Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 102. George Langdon


Julian kembali ke rumah keluarga Avicenna dengan wajah yang bingung. Ia tak tahu harus bicara apa pada Roy.


Roy menyambut kedatangan kakaknya dengan harap-harap cemas. Julian bilang ia akan mencoba bicara dengan Kartika mengenai Nathan. Ia berharap jika kakaknya bisa membantu menyelesaikan masalah ini karena Kartika adalah teman lama Julian.


"Kakak! Bagaimana?" Tanya Roy ketika Julian memasuki rumah.


Julian menggeleng pelan. "Bersabarlah, Roy."


"Memangnya apa yang Kakak bicarakan dengan Kak Kartika?"


"Aku hanya menceritakan soal kau dan Lian yang kehilangan bayi lima tahun lalu."


"Terima kasih kakak sudah membantuku dan Lian. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk menerima tugas dari kepolisian. Aku akan meminta cuti sampai masalah ini selesai."


"Bagaimana kondisi Lian? Aku minta maaf karena sudah membentak Lian. Aku tahu ini berat untuknya. Tapi kita juga harus memikirkan perasaan Kartika. Dia yang selama tiga tahun ini merawat putra kalian. Pasti sangat sulit untuknya melepaskan Nathan ke tangan keluarga kandungnya."


"Iya, Kak. Aku mengerti. Aku akan mencoba bicara dengan Lian. Oh ya, apa kakak akan menginap disini?"


"Eh?"


Julian nampak berpikir. Sudah belasan tahun ia meninggalkan rumah keluarga besarnya.


"Kumohon tinggalah disini, Kak. Aku sudah merapikan kamar kakak. Aku selalu berharap jika suatu hari nanti, kakak akan kembali kemari."


Roy menatap Julian dengan penuh harap.


"Baiklah. Aku akan menginap. Tapi, besok aku harus pergi pagi-pagi sekali. Aku..."


Roy memeluk Julian. "Terima kasih, Kak. Terima kasih karena kau kembali."


Mata Julian menghangat mendapat sebuah pelukan dari seorang adik yang telah lama ia tinggalkan.


"Maafkan aku, Roy. Tolong maafkan aku. Aku akan membuatmu kembali berkumpul dengan putramu," lirih Julian.


Lusi dan Lono yang melihat pemandangan damai itu pun ikut tersenyum.


"Akhirnya mereka tidak lagi memiliki dendam satu sama lain," ucap Lusi.


"Ini semua berkat putri kita, Bu. Putri kita memang wanita yang luar biasa. Bagaimana kondisinya?"


"Dia sudah tidur. Sebaiknya kita mengawasi dia dengan lebih baik. Ibu tidak ingin dia berbuat nekat lagi."


"Iya, Bu. Kalau begitu kita juga ikut beristirahat. Besok Ayah akan kembali mengembangkan formula yang kemarin bersama Nak Julian."


"Syukurlah jika Ayah bisa kembali mengambil hak Ayah menjadi penemu formula itu." Lusi meraih lengan suaminya dan memeluknya.


......***......


Keesokan paginya, Julian telah rapi dengan setelan jasnya dan bersiap pergi. Ia menghubungi Leon dan memintanya untuk memastikan jika George Langdon masih berada di hotelnya.


Hari ini Julian sengaja menemui George untuk membicarakan masalah Nathan. Ia tak bisa lagi mengulur waktu karena kondisi Lian yang masih terpuruk.


Julian keluar dari rumah tanpa diketahui oleh siapapun. Ia bahkan tidak berpamitan dengan Roy. Dalam hati ia berdoa agar rencananya kali ini berhasil.


Tiba di Royale Hotel, Julian kembali menghubungi ponsel Leon. Julian segera menuju ke lantai lima dimana George menginap. Sebenarnya banyak pertanyaan yang masih mengganjal dalam benaknya, tapi coba ia singkirkan hingga rencananya berjalan dengan baik.


Julian bertemu dengan Leon di depan kamar George. Dengan ragu, Julian menekal bel kamar itu. Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi saat Julian berkunjung.


George membuka pintu dan mengernyit heran.


"Tuan Julian? Ada perlu apa Anda datang sepagi ini?" tanya George.


"Saya minta maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu Anda." Julian sedikit membungkukkan badannya didepan George.


"Tidak masalah. Saya terbiasa bangun pagi. Silakan masuk!" George menyambut kedatangan Julian dengan baik.


"Saya yakin ada hal penting yang ingin Tuan sampaikan hingga datang kemari pagi buta begini. Mari duduk!" lanjut George.


