
Natasha memutuskan kembali ke apartemennya karena sudah terlalu marah akibat ulah Cassie. Sean senantiasa menemani Natasha agar ia tidak berbuat nekat.
"Minumlah dulu, Tasha," ucap Sean dengan memberikan sebuah gelas berisi air.
"Terima kasih."
Natasha segera meneguk habis air di dalam gelas.
"Sean, apa aku bisa meminta tolong padamu?" tanya Natasha.
"Soal apa?"
"Cari tahu tentang gadis bernama Aleya."
"Aleya? Siapa dia? Ah, dia adalah--"
"Iya, dia adalah gadis yang ditemui Boy di desa Selimut."
"Untuk apa kau mencari tahu soal dia?" Sean tak ingin Natasha memikirkan hal yang tidak perlu.
Natasha mendesis. "Apa kau lupa apa yang dikatakan Cassie tadi? Dia sengaja berkata begitu karena tahu tentang situasiku dan Boy."
"Lalu apa masalahnya? Toh aku tetap memilihmu dibandingkan dia."
"Aku sudah curiga sejak kepulangan Boy dari desa itu. Dia banyak berubah setelah bertemu dengan gadis itu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada gadis itu?"
"Entahlah. Kita lihat saja nanti."
Natasha menyeringai dengan tawa sinisnya. "Kau tahu, Sean. Aku tidak bisa kehilangan apa yang sudah menjadi milikku. Tidak kau, tidak juga Boy. Aku tidak akan kehilangan keduanya."
Natasha melenggang pergi menuju kamarnya. Tiba di ambang pintu, Natasha berbalik badan.
"Sean, apa kau tidak akan ikut denganku?" ajak Natasha dengan suara menggoda.
Saat seperti Sean tidak boleh menolak keinginan Natasha. Hal yang buruk bisa saja terjadi jika keinginan Natasha tidak terpenuhi.
Beberapa jam kemudian, Sean terbangun dan melihat Natasha masih terlelap. Sean melirik ke arah jam dinding.
"Pukul sebelas malam," gumam Sean. "Apa Natasha akan menginap disini? Bagaimana jika Boy mencarinya?"
Sean memutuskan untuk membangunkan Natasha.
"Sayang, bangunlah. Aku akan mengantarmu ke rumah. Kau tidak boleh tidur disini. Nanti keluargamu curiga."
Dengan malas Natasha terbangun dari tidurnya.
"Ada apa, Sean? Kenapa kau membangunkanku? Aku masih lelah setelah permainan kita tadi." Natasha menguap karena masih merasa mengantuk.
"Kau harus kembali ke rumahmu. Ayo! Akan kuantar. Ganti bajumu dulu. Aku tunggu di luar!"
"Hmm, baiklah."
......***......
Usai mengantar Natasha kembali ke rumah, Sean kembali melajukan mobilnya dan kembali ke rumahnya.
Sean mencari keberadaan Noel yang ternyata sedang berada di ruang kerjanya.
"Paman? Paman belum tidur?" tanya Sean.
"Kau baru pulang, Nak?"
"Iya, Paman. Paman, ada yang ingin kutanyakan."
"Soal apa?"
"Ini soal Natasha, Paman. Aku merasa akhir-akhir ini dia berubah. Natasha yang kukenal sekarang tidak seperti Natasha yang kukenal dulu."
Noel hanya tersenyum.
"Sudah waktunya, Nak. Semua akan segera berakhir. Bersiaplah!" Noel menepuk bahu Sean kemudian berlalu.
"Sebenarnya apa yang direncanakan oleh paman Noel? Apa aku bisa mencegahnya? Aku harus menghentikan dia untuk membalas dendam pada keluarga Avicenna. Tapi bagaimana caranya?" Sean mengacak rambutnya karena frustasi.
......***......
Aleya menjalani hari-harinya dengan aktifitas kampus yang cukup padat. Ia sangat bersemangat agar lebih cepat menyelesaikan studinya.
Hari ini, jam kuliahnya selesai lebih cepat dan membuat Aleya ingin berlama-lama di perpustakaan. Aleya memang sangat suka membaca. Ia membawa beberapa buku kemudian duduk di meja yang jauh dari mahasiswa lain.
Saat sedang membaca buku dengan seriusnya, tiba-tiba ponsel Aleya bergetar. Sebuah panggilan dari Imah.
"Halo, Bi Imah, ada apa?"
"Nona, tuan kecil demam. Saya harus bagaimana?"
"Apa?! Andra sakit?" Aleya memekik terkejut.
"Iya, Nona. Demamnya tinggi. Saya takut terjadi sesuatu pada tuan kecil."
Aleya merapikan buku-bukunya dan keluar dari perpustakaan dengan tergesa-gesa. Telepon yang masih tersambung membuat Aleya makin panik.
"Jika seperti itu sebaiknya bawa Andra ke rumah sakit saja, Bi. Aku akan menghubungi kak Rion. Apa kau sudah menghubungi kak Zetta?"
"Nona Zetta sudah berangkat ke luar kota, Nona."
"Astaga, aku lupa! Baiklah, bawa ke rumah sakit saja. Aku akan segera kesana."
