
...Tak ada rahasia di dunia ini,...
...Cepat atau lambat,...
...Semua hal pasti akan terbongkar,...
......***......
Aleya masih memegangi dadanya meski sudah masuk ke rumah Zetta dan berdiri di balik pintu. Andra yang melihat tingkah aneh Aleya segera menghampirinya.
"Bunda! Apa yang Bunda lakukan disini?" tanya Andra polos.
"Andra? Bunda tidak melakukan apapun. Ayo! Apa kau sudah makan?" tanya Aleya sambil menggandeng tangan kecil Andra.
"Sudah, Bunda. Bunda sendiri sudah makan belum?"
"Bunda nanti saja makannya. Bunda mau mengerjakan tugas kuliah dulu."
"Bunda jangan lupa makan ya!"
"Iya, sayang." Aleya mengelus puncak kepala Andra dengan penuh rasa cinta.
Tiba di waktu malam, Aleya mematut dirinya di cermin. Ia memakai dress putih selutut yang membuatnya terlihat dewasa.
Aleya mengatur napasnya lebih dulu sebelum keluar dari kamar.
"Bunda! Apa bunda akan pergi?" tanya Andra yang merasa sedih karena Aleya akan pergi.
"Iya, sayang. Bunda akan pergi sebentar dengan Paman Rion. Kau jangan nakal di rumah bersama Bi Imah."
Andra mengangguk. "Bunda hati-hati ya."
"Iya, sayangku." Aleya mengecup kedua pipi Andra bergantian.
"Bi, aku titip Andra. Kalau Kak Zetta bertanya aku kemana, bilang saja aku pergi dengan Kak Rion."
"Baik, Nona."
Aleya keluar rumah dan melihat mobil Rion sudah terparkir di depan rumah.
"Hai," sapa Rion.
"Hai, juga," balas Aleya canggung. Rasanya sangat aneh setelah kejadian siang tadi.
"Kau sangat cantik, Aleya."
"Terima kasih, Kak."
"Ayo! Aku sudah lapar."
Aleya terkekeh. "Sepertinya kakak suka sekali makan ya!"
"Tentu saja. Siapa yang tidak suka makan? Kau sudah siap?"
Aleya mengangguk. Kemudian Rion mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
......***......
Tiba di sebuah resto yang bernuansa asri, bernama 'The Chocolatte Lover', Rion dan Aleya turun dari mobil.
"Apa kakak sering kesini?" tanya Aleya. Nuansa romantis sungguh terasa di tempat itu. Aleya hanya curiga jika Rion terbiasa membawa seorang gadis kesini.
"Tidak! Ini pertama kalinya aku datang. Seorang teman merekomendasikannya."
Aleya hanya manggut-manggut seolah percaya.
"Kau tidak percaya padaku?" Rion merasa jika Aleya mencurigainya.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ... Kakak adalah pria tampan dan seorang dokter. Tidak mungkin kakak..."
"Aku tahu, aku akan menceritakan semuanya padamu. Ayo masuk!"
Rion melangkah beriringan dengan Aleya. Namun ketika melintasi area parkir, matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir disana.
"Kenapa, Kak?" tanya Aleya.
"Ini ... adalah mobil kakakku. Dia ada disini juga?" ucap Rion tak percaya.
"Eh? Memangnya kenapa kalo Kak Dion ada disini juga?"
"Tadi dia bilang dia ada urusan darurat di rumah sakit."
"Eh? Maksudmu Kak Dion berbohong? Tapi untuk apa?"
"Lihat itu, Kak! Itu mobil Kak Zetta!" seru Aleya.
"Benarkah?" tanya Rion yang juga tak percaya.
"Iya, aku sangat yakin. Mungkin mereka sedang ada perlu disini. Ayo kita masuk, Kak!" ajak Aleya.
Namun Rion mencegahnya.
"Tunggu!"
"Ada apa, Kak?"
"Apa kau tahu siapa ayah dari anaknya Zetta?"
"Eh? Kenapa kakak bertanya begini? Kak Zetta tidak mengatakan apapun soal ayah kandung Andra. Ia hanya bilang jika mereka sama-sama mabuk dan melakukan itu. Ia tidak tahu siapa pria yang tidur bersamanya."
"Itu mustahil! Meski mabuk aku yakin Zetta masih bisa mengenali pria itu."
Tanpa kata-kata lagi Rion berjalan masuk ke dalam resto. Ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan kakak kembarnya. Ia meminta Aleya untuk diam dan mengikutinya saja. Ia menemukan seseorang yang dia cari.
"Itu mereka!" tunjuk Rion pada sepasang insan yang sedang makan malam berdua.
"Itu kan Kak Dion dan Kak Zetta!" Aleya menutup mulutnya. "Bagaimana bisa?"
Rion nampak terdiam dan memikirkan banyak hal.
"Kita pergi dari sini. Kita makan di tempat lain saja," ucap Rion dengan membawa Aleya keluar dari resto.
