jawaban dari dalam.
"Nat! Ini aku, Boy. Keluarlah!" seru Boy dari luar pintu kamar.
Natasha mendengar suara teriakan Boy. Namun ia masih bergeming di dalam kamar. Sungguh hatinya masih kecewa pada Boy.
Kemudian terdengar suara Boy yang semakin melembut dan pelan.
"Baiklah. Aku janji besok akan mengajakmu ke taman hiburan. Tolong jangan marah lagi."
Natasha mendengarkan dari balik pintu, tapi ia tak berniat membukanya. Ia ingin tahu kegigihan seorang Boy.
"Besok aku akan menjemputmu pukul sembilan tepat. Bersiaplah! Aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku minta maaf untuk hari ini."
Natasha tersenyum puas.
"Aku pergi ya! Jangan lupa besok." Boy kecewa karena Natasha tak membukakan pintu untuknya. Ia pun berbalik badan dan menjauh dari kamar Natasha.
Riana melihat Boy menuruni tangga. "Lho? Kenapa turun lagi?"
"Natasha tidak membukakan pintu untukku, Bi. Sepertinya dia amat marah denganku."
Riana menghela nafas. "Dasar anak itu!" gumam Riana.
"Baiklah, Bi. Aku akan kembali besok. Semoga besok dia bersedia menemuiku."
Riana mengangguk kemudian mengantar Boy hingga ke depan rumah.
......***......
Keesokan harinya, Boy sudah bersiap dengan setelah casualnya, kaus polo berkerah dan celana jeans. Di usianya yang masih terbilang muda, Boy sangat pandai memadu padankan setelan harian yang akan ia pakai. Tak lupa rambutnya ia sisir rapi.
Sekolah masih dalam masa liburan saat ini, dan Boy akan memanfaatkan waktu liburan ini bersama Natasha.
"Anak Mama sudah rapi, apa kau ingin pergi, Nak?" tanya Lian.
"Iya, Ma. Aku sudah janji akan mengajak Natasha ke taman hiburan. Aku harus menepati janjiku. Bukankah seorang pria di percaya karena ucapannya?"
Lian tersenyum mendengar penuturan putranya.
"Benar, Nak. Kau harus menepati janjimu jika kau sudah mengucapkannya. Mengerti?"
"Iya, Ma. Aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu." Boy mencium punggung tangan Lian kemudian berlalu.
"Putraku sudah beranjak dewasa. Dia sangat mirip dengan ayahnya," gumam Lian saat melihat punggung Boy yang semakin menjauh.
Boy tiba di rumah Natasha dan kembali disambut oleh Riana
"Sepertinya kali ini doamu terkabul, Nak. Sebentar lagi dia pasti akan turun," bisik Riana di telinga Boy.
Tak lama suara langkah kaki menuruni tangga membuat Boy penasaran dengan sosok itu. Dilihatnya sosok cantik Natasha sedang menuruni tangga. Dengan gaun selututnya dan rambut terkuncir rapi ala ekor kuda membuat Natasha sungguh mempesona. Beberapa bagian tubuhnya mulai menonjol dan membuat Boy menelan ludah saat melihatnya.
Astaga! Debaran apa ini? Kenapa aku berdebar saat melihat Natasha?
Batin Boy mulai gugup ketika Natasha makin mendekat padanya. Ditambah Natasha menyunggingkan senyum manisnya kearah Boy. Membuat jantungnya makin berdetak tak karuan.
"Halo!" ucap Natasha melambaikan kedua tangannya di depan wajah Boy.
"Eh? Apa?" jawab Boy gugup.
"Harusnya aku yang bertanya, kau kenapa?"
"Ti-tidak apa-apa. Ayo!" Boy segera berbalik badan dan meninggalkan Natasha.
"Ada apa dengannya?" gumam Natasha pelan.
......***......
Tiba di sebuah taman bermain yang cukup besar, Natasha berseru gembira. Boy merasa aneh dengan tingkah Natasha. Pastinya tempat bermain di luar negeri lebih bagus dari pada di negeri ini, bukan? Begitu pikir Boy.
