Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 28. Fakta yang Terkuak


Maliq berjalan terburu-buru karena ingin segera menemui Roy. Kemarin usai Roy melakukan tes DNA bersama Boy, Roy belum sempat mendapat hasil tesnya karena ia diburu untuk tidak membuat Belinda curiga.


Maliq bertemu dengan sekretaris Roy yang mengatakan jika Roy sedang melakukan autopsi. Maliq menunggu dengan cemas di dalam ruang kerja Roy. Ia takut jika fakta ini diketahui oleh orang lain sebelum Roy.


Karena tak tahan terus menunggu, akhirnya Maliq menuju ke ruang autopsi untuk bertemu Roy. Tanpa disangka Maliq berpapasan dengan Zara. Ia tak bisa menolak untuk tidak menyapa Zara.


"Maliq? Kenapa terburu-buru? Apa ada hal yang penting?" tanya Zara memperhatikan raut wajah Maliq.


"Umm, iya dokter. Saya ingin menemui dokter Roy."


"Bukankah jam segini adalah jadwal Roy untuk melakukan autopsi? Kenapa tidak menunggu di ruangannya saja?" usul Zara dengan senyum yang sulit diartikan.


"Ah, iya. Benar juga. Kalau begitu, saya akan tunggu di ruang kerja dokter Roy saja."


"Apa ada yang ingin kau sampaikan pada Roy? Amplop apa itu? Kau bisa menitipkannya padaku karena aku adalah tunangan Roy."


"Eh? Ah tidak perlu, dokter. Saya takut merepotkan. Kalau begitu saya permisi dulu!" Maliq segera undur diri dari depan Zara. Ia tak mau berlama-lama bicara dengan Zara.


"Ada yang aneh dengannya. Amplop apa yang dia bawa itu? Mencurigakan!" gumam Zara setelah sosok Maliq mulai menghilang dari pandangannya.


Sudah hampir satu jam Maliq menunggu. Ia bimbang apakah harus meninggalkan amplop itu di ruangan Roy atau tidak. Dibawa lagi rasanya sangat aneh. Akan mencurigakan jika ia terus membawa-bawa amplop itu.


Tiba-tiba ponsel Maliq bergetar. Sebuah panggilan dari asistennya. Ada keadaan gawat dengan pasiennya. Karena tak ingin menunda pekerjaan, Maliq meninggalkan ruangan Roy dan juga meninggalkan amplop coklat itu di atas meja kerja Roy. Maliq bergegas menuju pasien yang dinyatakan gawat itu.


Sepeninggal Maliq, Zara tersenyum seringai karena rencananya berhasil. Ia segera memasuki ruang kerja Roy dengan hati-hati. Zara menatap meja kerja Roy. Ada sebuah amplop coklat disana.


Rasa penasaran sudah menghantui dirinya. Ia segera membuka isi amplop itu. Hanya ada selembar kertas disana.


"Hasil tes DNA?" Zara mengernyit. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar isi surat tersebut. Setelah selesai, ia segera memasukkan kembali kertas itu kedalam amplop. Ia keluar dari ruangan Roy dengan tanpa diketahui oleh siapapun karena sekretaris Roy sedang tak ada ditempat.


Maliq merasa di bohongi karena ternyata tidak ada keadaan darurat dengan pasiennya. Ia mulai ingat jika ia meletakkan hasil tes DNA di meja kerja Roy. Dengan cepat, Maliq segera berlari kembali ke ruangan Roy.


Maliq bertanya pada Lorna apakah ada yang masuk ke ruangan Roy atau tidak. Lorna menjawab tidak ada. Maliq segera masuk ke ruangan Roy dan melihat amplop itu masih ada disana. Maliq bernafas lega.


"Huft! Ternyata masih aman." Gumam Maliq dengan memeriksa kembali isi didalam amplop. Maliq mengangguk saat membaca isi kertas yang masih sama.


"Maliq? Kau disini?" Roy tiba di ruangannya dan melihat wajah sumringah Maliq.


"Roy! Hasil tesnya!" Ucap Maliq dengan mengangkat amplop coklat itu dengan diiringi senyum.


Roy bergegas menghampiri Maliq dan mengambil amplop ditangannya. Ia segera membuka dan membaca isinya.


Mata Roy berbinar setelah membaca isi surat itu. Ia menatap tak percaya dengan apa yang dibacanya.


"Maliq..." mata Roy mulai mengembun mengetahui fakta yang telah terkuak.


"Iya, Roy. Boy memang anak biologismu."


Roy amat bahagia mengetahui jika akhirnya ia bisa menemukan anak kandungnya.


Sementara itu, Zara tercengang saat membaca hasil foto jepretannya tadi. Ia mengepalkan tangan dengan amarah yang memuncak.


"Brengsek!!!" Zara berteriak didalam ruang kerjanya.


"Kalian semua sudah menipuku selama ini!!! Aarrgghh!!!"


