Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 159. Tak Lagi Sama


30 menit sebelum kematian Natasha dan Sean,


Natasha masih bergeming setelah kedatangan Lian yang tiba-tiba tadi. Sangat terlihat jika ibu mertuanya sudah tidak akan membuka pintu maaf untuknya.


"Tasha! Kenapa diam?" tanya Sean.


Natasha hanya menatap Sean sendu.


"Jangan bersedih. Ini adalah yang terbaik untukmu dan Boy. Apa yang dikatakan oleh ibu mertuamu itu benar. Kita tidak bisa bersembunyi untuk selamanya."


Natasha mengangguk. "Lalu bagaimana dengan Mommyku?"


"Kita akan membawanya juga. Kau hubungi dulu beliau dan bilang kau akan menjemputnya di halte dekat rumah," usul Sean.


Natasha kembali mengangguk. Ia masih syok dengan semua pernyataan Lian yang tidak terduga.


Sean memapah Natasha untuk duduk di sofa.


"Duduklah dulu, aku akan membuatkanmu teh hangat."


Natasha hanya bisa menuruti perintah Sean.


Sementara itu, Noel tertawa puas setelah melihat kedatangan Lian dari kamera pengawas apartemen yang sudah di retasnya. Tak lupa ia juga memasang alat penyadap di unit apartemen Natasha tanpa diketahui oleh Sean dan Natasha.


"Kalian pikir aku bodoh, huh! Kalianlah yang bodoh karena berani mempermainkan Noel Alexander. Dendam yang sudah mendarah daging tidak akan luluh hanya karena bujuk dan rayu dari kalian. Kalian saling mencintai, bukan? Maka dari itu ... Kalian matilah bersama!" seru Noel kemudian menekan tombol untuk mengeluarkan gas karbon monoksida tingkat tinggi yang dibuatnya sendiri yang mengalir melalui pendingin ruangan yang ada di apartemen Natasha.


Gas itu tidak berbau sama sekali dan tidak membuat Sean ataupun Natasha curiga.


Di dalam apartemen, Natasha yang sedang duduk di sofa tiba-tiba merasakan sesak di dadanya. Ia memanggil Sean untuk segera membawakan air minum untuknya.


Beberapa kali memanggil nama Sean, namun Sean tak kunjung datang. Dengan sisa kekuatannya, Natasha melangkah menuju dapur dan mendapati Sean telah terkapar.


"Sean!" seru Natasha yang juga tubuhnya mulai melemas. Ia pun jatuh tersungkur. Sementara tangan mereka berdua berusaha saling meraih dan menggenggam. Hingga akhirnya mereka tewas dengan tangan yang saling bertautan.


......***......


Satu jam setelah kematian Natasha dan Sean,


Boy masih berada di ruang kerjanya dan menatap satu persatu lembaran foto yang selama ini di kumpulkan oleh Choky. Dua tahun sudah Boy memendam rasa keingintahuannya hanya untuk melindungi pernikahannya dan Natasha. Juga menjaga perasaan Aurel yang sangat dicintainya.


"Jadi ini yang selama ini kau sembunyikan, Nat? Rahasia yang tidak pernah kau tampakkan."


Ingatan Boy kembali menuju ke hari dimana Natasha berucap, "Boy, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang membagi rahasianya dengan orang lain. Jika ada orang yang mengatakan begitu, itu artinya orang itu telah berbohong."


"ARGH!" teriak Boy sambil mengacak rambutnya.


"Kenapa, Nat? Kenapa kau melakukan ini? Aku mencintaimu selama 14 tahun dan inikah balasanmu?"


Boy amat sedih dan merutuki dirinya sendiri. Getar ponselnya yang sudah berkali-kali pun tidak ia gubris.


Hingga akhirnya ia tersadar kemudian mengangkat panggilan yang tidak ia kenali nomernya.


"Halo, iya benar saya Boy Avicenna."


".............."


"A-apa katamu?!"


Tubuh Boy melemas seketika setelah mendapat panggilan yang ternyata dari pengurus apartemen Natasha.


Secepat kilat Boy mendatangi lokasi yang disebutkan oleh si penelepon. Tubuh Boy bergetar namun sekuat tenaga ia berusaha tenang.


Tiba di lokasi, sudah ada beberapa petugas kepolisian yang akan mengevakuasi kedua jenazah. Boy bersikukuh ingin melihat jasad Natasha.


"Saya adalah suaminya!" tegas Boy yang akhirnya mendapat persetujuan dari pihak kepolisian untuk memeriksa dua tubuh yang sudah terbujur kaku tersebut.


Tubuh Boy terhuyung ketika kain penutup yang nenutupi dua jasad itu terbuka.


"Tidak! Tidak mungkin!" Boy menggeleng cepat.


"Jadi kau benar-benar mengkhianatiku, Natasha!" Boy segera berbalik badan dan pergi dari lokasi kejadian yang membuat dadanya sesak.


