
Belinda keluar dari private room resto Royale Hotel dengan hati yang bergejolak. Tangannya memegangi dadanya yang terasa sakit. Tubuhnya berkeringat dingin meski udara tidak terlalu panas. Sungguh ia amat takut hingga tangannya bergetar.
"Bagaimana ini? Bagaimana kalau keluarga Avicenna tahu jika Boy adalah anak hasil dari eksperimen Profesor Gerald?" Belinda segera melangkah pergi dari sana. Ia memanggil taksi yang parkir di sekitar area hotel.
Belinda tak kuasa menahan air matanya. Memorinya tentang orang-orang yang mengejarnya di malam ia dinyatakan hamil tidak pernah lepas dari pikirannya. Belinda menangis dalam diam.
"Maaf, Nona, kita akan pergi kemana?" tanya si supir taksi.
"Antarkan saya ke apartemen Price Town, Pak." ucap Belinda dengan suara bergetar.
Belinda kembali ingat jika Roy juga tinggal di apartemen yang sama. "Ya Tuhan! Apa yang harus kulakukan? Pria itu pasti akan terus mengejarku sebelum aku mengatakan yang sebenarnya." Belinda menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak akan pernah menyerahkan Boy pada mereka! Tidak akan!!!"
Tiba di apartemen, Belinda berjalan cepat untuk tiba di unitnya. Ia menekan tombol lift berkali-kali karena pintu lift tak juga terbuka. Ketakutan kini memenuhi hatinya.
"Bels, ada apa?" seseorang menyapa Belinda yang sedari tadi menekan tombol lift.
"Patrick!!!" seru Belinda. "Tolong aku, Pat!" Saat ini hanya Patrick yang bisa menolongnya, pikir Belinda.
"Ada apa, Bels. Tenangkan dirimu!" ucap Patrick karena melihat kepanikan di wajah Belinda.
"Kita bicara di tempat yang nyaman," lanjut Patrick kemudian membawa Belinda ke suatu tempat.
Patrick membawa Belinda ke sebuah kafe yang agak sepi pengunjung. Ia memesankan secangkir coklat hangat untuk Belinda.
"Minumlah dulu agar kau lebih tenang. Lalu ceritakan pelan-pelan." ujar Patrick.
Belinda menyesap rasa coklat hangat yang menenangkan. "Terima kasih, Pat."
Patrick menatap Belinda iba. "Bukankah kau baru pulang dari butik Jimmy?"
Belinda menggeleng. "Aku... aku baru saja bertemu dengan dokter Roy."
"Eh?" Patrick cukup terkejut.
"Ternyata Boy sudah mengatakan semuanya pada dokter itu. Boy pernah bilang padaku jika ada kemungkinan dokter Roy adalah ayah kandungnya. Tapi aku menolaknya. Karena aku sendiri juga tidak tahu siapa ayah kandung Boy," tutur Belinda.
Patrick hanya diam mendengarkan cerita Belinda.
"Tadi, dokter Roy sendiri bercerita jika dia memang pernah memberikan benihnya untuk seorang gadis terpilih tujuh tahun lalu." Belinda tak kuasa melanjutkan ceritanya.
"Tenangkan dirimu, Bels." Patrick tak ingin berkomentar lebih dulu. Kini ia bisa menyimpulkan jika firasatnya memang benar mengenai ayah kandung Boy.
"Pat, bagaimana jika benar dokter itu adalah ayah kandung Boy? Aku harus bagaimana? Kau tahu bukan keluarga Avicenna seperti apa? Mereka tidak akan membiarkan aku dan Boy hidup tenang seperti dulu. Mereka pasti ingin mengambil Boy dariku, Pat." tangis Belinda pecah.
Patrick hanya diam. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia berpikir sejenak agar bisa mengucapkan kalimat yang tidak membuat Belinda makin sedih.
"Jadi... Apa benar jika Dokter Roy adalah ayah biologis Boy? Kau sudah memastikannya?" tanya Patrick dengan hati-hati.
Belinda menggeleng. "Dia memintaku melakukan tes DNA. Tapi aku menolaknya. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya, Pat."
"Bagaimana kita tahu jika Boy anak dokter Roy jika kau tidak bersedia melakukan tes DNA?"
"Tidak, Pat! Aku tidak akan melakukannya. Firasatku mengatakan memang dia adalah ayah Boy. Tapi hatiku tetap menolaknya, Pat."
Patrick menghela nafas. "Kau tenang saja. Aku dan Kenzo akan melindungi Boy."
"Terima kasih, Pat." Belinda kembali meneguk habis cokelat panasnya hingga tandas.
"Pat, bisakah aku meminta tolong padamu?"
"Katakan saja!"
"Bisakah kau berpura-pura menjadi ayah kandung Boy?"
"Eh?!" Patrick sangat terkejut dengan permintaan Belinda. Ia menatap wanita yang ada dihadapannya ini. Ia terlihat rapuh dan putus asa.
......***......