"Ayo!" Natasha menarik tangan Boy dan menggenggamnya.
Boy merasakan tubuhnya tersengat aliran listrik ketika tangan Natasha menyentuhnya.
Astaga! Apa lagi ini? Kenapa aku merasakan ada yang aneh dengan diriku?
"Boy, ayo naik itu!" tunjuk Natasha pada wahana bianglala.
"Nat, bukankah saat tinggal di luar negeri kau sudah biasa menaikinya? Bahkan yang ada disana lebih canggih dari yang ada disini," ucap Boy.
"Ish, kau ini. Sudah lama aku tidak pergi kemanapun. Mommy mengurungku di rumah." Natasha berlari menuju ke antrian para pengunjung wahana bianglala.
"Mengurungnya? Benarkah? Bukankah Bibi Riana selalu membebaskan Natasha untuk bermain? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" gumam Boy dengan masih banyak pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Ayo, Boy! Cepat!" Natasha melambaikan tangannya. Boy segera berlari kecil menghampiri Natasha.
Tapi kenapa Bibi Riana mengijinkanku mengajak Natasha pergi? Ah, kenapa semakin membingungkan?
"Boy! Apa yang kau pikirkan?" sungut Natasha dengan berkacak pinggang.
"Iya, iya, maaf. Ayo naik!"
Mereka berdua masuk ke dalam kotak yang mirip sangkar burung dan duduk memandangi pemandangan kota dari atas ketinggian. Natasha berdecak kagum ketika sangkar milik mereka berada tepat diatas.
"Wah! Ini sangat menyenangkan!" seru Natasha.
"Apa?"
"Kenapa Bibi Riana tidak mengijinkanmu keluar rumah?"
Natasha terdiam. Suara merdunya yang sedari tadi berceloteh mendadak diam.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk..."
Tiba-tiba Natasha berpindah tempat dan duduk di samping Boy. Natasha memeluk lengan Boy.
"Sejak kau pergi, aku menjadi orang yang berbeda. Karena itulah Mommy tidak mengijinkan aku pergi kemanapun," cerita Natasha.
"Orang yang berbeda bagaimana?" Boy masih tidak paham dengan maksud Natasha.
"Entahlah. Mungkin yang kemarin kau lihat adalah aku yang berbeda." Ada nada sendu di suara Natasha.
Boy mengusap pelan punggung Natasha.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku lagi, Boy. Berjanjilah!" pinta Natasha.
"Tentu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku janji."
Natasha mengeratkan pelukannya di lengan Boy.
Hingga bertahun-tahun berlalu, Boy tidak melupakan janji itu pada Natasha. Janji masa remaja yang ia pegang hingga ia beranjak dewasa.
"Terima kasih atas kerja samanya hari ini, Natasha."
"Terima kasih kembali, Pak Sutradara. Aku bisa menjadi sekarang karena jasa bapak."
"Apa kau akan langsung pergi? Hari ini ada makan malam tim karena syuting hari ini adalah untuk episode terakhir."
"Mohon maaf, Pak. Aku tidak bisa ikut," sesal Natasha dengan sopan.
"Apa kekasih doktermu itu sudah menunggumu?"
Natasha tersenyum. "Iya, Pak. Mungkin lain kali saja aku ikut."
"Kenapa tak kau ajak saja kekasihmu itu?"
Natasha menggaruk tengkuknya.
"Dia ... tidak begitu suka keramaian, Pak. Sekali lagi aku minta maaf. Kalau begitu aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi." Natasha melambaikan tangan pada semua kru yang sudah menemaninya selama tiga bulan ini.
"Apa dia tidak ikut dengan kita karena kekasih dokternya itu?" tanya seorang staf.
"Iya, benar. Aku tidak yakin jika pria itu mendukung karir Natasha. Akting Natasha itu sangat bagus dan dia sangat berbakat. Tapi jika memiliki pendamping hidup yang kaku seperti itu, maka kurasa karir Natasha akan terhenti sampai disini. Pria itu akan melarang Natasha untuk menjadi aktris lagi," ucap sang sutradara sambil menatap kepergian Natasha.
