Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 24. Kemarahan Boy


Boy mengurung diri di kamarnya usai mendengar pembicaraan Belinda dan Patrick yang ternyata mengenai pembatalan misi dirinya sebagai agen FBI muda. Boy merasa ibunya sudah keterlaluan dengan menghubungi Conrad Webster tanpa sepengetahuannya.


Boy keluar dari kamar saat sarapan pagi. Keempat orang dewasa yang ada disana hanya memandang Boy tanpa ada yang berani mengeluarkan suara. Aura dingin yang di tampakkan Boy membuat Belinda hanya terdiam.


"Aku akan pergi ke sekolah sendiri. Kalian tidak perlu mengantarku."


"Eh?" Belinda tertegun. "Nak..."


"Jangan khawatir, Mama. Aku baik-baik saja."


Usai menyantap sarapannya, Boy beranjak dari meja makan dan pergi keluar apartemen. Belinda dan Patrick segera menyusul langkah cepat Boy. Kenzo dan Riana mengikuti di belakang.


Di luar pintu seseorang telah menunggu Boy.


"Halo, Boy. Kau sudah siap berangkat?" tanya seorang pria yang tak asing pada Boy.


"Sudah, Paman. Ayo berangkat!"


Belinda dan Patrick hanya terdiam melihat interaksi dua manusia beda generasi itu.


"Tunggu!!!" Belinda menghentikan langkah Boy. Ia memposisikan diri membungkuk agar bisa menyamai tinggi badan Boy.


"Nak, Mama tahu kau marah pada Mama. Tapi jangan lakukan ini, Nak." Belinda memohon.


"Kenapa Nona? Putramu ingin pergi denganku karena dia bilang tak satupun orang dewasa yang tinggal dengannya bisa memahami dirinya." balas seorang pria yang tak lain adalah Roy.


"Apa?! Putraku tidak akan berkata seperti itu Dokter Roy! Jangan mengarang cerita!"


"Tanyakan saja pada Boy."


"Maaf, Mama. Tapi hari ini aku akan berangkat ke sekolah bersama Paman Roy. Ayo, Paman." Boy meraih tangan Roy dan menggenggamnya.


Belinda hanya mematung melihat kepergian Boy dan Roy. Patrick menghampiri Belinda dan menenangkannya.


"Jangan memaksanya, Bels. Bagaimanapun juga Boy adalah seorang anak-anak. Dia tetap memiliki sifat pemarah dan merajuk jika hal yang disukainya dilarang oleh orang tuanya."


Belinda mengangguk. Ia kembali ke kamar untuk menenangkan dirinya.


Sementara itu, Boy tiba di sekolahnya bersama Roy. Boy pamit untuk turun dari mobil dan mengucapkan terima kasih.


"Apa Paman boleh masuk ke sekolahmu?"


"Tentu saja. Akan kuperkenalkan dengan guru-guruku tercinta." Boy sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah.


Boy dan Roy berjalan bergandengan tangan menuju ruang kelas Boy. Di depan ruangan, seorang guru menyapa Boy.


"Halo, Boy. Wah, hari ini kau diantar oleh Papamu?"


"Eh?" Boy dan Roy saling pandang.


"Iya, saya adalah Papanya Boy." Roy mengulurkan tangannya.


"Ah, salam kenal Pak. Maaf selama ini Boy tidak pernah bercerita tentang sosok ayahnya."


"Tidak apa. Kalau begitu saya permisi dulu. Tolong tiitp Boy, Bu."


"Baik, Pak."


Roy mencium puncak kepala Boy sebelum ia pergi. Roy kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukannya menuju Avicenna Group. Roy memikirkan tentang Boy selama perjalanan. Ia sangat yakin jika Boy adalah putranya bersama Putri Berlian.


Roy tiba di Avicenna Group dan disambut oleh Ben yang sudah siap memberinya banyak jadwal meeting.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Ben.


"Selamat pagi, Ben. Maaf aku sedikit terlambat. Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu."


"Tidak apa, Tuan. Masih ada waktu beberapa menit lagi."


"Terima kasih atas kerja kerasmu, Ben."


Ben hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Oh ya, Ben. Bagaimana soal pencarian gadis bernama Putri Berlian?"


"Beri kami sedikit waktu lagi, Tuan."


"Hmm, baiklah Ben. Kau boleh pergi!" Lalu Ben pun undur diri dari ruang kerja Roy.


......***......


Belinda terus merasa cemas dengan kemarahan Boy padanya. Sudah beberapa hari ini Boy sering pergi bersama Roy tanpa bisa ia cegah.


"Ya Tuhan! Apa memang aku harus mengakui semuanya?" Belinda menggeleng.


"Sudah begini aku tidak akan menyerah. Aku akan memberitahu Boy apa yang sebenarnya terjadi 7 tahun lalu. Mungkin dengan begitu ia akan mengerti kenapa aku mengambil langkah ini."


"Nak, tolong hentikan kemarahanmu ini. Mama tidak bisa melihatmu membenci Mama terus menerus." Belinda bicara dengan nada memelas.


