
Natasha masuk ke dalam kamarnya dengan masih memegangi dadanya. Ini semua terasa seperti mimpi saat Boy mengutarakan niat untuk menikah dengannya.
Natasha menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Astaga! Ini bukan mimpi! Boy benar-benar serius ingin menikah denganku?"
Natasha merebahkan tubuhnya di ranjang queen size nya. Hatinya berbunga-bunga dan amat bahagia.
"Sepertinya malam ini aku akan mimpi indah."
Senyum merekah selalu disunggingkan oleh Natasha.
Hingga keesokan harinya, Natasha duduk bersama kedua orang tuanya sambil menyantap sarapan pagi. Ia memikirkan cara untuk bicara ada kedua orang tuanya.
"Dad, Mom..."
Natasha mulai merngkai kata-kata.
"Ada apa, sayang?" tanya Riana.
"Boy melamarku..." ucap Natasha to the point.
Riana dan Kenzo saling melempar pandang.
"Katakan sesuatu, Mom! Dad!"
Riana tersenyum. "Itu artinya Boy memang serius denganmu."
"Lalu, apa jawabanmu?" tanya Kenzo.
Natasha menggelengkan kepala. "Aku ... tidak tahu harus menjawab apa."
Riana dan Kenzo tersenyum geli.
"Sayang, jika kau yakin seharusnya kau menjawab 'ya'. Kau jangan membuat Boy menunggu."
"Tapi, Mom. Aku ingin meminta ijin kepada kalian dulu sebelum aku menerima pinangan Boy. Aku ingin bertanya apakah kalian setuju dengan hubungan kami atau tidak." Natasha menundukkan wajahnya.
"Tentu saja kami setuju. Boy adalah pria yang baik. Keluarganya juga keluarga baik-baik. Apa lagi yang kami tunggu selain memiliki menantu sempurna seperti dia?" balas Kenzo.
"Jadi, Mom dan Dad setuju aku menerima pinangan Boy?"
"Tentu saja kami setuju," sahut Kenzo dan Riana bersamaan.
Sementara itu, di rumah besarnya Boy juga sedang menyusun kata-kata untuk bicara dengan keluarganya.
Suasana sarapan pagi di keluarga Avicenna terasa ramai karena semua orang berkumpul di meja makan. Berbeda dengan makan malam yang hanya di isi beberapa orang saja. Boy jarang makan malam di rumah karena biasanya ia pergi dengan Natasha. Roy dan Lian juga semakin sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Suara denting sendok dan garpu beradu dengan piring membuat Boy membulatkan tekadnya.
"Aku melamar Natasha!" seru Boy yang membuat semua orang menghentikan aktifitas makannya.
Lian dan Roy menatap Boy meminta kelanjutan kalimatnya. Lusi dan Nathan hanya menyimak kalimat Boy.
"Aku melamar Natasha semalam," ulang Boy.
Roy tersenyum. "Jadi, kau sudah siap untuk menikah?"
"Aku hanya baru melamarnya, Pa, bukan menikah. Maksudku ... aku memang akan menikahinya tapi tidak sekarang," imbuh Boy.
Lian hanya terdiam mendengar penuturan Boy. Entah apa yang ia rasakan saat mendengar rencana Boy meminang Natasha.
......***......
"Bagaimana bisa dia mengatakan itu dengan tenang, Kak? Dia bilang dia melamar Natasha!" cerita Lian dengan berapi-api di depan Kartika.
Kartika hanya tersenyum simpul dengan curahan hati Lian.
"Bukankah seharusnya dia meminta pendapat kami dulu sebagai orang tuanya? Kenapa dia langsung bicara pada Natasha? Ditambah lagi gadis itu belum memberikan jawaban pada putraku. Apa-apaan ini? Apa dia berniat menolak putraku, huh?!" cerita Lian kembali.
Kartika yang sedang merapikan beberapa gaun rancangannya segera berhenti dan memegangi pundak Lian.
"Dengar, cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi, Lian. Anak-anak akan semakin dewasa dan menentukan pilihan mereka sendiri tanpa harus melibatkan orang tua. Boy sudah dewasa. Kau harus memahami keinginannya. Dia sudah bersama dengan Natasha sejak kecil."
Lian mulai mengatur nafasnya. Dia mulai mengerti jika putra kecilnya kini telah tumbuh menjadi pria yang matang. Tubuh Lian luruh dan duduk di sofa.
"Aku tidak percaya dia sudah sebesar ini, Kak. Padahal rasanya ... baru kemarin aku melahirkannya. Baru kemarin aku menimangnya. Dia baru belajar berjalan, lalu dia memulai hobinya sebagai dokter kecil di FBI." Lian menutup wajahnya. Semua kenangan tentang putra kecilnya membuatnya mengingat banyak hal di masa lalu. Buliran bening itu pun lolos dari kedua matanya.
Kartika duduk di samping Lian dan mengusap punggungnya. "Setiap orang tua akan mengalami fase ini. Kau hanya terbawa emosi karena kau takut kehilangan dia."
"Mungkin saja, Kak." Lian menyeka air matanya. Ia mengatur nafasnya kembali dan meminum segelas air yang di sodorkan oleh Kartika.
"Terima kasih, Kak."