"Sudahlah, Pak. Pilihan hidup ada di tangan Natasha selama mereka belum menikah. Lagi pula mereka masih terlalu muda untuk memikirkan soal pernikahan."
"Kau benar. Tapi aku yakin jika Natasha masih bersama dengan pria itu, karir Natasha tidak akan menanjak lebih dari ini," sarkasnya.
Natasha berlari kecil sambil menghampiri kekasihnya yang sedang berdiri di samping mobil.
"Hai, sayang. Sudah lama menunggu?" sapa Natasha.
"Hm, tidak juga. Kau sudah selesai?" tanya pria tampan dan dingin yang tak lain adalah Boy.
"Iya. Syuting sudah selesai. Setelah ini aku ada waktu senggang sebelum menerima kontrak baru lagi."
Boy mengangguk pura-pura paham. Ia membukakan pintu mobil untuk Natasha.
"Terima kasih, sayang," ucap Natasha.
Kemudian Boy melajukan mobil dengan pelan agar mereka bisa berbincang. Sepuluh tahun telah berlalu setelah Boy mengucapkan janji diatas wahana bianglala. Boy menepati janjinya dengan tidak meninggalkan Natasha dan selalu mendukung apapun yang jadi keinginan Natasha, kekasihnya.
"Kau sudah makan?" tanya Natasha.
"Belum. Kau ingin makan apa?"
"Apa saja asal bersamamu," balas Natasha yang membuat Boy sedikit menarik sudut bibirnya.
"Nah begitu kan terlihat tampan. Kenapa kau jarang sekali tersenyum? Apa menjadi dokter membuatmu jadi tak bisa tersenyum, huh?"
"Bukan begitu. Aku hanya tidak suka tertawa jika tidak ada yang harus ditertawakan."
"Ish, kau ini! Berhenti disini saja!" ucap Natasha.
"Disini?" Boy mengernyitkan dahi.
"Iya, aku ingin makan di warung tenda disana. Orang-orang kru bilang makanan disana enak."
"Apa kau yakin? Kau adalah seorang selebritis, bagaimana kalau ada paparazi yang mengambil gambarmu?"
"Kau ini! Aku ini tetap manusia biasa, Boy. Profesiku sebagai seorang selebritis tidak akan ada apa-apanya jika tanpa mereka. Ayo, turun! Jika kau tidak mau turun, biar aku saja yang makan sendiri disana."
Dengan menghela nafas kasar, Boy pun menuruti keinginan Natasha untuk makan di warung tenda pinggir jalan.
Usai makan malam bersama, Boy mengantar Natasha kembali ke rumah keluarga Watanabe.
"Terima kasih karena bersedia menemani aku makan di warung tenda pinggir jalan. Ini sungguh bukan Boy yang aku kenal selama ini. Kau banyak berubah, Boy," ucap Natasha.
"Semua orang berubah, Nat. Kau pun berubah. Kau sekarang menjadi lebih cantik dan mempesona."
"Ish, apa yang kau bicarakan?" Natasha terkekeh mendengar kekasihnya menggombal.
"Menikahlah denganku, Nat!" ucap Boy tiba-tiba yang membuat Natasha menghentikan tawanya.
"Apa?"
"Menikah denganku!" ucap Boy sekali lagi.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius! Menikahlah denganku, Natasha! Sahabatku dan cinta pertamaku," tegas Boy.
Natasha menatap Boy yang juga sedang menatapnya. Bibirnya ingin mengucapkan sesuatu namun urung.
...B E R S A M B U N G...
"Terkejut dengan part terakhir? 😬 saia juga. Kisah ini akan berlanjut dengan kisah Boy bersama Natasha, dan tentunya ... beberapa tokoh baru yang akan meramaikan dunia perhaluan JHSDT ini, ha ha."
...Happy Tuesday...