
Usai mengganti perban luka Aleya, Boy bersiap untuk undur diri namun dicegah oleh Kosih.
"Dokter Boy, minumlah dulu. Bapak buatkan teh jahe untuk Dokter. Silakan diminum. Udara disini sangat dingin, jadi teh jahe sangat cocok untuk mengurangi hawa dingin," ucap Kosih.
"Terima kasih, Pak." Boy segera meneguk pelan teh jahe buatan Kosih.
"Sayalah yang berterimakasih karena Dokter sudah menolong anak saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Aleya jika Dokter tidak datang menolong anak saya." Kosih menggeleng pelan membayangkan anak gadisnya dilecehkan oleh seorang pria.
"Itu sudah jadi kewajiban saya untuk menolong orang yang sedang dalam bahaya. Tehnya sangat enak, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan langsung ke lokasi pembangunan rumah sakit." Boy beranjak dari sofa dan berpamitan dengan Aleya.
"Kalau begitu kita berangkat bersama saja, Dokter Boy. Kebetulan saya juga akan ke lokasi proyek," ajak Kosih.
"Boleh, Pak. Mari!"
"Aleya, hari ini kau istirahat di rumah saja. Jangan kemana-mana," titah Kosih.
"Iya, Ayah," jawab Aleya patuh.
......***......
Tiga hari kemudian, luka Aleya sudah mulai kering dan dia juga sudah bisa berjalan dengan normal. Aleya tersenyum gembira karena kesembuhannya ini atas jasa Boy yang selalu telaten memeriksa lukanya.
Kedekatan Boy dan Aleya belum tercium oleh kelima teman Boy. Karena sikap Boy yang selalu cuek pada Aleya terlebih jika didepan teman-temannya.
Proyek di Desa Selimut sebentar lagi selesai. Kehadiran para pria tampan di desa yang berselimut kabut ini menjadi warna tersendiri untuk para warga desa. Mereka banyak membantu di bidang kesehatan dan juga pertanian.
Fajri banyak membantu dengan memberikan mesin-mesin pertanian, ketiga dokter tampan dengan pelayanan kesehatan gratisnya, Rana dengan keahlian merancang bangunan, dan Kenji yang membuat formula seperti pupuk untuk para petani. Sungguh kontribusi yang besar untuk sebuah desa terpencil.
Meski mereka menolak adanya jaringan telekomunikasi dan internet, namun untuk media cetak kini sudah mulai masuk ke dalam desa. Majalah dan surat kabar harian kini bisa menjadi bahan bacaan untuk warga desa.
Aleya yang sedang duduk di pondok desa dengan melihat-lihat majalah, tiba-tiba dikejutkan dengan suara meminta tolong seorang warga desa.
"Nak Aleya, tolong istri saya!" Seorang pria menghampiri Aleya.
"Ada apa, Pak Teguh?" tanya Aleya.
"Tolong istri saya, Nak. Istri saya mau melahirkan!"
"Hah?! Apa?!" Aleya terkejut dan langsung bangkit dari duduknya. Ia mengikuti langkah Teguh yang tergesa-gesa.
Aleya masuk ke rumah Teguh dan melihat Irma, istri Teguh sedang merintih kesakitan. Air ketuban milik Irma telah pecah.
"Pak, saya akan panggilkan Dokter Boy. Bapak temani istri bapak dulu." Aleya berlari cepat mencari keberadaan Boy. Ia bertanya pada warga desa dimana Boy berada. Pasalnya Aleya tak menemukan Boy di lokasi proyek.
Aleya menuju ke rumah joglo tempat Boy tinggal. Ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ia memaksa masuk dan mencari keberadaan Boy.
Boy yang baru saja keluar kamar langsung di tarik oleh Aleya.
"Ada apa, Aleya?" tanya Boy sambil berjalan cepat.
"Bu Irma akan melahirkan. Kau harus menolongnya, Kak!" ucap Aleya terengah.
