Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 35. Berdamai dengan Masa Lalu


Patrick mempersilahkan Donald untuk duduk di meja makan. Malam ini ia akan memasak makan malam sederhana untuknya dan juga Donald.


Donald memperhatikan cucu sulungnya yang sedang memasak bahan makanan. Sudah sejak lama ia merindukan masa-masa dimana ia bisa berkumpul dengan cucu-cucunya.


"Silahkan, Kek. Aku tidak begitu pandai memasak. Hanya bisa memasak pasta saja." Patrick meletakkan satu piring pasta untuk Donald dan satu lagi untuknya.


"Berada jauh dari rumah membuatmu jadi mandiri dan pandai memasak, Nak." ucap Donald.


"Begitulah, Kek."


Dua pria beda generasi ini menyantap makan malam mereka dalam diam. Sesekali Donald melirik kearah Patrick yang sedari tadi hanya diam.


"Julian, apa pekerjaanmu sekarang, Nak?"


Patrick terdiam. "Apa Roy yang memberitahu tentang tempat tinggalku?"


"Benar. Adikmu yang memberitahu kakek. Dulu kalian sangat kompak dan selalu bersama. Kakek harap, kau akan selalu akur dengan adikmu."


"Aku bermain saham, Kek. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup." ucap Patrick mengalihkan pembicaraan.


Donald mengangguk paham. "Kurasa kau lebih bahagia tinggal disini."


Usai berbincang ringan, Donald pamit undur diri bertepatan dengan kedatangan Kenzo ke apartemen.


"Tuan Donald?" sapa Kenzo.


"Kenzo? Jadi kau tinggal bersama dengan Julian?" tanya Donald yang di jawab anggukan oleh Kenzo.


Kenzo memberi hormat ketika Donald mulai melangkah pergi. Ia kemudian menghampiri Patrick yang sedang membereskan piring kotor bekas makannya.


"Pat, jadi kau sudah berdamai dengan keluargamu?" tanya Kenzo.


"Entahlah. Aku belum berpikir hingga sejauh itu."


"Ada baiknya kau berdamai dengan masa lalumu. Tidak ada gunanya jika kau terus bersembunyi."


Patrick tidak menjawab dan hanya menerawang jauh.


"Sungguh aku ingin bisa berdamai dengan semuanya. Semua kesakitan yang pernah kualami ingin kulupakan." batin Patrick.


Sementara itu, Belinda mencoba untuk terpejam setelah merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur. Ingatan tentang kejadian beberapa jam lalu masih terngiang dalam benaknya. Dan sepertinya itulah yang membuatnya tak bisa memejamkan mata.


Belinda tersentak kala Roy menyodorkan sebuah kotak cincin kehadapannya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi kurasa kita bisa memulai dari awal, Bels. Aku, kau dan Boy. Aku ingin mengenalmu lebih dekat." ungkap Roy.


"Tapi ... kenapa harus dengan cincin?"


"Itu hanya hadiah untukmu. Kumohon terimalah!" pinta Roy.


"Tapi..."


"Kumohon berilah aku kesempatan, Bels."


Belinda menghela nafasnya. "Kau tidak tahu apa yang sudah kualami selama beberapa tahun ini. Kesakitan dan penderitaan atas apa yang tak pernah aku harapkan."


"Aku tahu. Aku juga menderita, Bels. Dan asal kau tahu, aku seakan sudah mendapat hukumannya untuk apa yang sudah kulakukan padamu."


Belinda terdiam.


"Kumohon, cobalah! Kita akan sama-sama belajar untuk melupakan masa lalu dan memulai awal yang baru."


Belinda menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia belum memberikan jawaban apapun atas apa yang Roy katakan usai makan malam tadi. Ia memandangi kotak cincin yang ia letakkan diatas nakas.


"Apa yang harus kulakukan jika besok bertemu dengannya?" Belinda bermonolog dan kemudian mencoba memejamkan matanya.


......***......


Bunyi bel apartemen menginterupsi Roy yang baru saja selesai mandi. Ia mendengus kesal karena hari masih pagi dan sudah ada orang yang bertamu ke tempatnya.


"Siapa yang datang di jam segini?" Roy memakai kemeja dan celana kainnya lebih dulu sebelum membuka pintu.


Roy mengernyit begitu tahu siapa yang bertamu ke rumahnya.


"Morning, honey..." sapa seorang wanita yang tak lain adalah Zara.


"Zara? Apa yang kau lakukan sepagi ini disini?"


"Tentu saja aku ingin bertemu denganmu, Roy."


Tanpa dipersilahkan Zara langsung masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Aku ingin sarapan bersamamu, Roy." ucap Zara manja.


"Eh?"


"Bersiaplah dulu. Aku akan menunggumu disini."


