Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 174. Kisah Baru Aleya


...Aku tidak pernah tahu jika kehilanganmu akan sesakit ini, sesesak ini...


...Semua sudah berubah...


...Dan aku pun harus berubah...


......***......


Di bawah sinar rembulan, seorang gadis sedang menatap langit malam yang indah di bawah air terjun yang deras. Hatinya merasa hampa meski sudah bertahun-tahun berlalu sejak ia memutuskan untuk sendiri.


Sunyi. Hanya suara gemericik air terjun yang jatuh ke aliran sungai yang memenuhi indera pendengaran Aleya. Ya, gadis itu adalah Aleya. Memori beberapa tahun lalu kembali menyeruak kala kerinduan mulai menggelitik hatinya.


Tiga tahun lalu setelah Boy menemui Kosih untuk meminta restu, Aleya masih kukuh dengan pendiriannya yang menginginkan jika dirinya melanjutkan studi dan karirnya dulu. Boy memahami situasi Aleya dan membiarkan gadis itu untuk mengambil keputusannya sendiri.


Sebenarnya saat itu, Boy tidak hanya meminta restu untuk bisa meminang Aleya, namun juga meminta izin untuk membangun rumah sakit di dusun Kabut yang memang lokasinya paling jauh dari desa utama yaitu desa Selimut. Kosih memberi izin pada Boy untuk melakukan pembangunan disana.


Beberapa hari setelah Boy mendapat sebuah penolakan, ia kembali menemui Aleya untuk memastikan keputusan gadis itu. Boy menemui Aleya di rumah Zetta.


"Aku masih tak percaya dengan apa yang kau putuskan. Aku tahu kau juga memiliki rasa terhadapku. Kenapa kau tidak mengakuinya saja dulu?" Boy meyakinkan Aleya untuk mengakui perasaannya.


Aleya terdiam. Ia memang memiliki rasa yang tidak pernah mati terhadap pria di hadapannya. Namun semua hal tidak bisa ia raih dalam satu malam.


"Antara cinta dan impian ... terkadang tidak bisa berjalan bersamaan. Kita harus memilih mana yang akan kita jalani. Dan aku memilih untuk menggapai impianku lebih dulu. Maafkan aku, Kak," ucap Aleya.


Boy hanya tersenyum mendengar lagi-lagi dirinya ditolak oleh Aleya.


"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan bertanya lagi padamu. Jika kita memang ditakdirkan bersama, maka kita pasti akan bertemu kembali."


Aleya memejamkan mata mengingat semua kenangan bersama Boy. Semua hal yang terjadi seakan sudah melebur dan tidak berbekas.


"Kau mengulangi kesalahan yang sama, Adikku." Sebuah suara membuat Aleya membuka matanya.


"Kak Alam?"


"Kau membohongi dirimu, membohongi hatimu, untuk yang kesekian kalinya."


Aleya terdiam. Sungguh semua yang dikatakan Alam adalah hal yang benar.


"Jika kau memiliki kesempatan, maka sebaiknya kau gunakan dengan baik. Karena belum tentu semua itu akan bisa terulang." Kembali Alam membuat Aleya tersentak.


Setelah mendengar kata-kata dari Alam, Aleya kembali ke rumahnya. Ia telah merenungi semua kejadian yang menimpa dirinya.


......***......


Pagi hari seperti biasa Aleya menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri di rumah sakit Avicenna di desa Selimut. Pasien anak-anak sangat menyukai Aleya sebagai dokter anak.


Aleya menyalami beberapa orang tua yang mengantar anak-anaknya untuk memeriksakan kesehatan rutin yang memang menjadi agenda di desa Selimut. Beberapa orang membicarakan Aleya karena hingga saat ini gadis itu masih memilih sendiri.


"Lihat itu! Apa yang sebenarnya dia tunggu? Dulu dia menolak putraku, Pandu dan kini dia masih sendiri. Apa dia memilih untuk mencari seorang pangeran?" ucap seorang wanita paruh baya yang adalah ibu dari Pandu, pria yang pernah melamar Aleya namun ditolak.