"Apa?! Ini gawat! Kita harus menyiapkan ruang operasi darurat!" seru Boy.
Seketika langkah Aleya terhenti. "A-apa katamu? Operasi?"
"Iya, kandungannya bermasalah dan dia hanya bisa melahirkan dengan cara operasi," terang Boy lalu kembali melangkah.
Aleya masih tertegun. Ia baru mengerti jika apa yang dikatakan bidan desa waktu itu adalah benar. Dan juga kecurigaannya bertambah saat Boy tidak mengatakan apapun ketika Aleya bertanya tentang kondisi Irma.
"Aleya!" seru Boy memanggil Aleya yang mematung.
Boy menghampiri Aleya dan meraih tangan Aleya.
"Kita harus cepat! Terlambat sedikit bisa berbahaya untuk ibu dan janinnya!" Boy berjalan cepat dengan menggenggam tangan Aleya.
Aleya tersenyum kecil dengan perlakuan hangat Boy.
"Astaga, Aleya! Apa yang kau pikirkan? Saat ini ada nyawa yang menunggu untuk di tolong. Dan kau malah menikmati situasi ini!" Aleya merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Tiba di rumah Teguh, Boy segera memeriksa kondisi Irma yang sudah kesakitan. Boy berpikir sejenak untuk mengambil langkah terbaik untuk Irma dan bayinya.
"Dokter... Tolong selamatkan anak saya..." lirih Irma.
"Iya, Bu. Ibu tenang saja. Saya pasti akan menyelamatkan ibu dan bayi ini."
Boy keluar kamar lalu menemui Aleya.
"Dengar, kita harus siapkan ruang operasi darurat. Kau bantu aku!"
"Hah?!" Aleya bingung harus menjawab apa.
"Aleya! Kau pasti bisa! Kau bilang kau ingin menjadi dokter. Kau harus buktikan jika kau mampu!" Boy memegangi kedua bahu Aleya.
"Tapi, Kak..."
"Tidak ada tapi. Kita harus bergegas!" Boy meninggalkan Aleya dan bicara dengan Teguh.
Boy mengambil peralatan medisnya. Teguh menyiapkan satu kamar yang akan digunakan sebagai kamar operasi darurat. Jarak untuk menuju klinik cukup jauh jadi tidak memungkinkan membawa Irma dalam keadaan seperti ini.
"Aleya, bantu Pak Teguh untuk membawa Bu Irma ke ruang operasi," perintah Boy.
Aleya mengangguk dan segera bergerak.
......***......
Boy meminta Aleya memakai masker medis dan sarung tangan. Boy sudah menyuntikkan obat bius kepada Irma. Kini saatnya Boy mengeluarkan janin dari dalam perut Irma.
"Aleya! Siapkan dirimu! Kau pasti bisa!" Boy merangkum wajah Aleya.
Aleya menarik napas terlebih dahulu sebelum ia melihat kegiatan Boy yang pastinya membuat perut mual.
"Kau bantu aku untuk menekan perut Bu Irma."
Aleya mengangguk.
"Dorong!" titah Boy dan Aleya mengerahkan seluruh tenaganya.
Suara tangis seorang bayi laki-laki memenuhi ruangan itu. Teguh yang mendengarnya mengucap rasa syukur kepada Tuhan.
Aleya tersenyum haru ketika melihat tubuh mungil yang masih berlumuran darah.
"Kau cari Rion dan minta dia untuk memeriksa kondisi bayi ini," ucap Boy.
"Tadi Pak Teguh sudah mencari Dokter Rion tapi dia tidak ada. Sepertinya Dokter Rion dan Dion pergi ke dusun sebelah untuk memberikan pelayanan kesehatan disana."
Boy menghela napas. "Baiklah. Berarti aku hanya bisa mengandalkanmu disini. Kau bisa kan?"
Aleya menatap mata Boy. Sejenak mereka saling bertukar rasa dengan sebuah tatapan.
