
Beberapa hari kemudian,
Boy mendatangi kamar Lian dan Roy. Ia melihat ibunya sedang duduk termenung seperti biasa. Tak ada reaksi dan respon darinya.
Boy mendekat dan menggenggam tangan Lian. Seketika itu juga Lian menoleh. Boy tersenyum pada Lian. Pria kecil ini kini mulai beranjak dewasa. Dan betapa Lian tidak menyadarinya.
"Ma, makanlah dulu. Boy bawakan makanan kesukaan Mama. Nenek Lusi yang sudah memasaknya. Apa Mama tahu? Keluarga kita sudah berkumpul di rumah ini. Begitu juga dengan Paman Julian. Dia juga ikut pindah kemari. Bukankah Mama sejak dulu ingin Papa dan Paman Julian berbaikan? Sekarang mereka sudah berbaikan, jadi seharusnya Mama senang mendengar kabar ini."
Lian hanya menjawab dengan seulas senyum. Wajah cantiknya masih terlihat jelas meski tanda hitam melingkari matanya.
Berapa banyak lagi air mata yang harus Mama keluarkan? Aku tidak bisa membiarkan Mama terus menderita begini. Semoga Bibi Kartika bisa mengerti dengan kondisi Mama.
Boy memejamkan mata mengingat kejadian saat dirinya menemui Kartika. Boy nekat menemui Kartika untuk memohon belas kasihan untuk ibunya. Sungguh hati wanita mana tak terenyuh melihat perjuangan Boy yang begitu mencintai ibunya. Boy berharap Kartika juga memiliki hati yang lapang untuk menerima jika Nathan adalah adiknya.
"Ma, Mama harus makan. Apa kata adik nanti jika dia datang? Mama harus terlihat bugar dan cantik seperti biasa. Tunjukkan pada adik jika Mama pernah menjadi seorang model." Boy terus membujuk Lian.
Lian kembali tersenyum. "Apa ... Nathan akan datang kemari?"
Suara merdu ibunya akhirnya Boy dengar juga.
"Tentu saja. Nathan adalah adikku. Dia pasti datang dan tinggal disini," ucap Boy dengan yakin.
Meski dalam hatinya masih ragu apakah Kartika bersedia menyerahkan Nathan atau tidak.
Boy keluar dari kamar Lian setelah berhasil membujuk Lian. Ibunya itu akhirnya memakan beberapa suap makanan yang ia bawa.
"Bagaimana, Nak?" tanya Lusi.
"Mama memakannya, Nek. Meski hanya sedikit," jawab Boy lesu.
"Tidak apa. Pelan-pelan saja membujuk Mamamu."
Boy mengangguk paham.
......***......
Tamu yang tak pernah diduga akhirnya datang ke kediaman keluarga Avicenna. Roy dan Boy menyambut dengan sukacita. Begitupun Julian yang ikut menemui tamu tersebut.
"Silakan masuk!" ucap Roy.
"Terima kasih," balas satu orang tamu.
"Apa ... aku bisa bertemu dengan Berlian?" tanya seorang tamu yang tak lain adalah Kartika.
Ya, akhirnya Kartika bersedia menemui Lian dengan membawa Nathan. Bahkan George juga ikut mendampingi Kartika untuk berkunjung ke rumah Keluarga Avicenna.
"Lian ada di kamar. Terima kasih karena Kak Tika bersedia membawa Nathan kemari," ucap Roy penuh rasa terima kasih.
Kartika hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Roy. Roy membuka pintu kamar dan terlihat Lian sedang duduk di dekat jendela kamarnya seperti biasa.
Kartika merasa iba melihat kondisi Lian yang menyedihkan. Ia meminta Nathan untuk menghampiri Lian.
Nathan menurut dan mulai mendekati Lian. Ia menyentuh tangan Lian. Sontak Lian menoleh dan matanya terbelalak.
"Nathan?! Apa ini kau, Nak?" tanya Lian seolah tak percaya.
Nathan mengangguk. Sosok Lian yang ia lihat sekarang sangat berbeda dengan Lian yang pernah ditemuinya.
"Bibi baik-baik saja?" tanya Nathan polos.
Lian mengangguk dengan air mata yang lagi-lagi lolos membasahi pipinya.
"Bukankah sudah kubilang Bibi tidak boleh menangis ataupun bersedih." Nathan menyeka air mata Lian.
Tanpa menunggu lama lagi, Lian segera membawa tubuh kecil itu dalam dekapannya. Lian memeluk erat Nathan seakan tak ingin melepasnya.
"Jangan memanggilku Bibi. Aku adalah ibumu, Nak." Lian tak sanggup menahan tangis harunya.
Kartika ikut terenyuh melihat pemandangan ibu dan anak di depannya. Begitu menderitanya Lian karena kehilangan Nathan. Kini ia mulai mengerti kenapa mereka dipertemukan.
