Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 77. Hal yang Berubah


Di tempat kedatangan bandara internasional, seorang wanita cantik tinggi semampai berjalan dengan anggunnya sambil menyeret tas besar di tangannya. Wanita itu mengedarkan pandangan dan melihat sekelilingnya. Pastinya ia menunggu seseorang yang akan menjemputnya di bandara.


Disisi lain di bandara, Ben sedang mencari sosok yang ia yakini sebagai orang yang harus ia jemput.


"Ah, kenapa tak tanya Gugel saja?" Ben meraih ponselnya lalu berseru.


"Oke, Gugel! Tunjukkan foto Dokter Esther Alexandra!" seru Ben.


"Baik. Ini dia beberapa foto Dokter Esther Alexandra."


Beberapa foto seorang wanita cantik muncul di layar ponsel Ben.


"Ah, masih tidak jelas. Gugel, tolong tunjukkan dimana Dokter Esther Alexandra di tempat ini!"


"Memindai semua orang!"


Ben menunggu sejenak.


"Posisi target ada di 45 derajat sebelah kananmu!"


"Oke! Terima kasih, Gugel!"


Ben segera berjalan kearah yang ditunjukkan Gugel. Ia melihat seorang wanita cantik sedang berdiri dengan gaya elegannya.


"Selamat siang, apakah Anda Dokter Esther Alexandra?" tanya Ben sopan.


"Siang. Benar, saya adalah Esther Alexandra." jawab wanita itu.


"Saya perwakilan dari rumah sakit Avicenna yang bertugas untuk menjemput Anda."


"Oh ya, baiklah."


"Mari, Dokter. Saya bawakan tas Anda."


"Oh, terima kasih."


.


.


.


Tak lama Ben dan Esther tiba di rumah sakit Avicenna. Sebuah penyambutan khusus telah disiapkan oleh Roy. Roy berdiri dengan tegap di lobi rumah sakit untuk menyambut kedatangan Esther.


Ben muncul dari dalam mobil dan memutar arah untuk membukakan pintu untuk Esther.


Kaki jenjang dengan sepatu heels muncul dari dalam mobil.


Esther mengulas senyumnya saat melihat Roy.


"Selamat datang, Dokter Esther," sapa Roy ramah.


"Terima kasih atas penyambutannya, Dokter Roy. Kurasa Anda tidak perlu melakukan ini." Suara lembut Esther mampu menghipnotis setiap pria yang mendengarnya.


"Mari, silakan masuk, Dokter Esther."


"Ah, jangan memanggil saya dengan embel-embel 'dokter'. Panggil saja Esther. Saya tidak ingin kita terlalu kaku, Dokter Roy."


Roy tertawa kecil.


"Kalau begitu, Anda juga jangan memanggil saya dengan panggilan 'dokter'. Panggil saja nama saya."


"Vincent?"


"Eh?"


"Nama Anda adalah Vincent Roy Avicenna. Apa boleh saya memanggil Anda, Vincent?"


Roy kembali tertawa. "Orang-orang memanggil saya Roy. Jika berkenan panggil saja Roy."


"Baiklah, jika itu keinginan Anda." Esther mengikuti langkah Roy yang menuju ke aula rumah sakit.


"Umm, Esther. Apa kau tidak keberatan jika kita melakukan konferensi pers lebih dulu?" tanya Roy.


"Tentu saja tidak." jawab Esther.


"Baiklah. Disana sudah ada Tuan Rayshard. Dia adalah agen ISS yang merekomendasikan Anda untuk bekerja di rumah sakit ini menggantikan saya."


Roy menuju ke sebuah podium yang sudah berjejer para petinggi rumah sakit dan juga Ray.


*


*


*


Di tempat kerjanya, Lian sedang berkutat dengan uji coba bahan baku yang akan dijadikan bahan utama dalam pembuatan krim wajah sekaligus badan untuk para wanita dan juga pria. Ia mengoles hasil racikan yang sudah jadi keatas kulitnya.


Lian memberi jeda untuk mengetahui apakah ini menyebabkan alergi atau tidak. Ia tersenyum karena krim yang ia oleskan membuat kulitnya terasa sejuk dan tidak menyebabkan gatal.


"Dessy, kurasa kita sudah bisa memproduksinya secara massal. Coba kau oles di kulitmu. Dan Desta, coba kau juga oles di kulitmu. Kita harus tahu bagaimana pendapat pria dan wanita saat memakainya."


Lian menunggu sejenak saat kedua orang asistennya mencoba produk yang ia buat.


"Bagaimana?" tanya Lian.


"Ini berhasil, Dok." ucap Dessy.


"Iya. Kerja keras kita tidaklah sia-sia." sahut Desta.


Lian tersenyum lebar. "Baiklah. Kita akan istirahat sejenak."


Lian mengambil beberapa makanan yang ibunya bawakan lalu ikut menonton televisi seperti yang lainnya. Jam istirahat sudah mulai setengah jam yang lalu. Dan hari ini Lian akan makan di kantornya saja.


"Sepertinya Kak Julian sedang sibuk." batin Lian.