"Hmm, itu berarti Pandu beruntung karena tidak berjodoh dengannya. Buktinya sekarang Pandu sudah menikah dan kini kau memiliki cucu," sahut wanita paruh baya lainnya.


Aleya hanya diam dan tidak menanggapi omongan para nenek yang menyindir dirinya.


"Atau mungkin dia ... Ingin seperti kakaknya yang hamil lebih dulu dan memiliki anak. Benar-benar keluarga yang buruk!" lanjut ibunda Pandu.


"Hentikan! Apa kalian datang kesini hanya untuk bergosip? Kalian harus ingat usia kalian! Dasar tidak tahu diri!" Seorang pria tua menginterupsi obrolan para nenek yang menghujati Aleya.


Aleya tersentak dengan pembelaan seorang kakek tua padanya. Namun semua itu berhasil membuat para nenek itu menghilang pergi.


"Kakek?" Aleya menghampiri pria tua itu.


"Kau tidak apa, Nak? Kenapa kau hanya diam mendengar semua hujatan terhadap dirimu?"


"Eh?"


"Orang-orang itu hanya ingin mengolok-olokmu. Kau harus melawan, Nak!"


"Tidak apa, Kek. Aku baik-baik saja. Oh ya, Kakek dari mana? Apa kakek sudah selesai diperiksa?"


"Iya, Nak. Sekarang aku ingin pulang."


"Dimana rumah kakek?"


"Aku tinggal di dusun Kabut. Karena fasilitas rumah sakit disana masih kurang lengkap, maka dokter disana menyuruhku datang ke rumah sakit ini."


"Eh? Rumah sakit?" Aleya mengernyitkan dahi bingung. Pasalnya setahu Aleya di dusun Kabut tidak ada rumah sakit.


"Kalau begitu aku permisi dulu, anak muda," pamit si kakek.


Aleya mengantarkan kakek itu hingga ke depan halaman rumah sakit.


"Kakek? Kakek datang kesini bersama siapa?" tanya Aleya.


"Aku datang sendiri. Sekarang ada kendaraan yang mengangkut barang-barang kebutuhan dari desa Selimut ke dusun Kabut. Jadi, kami lebih mudah jika ingin menuju kemari," jelas si kakek.


Aleya hanya menganggukkan kepala. Ia sama sekali tak tahu jika sudah banyak perubahan sejak beberapa tahun terakhir.


Selesai bekerja di rumah sakit, Aleya pulang ke rumah dan bertemu dengan Kosih, ayahnya. Aleya masih penasaran dengan apa yang dikatakan oleh kakek yang ditemuinya di rumah sakit.


"Ayah..." Aleya membuka percakapan dengan ayahnya ketika makan malam bersama.


"Ada apa, Nak?"


"Aku dengar di dusun Kabut ada rumah sakit, apa itu benar?"


"Dari mana kau mendengar berita seperti itu?" tanya Kosih yang nampak terkejut dengan pertanyaan Aleya.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ayo makan dulu!" balas Kosih dengan tetap melanjutkan makannya.


Aleya merasa ada yang aneh dengan sikap ayahnya. Apakah mungkin ayahnya menyembunyikan sesuatu darinya? Aleya akan memastikannya esok pagi ketika berangkat bekerja.


......***......


Seperti biasa Aleya berangkat bekerja dengan setelan kerjanya. Aleya sengaja berangkat lebih pagi untuk mengecek kebenaran tentang rumor rumah sakit di dusun Kabut.


Aleya mengedarkan pandangan mencari kendaraan besar yang biasa mengangkut barang-barang dari desa Selimut menuju dusun Kabut. Aleya bertanya pada seorang pekerja yang sedang menurunkan barang.


"Permisi, Pak."


"Eh? Dokter Aleya!" Ternyata pekerja itu mengenal Aleya.


"Bapak mengenal saya?"


"Tentu saja. Nama dokter kan tersemat untuk nama rumah sakit di dusun Kabut."


"Eh?" Aleya benar-benar tidak paham dengan apa yang dibicarakan oleh bapak itu. Sejenak Aleya menggabungkan kepingan demi kepingan memori yang ada diotaknya.


"Dokter Aleya!" Panggil bapak itu.