Boy menatap Belinda. "Aku tidak marah pada Mama. Mungkin awalnya iya. Tapi sekarang sudah tidak."


"Eh?"


"Maaf jika aku membuat Mama bersedih. Tapi Mama harus tahu jika kedekatanku dengan dokter Roy adalah karena aku ingin tahu lebih banyak tentangnya."


"Eh? Apa maksudmu?"


"Paman Patrick sudah menceritakan semuanya padaku. Ditambah lagi ada kemungkinan campur tangan keluarga Avicenna dalam menghilangnya kedua orang tua Mama. Aku mendekati dokter Roy hanya karena itu. Jika memang benar dia tidak bersalah dalam kasus menghilangnya penduduk desa, maka aku akan melepaskannya."


"Boy..." Mata Belinda berkaca-kaca.


"Maaf aku sudah membuatmu bersedih, Ma. Aku juga sudah menghubungi Paman Conrad. Mungkin aku tidak terlibat secara langsung dalam misi ini. Tapi aku akan tetap membantu untuk menemukan titik terang masalah ini. Mama jangan khawatir."


Belinda memeluk putra semata wayangnya itu. "Terima kasih, Nak. Berjanjilah kau akan baik-baik saja!"


"Tentu saja, Ma. Aku memiliki rekan kerja yang hebat."


.


.


.


Lagi dan lagi, Boy harus menjalani pekerjaan sebagai dokter forensik bersama Roy. Pasangan ini menjadi fenomenal baru-baru ini. Tak mau kalah, Zara juga ikut mendampingi Boy. Wanita itu sudah semakin penasaran dengan hubungan Boy dan Roy. Meskipun dalam hati ia sudah yakin jika Boy adalah anak hasil dari eksperimen kakeknya 7 tahun lalu.


Namun kini Zara lebih fokus untuk mencari tahu siapa ibu kandung Boy. Zara tidak akan membiarkan wanita itu masuk kedalam kehidupan Roy dan merebut Roy dari sisinya.


Segala cara sudah ia lakukan agar menemukan identitas gadis itu, tapi rasanya semua sia-sia. Zara curiga jika ada orang yang sengaja menutupi kenyataan ini. Orang-orang itu melindungi Boy dan ibunya.


"Tapi siapa orang yang sudah melindungi wanita itu?" Zara masih belum bisa menemukan jawabannya.


Di sisi lain, kedekatan Boy dan Roy mau tak mau membuat Belinda juga makin dekat dengan Roy. Seperti saat ini dimana Roy mengantar Boy pulang usai melakukan autopsi bersama.


"Terima kasih sudah mengantar Boy pulang." ucap Belinda datar.


"Terima kasih kembali, Nona. Lagipula kita ini satu apartemen. Bukankah seperti sudah ditakdirkan jika kita harus terus bertemu?"


"Eh?" Belinda tertegun.


Boy tidak mengerti dengan arah pembicaraan dua orang dewasa ini.


"Ma, Boy masuk ke kamar dulu."


"Iya, Nak."


"Apa kau tidak ingin mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu?"


Belinda berdecih. "Maaf, Tuan. Kita tidak sedekat itu untuk saling bertamu."


"Tapi kita adalah tetangga. Bukankah wajar jika tetangga saling mengunjungi?"


Belinda amat kesal dengan tingkah Roy. "Jika kau terus memaksa maka aku tidak akan mengijinkan anakku bekerja denganmu."


"Astaga, Nona!" Roy memijat pelipisnya pelan.


"Bels, ada apa ini?" Patrick datang melerai perdebatan Belinda dan Roy yang terjadi di depan pintu.


"Halo, Tuan Patrick." Sapa Roy dengan nada yang tak biasa.


"Apa dia mengganggumu, Bels?" Tanya Patrick dengan menunjuk Roy. Ia pun seakan tidak suka dengan kehadiran Patrick dan juga kedekatannya dengan Boy dan Belinda.


"Apa kau adalah pengawalnya?" tanya Roy yang membuat Patrick mengepalkan tangan.


"Boy dan Belinda adalah tanggung jawabku!" tegas Patrick.


"Oh ya? Okay, fine. Teruslah berpura-pura seperti ini hingga aku menemukan semua bukti-buktinya. Dan kau, Nona! Kau tidak akan bisa lari lagi dari kenyataan." Roy melangkah pergi setelah mengatakan kata-kata terakhir untuk Belinda.


Sedangkan Belinda menelan salivanya dan mengerjapkan mata atas apa yang dikatakan Roy padanya. Mungkinkah semua kebohongannya akan segera terbongkar?


......***......


#bersambung...


*I'm so sorry, karena telat UP. Hari ini anak2 sakit dan rasanya ikut gak karuan.


semoga masih setia menanti kisah Boy ini ya 🙏🙏


jangan lupa beri selalu dukungan utk karya receh yg satu ini agar menyemangatiku utk terus UP.


...Terima kasih ...