Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 37. Kejujuran Hati


Helena berjalan mondar mandir tidak tenang di dalam kamarnya. Ia masih tidak habis pikir kenapa semua orang membela Roy yang ingin berpisah dari Zara. Bukankah hubungan mereka sudah berlangsung selama bertahun-tahun? Kenapa malah harus berakhir dengan tragis begini?


Tragis? Menurut Helena mungkin iya. Tapi bagi Roy, melepaskan diri dari Zara adalah cara terbaik yang bisa ia lakukan karena sudah tak ada cinta lagi dalam hatinya.


Apakah semudah itu Roy melupakan kenangannya bersama Zara? Apakah para pria selalu membuang barang yang lama jika menemukan mainan yang baru?


Tidak serta merta begitu. Roy sudah menyelidiki tentang Zara dan menghilangnya Gerald selama setahun ini. Ia menemukan sedikit bukti jika Zara lah yang selama ini sudah menyembunyikan keberadaan Gerald.


Roy tidak mungkin bersama wanita kejam seperti Zara. Dulu Zara adalah wanita paling baik dan lemah lembut di mata Roy. Semua hal tentang Zara telah membuatnya mabuk kepayang. Ia bahkan sangat mencintai Zara dan begitu menjaga wanitanya.


Namun kenyataannya, Zara tak mencintai Roy sebesar Roy mencintainya. Dengan mudahnya Zara pergi meninggalkan Roy karena ingin mewujudkan mimpinya untuk belajar di luar negeri. Bukanlah hal yang salah ketika pendidikan di nomorsatukan.


Helena memutar otaknya agar bisa menggagalkan rencana Roy. Helena tak bisa membiarkan Roy jatuh ke tangan wanita lain. Apalagi harus bersama dengan ibu dari anak Roy yang notabene wanita dari kalangan biasa.


Dandy masuk kedalam kamar dan memergoki istrinya sedang gusar.


"Sebaiknya kau jangan coba-coba mencari cara untuk menggagalkan rencana Roy. Ayah sudah setuju untuk pembatalan pertunangan Roy dan Zara." ucap Dandy.


"Sayang, kenapa kau bicara begitu?"


"Helena, biarkan Roy memilih jalan hidupnya sendiri. Sudah cukup kita menekan Roy selama ini!"


"Roy adalah anak kita! Tentu saja kita berhak menentukan apa yang baik untuknya!"


"Sebaiknya kau jangan membantah perintah ayah. Atau kau akan menerima akibatnya jika sampai ayah mengetahui kau masih membela Zara."


Karena tak ingin terus berdebat, Dandy memilih pergi dari kamar dan menuju ruang kerjanya.


Sepeninggal Dandy, Helena kembali gusar dan memijat pelipisnya pelan.


"Bagaimana ini? Jika aku tidak bisa menikahkan Zara dengan Roy, maka Zara akan membongkar semua kejahatanku di masa lalu. Tidak! Itu tidak boleh terjadi!!!" gumam Helena dengan menggertakkan giginya.


......***......


Roy berterimakasih pada Donald karena sudah bersedia membantunya. Donald juga bahagia karena akhirnya Roy melakukan apa yang ingin dia lakukan. Donald sadar jika cucunya itu banyak menderita karena harus menuruti keinginan kedua orang tuanya. Hingga ia sakit pun, Roy tetap berusaha tegar dengan tidak menceritakan apapun pada ayah dan ibunya.


"Mulai sekarang kau harus berjuang untuk kebahagiaanmu. Kau sudah memilih jalanmu, maka kau harus menjaga keluarga kecilmu itu." nasihat Donald untuk Roy.


"Iya, Kek. Sekali lagi terima kasih."


"Jadi, kapan kau akan membawa gadis itu bertemu dengan Kakek?"


"Aku tidak bisa memaksanya, Kek. Dia sungguh takut dunia mengenalnya."


"Baiklah. Kakek tidak akan memaksa. Kakek hanya berharap kau bisa meraih kebahagiaan bersama dengan wanita yang kau cintai."


"Terima kasih, Kek." Roy memeluk Donald sebelum akhirnya ia berpamitan untuk kembali ke apartemennya.


Roy bersenandung selama perjalanan menuju pulang ke apartemen. Hatinya amat senang karena akhirnya ia bisa melakukan apa yang hatinya inginkan.


Besok ia akan bicara pada Zara lalu Belinda. Roy tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Meski ia belum sepenuhnya menerima Belinda di hatinya, namun rasa tak biasa dalam hati nyatanya tak bisa ia abaikan.


