Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 65. Pengakuan Helena


"Baiklah, akan kukatakan semua yang ingin kalian ketahui. Aku akan ceritakan kejadian sepuluh tahun lalu..."


Pria bernama Jordan Herdian menatap Helena sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Gadis itu ... memang benar akulah yang sudah melenyapkannya. Dia menjadi ja'lang dengan mendekati suamiku. Tidak akan ada istri yang tinggal diam saat suaminya digoda oleh wanita lain." Helena bicara dengan suara datar.


"Apa kau pernah bertanya apa alasan suamimu berselingkuh?" tanya Jaksa Jordan.


"Untuk apa bertanya? Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan. Dan wanita ja'lang itu sampai kapanpun akan tetap menjadi ja'lang. Dia bahkan mendekati Julian, putra sulungku."


"Jadi, Anda membawa Nona Belinda masuk ke dalam hutan bersama pria yang bernama Wanto?"


"Kalian sudah menemukannya, huh! Puluhan tahun dia bersembunyi, tapi ternyata kalian bisa menemukannya?"


"Bukan kami, tapi putra Anda."


"Heh?! Maksudmu Julian?"


"Apa yang Anda lakukan pada Nona Belinda didalam hutan?"


Kini mata Helena berani menatap mata Jaksa Jordan. Kilatan amarah dan penyesalan yang melebur menjadi satu.


Sementara di luar ruangan, Julian melihat dan mendengarkan semua penuturan Helena dengan tatapan sinis namun datar. Tangannya mengepal merasakan kemarahan yang bergemuruh dalam hatinya.


*


*


*


Lian menutup pintu usai mengantar Roy kembali ke kamar. Ia mencari keberadaan Ben yang tadi sempat ditemuinya.


"Ben!" panggil Lian yang membuat Ben sedikit berjingkat.


"Ah, Nona Lian."


"Ben, aku tidak melihat keberadaan Kakek Donald. Apa dia sudah tahu tentang semuanya?"


"Iya, Nona. Saat ini Tuan Donald sedang berada di gedung Avicenna Grup bersama Mike."


"Oh, begitu ya." Nampak gurat kecemasan di wajah Lian.


Ben yang ingin bicara menjadi ragu.


"Ada apa, Ben?" tanya Lian yang melihat gelagat aneh Ben.


"Umm, Nona. Bisakah Nona ikut dengan saya sebentar? Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Nona."


Lian berpikir sejenak. "Baiklah. Lagipula Mas Roy juga sudah tertidur."


Lian melangkah bersama Ben dan menemui kepala pelayan keluarga Avicenna.


"Pak Sugeng, saya akan keluar sebentar bersama Ben. Tolong jaga Mas Roy. Saya tidak akan lama." pamit Lian pada Sugeng.


"Baik, Nona."


Lian duduk di bangku belakang mobil sementara Ben mengemudi keluar dari halaman rumah keluarga Avicenna.


"Astaga! Aku sampai melupakan Boy! Siapa yang mendampinginya, Ben?"


"Nona tenang saja, saya sudah meminta Tuan Maliq untuk mengawasi Tuan Muda Boy."


"Huft! Syukurlah. Terima kasih, Ben."


Perjalanan sekitar 30 menit ditempuh oleh Ben dan Lian. Mereka tiba di sebuah panti rehabilitasi untuk para penyandang cacat.


Lian mengernyitkan dahi ketika Ben memintanya untuk turun dari mobil.


"Sebenarnya Ben mau membawaku kemana? Tempat apa ini?" gumam Lian yang mengikuti langkah Ben dari belakang.


Ben menemui seorang gadis yang sedang duduk terdiam di bangku panjang taman menikmati semilir angin di sore hari.


"Ben? Apakah itu kau?" Suara seorang gadis yang tampak bergembira dengan kedatangan Ben.


"Iya, ini aku. Apa kau menungguku?" ucap Ben yang duduk disamping gadis itu.


Gadis itu mengangguk. Lian hanya melihat dari kejauhan interaksi Ben dengan gadis itu.


"Apa wajahmu berubah?" tanya gadis itu.


"Coba saja kau tebak!"


Gadis itu meraba wajah Ben dengan tangannya. Lian mengerutkan dahi melihat aksi yang dilakukan gadis itu.


"Kau bertambah tampan, Ben."


"Terima kasih."


"Apa kau bersama orang lain?"


"Iya, kau tahu?"


"Hu'um. Aku tahu."


Ben meminta Lian untuk mendekat.


"Lian, kenalkan ini Amira. Amira, ini Berlian." ucap Ben.


"Ah, hai. Aku Amira." Gadis bernama Amira itu mengulurkan tangannya.


Lian menyambutnya. "Aku Berlian, panggil saja Lian."