Aleya menutup sambungan telepon. Ia berjalan terburu-buru dengan mengutak-atik ponselnya. Ia ingin memanggil taksi online.
Belum sempat Aleya berhasil memanggil taksi online, ia dikejutkan dengan kemunculan Nathan yang telah memperhatikannya sejak tadi.
"Halo, Nona. Kau mau kemana? Kenapa terburu-buru?"
"Maaf, aku tidak bisa bicara denganmu saat ini. Aku harus segera pergi." Aleya makin panik karena taksi online yang dipesannya tak kunjung datang.
"Nona, kau mau kemana? Aku bisa mengantarmu."
"Apa kau bisa menolongku?"
"Tentu saja, Nona. Ayo!" Nathan segera mengambil mobilnya dengan berseru gembira.
"Antar aku ke rumah sakit Avicenna," seru Aleya.
"Eh? Siapa yang sakit?" tanya Nathan penasaran.
"Anakku!" jawab Aleya sekenanya.
"Hah?! Anak? Dia sudah punya anak?" batin Nathan tersentak.
Aleya menautkan kedua tangannya karena cemas akan keadaan Andra. Apalagi ia harus sendiri merawat Andra selama Zetta pergi.
Tiba di rumah sakit, Aleya kembali menghubungi Imah yang ternyata masih berada di ruang IGD.
"Nona Aleya!" seru Imah yang melihat Aleya celingukan.
"Bi Imah! Bagaimana kondisi Andra?" tanya Aleya.
Nathan hanya memperhatikan interaksi dua wanita itu.
"Dokter Rion sedang memeriksa tuan kecil."
Aleya bisa bernapas lega. "Syukurlah. Semoga Andra baik-baik saja."
Sejenak Aleya lupa jika dirinya datang ke rumah sakit diantar oleh Nathan. Ia pun segera menemui Nathan.
"Maaf ya. Aku terlalu panik hingga aku lupa berterimakasih padamu," ucap Aleya penuh sesal.
"Tidak apa. Aku tahu bagaimana perasaanmu."
"Sekali lagi terima kasih. Kau boleh pergi. Aku sudah bersama dengan asistenku."
"Apa aku boleh menunggu disini?"
"Eh? Bukankah kau masih ada urusan?"
"Tidak ada. Aku sudah tak ada kuliah."
"Terserah kau saja."
"Aleya!" Sebuah suara membuat Aleya menoleh.
"Kak Rion! Bagaimana kondisi Andra?" tanya Aleya dengan cemas.
Rion melirik kearah Nathan. Ia merasa sedikit terkejut karena Aleya mengenal Nathan.
"Kau sudah bisa menemuinya. Ayo ikut denganku!"
Aleya mengangguk dan mengikuti langkah Rion.
"Andra! Andra sayang, kau tidak apa-apa, Nak?" Aleya duduk disamping brankar Andra.
"Bunda? Bunda disini?"
"Iya, sayang. Bunda disini. Kau harus cepat sembuh ya!"
"Umm, Aleya. Ada yang harus kukatakan padamu," ucap Rion ragu.
"Ada apa, Kak?" Aleya sedikit menjauh dari brankar Andra.
"Sepertinya Andra harus dirawat inap. Aku harus memeriksa kondisinya lebih dalam."
"Hah?! Memangnya Andra sakit apa, Kak?"
"Ada kemungkinan Andra salah makan."
"Salah makan? Salah makan bagaimana, Kak?"
"Kau tenang dulu! Andra pasti baik-baik saja. Biarkan kami bekerja. Ya?"
Aleya pun menganggukkan kepala. Ia melirik kearah Andra yang sedang terbaring lemah dengan selang infus yang sudah terpasang di tangan mungilnya.
"Sayang, Paman Rion bilang untuk sementara kau menginap di rumah sakit dulu. Bunda dan bi Imah akan menemanimu. Jangan takut."
"Iya, Bunda. Maaf karena aku merepotkan bunda."
Aleya menggeleng. Ia mengecup tangan mungil yang terpasang infus itu.
Rion memberikan kamar VIP untuk kamar rawat Andra agar bocah kecil itu merasa nyaman.
"Terima kasih ya, Kak. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tanpa dirimu."
"Apa yang kau bicarakan? Aku adalah seorang dokter, tentu saja sudah sepatutnya aku menolong pasienku. Kau istirahat dulu saja. Aku harus kembali ke ruanganku."
"Iya, Kak. Terima kasih. Lalu, kau..." Aleya menunjuk kearah Nathan.
"Namaku Nathan. Kita sudah pernah berkenalan jika kau lupa," ucap Nathan dengan mengulurkan tangan.
Rion merasa ada atmosfer yang aneh dengan Nathan saat melihat Aleya.
"Nathan adalah adik kandung Boy," terang Rion.
"Eh?" Aleya terkejut.
Entah kenapa Aleya merasa jika takdir hidupnya selalu berhubungan dengan keluarga Avicenna dan kerabatnya.
...B E R S A M B U N G...
Selamat Hari Senin
Tetap semangat,
Maap UP nya telat. Rempong sekali hari ini.
Semoga tetap bisa menghibur kalian.