Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 82. Rindu Ibu


Pagi ini Roy telah siap dengan setelan jasnya untuk berangkat ke rumah sakit ketika ponselnya berdering. Tak biasanya sepagi ini ada yang menghubunginya.


"Nomor tak dikenal?" Roy mengernyitkan keningnya.


"Halo," ucap Roy.


"Selamat pagi. Dengan Tuan Roy Avicenna?"


"Iya, benar. Saya sendiri."


"Kami dari rumah tahanan Melati ingin memberitahukan atas nama Nyonya Helena Gunawan meminta pihak keluarga untuk datang berkunjung."


"Benarkah? Jadi Mommy sudah bersedia mendapat kunjungan?"


"Iya, Tuan."


"Baiklah. Saya akan kesana sekarang."


Panggilan berakhir. Roy tersenyum bahagia. Ia segera menghubungi Ben.


"Halo, Ben. Hari ini tolong tunda dulu pertemuan pagi bersama klien. Aku ada urusan sebentar."


"Baik, Tuan."


Roy segera menyambar kunci mobil dan berjalan cepat keluar rumah.


Roy melajukan mobilnya dengan senyum yang terus mengembang.


Tiba di rumah tahanan bertuliskan 'Melati', Roy segera berlari dan berbincang dengan petugas disana.


Begitu Roy masuk Helena sudah berdiri menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya.


"Mommy!" Roy berlari bak seorang anak kecil berlari menuju ibunya.


Roy memeluk Helena. "Mommy..."


"Putraku..." Helena merangkum wajah Roy yang sudah lima tahun tak dilihatnya.


Mereka berdua duduk berbincang di bangku yang sudah disediakan.


"Akhirnya Mommy bersedia menerima kunjunganku," ucap Roy dengan berkaca-kaca.


"Maafkan Mommy, Nak. Mommy terlalu takut bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik, Mom. Mommy juga kelihatan baik-baik saja."


"Iya, Nak. Mereka memperlakukan Mommy dengan baik."


"Syukurlah. Aku sangat merindukan Mommy..."


Helena tersenyum. "Katakan yang sebenarnya pada Mommy, ada apa denganmu dan Lian?"


Wajah Roy berubah suram. "Mommy sudah mendengarnya?"


"Teman satu sel Mommy yang mengatakannya. Dia mendengar dari anaknya yang berkunjung. Ada apa sebenarnya, Roy? Kau tidak benar-benar berpisah dengan Lian, bukan?"


Roy pun tidak bisa membohongi Helena. Ia menceritakan semua pada ibunya.


"Tidak, Nak. Bukan keluarga kita yang melakukannya. Mommy tidak mengusir orang-orang desa itu. Mommy akui memang Mommy pernah mencari keberadaan Lian, tapi Mommy tidak bisa menemukannya. Seolah-olah Lian dilindungi oleh kekuatan yang yang cukup berkuasa."


"Sudah kuduga. Lian juga merasa jika keluarga kita tidak akan melakukan hal semacam itu."


Helena mengingat-ingat sesuatu.


"Coba kau cari pria bernama Wahyudi. Mommy rasa dia tahu sesuatu. Dia adalah teman ayah Lian. Kalau Mommy tidak salah ingat. Saat Mommy hampir menemukan jejak Lian, pria itu juga tiba-tiba menghilang. Sepertinya dia tahu sesuatu soal menghilangnya penduduk desa."


Roy mengangguk paham.


"Lalu ... soal Zara?"


Roy menatap Helena.


"Mommy sudah mendengarnya?"


"Iya, Nak. Mommy punya satu permintaan."


"Apa itu?"


"Tolong cari kebenaran tentang Zara. Mommy tahu jika dia sudah banyak menoreh luka untuk keluarga kita. Tapi Roy ... dia adalah teman kecilmu. Sahabatmu. Rasanya tidak adil jika dia harus mengalami hal ini."


Roy mengangguk.


"Bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian dari keluarga kita."


"Iya, Mom. Aku sendiri juga yakin jika Zara sebenarnya belum meninggal."


"Terima kasih, Nak. Oh ya, apa Mommy bisa menemui Lian?"


"Tentu, Mom. Dia masih istriku! Dan akan selalu begitu."


Helena tersenyum.


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis," ucap petugas rutan.


Roy memandangi sosok Helena yang kian menjauh dari pandangannya. Matanya mengembun merasakan kerinduan akan sosok seorang ibu.


......***......


Lian mengetik beberapa pesan di ponselnya untuk Kenzo. Ia juga mengirimkan sebuah surat keterangan hasil laboratorium yang berhasil ia ambil gambarnya dari ruangan Noel.


Lian memandangi ponselnya.


"Kanker otak stadium akhir," gumam Lian.


Pikirannya melayang entah kemana.


"Siapa sebenarnya pemilik hasil lab ini?"


Lian merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. "Semoga Kenzo cepat menemukan bukti dari semua kerumitan ini."


