Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 56. Kacau Galau (2)


Lian kembali ke rumah utama keluarga Avicenna sekitar pukul delapan malam. Ia berterima kasih pada Julian karena sudah mengajaknya dan Boy bermain di taman hiburan.


Tiba di dalam rumah, Lian disambut oleh Helena yang sudah menyilangkan kedua tangannya.


"Bagus sekali! Jam segini kau baru pulang? Istri macam apa kau?" suara menggelegar Helena membuat para asisten rumah tangga berkumpul termasuk pengasuh Boy, Alya.


Lian meminta Alya untuk membawa Boy ke kamarnya. Boy pun menurut. Meski dalam hati ia ingin membela ibunya, namun apalah daya, dia pasti dianggap masih anak-anak.


"Maaf, Mom. Aku pulang terlambat. Dan juga ... tolong jangan bicara kasar di depan Boy. Dia masih kecil, tidak baik jika dia mendengar kata-kata yang buruk dari para orang tua yang tinggal di sekelilingnya," ucap Lian panjang lebar.


"Lancang sekali kau mengajariku! Harusnya kau tahu diri siapa dirimu. Dasar wanita sialan!"


PLAAKKK!!!


Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Lian. Lian memegangi wajahnya yang terasa panas akibat tamparan ibu mertuanya.


"Itu pantas kau dapatkan karena kau sudah membuat anakku seperti pria tidak waras!"


"Apa maksud Mommy?" Lian masih memberanikan diri bertanya. Ia tak mau disalahkan atas apa yang tidak diperbuatnya.


"Kau lihat suamimu! Dia pulang dalam keadaan mabuk! Aku yakin itu pasti karena dirimu!" Helena mengacungkan jari telunjuknya kearah Lian.


"Mas Roy mabuk?" Lian masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Helena.


"Tidak perlu berpura-pura sok suci. Aku tahu kau memang berniat ingin menghancurkan anakku. Kau sudah membuatnya putus dengan Zara, dan sekarang kau membuatnya frustasi karena tingkahmu diluaran sana yang seperti wanita penghibur."


Sakit! Hati Lian sakit mendengar semua hinaan dari ibu mertuanya.


"Ada apa ini ribut-ribut? Aku sampai tidak bisa istirahat karena mendengar keributan ini!" Donald keluar dari kamarnya dan menghampiri Lian dan Helena.


"Lian? Ada apa, Nak?" tanya Donald lembut.


"Ayah! Tidak perlu bersikap baik pada wanita itu! Dia yang sudah membuat Roy jadi begini. Roy pulang dalam keadaan mabuk dan tak sadarkan diri. Apa ayah akan terus membelanya? Dia sudah merusak Roy kita, Ayah!"


"Cukup Helena! Lian, masuk ke kamarmu dan urus suamimu itu." titah Donald.


"Baik, Kakek." Lian menunduk hormat lalu pergi meninggalkan Helena dan Donald, juga Dandy yang diam-diam menyaksikan kejadian itu.


Lian masuk ke dalam kamar dan melihat Roy yang sudah terbaring tengkurap diatas tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur dan memandangi suaminya yang terlelap.


"Apa yang terjadi denganmu, Mas? Kenapa kamu seperti ini?" Lian tak bisa lagi menahan air matanya. Sungguh ia sakit mendapat perlakuan buruk dari Helena, namun lebih sakit saat melihat Roy mabuk hingga tak sadarkan diri.


Aroma khas minuman jahanam itu menguar masuk ke indera penciuman Lian. Roy yang masih memakai jas nya lengkap dengan sepatu, segera Lian tanggalkan satu persatu.


Lian mengganti baju suaminya dengan air mata yang tak mau berhenti.


"Lian... Berlian..." sayup-sayup Lian mendengar suara Roy yang menggumam.


"Mas..." Lian mengusap lembut wajah suaminya. Wajah yang membuatnya terpesona saat pertama kali bertemu.


"Lian ... aku mencintaimu..."


Lian menutup mulutnya tak percaya. Bahkan saat tak sadar pun Roy mengakui perasaannya.


"Jika kau mencintaiku harusnya kau berjuang, Mas. Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti ini lagi." Lian menyelimuti tubuh suaminya kemudian ia beralih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara itu di lantai bawah, Helena masih mematung tak percaya jika ayah mertuanya lebih membela Lian.


"Pergilah ke kamarmu, Helena. Ini sudah malam. Kita bahas soal Roy besok saja. Dan jangan pernah membentak Lian seperti tadi lagi. Atau kau akan tahu akibatnya." Donald menunjukkan kekuasaannya atas Keluarga Avicenna.


Di apartemennya, Julian memandangi hasil rekaman CCTV yang telah ia retas. Ia melihat betapa marahnya Helena pada Lian hingga menamparnya.


