Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 176. Bertemu Kembali


...Tak pernah terlintas jika aku harus merasakan ini lagi...


...Rasa ini yang ternyata tak pernah pergi...


...Dan selalu menyebut namamu...


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


"Rumah sakit ibu dan anak 'Aleya'?" gumam Aleya.


Aleya mematung memandangi nama rumah sakit yang memang terlihat seperti bangunan baru itu.


"Apa ini? Sejak kapan semua ini terjadi? Siapa pemilik rumah sakit ini sebenarnya?" gumam Aleya dengan penuh tanda tanya.


Kakinya tergugah untuk melangkah lebih jauh masuk ke dalam rumah sakit itu. Aleya melihat belum banyak orang yang mendatangi rumah sakit karena hari masih pagi.


Terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat dengan cepat. Sayup-sayup Aleya mendengar percakapan antara seorang dokter dan perawat.


Aleya membalikkan badan untuk melihat siapa pemilik suara itu. Dan ia merasa jika dirinya mengenal suara berat itu.


Matanya menangkap sosok yang dikenalnya. Sosok itu tak melihat Aleya dan tetap berjalan sambil berdiskusi dengan si perawat.


Aleya mematung mendapati sosok yang sudah lama tidak ia temui. Matanya tiba-tiba menghangat menahan gejolak rindu yang selama ini ia pendam.


Hingga akhirnya mata sang dokter juga menangkap bayangan Aleya yang berdiri di depannya dan membuat pertemuan mereka menjadi syahdu. Mereka diam dan saling menatap dalam beberapa saat.


Kemudian si perawat memanggil nama dokter itu dan membuat semuanya buyar. Aleya membalikkan badan karena tak ingin bertemu dengan sosok itu. Ia kembali melangkah.


"Aleya!" Namun ternyata sosok itu memanggil nama Aleya hingga gadis itu menghentikan langkahnya.


Sosok yang tak lain adalah Boy segera menghampiri Aleya. Boy berdiri berhadapan dengan Aleya. Pria itu mengembangkan senyumnya di depan Aleya.


"Apa yang kau lakukan disini, Aleya?" tanya Boy yang membuat Aleya salah tingkah.


Aleya masih diam dan menundukkan wajahnya. Semua masih terasa canggung untuknya.


"Umm, aku ... aku tidak sengaja ada disini," jawab Aleya sekenanya.


Boy tertawa kecil mendengar penuturan Aleya.


"Kau tunggu di ruanganku saja. Aku sedang ada pasien." Boy berlalu meninggalkan Aleya.


"Kau percaya diri sekali! Aku datang bukan untuk menemuimu," ketus Aleya kemudian pergi lebih dulu meninggalkan Boy.


Boy tertegun melihat Aleya pergi. Secepat kilat ia menyusul Aleya dan memeluk gadis itu dari belakang.


"Jangan pergi!" lirih Boy tepat di tengkuk Aleya.


Aleya terdiam merasakan sentuhan pria yang tak ditemuinya tiga tahun ini. Matanya mulai menghangat sambil terpejam.


"Aku merindukanmu, Aleya. Sangat merindukanmu..." ucap Boy jujur.


Boy membalikkan tubuh Aleya agar berhadapan dengannya. Wajah cantik yang dirindukannya hanya bisa menunduk tak berani menatap balik manik milik Boy.


Boy menarik dagu Aleya agar mata gadis itu beradu pandang dengannya. Mata hangat itu mengembun.


"Jangan menangis. Aku tahu kau juga merindukanku." Boy meraih tubuh mungil itu dan mendekapnya erat.


Tangis Aleya akhirnya pecah kala pelukan Boy makin erat. Gadis itu menumpahkan semua kerinduan dan kesedihannya di dada bidang Boy. Boy tak mau kalah dengan Aleya. Pria yang terkenal dingin dan tegas itu menitikkan air mata merasakan kerinduan amat dalam pada gadis yang ada dalam dekapannya.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Aleya menunggu Boy selesai menangani pasiennya di ruang kerja pria itu. Ruangan yang sekarang ditempati Boy berbeda dengan ruang miliknya saat masih bekerja di rumah sakit Avicenna.


Aleya duduk di sofa dan mengedarkan pandangan menelisik ruang yang tidak terlalu luas itu. Bosan hanya diam menunggu, Aleya melangkahkan kakinya menuju meja kerja Boy.


Matanya membulat ketika melihat foto dirinya yang terpajang disana. Aleya menutup mulutnya tak percaya.


"Kak Boy masih menyimpan fotoku?" Aleya menggelengkan kepalanya.