Patrick mematung sendiri di balkon apartemen. Ia memikirkan permintaan Belinda padanya. Semua akan makin rumit setelah Belinda mengakui semuanya.
"Pat, apa yang sedang kau lakukan?" Kenzo menghampiri Patrick.
"Ken, kau sudah pulang?"
"Yeah. Hariku cukup melelahkan. Ada apa, Pat? Sejak obrolan kita waktu itu, kau tidak menceritakan apapun lagi padaku. Kita adalah partner, Pat. Tolong jangan sembunyikan apapun dariku!"
"Tidak, Ken. Aku tidak menyembunyikan apapun. Aku pasti akan memberitahumu jika itu mengenai misi kita."
"Baiklah. Kalau begitu aku akan ke kamar dan beristirahat. Kau juga sebaiknya istirahat." Kenzo menepuk bahu Patrick kemudian berlalu.
Pagi harinya, Patrick dan Kenzo datang ke apartemen Belinda untuk sarapan pagi bersama. Hanya kesunyian yang memenuhi suasana sarapan pagi kali ini.
Boy menatap ke semua orang dewasa yang duduk bersamanya. Wajah mereka terlihat tegang dan memiliki beban. Boy menghela nafas.
Patrick menemui Belinda yang akan siap berangkat bekerja. Wanita berambut panjang itu menunjukkan wajah yang penuh kekhawatiran. Patrick tak tega melihat Belinda terus merasa cemas dan sedih.
"Bels..."
"Ya, ada apa?"
"Aku bersedia."
"Eh?"
"Aku bersedia untuk menjadi ayah Boy."
"Apa? Kau serius, Pat?" mata Belinda berbinar.
"Iya, aku serius. Aku tidak ingin kau berada dalam bahaya. Aku sudah berjanji pada Profesor Gerald akan menjagamu dan juga Boy."
"Terima kasih, Pat." tanpa sengaja Belinda mengulurkan tangannya memeluk Patrick.
Patrick tersentak dengan pelukan hangat Belinda. Tak disadari tangannya juga terulur membalas pelukan Belinda. Patrick menghirup dalam-dalam aroma tubuh Belinda yang menggelitik indera penciumannya. Entah sejak kapan gelenyar aneh mulai merasuki hatinya ketika bersama Belinda.
Belinda melepaskan pelukannya pada Patrick.
"Maaf, aku hanya terlalu senang kau bersedia membantuku."
"Tidk apa, Bels. Apa aku perlu mengantarmu bekerja?"
"Tidak, Pat. Aku bisa berangkat sendiri."
"Baiklah, hati-hati."
.
.
.
Tiba di lobi apartemen, Belinda segera berjalan cepat menuju taksi online yang sudah dipesannya. Langkahnya terhenti karena Roy sudah menunggunya sedari tadi. Belinda tahu jika Roy tidak akan menyerah begitu saja sampai ia mendapatkan apa yang ia cari.
"Maaf, Dokter Roy, saya sedang terburu-buru. Ada pekerjaan yang harus saya lakukan." ucap Belinda jengah dengan sikap Roy.
"Aku akan mengantarmu." balas Roy.
"Tidak perlu. Aku sudah memesan taksi online."
"Nona Belinda..." Roy mencekal lengan Belinda.
Belinda menatap Roy dengan sinis. "Tolong lepaskan! Jangan berbuat kasar atau aku akan berteriak."
Roy melepaskan tangannya. "Maaf. Aku hanya merasa jika..."
"Bels..." Suara pria lain menginterupsi kalimat Roy. Suara berat itu berasal dari Patrick.
"Pat?" Belinda menghampiri Patrick.
"Ada apa, Bels?" tanya Patrick.
"Tidak ada. Aku hanya mengobrol sebentar dengan Dokter Roy. Dia adalah partner kerja anak kita, Pat." jelas Belinda dengan memberi kode pada Patrick.
"Oh, dokter Roy. Senang bertemu dengan Anda." Patrick mengulurkan tangannya.
"Ah, jadi ini adalah..." Lagi-lagi kalimat Roy terputus.
"Dia adalah ayah kandung Boy," ucap Belinda sambil mengalungkan tangannya di lengan kiri Patrick.
"Ah, begitu." Roy mengangguk paham. Roy menerima uluran tangan Patrick.
Patrick dan Roy saling pandang cukup lama. Tatapan mereka tak bisa diartikan oleh Belinda.
"Pat, ayo kita pergi. Permisi dokter Roy!" Belinda menggamit tangan Patrick agar segera pergi dari sana.
Roy hanya memandangi kepergian dua insan itu. Sungguh ia tak percaya jika Boy bukanlah anak kandungnya.
"Jadi, dia adalah anak Julian? Tapi entah kenapa aku masih merasa yakin jika Boy adalah putraku. Aku akan mencari buktinya, Belinda. Aku yakin ada hal yang kau sembunyikan," gumam Roy.
......***......
#bersambung
*Nah lho, siapa tuh Julian? Apakah Roy bisa menemukan bukti jika Boy adalah anaknya?
*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan akuh ππππππ