"Ah, iya Pak. Saya mau bertanya, apakah benar jika di dusun Kabut ada rumah sakit?"


"Benar, Dokter. Memangnya kenapa?"


"Umm, tidak ada. Saya hanya ingin tahu saja. Kenapa saya tidak pernah mendengar tentang kabar itu?"


Bapak itu hanya membalas dengan sebuah senyuman.


"Apa ada lagi yang Dokter butuhkan? Saya dan tim akan kembali ke dusun Kabut."


"Apa ... saya boleh ikut kesana?" tanya Aleya ragu-ragu.


"Tentu saja boleh. Mari dokter!" Bapak itu mempersilakan Aleya untuk ikut ke dalam mobil besar berjenis jeep.


"Dokter duduk di depan saja!" ucap bapak yang bernama Rudin itu.


"Terima kasih, Pak..."


"Rudin, nama saya Rudin, Dokter."


Aleya mengangguk tanda mengerti. "Terima kasih Pak Rudin."


Perjalanan menuju ke dusun Kabut pun dimulai. Dusun yang berjarak sekitar 50 kilometer dari desa Selimut itu kini memiliki akses jalan yang mudah dan jalanan yang dulunya berbatu kini sudah beraspal.


Aleya nampak tercengang dengan perubahan yang banyak terjadi. Ia pun akhirnya bertanya pada Rudin tentang banyaknya perubahan yang terjadi selama beberapa tahun ini.


"Pak, saya baru tahu jika jalan menuju ke dusun sudah memiliki akses jalan yang bagus. Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Ada seorang dermawan yang membangunkan akses jalan untuk kami, Dokter. Dan ini memudahkan kami dalam mengirim dan menerima bahan logistik."


"Oh ya? Siapa orang itu, Pak?"


Rudin hanya tersenyum. "Nanti dokter juga tahu," batin Rudin.


Aleya makin mengernyitkan dahi karena Rudin tak juga menjawab.


"Ish, apa-apaan bapak ini? Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku? Seakan banyak hal yang ditutupi selama beberapa tahun ini?" Batin Aleya dengan geram.


Akhirnya Aleya memutuskan untuk tidak bertanya apa pun lagi pada Rudin. Cukup semua hal akan terjawab ketika dirinya tiba di dusun nanti.


Sekitar dua jam perjalanan, mobil jeep yang ditumpangi Aleya akhirnya tiba di dusun Kabut. Aleya malah tertidur karena menikmati perjalanan yang menurutnya membuatnya terlena.


"Dokter! Dokter Aleya! Ayo bangun! Ini sudah tiba di dusun Kabut," panggil Rudin dengan menggoyang sedikit tubuh Aleya.


"Eh? Apa sudah sampai, Pak? Maaf, saya tertidur." Aleya merapikan penampilannya kemudian turun dari mobil.


"Ini dimana, Pak?" tanya Aleya bingung.


"Ini di depan rumah sakit, Dokter."


"Eh? Benarkah? Dulu disini adalah tanah lapang, bukan? Sejak kapan menjadi rumah sakit?"


"Saya permisi dulu, Dokter." Rudin pamit undur diri dari hadapan Aleya.


"Ish, kenapa dia lagi-lagi membuatku bingung dengan semua teka teki ini?" gumam Aleya kesal.


Aleya mengedarkan pandangan ke sekeliling area rumah sakit. Matanya tertuju pada plang rumah sakit yang membuatnya tercengang.


"Rumah sakit ibu dan anak 'Aleya'?" gumam Aleya.


Aleya mematung memandangi nama rumah sakit yang memang terlihat seperti bangunan baru itu.


"Apa ini? Sejak kapan semua ini terjadi? Siapa pemilik rumah sakit ini sebenarnya?" gumam Aleya dengan penuh tanda tanya.


...B E R S A M B U N G...


*Hmmm, apa yang terjadi setelah Aleya mengetahui yang sebenarnya tentang si pemilik rumah sakit?


Setelah ini kita akan membagi kisah Aleya-Boy dan Rion-Shelo ya genks. biar adil gitu loh.


Tetap dukung mereka ya genks ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