Tanpa menjawab Roy kembali ke kamar dan bersiap merapikan diri. Usai memakai pakaian formalnya, Roy keluar kamar dan menemui Zara yang tersenyum manis padanya.


Zara menghampiri Roy. "Aku datang kesini karena ingin meminta maaf atas sikapku padamu. Aku benar-benar diluar kendali saat itu."


Roy memalingkan wajah.


"Aku tahu kau pasti kecewa denganku. Tapi aku akan memperbaiki semuanya. Kita sudah lama bersama, Roy. Dan pastinya banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Bisakah kita memperbaikinya?" Zara memohon dengan mata mengembun.


"Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Jadi..."


"Sudahlah. Kita harus segera pergi. Bukankah kau bilang kau ingin sarapan bersamaku?" Roy melepas tangan Zara yang melingkar di lehernya.


"Iya, Roy. Ayo kita pergi!" Zara berganti melingkarkan tangannya dilengan kiri Roy.


Mereka berjalan berdua dengan Zara yang terus mengembangkan senyumnya. Tiba di depan lift, mereka segera masuk dan menekan tombol basement.


Ketika tiba di lantai 17, lift terhenti. Pintu lift terbuka menampakkan sosok wanita cantik yang berdiri di depan pintu lift. Wanita itu bergeming karena melihat Roy dan Zara ada didalam.


Tatapan Roy dan wanita yang tak lain adalah Belinda sempat beradu. Ada banyak tanya yang tersirat dari tatapan Belinda.


"Nona, kenapa diam saja? Apa kau tidak ingin masuk?" tanya Zara pada Belinda.


"Eh? Umm, saya naik lift berikutnya saja. Sepertinya ada barang yang tertinggal." Belinda kembali menekan tombol close.


Perlahan pintu lift mulai tertutup dengan tatapan Roy dan Belinda yang masih beradu. Setelah pintu lift tertutup dan lift kembali bergerak, Belinda menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Entah kenapa dadanya sesak melihat Roy dan Zara bersama. Belinda menggelengkan kepalanya. Ia ingin menepis segala rasa yang tiba-tiba berkecamuk dalam hatinya.


"Bukankah semalam dia baru saja berucap ingin memulai lembaran baru bersamaku. Kenapa sekarang...?"


"Bels..." sebuah suara membawa Belinda kembali ke alam nyata.


"Patrick?"


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Eh? Aku..." Belinda bingung harus menjawab apa.


"Kau ingin berangkat ke butik, 'kan?"


"Ah, i-iya."


"Kalau begitu mari kuantar."


Belinda mengangguk kemudian masuk kedalam lift bersama Patrick.


......***......


Hari ini Belinda tak bisa fokus bekerja. Bayangan kebersamaan Roy dan Zara kembali menari-nari dalam benaknya. Belinda mengusap wajahnya.


"Tidak! Aku tidak boleh memikirkan tentangnya. Bagaimanapun dia tidak akan bisa menjadi milikku." Belinda menggeleng cepat.


.


.


.


Malam itu, Belinda menunggu Roy kembali ke apartemen. Belinda berjalan mondar mandir tak tenang di depan kamar apartemen Roy.


"Kenapa dia belum pulang juga? Apa aku tinggalkan saja di depan pintu?" gumam Belinda.


Setelah berpikir sejenak, Belinda memutuskan untuk mengembalikan kotak cincin pemberian Roy.


"Tapi rasanya tidak sopan jika aku hanya meninggalkannya di depan pintu." Belinda mengambil kembali kotak itu dan membawanya pergi.


Tiba di depan lift, secara tak sengaja pintu lift terbuka dan menampakkan sosok Roy yang akan keluar dari lift.


"Belinda?" sapa Roy.


"Dokter Roy, bisa kita bicara?"


"Oh, mari ke kamarku." ajak Roy.


"Umm, kita bicara disini saja."


balas Belinda.


Roy tak keberatan.


"Aku ingin mengembalikan ini!" Belinda menyerahkan kotak cincin kepada Roy.


"Tapi kenapa, Bels?"


"Maaf, kurasa aku tidak bisa menerimanya. Aku ... sudah memaafkanmu. Aku sudah berdamai dengan masa laluku. Tapi aku tak bisa menerimamu dalam kehidupanku yang sekarang. Kau tenang saja, aku tidak akan melarangmu bertemu dengan Boy. Bagaimanapun juga aku tidak bisa memisahkan hubungan ayah dan anak. Terima kasih atas semua yang sudah kau lakukan untukku dan Boy. Permisi..."


Roy hanya terdiam melihat kepergian Belinda dengan memandangi kotak cincin yang ada ditangannya.


......***......


#bersambung


"mumpung hari senin, mangga yang mau kasih Vote utk Boy 😬😬


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE


...THANK YOU...