"Kak, kakak baik-baik saja? Jangan bilang jika kakak berpikir kalau Kak Dion adalah ayah kandung Andra," tebak Aleya.
"Masih terlalu dini untuk bisa menyimpulkan seperti itu. Ayo kita makan dulu saja!" Rion membelai wajah Aleya dengan mengulas senyum tampannya.
......***......
Di tempat berbeda, Natasha sedang melakukan pengambilan gambar untuk iklan produk kecantikan miliknya. Ia juga menggandeng seorang artis pendatang baru, Cassandra yang kini mulai menggantikan pamor seorang Natasha Watanabe.
Sebenarnya Natasha tidak suka dengan sikap Cassandra yang sombong dan angkuh sebagai seorang pendatang baru. Namun Sean yang meyakinkan Natasha jika memilih Cassandra adalah pilihan yang tepat karena bisa mendongkrak popularitas produk yang mereka luncurkan.
"Menurutku, kalau kita sudah memiliki pasangan yang sempurna, janganlah bermain api dengan yang lain. Apalagi jika selalu mengabaikan anak. Membiarkan pasangan mengantar jemput anak ke sekolah tanpa pengawasan, wah bisa bahaya di jaman sekarang. Iya kan?" ucap Cassandra sengaja ingin membuat Natasha naik pitam.
"Kau tahu kan, di sekolah itu, kan nanti suami kita bertemu dengan para wali murid yang juga sedang mengantar anak mereka ke sekolah. Bagaimana jadinya jika suami kita berpikir, istri orang lain lebih keibuan dibanding istri sendiri. Atau bisa juga ibu guru yang cantik yang juga perhatian pada anak kita."
"Duh, Cassie, bagaimana kau tahu jika semua itu bisa saja terjadi? Kau sendiri bahkan belum menikah," timpal asisten Cassie, seorang pria gemulai yang sedang merapikan riasan wajah Cassie.
Mereka berdua nampaknya sengaja memanas-manasi Natasha.
"Tentu saja aku tahu. Karena itu bisa dijadikan sebagai pembelajaran. Setelah aku menikah nanti, aku harus ekstra menjaga apa yang menjadi milikku. Jangan seperti seseorang yang seakan tak peduli dengan apa yang menjadi miliknya. Kalau terus begitu, bisa-bisa yang namanya hak milik bisa jadi mantan dong!"
Kemudian mereka berdua tertawa. Natasha yang mendengar semua ocehan Cassie pun menghampirinya.
"Apa yang barusan kau katakan, huh?! Kau sengaja ingin membuatku marah kan?" sungut Natasha.
"Hei, jangan terlalu percaya diri. Aku dan asistenku tidak membicarakan soal dirimu. Jika kau merasa tersinggung, mungkin apa yang kukatakan itu memang benar." Cassie bangkit dari duduknya dan berhadapan dengan Natasha.
"Kau! Berani sekali kau!"
"Hentikan sikapmu ini, Kak Tasha. Kau akan benar-benar kehilangan semuanya jika kau masih bersikap seperti ini! Ayo pergi! Kurasa aku tidak butuh kontrak iklan darimu ini." Cassie merobek kontrak kerja diantara mereka.
Natasha berteriak kesal. Sean segera mendatanginya.
"Tasha, ada apa?"
"Apa kau dengar apa yang dia katakan tadi? Dia bilang aku akan kehilangan Boy jika aku terus bersikap seperti ini! Dia benar-benar keterlaluan. Kenapa kau mengusulkan dia untuk menjadi model kita?"
"Tenangkan dirimu! Kita kehilangan dia sebagai model kita. Kita harus mencari model baru lagi untuk iklan produk kita." Sean mengusap wajahnya.
"Biarkan saja! Lagi pula aku tidak sudi berhubungan dengan gadis ular seperti dia! Dia menyukaimu kan? Makanya dia sengaja memanas-manasiku!"
"Dan kau terbawa suasana? Memangnya kenapa jika akhirnya hubunganmu dan Boy berakhir? Kita sudah lama bersama, Tasha. Apa kau tidak menyadari jika kita sudah mengkhianati Boy?"
"Tidak! Aku tidak bisa kehilangan Boy dengan cara seperti ini. Apalagi kini perempuan itu ada di kota ini. Aku tidak akan membiarkan dia merebut Boy dariku."
Sean tak menanggapi lagi apa yang dikatakan Natasha. Ia hanya berpikir jika Natasha telah banyak berubah.
"Apa ini karena ramuan yang diberikan Paman Noel? Tasha banyak berubah setelah meminumnya selama bertahun-tahun. Sebenarnya apa lagi rencana Paman Noel? Aku harus bicara padanya. Aku merasa tidak bisa menyakiti Natasha lebih dari ini," batin Sean.
...B E R S A M B U N G...
*Hmmm, apakah dugaan Aleya dan Rion benar mengenai ayah kandung Andra?
Terima kasih untuk yg selalu memberikan dukungan untuk cerita ini 🙏🙏
Maaf jika masih banyak kekurangan disana sini.