Zara mengacak rambutnya. "Dasar tua bangka! Tega sekali kau melakukan ini pada cucumu! Bagaimana bisa kau membuat Roy mengkhianatiku dengan mempunyai anak dengan wanita lain?!"


Kenzo yang bertugas sebagai asisten Zara, mendengar suara Zara berteriak. Ia segera menghampiri ruangan Zara namun hanya mendengarkan dari balik pintu.


"Brengsek kalian semua!!! Kenapa kalian melakukan ini padaku? Kenapa Roy?"


Kenzo membulatkan mata mendengar teriakan Zara. "Apa maksudnya? Apa jangan-jangan..."


Kenzo menggeleng pelan. Ia segera meninggalkan ruangan Zara dan menuju ke ruang yang lebih sepi. Ia menghubungi Patrick dan meminta tolong padanya untuk mencari tahu dari Boy.


Di tempat berbeda, Patrick segera menemui Boy setelah mendapat telepon dari Kenzo. Patrick sudah curiga jika kepergian Boy dan Roy kemarin adalah untuk melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan Belinda.


Patrick mendesak Boy agar mengatakan yang sebenarnya. Boy tertunduk karena merasa bersalah.


"Tenanglah, Boy. Paman tidak akan marah padamu jika kau berkata jujur." bujuk Patrick.


"Paman tidak akan mengatakannya pada ibumu. Paman janji!" Patrick kembali meyakinkan Boy.


"Baiklah. Aku akan jujur pada Paman. Sebenarnya ... aku dan dokter Roy memang melakukan tes DNA. Tapi aku tidak tahu bagaimana hasilnya. Karena kemarin kami harus segera menuju rumah sakit agar Mama tidak curiga."


Patrick menghela nafas. "Terima kasih karena kau sudah jujur, Nak." Patrick membawa Boy dalam dekapannya.


"Kau adalah keponakanku, Boy. Aku adalah pamanmu." batin Patrick. "Maaf Paman belum bisa mengungkapkan jati diri Paman yang sebenarnya. Paman takut ibumu akan marah jika tahu Paman adalah bagian dari keluarga Avicenna."


"Paman tidak marah padaku?" tanya Boy setelah Patrick melepaskan pelukannya.


"Tidak, Nak. Kau berhak tahu siapa ayah kandungmu."


"Bagaimana dengan Mama, Paman? Mama pasti marah kalau tahu aku melakukan tes DNA dengan dokter Roy."


"Tidak, Nak. Mamamu tidak akan marah. Paman akan membantumu bicara dengan Mamamu."


"Terima kasih, Paman." kini Boy yang memeluk Patrick.


Ada rasa haru dalam hati Patrick setelah mengetahui Boy adalah anak Roy.


......***......


Roy mendatangi Belinda di tempat kerjanya di butik Jimmy Choo. Sepanjang perjalanan Roy terus mengembangkan senyumnya. Ia sudah tak sabar mengungkap semuanya di depan Belinda.


Belinda yang melihat sosok Roy ada di butik Jimmy segera menghindar dan tak ingin menemuinya. Ia memilih membereskan barang-barangnya dan segera keluar dari butik.


Roy mencekal lengan Belinda dan membawa tubuhnya dalam dekapan Roy. Belinda terkejut dan segera melepaskan diri dari dekapan Roy. Namun ternyata Roy makin mendekapnya erat.


"Apa kau sudah tidak waras? Lepaskan aku!!!" Berontak Belinda.


"Sssttt!!! Diamlah. Atau aku harus membungkam bibirmu agar tak kebanyakan bicara?"


"Hah?!" Belinda tercengang kemudian terdiam.


Sejenak ada ketenangan dalam hati Belinda ketika Roy memeluknya. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Dengarkan aku! Bisakah kita memulai semuanya dari awal?"


"Eh?"


Roy melepaskan pelukannya. "Aku, kau dan Boy. Kita akan memulai semuanya dari awal."


"Apa maksudmu?"


"Jangan berbohong lagi, Belinda. Boy adalah anak kandungku. Kami sudah melakukan tes DNA."


"Apa?!"


"Ini bacalah!" Roy menunjukkan kertas yang berisi hasil laboratorium.


"Berani sekali kau melakukan ini!!!" Geram Belinda.


"Aku minta maaf. Aku tidak memiliki pilihan lain. Kau bahkan tidak pernah memberiku kesempatan untuk membuktikan semua teka teki ini."


Belinda terdiam.


"Kau sendiri tidak tahu bukan siapa ayah kandung Boy. Maka sekarang kau bisa mengetahuinya. Aku adalah pria yang memberikan benihnya padamu, Belinda. Atau lebih tepatnya aku akan memanggilmu, Putri Berlian."


Belinda tertegun mendengar semua penuturan Roy. Kenangan buruk dan ketakutan akan kehilangan orang yang ia sayangi karena ulah keluarga Avicenna kembali menyeruak. Bagaimana bisa ia percaya pada Roy sementara Roy adalah bagian dari keluarga itu?


......***......


#bersambung...


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘😘


yuk mampir juga ke πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