Aleya kembali duduk di sofa dengan memikirkan banyak hal. Kepingan demi kepingan puzzle mulai ia temukan.


Terlalu lelah memikirkan semua jawaban, akhirnya Aleya malah tertidur pulas di atas sofa.


*


*


*


Boy masih berkutat dengan pasiennya. Rona wajahnya berseri-seri setelah bertemu Aleya, gadis yang membuatnya melakukan semua hal yang terlihat gila di mata orang lain. Banyak yang berpikir jika Boy melakukan hal diluar nalar hanya karena patah hati.


Tiga tahun lalu, Boy berusaha meyakinkan keluarganya jika semua yang dirinya lakukan bukanlah sebuah pelampiasan. Niat tulus untuk membangun sebuah rumah sakit sudah tercetus saat dulu memulai proyek di desa Selimut.


Meski harus berpisah dengan keluarga tercinta, Boy bersikukuh ingin tetap melakukan apa yang hatinya inginkan. Roy mendukung penuh keinginan Boy karena itu bukanlah hal yang buruk. Membantu sesama tentunya adalah prioritas seorang dokter.


Pada akhirnya, Lian setuju untuk melepas putranya hidup di tempat yang jauh darinya. Meninggalkan keluarga demi menggapai asa yang dirasa masih bisa untuk dirajut. Sesekali Lian mengunjungi Boy bersama Aurelie yang makin beranjak besar.


Setelah tiga jam meninggalkan Aleya di ruang kerjanya, akhirnya Boy menyusul masuk. Dilihatnya gadis itu meringkuk diatas sofa dengan mata terpejam.


Boy tersenyum menatap gadis yang tak pernah keluar dari hatinya itu. Setiap hal tentang gadis itu selalu ia ingat dalam deru napasnya, detak jantungnya.


"Kau tidak berubah, Aleya. Kau masih saja suka tidur," gumam Boy sambil berjongkok agar lebih dekat menatap wajah gadis itu.


"Kenapa dia ada disini? Apa dia tidak bekerja di rumah sakit? Ataukah dia membolos demi bisa datang kemari? Ah, kau memang selalu menggemaskan." Boy menyeka rambut Aleya yang menutupi wajahnya.


Merasakan sebuah sentuhan, mata Aleya tiba-tiba terbuka dan melihat bayangan Boy ada di depannya.


"Kak Boy?" Aleya segera bangun dari tidurnya dan membenahi penampilannya.


"Maaf, aku tertidur," ucapnya sambil tertunduk.


Boy merasa gadis di depannya sangatlah lucu.


"Tidak apa. Kau boleh melakukan apa saja disini. Tempat ini adalah milikku." Boy masih dalam posisi jongkoknya di depan Aleya.


Aleya salah tingkah karena pria itu terus menatapnya. "Berhenti menatapku seperti itu! Matamu bisa terlepas nanti."


Boy tersenyum kecil. "Tataplah aku jika kau bicara!"


Aleya tetap menunduk. Semua benar-benar canggung.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harusnya berangkat kerja di rumah sakit? Kenapa malah ada disini? Apa kau memang ingin bertemu denganku?"


"Percaya diri sekali!" sungut Aleya dengan menatap Boy tajam.


"Kau masih saja suka meledak-ledak ya!"


"Ti-tidak!" Aleya terbata karena kini ia begitu dekat dengan Boy. Pria yang selalu ada dalam doa-doanya kini ada dihadapannya.


"Ya Tuhan, apakah memang aku harus mengakui perasaanku padanya. Tiga tahun ini terasa berat untukku!" Batin Aleya bergemuruh.


"Ayo, ikut denganku!"


"Eh?"


"Kita akan berkeliling rumah sakit. Kau tahu, rumah sakit ini adalah impianku."


Aleya membulatkan mata. Ia tak pernah tahu jika Boy memiliki impian seperti itu.


"Ayo!" Boy meraih tangan Aleya dan menggenggamnya.


Boy mengajak Aleya mengelilingi bangunan yang bergaya minimalis namun tetap memiliki kesan mewah itu.


"Kak, tolong lepaskan tanganku! Banyak orang mulai berdatangan. Aku tidak enak jika ada yang melihat kita seperti ini," bisik Aleya.


"Tidak akan. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Terakhir kali aku melepasmu, aku kehilangan dirimu. Jadi, sekarang aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama," tegas Boy dengan makin menggenggam erat tangan Aleya.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Akankah Aleya akhirnya mengakui perasaannya pada Boy? Ya iyalah, lah yau, hahahah. Udah ketemu kan mereka, masa iya mau pisahan lagi, wkwkwkwk. Makthornya jahara kalo begitu mah, hehehe