Miris. Julian merasa kasihan pada Lian yang harus masuk ke dalam keluarga jahat itu. Julian mengepalkan tangannya. Ia menggertakkan giginya karena amarahnya sudah dipuncak.


"Helena!!! Kau sudah menyakiti aku dan Roy. Lalu kini kau menyakiti Berlian. Aku tidak akan tinggal diam lagi. Aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan pada kami."


Julian meraih ponselnya. Ia menghubungi seseorang.


"............."


"Baiklah. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Suruh Noel bekerja lebih keras! Minggu depan kita harus sudah menjalankan rencana kita."


Julian mematikan sambungan telepon dan tersenyum menyeringai.


Di tempat berbeda, Ben mengusap wajahnya kasar setelah tadi ia membawa Roy pulang dalam kondisi tak sadarkan diri karena mabuk. Ia malah mengkhawatirkan keadaan Lian saat ini.


"Aku yakin Nyonya Helena pasti menyalahkan Nona Lian atas apa yang terjadi pada Tuan Roy. Andai saja aku tadi bisa mencegah Tuan Roy untuk tidak pergi ke klub. Andai saja aku lebih berani melerai Tuan Roy. Pasti Nona Lian tidak akan disalahkan."


Ben amat frustasi mengingat wajah teduh Lian yang mengingatkannya pada seseorang. "Tuan Roy harus bisa menjaga Nona Lian. Jika tidak ... dia pasti akan bernasib sama seperti gadis itu..." Ben menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya.


"Maliq, aku pulang. Ben, ayo kita pulang!" ucap Roy sambil memakai kembali jasnya.


"Baiklah. Langsung pulang dan istirahat. Lalu bicarakan baik-baik dengan Lian!" nasihat Maliq yang entah didengar atau tidak oleh Roy karena ia langsung melengos pergi. Maliq lagi-lagi menggeleng pelan.


Dalam perjalanan menuju ke rumah utama keluarga Avicenna, Roy dan Ben nampak saling diam. Ben juga masih tak enak hati setelah Roy melihat foto kebersamaan Lian dengan Julian.


"Ben..."


"Iya, Tuan."


Akhirnya Roy bicara juga. Pikir Ben.


"Apa menurutmu ... Berlian akan lebih bahagia jika bersama dengan Julian?"


"Eh? Kenapa Tuan bicara seperti itu? Nona Lian adalah istri Tuan."


"Tapi aku ... tak bisa memberikan kebahagiaan seperti Julian."


"Jika Tuan lebih berusaha, saya yakin Tuan pasti berhasil."


"Entahlah. Padahal aku sudah berjanji akan memberikan kebahagiaan di sisa waktuku ini. Tapi nyatanya ... aku tak seberani itu untuk melakukannya."


"Kalian saling mencintai, jadi Tuan jangan meragukan cinta Nona Lian."


"Cih, tahu apa kau soal cinta? Pacar saja kau tidak punya." sarkas Roy.


Ben hanya diam. "Dulu sekali aku pernah jatuh cinta, Tuan. Namun gadis itu malah menaruh hati padamu yang dianggapnya sebagai penolong." gumam Ben dalam hatinya.


"Ben, kita ke Miracle Club."


"Eh? Tapi ... ini sudah pukul 7 malam, bukankah biasanya Tuan sudah ditunggu oleh keluarga Tuan untuk makan malam?"


"Jangan membantah dan turuti perintahku!"


Ben tidak menjawab lagi namun langsung membelokkan mobil ke parkiran klub malam elit itu.


Didalam klub, Ben melerai Roy agar tak banyak minum. Kondisi Roy tak memungkinkan untuk mengonsumsi minuman beralkohol.


"Tuan, hentikan! Tuan sudah meminum banyak alkohol!" Ben berusaha merebut gelas sloki yang ada di tangan Roy. Namun tubuh besar Ben malah tersungkur ke lantai karena dorongan dari tenaga Roy.


"Ya Tuhan! Bagaimana lagi aku harus menghadapimu, Tuan? Kau memang belum berubah. Kupikir setelah kau menikahi Nona Lian, wanita yang kau cari selama ini, kau akan berubah. Tapi nyatanya, kau hanya menabur garam pada luka Nona Lian." batin Ben.


Ben bangkit dan melihat Roy sudah tak sadarkan diri. Dengan meminta bantuan dari salah seorang petugas klub, Ben membawa tubuh Roy masuk kedalam mobil.


Ben menatap tubuh Roy nanar.


"Kuharap Nona Lian tahan denganmu, Tuan. Aku sangat berharap dialah cahaya yang kau butuhkan dalam hidupmu." Ben masuk ke kursi kemudi lalu melajukan mobil menuju kediaman Avicenna.


......***......


#bersambung...


...🍁**Happy Weekend**🍁...