Bayangan demi bayangan akan kebersamaan mereka ketika masih kecil hingga beranjak dewasa kembali memutar di otak Boy. Namun tak lama semua bayangan itu hilang terganti dengan bayangan kebahagiaan Natasha dan Sean yang berkhianat di belakang Boy.


Esok pagi di hari itu, rumah keluarga Avicenna kedatangan para anggota kepolisian yang mencari Boy. Mereka mengira jika setelah kepergian Boy dari lokasi kejadian adalah pulang ke rumah.


Nyatanya Boy tidak kembali ke rumah. Boy sudah berada di rumah sakit Avicenna dimana jasad Natasha dan Sean akan di autopsi.


Boy duduk diam didepan kamar jenazah hingga akhirnya Lian dan Roy juga ikut datang kesana.


......***......


Hari ini, jagad bumi digemparkan dengan berita penangkapan Lian sebagai tersangka kasus tewasnya Natasha dan Sean. Polisi berhasil menemukan sebuah rekaman kamera pengawas dimana Lian mendatangi kamar apartemen Natasha sebelum kedua orang itu terbunuh.


Lian pasrah saat pihak berwajib membawanya. Tentu saja ia harus mengikuti prosedur yang ada.


Saat penyelidikan Lian mengakui jika dirinya memang datang ke apartemen Natasha karena ada seseorang yang mengirim pesan misterius kepadanya. Orang itu juga selalu membeberkan fakta jika menantunya sudah bermain api dengan pria lain. Karena alasan itulah, pihak kepolisian patut mencurigai Lian. Untuk sementara Lian di tahan di kantor kepolisian hingga mereka menemukan bukti terbaru tentang kasus ini.


Sudah tiga hari Lian tak berada di rumah. Suasana di kediaman Avicenna sudah amat berbeda.


"Nathan, apa kau akan berangkat kuliah?" tanya Lusi.


"Iya, Nek. Aku harus menunjukkan pada dunia jika kita berani menghadapi mereka. Jika kita hanya bersembunyi, itu sama saja kita mengakui jika kita bersalah," balas Nathan.


"Tapi, Nak..."


"Biarkan saja, Bu," sergah Roy. "Biarkan Nathan tetap berangkat. Pergilah, Nak!" ucap Roy.


Nathan mengangguk kemudian keluar dari rumah. Ia tahu jika di kampus nanti keadaan tidak akan lagi sama. Ia memantapkan hati untuk menghadapi orang-orang yang akan mencibirnya.


Benar saja, ketika Nathan turun dari mobilnya, banyak para pemburu berita yang ingin mewawancarainya.


"Mas Nathan, katakan sesuatu! Apa benar ibu Anda yang sudah membunuh artis Natasha dan Sean? Mas Nathan, tolong jawab!" seru seorang pemburu berita.


Nathan menghentikan langkahnya dan berusaha untuk menjawab. Dari kejauhan Aleya melihat Nathan yang di kerubungi para wartawan. Ada rasa iba dalam hati Aleya ketika melihat masalah yang kini dialami keluarga Avicenna.


"Kenapa orang-orang sangat suka sekali mencampuri urusan orang lain? Apa yang orang-orang dapat dari menghujati keluarga kami? Kepuasan? Begitukah?" seru Nathan yang membuat semua irang tertegun.


Aleya tidak menyangka jika Nathan adalah pria yang pemberani.


"Meski semua orang menghujat ibuku ... Aku tetap percaya padanya! Ibuku tidak bersalah! Hukum pasti akan membuktikan itu!" Nathan segera berlalu dari para awak media.


Beberapa wartawan yang masih belum puas dengan jawaban akan mengejar langkah Nathan namun segera dihentikan oleh beberapa penjaga kampus.


Aleya mengulas senyum saat Nathan berpapasan dengannya.


"Kau hebat, Nathan!" seru Aleya.


Nathan berbalik badan dan tersenyum pada Aleya.


"Aku harus berpura-pura kuat, Aleya!" jawab Nathan.


"Tapi kau memang kuat. Kau tidak berpura-pura."


"Katakan itu pada kakakku!"


"Eh?"


Aleya tak mendapat jawaban dari Nathan lagi karena pria itu telah melangkah pergi meninggalkan Aleya.


...B E R S A M B U N G...


*Hmmm, nothing i cant say 😷😷


Semoga kasus ini cepat menemukan titik terang.


Oh ya genks, kalo kubikin kisah ttg Noel Alexander kira2 pada mau baca gak ya?😬😬 sang psikopat tampan, eaaa eaaa. Dengan genre yg agak ngeri2 sedep ini mah jadinya 😁😁


Dan untuk kisah Nathan, rencananya juga akan kubuat, dengan judul "My Culun CEO"


Waah kira2 siapa ya cewek2 yg ada di dekat Nathan nanti ya?


Mohon dukungan untuk karya receh satu ini ya genks, karena kalian adalah semangatku πŸ’œπŸ’œ