Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 135. Waktu yang Tak Akan Terulang


Empat tahun kemudian,


Pagi itu di kediaman keluarga Avicenna, seperti biasa semua orang sibuk menyiapkan keperluan masing-masing.


"Sayang, apa kau lihat dasiku yang berwarna merah menyala?" Tanya Boy pada istrinya.


"Bukankah sudah ada di walk in closet milikmu? Kenapa bertanya padaku?" jawab Natasha yang juga sedang sibuk mengemas barang-barangnya.


"Sudah kucari tapi tidak ada. Apa kau belum menaruhnya disini?"


"Dengar, Boy! Semua keperluanmu sudah disiapkan oleh asisten di rumah ini, jadi jika ada apa-apa kau tanya saja padanya. Oke?"


Boy hanya bisa menarik napas dan menghembuskannya pelan.


"Percuma saja bicara denganmu!" lirih Boy lalu kembali mencari dasi yang ia maksud.


"Sayang, nanti kau antarkan Aurel ke sekolah ya! Hari ini jadwalku sangat padat. Kau tahu kan, produk yang kuluncurkan minggu lalu ternyata mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Ah, aku sangat senang!" seru Natasha kemudian menghampiri Boy dan mengecup pipi suaminya itu.


"Hati-hati di jalan!" ucap Boy.


"Iya, kau juga." Natasha melenggang pergi dengan melambaikan tangannya.


Boy dengan mode kesal masih mencari barang yang ia cari. Namun bukan dasi yang ia temukan, melainkan benda berkilauan yang sudah lama ia simpan tanpa diketahui oleh Natasha.


"Ini adalah kalung milik Aleya," gumam Boy.


"Bagaimana kabarnya selama ini?"


Ingatannya tertuju ke pagi itu saat mereka mengucap perpisahan di hutan lindung dengan penuh rasa. Boy menunjukkan rasa sayangnya pada Aleya dengan sebuah hal manis yang tidak akan pernah dia lupa.


Sebagai tanda perpisahan, Aleya memberikan kalung yang dipakainya kepada Boy. Sebagai tanda harap jika Boy akan tetap mengenangnya meski mereka tidak bisa bersatu.


"Papa!" suara khas gadis kecil kesayangan Boy menginterupsi lamunannya.


"Ah, sayang. Kau sudah siap?"


Anak kecil itu mengangguk. Ya, dia adalah anak Boy dan Natasha. Setelah menikah, Boy memang sengaja mengembangkan temuannya dengan membuat seorang bayi mungil yang akan mengisi hari-hari mereka nantinya.


Natasha menginginkan seorang anak perempuan, maka Boy meng-kloning bayi perempuan yang sangat mirip dengannya dan juga Natasha. Mereka memberinya nama Aurelie Putri Avicenna.


"Iya, Pa. Aku sudah siap untuk berangkat sekolah."


"Oke! Pilihkan dasi yang bagus untuk Papa."


Aurel tampak berpikir. "Yang ini saja, Pa."


"Baiklah. Papa yakin pilihan anak papa pasti yang terbaik."


"Apa itu, Pa?" Tanya Aurel saat melihat sebuah kalung di tangan Boy.


"Ah, ini? Ini ... hadiah untuk Aurel. Karena sudah jadi anak yang baik." Boy memakaikan kalung milik Aleya ke leher Aurel.


"Wah, ini sangat cantik. Terima kasih, Papa." Gadis kecil itu memeluk ayahnya.


...Waktu......


...Sesuatu yang tidak akan bisa kita ulang,...


...Waktu......


...Memberikan aku untuk untuk berpikir,...


...Jika saja waktu bisa kuulang,...


...Maka mungkin, aku akan memilih mendekapmu,...


...Namun, waktu......


...Tidak akan bisa kembali...


...Dan kini, jalanilah semua dengan baik,...


...Karena hanya kenangan yang tersisa disini......


......***......


Seorang pria paruh baya sedang bersimpuh di sebuah gundukan tanah yang masih terlihat basah. Air mata pria itu sudah kering namun hatinya masih terasa pilu. Sebuah buket bunga ia letakkan diatas gundukan tanah itu.


Tidak ada lagi orang yang datang untuk melepas kepergian seseorang yang kini terbaring tenang di bawah sana. Hanya dua orang pria yang datang dengan membawa sejuta duka. Tidak ada tangis kerabat dan sahabat karena kini ia sendiri dalam dinginnya tanah dan kayu.


"Paman, ayo kita pulang!" ucap seorang pria muda yang datang bersama si pria paruh baya.


"Sebentar lagi, Sean. Zara pasti kedinginan di bawah sana. Aku ingin menemaninya sebentar saja," balas si pria paruh baya yang tak lain adalah Noel.


"Tapi Paman sudah berada disini sejak pagi tadi. Ini sudah hampir sore. Sebentar lagi hujan turun. Aku mohon Paman harus kuat. Aku yakin Bibi Zara sudah tenang disana."


Sean memegangi lengan Noel dan membantunya berdiri.


"Ayo kita pulang, Paman. Besok Paman boleh datang kemari lagi." Sean membawa Noel pergi dari area pemakaman.