"Kau adalah teman Ben?" tanya Amira.


Lian melirik kearah Ben. Ben memberi kode agar Lian menjawab iya.


"Ben, sudah pukul berapa ini?" tanya Amira.


"Pukul empat sore. Ada apa?"


"Aku harus mengajar. Umm, Lian maaf ya. Aku harus pergi mengajar."


"Ah iya, tidak apa." jawab Lian.


"Mau kuantar?" tawar Ben.


"Boleh. Apa kau masih ingat dimana kelas mengajarku?"


"Tentu saja."


Ben meraih tangan kiri Amira dan melingkarkannya di lengan kanannya. Tongkat yang biasa dipakai Amira, Ben lipat dan ia bawa di tangan satunya.


"Apa ini? Gadis itu buta? Apa maksudnya Ben membawaku kemari dan bertemu dengan gadis itu?" gumam Lian.


Lian menunggu Ben di bangku taman yang tadi di duduki Amira.


"Maaf membuat Nona menunggu." Ben telah kembali.


"Tidak apa-apa. Ben, bisakah kau jelaskan ada apa ini sebenarnya?"


"Amira adalah teman satu kampus kami dulu. Temanku dan juga Tuan Roy." jelas Ben.


"Eh?"


"Dia adalah gadis yang ceria sebelum dia mengalami kebutaan."


Lian menutup mulutnya. "Jadi, maksudmu dia tadinya bisa melihat?"


"Iya. Tapi karena mengalami kecelakaan, dia..."


Ben tak mampu melanjutkan ceritanya.


"Jangan bilang kalau ... semua ini ada hubungannya dengan Mommy Helena?" tebak Lian.


Ben tidak menjawab. Dan itu cukup membuat Lian paham dengan situasi ini.


Lian memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.


"Tapi kenapa, Ben? Kenapa Mommy sampai melukai Amira?"


"Mungkin sebenarnya Nyonya juga ingin melenyapkan Amira seperti melenyapkan Belinda."


"Lalu kenapa kau diam saja? Sudah berapa lama semua ini berlalu?"


"Aku hanya takut jika Nyonya Helena akan menyakiti Tuan Roy. Aku tidak ingin Nyonya Helena menyakiti orang lain lagi. Cukup Amira dan Belinda saja."


Lian memejamkan matanya. Betapa rumitnya hidup yang selama ini dijalani oleh suaminya. Jika saja Julian tidak melindunginya, pasti Lian juga akan bernasib sama seperti Amira atau mungkin Belinda. Kini Lian mulai mengerti kenapa Julian memilih jalan ini. Jalan gelap yang penuh dendam.


*


*


*


-Kantor Jaksa Wilayah-


"Jadi, Anda benar mengakui semuanya, Nyonya Helena?"


"Iya. Saya mengakui perbuatan saya. Dan juga ... ada satu hal lagi yang belum saya katakan."


"Eh? Tentang apa itu, Nyonya?"


"Ada satu gadis yang juga telah kulenyapkan..."


"Eh? A-apa?"


"Tapi, kurasa gadis itu tidak meninggal. Ada orang yang menolongnya."


"Siapa gadis itu, Nyonya? Apa Nyonya masih mengingatnya?" tanya Jaksa Jordan.


"Iya, aku masih ingat. Namanya ... Amira."


Jaksa Jordan bergeming mendengar pengakuan Helena. Entah berapa banyak orang yang sudah ia sakiti.


"Baiklah. Sekian dulu untuk hari ini. Nyonya berhak untuk mendapat pendampingan pengacara. Nyonya bisa menghubungi keluarga Nyonya jika mau."


"Tidak! Aku tidak butuh pengacara. Aku hanya butuh ... anakku bersedia memaafkanku... Roy dan juga Julian. Hanya itu saja!" tutup Helena sebelum petugas membawanya ke sel tahanan sementara hingga kasusnya di sidangkan.


Julian yang mendengar semua penuturan Helena hanya bisa terdiam. Jaksa Jordan menemui Julian.


"Bagaimana? Apa kau akan melanjutkan semua ini?" tanya Jaksa Jordan.


"Iya, tentu saja. Aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun. Aku tidak bisa mundur lagi."


"Lalu bagaimana dengan permintaan maafnya?"


"Apa kau pikir aku masih bisa memaafkannya?"


Jaksa Jordan hanya menghela nafas.


"Baiklah. Terserah kau saja. Sebagai temanmu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik."


"Aku akan cari tahu soal gadis bernama Amira itu. Lalu kau? Kau lanjutkan saja pekerjaanmu." ucap Julian sebelum akhirnya pergi dari kantor jaksa wilayah.


......***......


#bersambung...


"Thanks to sist Meylani yg sudah bersedia meminjamkan Amira utk jadi cameo disini, hehehe"