George menatap Julian dengan seksama. Kemudian dengan hati-hati, Julian menceritakan semuanya pada George.


Selama perbicangan, George hanya diam dan menelisik setiap cerita Julian.


"Jadi, maksud kedatangan Anda kemari adalah..."


"Sebenarnya ... ada satu hal yang perlu dikoreksi. Saya dan Kartika ... kami memang pernah menikah. Tapi, kami sudah berpisah beberapa bulan lalu. Dan aku mengijinkan Kartika untuk membawa Nathan bersamanya."


"Eh?" Julian terkejut dengan kejujuran George. Pria 40 tahunan itu sangatlah tenang dalam menghadapi masalah bahkan saat bercerita tentang kehidupannya bersama Kartika.


"Aku memutuskan mengadopsi seorang anak karena melihat Kartika yang terus bersedih setelah mengalami kehilangan bayinya akibat janin yang dikandungnya tidak bisa berkembang dengan baik. Sudah beberapa kali Kartika hamil. Namun semuanya mengalami kegagalan. Dan pada akhirnya dokter menyatakan jika Kartika tidak akan bisa memiliki keturunan."


Julian turut prihatin dengan kondisi Kartika.


"Hidupnya yang gelap sedikit demi sedikit mulai menemukan cahaya setelah bertemu dengan Nathan. Aku membawanya saat dia baru berusia 2 tahun. Mungkin aku terdengar seperti membeli sebuah barang karena aku ... membayar Noel dengan uang banyak sebagai gantinya. Aku sungguh minta maaf karena itu."


"Noel sudah membayar kejahatannya, Tuan."


"Ya, aku juga mendengarnya." George melirik jam tangannya.


"Sepertinya waktu kita sudah habis, Tuan Julian. Kau tenang saja. Aku pastikan aku akan bicara dengan Kartika. Dan soal kerja sama kita, kau jangan khawatir. Karena masalah ini tidak akan mempengaruhi semua kontrak kerjasama kita."


Julian tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan. Sekali lagi terima kasih." Julian menjabat tangan George.


......***......


"Daddy!!!" teriak Nathan ketika melihat George datang ke rumah Kartika.


Kartika mengerutkan dahi mengetahui kedatangan George sepagi ini ke rumahnya.


"Oh, anak Daddy..." George membawa Nathan dalam gendongannya.


"Kau semakin berat saja, hmm?" ucap George sambil mencoel hidung Nathan.


"Sayang, sudah saatnya kau berangkat sekolah. Ayo!"


Kartika mengambil alih Nathan dan membawanya menemui pengasuhnya.


"Antar dia ke sekolah dan awasi dengan baik. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang kembali. Mengerti?!" Suara Kartika terdengar lugas.


"Baik, Nyonya," jawab si pengasuh.


Sepeninggal Nathan dan pengasuhnya, George menghampiri Kartika.


"Apa kau punya waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ujar George dengan suara beratnya yang menenangkan.


Kartika menatap George. "Soal apa?"


"Soal Nathan."


Kartika membulatkan mata kemudian memalingkan wajahnya.


George merangkul bahu Kartika.


"Aku tahu kau adalah wanita yang baik. Aku tahu kau sangat menyayangi Nathan. Tapi..."


"Apa Julian menemuimu?" Mata Kartika mulai memerah.


"Iya. Dia menemuiku. Dia menceritakan kondisi adik iparnya yang sangat terpuruk karena kehilangan anaknya."


Kartika bungkam.


"Kau juga seorang wanita. Kau juga pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak. Aku tahu kau tidak akan tega membiarkan orang lain menderita karenamu."


Kartika menatap George dengan mata penuh genangan air mata.


"Kau adalah wanita yang kuat. Aku tahu itu." George membawa Kartika dalam pelukan.


"Percayalah! Kau akan menemukan kebahagiaanmu sendiri tanpa harus menyakiti perasaan orang lain."


Tangis Kartika makin kencang. George mendekapnya lebih erat.


"Menangislah! Keluarkan seluruh emosimu. Tapi setelah itu, berpikirlah dengan jernih. Kau sendiri juga tahu, Nathan membutuhkan keluarga kandungnya agar bisa hidup dengan normal seperti anak-anak pada umumnya. Tolong pikirkan itu jika kau benar-benar mencintai Nathan," bisik George dengan mengusap punggung Kartika lembut.


...B E R S A M B U N G...


"Akankah Kartika bersedia menyerahkan Nathan pada keluarga kandungnya?"