George merangkul bahu Kartika. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
"Baik. Aku baik-baik saja. Bahkan sangat baik," jawab Kartika yakin.
"Kau yakin?"
"Iya, George. Melihat Nathan sudah bertemu dengan keluarga kandungnya, membuatku merasa tenang."
Kartika dan George sudah menceritakan semuanya pada Nathan, tentang masa lalunya dan juga keluarga kandungnya. Anak sekecil itu ternyata sudah mengerti dengan apa yang diceritakan oleh kedua orang tua asuhnya. Karena Nathan ingat betul jika dirinya tinggal di sebuah panti asuhan sejak kecil. Kehidupannya mulai berubah ketika George Langdon mengadopsinya dari tangan Noel.
George berpamitan dengan Roy dan Julian juga Kartika. Ia harus kembali ke Amerika selama beberapa hari sebelum kembali lagi ke Indonesia untuk melanjutkan kontrak kerjasama dengan Ar-Rayyan Grup.
Roy meninggalkan Julian dan Kartika untuk bicara berdua. Ia kembali ke kamar untuk menemui Lian dan kedua putranya.
Julian membawa Kartika ke taman teras belakang.
"Duduk!" ucap Julian mempersilakan Kartika duduk disebuah bangku panjang.
"Terima kasih," balas Kartika.
Kartika menghirup udara pagi diantara kebun bunga disana.
"George Langdon adalah pria yang baik," buka Julian memulai perbincangan.
"Hm, dia adalah pria yang baik," balas Kartika sambil memejamkan matanya.
"Lalu kenapa kau berpisah dengannya?" tanya Julian.
Kartika membuka matanya dan menatap Julian. Ia mengulas senyum untuk Julian.
"Benar, dia adalah pria yang baik. Tapi ada kalanya hal yang baik itu terlihat tidak baik untuk kita. Kami memilih mengakhiri hubungan bukan karena kami bermasalah. Ada hal yang tidak bisa kami sampaikan didepan orang banyak. Terutama jika menyangkut masalah ... hati." Kartika menjelaskan dengan pelan.
Julian tersenyum mendengar penjelasan Kartika. "Semoga kau bisa menemukan kebahagiaan untuk dirimu sendiri."
"Terima kasih. Kau juga, Julian."
......***......
Hari bahagia akhirnya menyelimuti keluarga Avicenna. Hari ini semua anggota keluarga Avicenna berkumpul di depan gedung kantor Avicenna Grup. Perusahaan yang selama ini mengalami pasang surut kini mulai menggeliat kembali.
Roy dan Julian memutuskan bersama untuk meneruskan peninggalan keluarga mereka. Senyum merekah juga selalu di sunggingkan Lian karena kini ia bersama dengan kedua putranya.
Kartika juga turut hadir untuk memberikan ucapan selamat pada Julian dan Roy. Lian dan Roy saling pandang ketika melihat interaksi antara Julian dan Kartika.
"Mas, sepertinya mereka saling memendam rasa. Kuharap mereka benar-benar berjodoh," bisik Lian di telinga Roy.
"Iya, sayang. Aku tahu sejak dulu Kak Tika menyukai Kak Julian. Hanya saja kisah mereka tidak pernah dimulai karena Kak Julian hanya mencintai Belinda," jawab Roy dengan berbisik juga.
"Astaga! Mereka ini lucu sekali. Mungkin sudah saatnya mereka berjodoh ya, Mas."
"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka."
"Papa dan Mama sedang bicara apa? Semua orang sudah menunggu. Ayo cepat potong nasi tumpengnya!" Boy menginterupsi pembicaran berbisik-bisik antara Lian dan Roy.
Mereka berdua tertawa geli sendiri mengingat tingkah yang mereka lakukan.
Setelah memotong nasi tumpeng dan saling menyuapi bergantian antara Roy dan Julian. Tiba saatnya pengambilan gambar agar menjadi kenangan yang tidak terlupakan untuk mereka semua.
"Oke! Siap? Saya hitung, ya! Satu, dua, tiga!" ucap sang fotografer.
Semua orang tersenyum ketika lampu flash menyala. Semoga setelah ini kebahagiaan selalu menemani langkah mereka.
...B E R S A M B U N G...
"Well, semua mulai baik-baik saja. semoga ya."
Hola hola, kali ini mamak akan kasih rekomendasi novel untuk kalian koleksi di kolom favorit kalian. Pilihan hari ini jatuh kepada.....
SAVE YALISA, karya dari author Reski Muchu Kissky.
Ini dia covernya,
Bergenre teen dengan sedikit misteri dan psychological thriller ini bikin yang baca ikut deg2 ser dengan jalan ceritanya. Ngeri ngeri sedep gitu daaah, hehehe.
Yuk intips sinopsisnya,
Ditunggu jejak kalian disana yaa,
...Terima kasih ...