Lian memejamkan mata kemudian menuju alam mimpi.


Esok paginya, Lian sedang mematut diri di depan meja riasnya. Ponselnya berdering dari nomor tidak dikenal.


Lian berbinar mendengar kata-kata si penelepon. Ia segera keluar kamar dan melihat kedua orang tuanya sedang keluar rumah.


"Kenapa mereka pergi pagi-pagi sekali?" monolog Lian lalu melihat secarik kertas diatas meja makan.


Rupanya kedua orang tua Lian sedang pergi ke pasar untuk menjual hasil eksperimen ayahnya disana.


Lian memanfaatkan sedikit waktunya untuk memasak beberapa makanan.


*


*


Lian tiba di sebuah bangunan yang bertuliskan 'Rumah Tahanan Melati'. Lian masuk dan mengisi daftar pengunjung.


Lian mengedarkan pandangannya mencari sosok Helena.


Helena baru saja di bawa keluar oleh petugas rutan. Lian berdiri menyambut kedatangan Helena.


"Mommy!!" Lian langsung memeluk Helena.


Tangis Helena pun pecah dalam pelukan Lian.


"Maafkan Mommy, Nak!"


"Sudahlah, Mom. Semua sudah berlalu." Lian melepaskan pelukannya.


Mereka berdua duduk berhadapan.


"Ini ... kau yang memasaknya?" tanya Helena.


"Iya. Mommy makan ya?" Lian membuka kotak makan yang ia bawa dan menyuapi Helena.


Helena amat terharu dengan perlakuan lembut Lian.


"Terima kasih, Nak."


"Aku senang karena Mommy sudah bersedia mendapat kunjungan. Apa Mommy tahu, Mas Roy sangat sedih saat Mommy tidak bersedia menemuinya."


Helena terdiam. "Aku pantas menerimanya, Nak..."


"Mom..." Lian meraih kedua tangan Helena.


"Seorang ibu tetaplah seorang ibu. Dan seorang anak, tetap akan menjadi anak. Kami adalah anak-anak Mommy."


"Kau adalah wanita yang baik. Mommy turut berduka atas apa yang menimpa putra ke dua kalian."


"Tidak apa, Mom. Mungkin memang sudah menjadi suratan takdir. Jika dia masih hidup, dia pasti sedih karena harus melihat perpisahan kedua orang tuanya."


"Bagaimana dengan Boy dan Ayah Donald?"


"Mommy tenang saja. Mereka dalam keadaan baik dan tinggal di luar negeri. Mereka bersama Kenzo dan juga Riana."


"Senang rasanya melihat kalian semua baik-baik saja." Helena tersenyum bahagia.


"Maaf, waktu kunjungan sudah habis."


Helena berpamitan pada Lian. Usai tak melihat lagi punggung Helena, Lian pun pergi dari kawasan rutan.


*


*


*


Julian sedang rapat bersama Noel dan timnya. Ia selalu mendapat kepuasaan tersendiri dengan hasil kerja Noel.


Setelah dua jam berdiskusi, Julian sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.


"Noel!" panggil Julian ketika Noel hendak kembali ke ruang kerjanya.


"Iya, Tuan."


"Kudengar adikmu sudah kembali. Apa kau tidak ingin mengenalkannya padaku?"


"Eh?"


"Undanglah dia makan siang bersama kita. Aku juga ingin mengenal adikmu, Esther."


"Baik, Tuan. Saya akan meneleponnya dan memintanya makan siang bersama."


Julian manggut-manggut tanda mengerti.


*


*


Tiba di waktu jam makan siang, Noel menjemput Esther di apartemennya. Sebelumnya ia sudah menghubungi Esther dan memberitahu jika Julian ingin bertemu dengannya.


Julian memesan tempat di sebuah restoran Jepang. Ia melambaikan tangan ketika tamu yang ia tunggu telah datang.


Julian berdiri untuk menyambut kedatangan dua kakak beradik.


"Selamat siang, Nona Esther. Saya Julian," ucap Julian sambil mengulurkan tangannya.


Esther menerima uluran tangan Julian.


"Esther Alexandra." Esther memperkenalkan diri.


"Silakan duduk, Nona!" tambah Julian yang juga ikut duduk.


Julian mengambil segelas air putih dan meneguknya. Ia menatap Esther yang sedang berbincang dengan Noel.


"Dasar ja'lang! Berani sekali kau ingin menipuku! Kita lihat saja, apa kau masih akan terus menyamar atau kau akan menyerah?!" Batin Julian dengan seringai mengerikan di wajahnya.


...B E R S A M B U N G...


"Genks, kisah ini masih panjang ya alurnya. Semoga kalian tetap suka ya.


Anggap saja kalian lagi nonton drama korea, hehe, karena memang kisah2 yg aku bikin banyak adegan percakapannya. So, anggap saja sedang menonton sinetron, wkwkwkwk"


Selamat malam, sampai jumpa besok pagi πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