"Iya, Kak. Aku bisa!" jawab Aleya yakin.
Setelah dua jam berkutat dengan Irma dan bayinya, Boy bisa bernapas lega karena keduanya selamat. Irma masih dalam kondisi tak sadar karena pengaruh obat bius.
Aleya mendekati Boy dan menyeka keringat yang masih tersisa di pelipis Boy. Jarak yang begitu dekat membuat jantung keduanya berdegup kencang.
"Ya Tuhan! Ada apa denganku? Debaran aneh apa ini? Kenapa aku merasakan hal yang berbeda saat bersamanya?" Boy menatap lekat wajah cantik yang begitu dekat dengannya.
"Kakak pasti lelah. Aku akan buatkan teh untuk kakak." Aleya berbalik badan karena merasa amat canggung berada sedekat ini dengan Boy.
"Aleya!" panggil Boy.
"Iya?"
"Terima kasih."
Aleya membalas dengan seulas senyum manis. Ia kemudian menuju dapur dan membuatkan secangkir teh untuk Boy.
Setelah beberapa waktu berlalu, Irma mulai membuka mata dan amat bahagia karena bisa melihat bayinya lahir dengan selamat.
"Terima kasih, Dokter Boy, Nak Aleya," ucap Irma.
"Sama-sama, Bu. Saya juga senang bisa menolong ibu."
"Apa dokter ingin menggendongnya?" tawar Irma.
"Bolehkah?" Boy ragu untuk membawa bayi mungil itu dalam gendongannya.
"Biar aku saja, Bu," jawab Aleya.
Aleya segera mengambil alih bayi mungil itu dari pangkuan ibunya. Aleya terlihat luwes dalam menggendong bayi.
Boy mendekat dan mengusap lembut pipi gembul si bayi.
"Dia sangat lucu ya, Kak!" ujar Aleya.
"Iya. Dia sangat menggemaskan."
Kini gambaran Aleya dan Boy bagai keluarga kecil bahagia yang baru menimang bayi.
"Kalian sangat cocok! Semoga kalian berjodoh ya!" celetuk Irma yang membuat kedua insan itu salah tingkah. Wajah keduanya memerah mendengar pernyataan Irma.
......***......
Kelima teman Boy ikut datang ke rumah Teguh setelah mendengar kehebohan bahwa Boy melakukan operasi darurat hanya dengan dibantu Aleya.
"Kalian?!" Seru kelima teman Boy.
"Aku tidak punya pilihan! Lagi pula ternyata Aleya sangat berbakat sebagai dokter," puji Boy.
Aleya tersenyum kikuk didepan kelima pria itu dan juga ayahnya.
"Kau memang hebat, Nak." Kosih menepuk pelan bahu Aleya.
Setelah memastikan kondisi ibu dan bayinya sehat, Boy undur diri dari rumah Teguh.
Aleya pulang bersama Kosih. Kemudian malam harinya, Aleya kembali ke pondok dan membaca ulasan tentang universitas Avicenna di sebuah majalah.
Tekad Aleya makin kuat setelah hari ini ia membantu Boy menolong ibu melahirkan. Ia ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.
"Aleya!" suara seseorang yang tak asing membuat Aleya langsung berbinar.
"Kak Boy!" seru Aleya bersemangat.
Aleya mengerutkan kening ketika ternyata ia salah mengenali orang.
"Maaf, Kak Rion..." ucap Aleya menunduk.
"Apa kau berharap jika Boy yang datang kemari?"
"Ti-tidak, bukan begitu, Kak." Aleya berusaha setenang mungkin dan tetap mengulas senyumnya.
"Apa kau menyukai Boy?"
"Eh?" Aleya menatap Rion yang juga sedang menatapnya.
...B E R S A M B U N G...
"Kira-kira Aleya mau jawab apa ya? 😬😬😬
Duh, Rion juga baik sih. Pilih Rion atau Boy ya?Jadi bingung 😵😵