Tiba di tempat tinggal mereka, Sean memapah Noel menuju kamarnya.


Setelah menunggu beberapa menit, Sean membawa bubur untuk Noel.


"Paman, makanlah dulu! Paman belum makan apapun hari ini."


"Iya. Aku harus kembali kuat karena semuanya akan segera berakhir." Noel menatap tajam kearah Sean.


"Maksud Paman?"


"Bersiaplah, Nak. Kita akan mengakhiri apa yang sudah kita mulai," ucap Noel dengan penuh penekanan.


"Jangan memikirkan hal lain dulu, Paman. Makanlah lalu istirahat. Aku harus pergi ke suatu tempat."


"Apa kau akan menemui Natasha?"


"Iya, Paman. Kalau begitu aku pergi dulu. Habiskan bubur Paman lalu tidur."


Noel mengangguk. Sean tersenyum kemudian keluar dari kamar Noel.


Di tempat berbeda, Julian menemui Roy dan mengabarkan tentang kematian Zara. Pria yang sudah mencapai usia setengah abad itu masih terlihat gagah walau rambutnya sudah mulai dipenuhi uban.


Meski hubungan mereka tidak baik selama beberapa tahun ini, namun tak bisa dipungkiri jika Zara terikat dengan Roy dan Julian. Roy yang pernah menjadi tunangan Zara, dan Julian yang pernah menanam benih di Rahim Zara. Takdir itu tidak akan bisa dihapus.


Roy terlihat diam setelah mendengar kabar kematian Zara. Wanita itu tinggal di rumah sakit jiwa selama bebera tahun ini. Roy masih tak percaya jika Zara akan berakhir dengan menyedihkan begini.


"Roy!" panggil Julian yang melihat Roy hanya terdiam.


"Iya, Kak."


"Aku akan mengunjungi makamnya, kau mau ikut?"


"Siapa yang sudah mengurus pemakamannya? Kenapa pihak rumah sakit tidak mengabari kita?"


"Entahlah. Pihak rumah sakit tidak memberitahuku lebih detil."


Roy menghela napas. "Baiklah, aku akan ikut dengan kakak. Bagaimanapun juga, Zara pernah menjadi bagian keluarga kita."


"Pihak rumah sakit bilang, makam Zara berada di samping makam Kakek Gerald."


Roy mengangguk kemudian ikut pergi bersama Julian.


.


.


.


Di sebuah pusat perbelanjaan,


"Sean!" Natasha melambaikan tangan melihat kedatangan Sean.


"Hai, Tasha! Ada apa ini? Kau terlihat sangat bahagia."


"Tentu saja aku sangat bahagia. Kau tahu, produk yang kita luncurkan minggu lalu mendapat peringkat teratas minggu ini."


"Oh ya? Selamat ya!"


"Hei, jangan memberi selamat padaku. Kita kan bekerja bersama." Natasha memeluk Sean sebagai uangkapan kebahagiaannya.


"Tasha, jangan memelukku seperti ini. Kita sedang berada di tempat umum."


"Kenapa? Kita adalah rekan bisnis. Tidak ada salahnya kan saling mengungkap kebahagiaan."


"Kau sudah memberitahu suamimu?"


Raut wajah Natasha berubah muram. "Sudah. Dan dia hanya bereaksi datar saja. Dia malah bertanya dimana aku menyimpan dasinya. Astaga! Mana aku tahu! Lagi pula aku tidak punya urusan untuk menata barang-barangnya. Sudah ada asisten yang melakukannya. Dia benar-benar menyebalkan!"


Sebuah kecupan singkat Sean daratkan di bibir Natasha.


"Sean!" Natasha memegangi bibirnya. "Kau ini! Bagaimana jika ada yang melihat?"


Sean tertawa. "Tidak ada yang melihat. Mereka semua sedang sibuk memilah dan memilih barang."


Natasha memukul pelan bahu Sean. "Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak bersama denganmu. Boy selalu bilang jika dia mendukung karirku, tapi apa? Dia hanya sibuk dengan urusannya saja! Dia selalu memaksaku untuk meluangkan waktu untuk Aurel, padahal dia sendiri selalu sibuk dengan pekerjaannya."


"Jangan bicara begitu! Aurel adalah putrimu. Apa yang dikatakan suamimu itu benar. Waktu tidak akan bisa terulang. Jangan sampai kau menyesali sedikitnya waktu yang kau habiskan bersama Aurel."


Natasha terdiam. Apa yang dikatakan Sean ada benarnya juga. "Baiklah. Aku akan mulai memperhatikan Aurel mulai sekarang."


Sean mengusap lembut puncak kepala Natasha. Mereka berdua tak menyangka jika semua adegan kemesraan mereka dilihat oleh sepasang mata yang menatap tak suka.


"Dasar wanita jaalang! Berani sekali dia melakukan ini di depan umum! Awas saja kau! Aku tidak akan membiarkan ini!" ucapnya.


...B E R S A M B U N G...


"Terima kasih untuk kalian yang masih setia menemani kisah JHSDT ini πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ


semoga kalian tak bosan ya 😬


tenang saja, semua akan indah pada waktunya 😍😍