Kartika mengulas senyum sambil memandangi putrinya yang berusia hampir 9 tahun. Gadis kecil itu sedang menggambar beberapa model pakaian di buku gambarnya. Sepertinya bakat ibunya sebagai desainer menurun pada Shelom, begitu ia biasa dipanggil.
......***......
Natasha hanya berdiam diri di kamar sambil menonton beberapa film kesukaannya. Biasanya sejak pagi buta ia sudah bersiap pergi ke lokasi syuting. Namun karena drama yang dibintanginya telah tamat, maka kini ia masih bisa bersantai sebelum menerima kontrak baru.
Benda pipih bening miliknya berdering. Natasha tersenyum melihat nama yang tertera disana.
"Jawab dengan video!" ucap Natasha.
Tampilan video terpampang jelas didepan Natasha tanpa harus melihat ke layar ponsel.
"Good morning, Princess," sapa Cicind, manager Natasha.
"Morning, Cind. Ada apa?"
"Apa yang sedang kau lakukan? Kau pasti sedang menonton film di kamarmu."
"Kau sudah tahu, untuk apa bertanya?"
"Ada apa? Bukankah belum ada kontrak baru untukku?"
"Pak Edwin ingin bertemu denganmu."
"Eh?"
"Cepatlah bersiap! Sepertinya kau akan mendapat proyek besar setelah ini."
Natasha berpikir sejenak. "Baiklah."
"Oke! Kita bertemu satu jam lagi. Bye, Princess."
Panggilan video berakhir. Natasha segera bangkit dari tempat tidurnya dan mematut diri di depan cermin.
......***......
Natasha kembali ke rumah usai bertemu dengan Cicind dan Edwin. Ternyata ia mendapat kontrak baru untuk sebuah drama romantis.
Natasha mengingat kembali apa yang dikatakan Edwin padanya siang tadi.
"Sean Connan?" Natasha membulatkan mata.
"Benar. Dia adalah lawan mainmu untuk drama nanti. Kau tahu siapa dia, bukan? Dia adalah selebriti pria yang sedang naik daun. Percayalah, drama kali ini pasti akan meledak karena dibintangi oleh dua bintang yang sedang naik daun."
Natasha belum memberikan jawaban atas tawaran Edwin. Ia memilih untuk mencari tahu profil yang akan menjadi lawan mainnya dalam drama nanti.
"Sean Connan?" gumam Natasha saat foto-foto pria itu terpampang di depannya. Natasha tersenyum.
"Dia lumayan juga," gumam Natasha lagi.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Boy. Natasha mengernyitkan dahi. Tidak biasanya Boy menghubunginya ketika masih jam kerja.
"Jawab tanpa video!" seru Natasha.
"Sayang? Kenapa tanpa video?" tanya Boy.
"Um, aku sedang ada di kamar mandi," bohong Natasha.
"Oh, begitu."
"Ada apa? Bukankah ini masih jam kerja?"
"Benar. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu?"
"Besok malam ... aku dan keluargaku ingin berkunjung ke rumahmu."
Natasha terdiam. "Apa ini mengenai kemarin?"
"Iya. Aku ingin melamarmu secara resmi di depan kedua orang tuamu."
"Baiklah. Aku akan memberitahu Mom dan Dad."
"Terima kasih, sayang. Sampai jumpa besok."
Panggilan berakhir.
*
*
*
Keesokan harinya, Riana sibuk menyiapkan makan malam karena keluarga Avicenna akan datang untuk meminang putrinya. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah Riana.
Natasha sendiri masih sibuk dengan mematut diri di depan cermin. Ia memakai gaun yang dikirimkan Boy untuk dikenakannya malam ini.
"Tidak biasanya dia mengirimiku gaun seperti ini. Dia terlihat manis akhir-akhir ini."
Natasha segera mengganti piyamanya dengan gaun yang diberikan Boy. Sebuah pesan masuk ketika Natasha selesai mengganti pakaiannya.
"Hai, aku Sean Connan. Salam kenal. Kudengar kita akan beradu akting di drama yang baru nanti. Aku tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, Natasha Watanabe."
Natasha menatap pesan yang dikirim oleh Sean.
"Nak! Ayo cepat keluar! Keluarga Boy sudah datang!" Suara Riana membuyarkan lamunan Natasha.
"Iya, Mom! Aku akan segera turun," jawab Natasha.
Natasha menuruni tangga dan langsung disambut oleh Boy yang memeluknya mesra.
"Kau sangat cantik, sayang," puji Boy.
"Terima kasih, Boy." Natasha melingkarkan tangannya ke lengan Boy, kemudian berjalan menemui keluarga mereka.
Ketika makan malam telah berakhir, kini tibalah saatnya Boy mengutarakan niatnya untuk melamar Natasha.
Meski terlihat kaku saat bicara, namun terlihat jelas di mata Boy jika dia sangat mencintai Natasha.
"Natasha, apa jawabanmu?" tanya Kenzo.
Natasha menatap semua orang kemudian menganggukkan kepala.
"Iya, aku bersedia."
...B E R S A M B U N G ...
"Aw aw aw, dia yg dilamar, eke yg deg2an, ha ha."
"Siapa Sean Connan? Apakah dia akan mengganggu hubungan Boy dan Natasha?"