Keesokan paginya, Roy menemui Zara di rumahnya. Roy tak ingin ada keributan yang terjadi di rumah sakit jika ia bicara saat jam kerja.


Zara amat senang ketika Roy datang menemuinya. Ia langsung mendaratkan sebuah pelukan untuk Roy.


Sejenak Roy menerima pelukan Zara, namun sedetik kemudian ia menepis tangan Zara.


"Roy? Ada apa?" tanya Zara heran.


"Maaf, karena aku datang sepagi ini dan membuatmu terkejut. Ada yang ingin kubicarakan denganmu." tutur Roy.


"Hmm? Soal apa?"


"Zara, sebelumnya aku minta maaf karena aku harus mengatakan ini. Maaf jika apa yang akan kukatakan membuatmu kecewa. Tapi..."


"Cukup! Jangan lanjutkan! Jika kau datang kemari hanya untuk mengucap kata perpisahan, maka ... aku tidak akan menerimanya!"


"Zara... Mengertilah!"


"Tidak! Kau keterlaluan, Roy! Apa semua kebersamaan kita selama ini tidak ada artinya bagimu? Tega sekali kau menduakanku dengan perempuan yang tidak jelas asal usulnya! Jika kau masih marah padaku karena dulu aku meninggalkanmu, maka kau bisa menghukumku, Roy! Bukan dengan kata perpisahan seperti ini! Aku tidak bersedia membatalkan pernikahan kita!"


"Maaf, Zara. Aku sudah bicara dengan keluargaku, dan mereka setuju jika pernikahan kita dibatalkan."


"APA?! Kau memang sudah gila, Roy!"


"Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah membuatmu kecewa dengan memiliki anak dari wanita lain."


Zara memejamkan matanya.


"Keluar!!!"


"Zara..."


"Keluar!!! Aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu, Roy!"


Dengan hati yang cukup lega, Roy keluar dari rumah Zara. Ia kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


......***......


Belinda bekerja seperti biasa di butik Jimmy. Menjadi model sebenarnya bukanlah prioritas utama seorang Belinda. Ia masih berharap bisa melanjutkan pendidikannya dan menjadi seorang jaksa seperti cita-citanya. Namun ternyata suratan takdir berkata lain. Ia hanya pasrah mengikuti apa yang sudah dituliskan untuknya.


"Dah, Bella..."


"Daah..." Bella melambaikan tangan pada teman-temannya yang mulai meninggalkan butik. Sudah pukul lima sore dan sudah saatnya ia pulang.


Belinda berdiri di depan butik menunggu taksi melintasi jalanan itu. Tak pernah ia sangka sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Belinda mengenali mobil mewah berwarna hitam itu.


Belinda masih terdiam kala seseorang keluar dari dalam mobil. Itu adalah Roy yang turun dengan mengembangkan senyumnya kepada Belinda.


"Bels..." sapa Roy.


"Dokter Roy..."


Mereka berdiri saling berhadapan namun masih tanpa kata. Hanya tatapan mata yang saling beradu dan saling mengungkap rasa.


Belinda ingat bagaimana tadi Jimmy mengingatkannya tentang perasaannya yang tersirat.


"Kau menyukainya, Bella. Meski aku tidak tahu sejauh mana dan seberapa dalam kau menyimpannya dalam hatimu. Tapi aku tahu jika kau mulai membuka hatimu untuknya."


"Begitukah, Jim? Tapi aku masih ragu dengan perasaan Dokter Roy." ungkap Belinda.


"Kau akan memahaminya seiring berjalannya waktu. Kau hanya perlu membuka diri dan membiarkan rasa itu tumbuh dengan sendirinya."


Semua kata-kata Jimmy masih teringat jelas dalam ingatan Belinda. Ia kembali tersenyum dengan membiarkan mata mereka tetap beradu.


"Kejujuran itu seperti es krim. Kalau tidak dilahap, akan cepat meleleh hilang di telan hawa panas. Bisep di tangan itu 'kan otot fisik, sedang kejujuran itu otot mental. Dan otot, harus dilatih terus, biar kuat.


Untuk hari ini latihan kejujuran aku, adalah jujur pada diri sendiri."


Roy mulai mendekat dan mengulurkan tangannya. Belinda menyambut uluran tangan itu yang lebih dominan untuk meminta sebuah pelukan.


Tanpa ada keraguan lagi, Belinda segera memeluk Roy. Roy pun ikut membalas pelukan Belinda dengan makin mendekapnya erat.


......***......


#bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE


...THANK YOU...