Saat sedang menyantap bekal makannya, beberapa karyawan membicarakan sesuatu. Lian ikut menguping pembicaraan dan melihat kearah televisi.


"Kabarnya dia akan menggantikan posisi Dokter Roy sebagai dokter forensik terbaik di kota ini." sahut karyawan wanita ke dua.


"Benarkah?"


"Iya, coba saja lihat! Mereka sedang melakukan konferensi pers."


"Benar."


"Kudengar jika Dokter Esther itu masih ada hubungan darah dengan Profesor Noel."


"Oh ya? Bagaimana bisa?"


"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar rumornya saja."


Lian menghentikan makannya. Sejenak ia jadi penasaran dengan Esther Alexandra yang akan menggantikan posisi Roy.


Lian bergegas pergi ke ruangan Noel yang masih satu gedung di Ar-Rayyan Grup. Entah kenapa kakinya melangkah kesana dengan tergesa.


Lian mengetuk pintu ruangan Noel.


"Permisi, Profesor Noel." ucap Lian saat membuka pintu ruangan Noel.


Nampaklah pria muda berkacamata yang penuh kharisma.


"Ah, Nona Berlian. Silakan masuk!"


"Terima kasih, Prof. Apa Anda sedang sibuk?"


"Tidak juga. Aku hanya sedang mengotak-atik beberapa eksperimen."


Lian mengangguk paham. Pekerjaan Noel memang selalu terkait dengan eskperimen-eksperimen baru di bidang kesehatan.


"Begini, Prof. Saya dengar jika ada dokter baru di rumah sakit Avicenna yang adalah kerabat dari Profesor Noel. Apa itu benar?"


Noel mengerutkan keningnya.


"Hmm, apa maksudmu adalah Esther?"


"Eh? Iya, Prof."


"Kenapa kau ingin tahu tentang Esther?"


"Eh? Ah, tidak. Saya hanya ingin tahu saja karena orang-orang membicarakannya. Orang-orang sangat suka bergosip." Lian mencoba mencari alasan yang bagus.


"Esther adalah adikku. Dia sudah lama tinggal di luar negeri. Tapi kali ini dia ingin tinggal disini."


"Ah, begitu. Kudengar dia menggantikan posisi dokter Roy."


"Iya, aku melihatnya di berita. Dan sepertinya itu benar."


"Umm, baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu, Prof. Maaf sudah mengganggu waktu Anda." Lian sedikit membungkukkan badan kemudian keluar dari ruangan Noel.


"Ada apa dengannya? Bukankah dia sudah berpisah dengan Dokter Roy? Kenapa dia penasaran dengan Esther yang akan bekerja dengan Dokter Roy? Ah, sudahlah. Wanita memang sulit diterka." gumam Noel kemudian melanjutkan pekerjaannya.


*


*


*


Di sebuah apartemen mewah, seorang wanita cantik menekan bel berulang kali hingga akhirnya pintu terbuka dan menampakkan wajah tampan Noel yang berkacamata.


"Apa kau mengganti kode kamarmu?" kesal wanita itu.


Noel tertawa. "Kenapa? Aku hanya tidak ingin ada yang membobol apartemenku."


"Cih, aku tidak semiskin itu untuk mencuri di tempatmu."


"Jadi, kau akan tinggal disini? Bersamaku?" tanya Noel cukup terkejut.


"Memangnya aku mau tinggal dimana?Kau saja tidak menyiapkan tempat untukku. Kau bahkan tidak menyambutku dengan sambutan meriah seperti yang dilakukan Roy." sungut wanita yang tak lain adalah Esther.


"Zara, maafkan aku..."


"Hentikan! Aku bukan Zara! Aku sudah menjadi Esther! Ingat itu!" teriak Esther.


Noel menghela nafasnya.


"Iya, baiklah. Wajahmu memang Esther, tapi sikapmu masih seperti Zara."


Esther mengernyitkan dahi. Ia menghampiri Noel.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud memarahimu! Jangan marah ya!" bujuk Esther dengan bergelayut manja.


Noel tak menjawab.


"Kau adalah orang yang berjasa dalam hidupku setelah aku kehilangan segalanya. Aku tidak ingin kehilangan lagi." Esther memeluk pinggang Noel dan menelusupkan wajahnya di dada Noel.


Noel mengusap pelan punggung Esther.


"Sebenarnya apa rencanamu? Kenapa kau kembali dan malah bekerja dengan Roy? Bukankah lebih tenang saat kau berada di luar negeri? Aku akan mengunjungimu lebih sering jika kau masih disana."


"Entahlah. Siapa yang tahu apa yang akan aku lakukan?" Esther makin memeluk Noel erat dengan sebuah senyuman seringai di wajahnya.


...B E R S A M B U N G...


"Oke genks, sampai sini sudah sedikit paham? hehehe


Kisah ini sengaja kuberi sedikit bumbu misteri. Hanya sedikit. kalo suka yg banyak,


Yuk coba mampir ke RaKhania, ada Rayshard yg tampan sebagai detektif lho!


ini dia covernya