
Satu minggu kemudian,
Pagi ini Lian berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal makanan yang akan ia bawa ke kantor. Ia sengaja menyiapkan semuanya khusus untuk Julian.
"Lho? Apa yang kau lakukan, Nak? Kau bisa meminta ibu untuk memasak."
Lusi menghampiri Lian yang nampak sibuk di dapur.
"Tidak apa, Ibu. Lagipula kalian pasti lelah setelah berjualan di pasar tadi. Sebaiknya ayah dan ibu sarapan dulu. Aku sudah memasak untuk kalian juga."
"Baiknya putri Ayah ini!" Lono mengusap puncak kepala Lian.
"Itu untuk Nak Julian?" tanya Lusi penasaran.
"Iya, Bu. Aku yakin akhir-akhir ini Kak Jul tidak makan dengan baik. Dia sangat sibuk karena akan meluncurkan produk baru." jelas Lian.
Lusi mendengarkan dengan seksama cerita Lian kemudian memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu!" Pamit Lian pada kedua orang tuanya.
"Kau tidak makan sekalian, Nak?" Tanya sang ayah yang sangat menyayangi putrinya.
"Aku makan di kantor saja. Lagipula aku sudah terlambat."
Lian segera bergegas keluar dan memanggil taksi.
"Aku harus datang lebih dulu dari pada Kak Julian. Jangan sampai rencanaku berantakan." Batin Lian.
Tiba di kantor, Lian segera bergegas menuju ke ruangan Julian. Lian tak melihat sosok Julian ada di dalam ruangannya. Ia pun bertanya pada sekretaris Julian.
"Permisi, Nora. Apa Kak Julian sudah datang?"
"Belum, Nona. Tuan Julian belum datang."
"Umm, apa aku boleh menunggu di dalam? Aku membawakan sesuatu untuk Kak Julian." Lian tersenyum manis.
Tentu saja sekretaris Julian tak kuasa menolak. Semua orang tahu jika Julian dan Lian memiliki hubungan spesial.
"Silakan, Nona!"
Lian pun bergegas masuk. Ia segera menuju ke meja kerja Julian.
Lian mencari berkas yang dikiranya mencurigakan. Lalu Lian juga menghidupkan komputer Julian.
Beberapa folder terlihat mencurigakan. Lian berniat menyalin datanya. Namun ternyata folder itu menggunakan kata sandi.
"Aduh! Apa kata sandinya?" Lian menggigit kuku jarinya sambil berpikir.
"Atau jangan-jangan..."
Lian mengetikkan sesuatu. Ia tersenyum sumringah karena ternyata ia berhasil membobol kata sandi Julian. Tanpa menunggu lama lagi, Lian segera menyalin data yang ada disana.
Terdengar langkah kaki mendekat dan sayup-sayup suara dua orang sedang berbincang.
"Gawat! Kak Kulian sudah tiba. Aku harus bergegas!"
Lian membereskan semuanya dan segera memposisikan diri menyambut Julian.
Julian terkejut karena melihat Lian ada di ruangannya.
"Selamat pagi, Kak." Sapa Lian ramah.
"Pagi. Ada perlu apa kau datang sepagi ini?"
"Aku membawakan bekal makanan untuk Kakak. Apa kakak sudah sarapan?" Tanya Lian.
"Sebenarnya aku sudah makan. Tapi, karena kau sudah membawakannya maka..."
"Tidak perlu di paksakan, Kak. Kakak bisa memakannya saat makan siang nanti."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih, Lian."
"Akhir-akhir ini kakak kurang memperhatikan pola makan kakak karena kita akan meluncurkan produk baru, jadi aku berinisiatif untuk membawakan bekal untuk kakak. Apa aku terlalu berlebihan?"
"Sama sekali tidak. Aku bahkan sangat menyukainya. Apa kau bisa melakukannya setiap hari?"
Lian tersenyum. "Tentu. Aku akan membuatkan bekal untuk kakak setiap hari."
"Terima kasih."
"Kalau begitu, aku akan kembali ke ruanganku."
Julian mengangguk. Saat berjalan keluar dari ruangan Julian, Lian tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa Lian sadari sepasang netra milik Noel tak sengaja menangkap bayangan Lian yang baru keluar dari ruangan Julian.
"Nona Lian? Apa yang dia lakukan di ruangan Tuan Julian sepagi ini?" Tanya Noel dalam hati.
Sementara itu di rumah sakit Avicenna, Roy masih berkutat dengan pekerjaan otopsinya bersama dengan Esther. Roy menjadi pembimbing Esther yang masih baru di rumah sakit. Meskipun Esther sendiri sudah memiliki pengalaman di bidang ini.
Setelah insiden beberapa waktu lalu, Roy bahkan tidak meminta maaf pada Esther karena sudah menurunkannya di pinggir jalan. Esther geram dengan sikap Roy yang masih cuek terhadapnya.
"Roy! Apa tidak ada yang ingin kau bicarakan denganku? Sejak kejadian waktu itu..." Esther membuka perbincangan di sela-sela otopsi.
"Maaf, Esther. Kita masih berada di jam kerja. Jadi, sebaiknya jangan membahas masalah pribadi." Jawab Roy tegas.
Esther berdecak kesal. Roy yang dulu dengan mudahnya terpikat dengan pesona seorang Zara, kini terasa tak terjangkau.
Usai otopsi selesai, Roy membersihkan diri kemudian merebahkan tubuhnya di sofa ruangannya. Ia memejamkan mata dan tertidur sejenak.
Ketika Roy membuka mata, ia melihat Esther sudah ada di ruang kerjanya. Roy terbelalak.
"Kau?! Apa yang kau lakukan di ruanganku? Siapa yang mengijinkanmu masuk?"
"Roy! Kaku sekali! Ini sudah waktunya jam pulang. Aku ingin mengajakmu pulang bersama. Itu saja!"
Roy mengusap wajahnya.
"Sepertinya kau sangat kelelahan. Kau juga hidup sendiri. Kau ... butuh seorang wanita untuk melengkapi hidupmu, Roy."
Roy menautkan alisnya. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu ini aneh. Tapi ... kurasa aku menyukaimu, Roy."
"Hah?!" Roy membulatkan mata.
.
.
.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Kak." Ucap Lian tiba di depan halaman rumahnya.
"Iya. Jangan sungkan. Bukankah kau juga selalu kurepotkan?"
"He he." Lian menggaruk tengkuknya.
"Masuklah!"
Lian mengangguk. Kemudian berjalan membelakangi Julian.
Setelah tak melihat punggung Lian, Julian membalikkan badan dan bersiap pergi.
"Tunggu, Nak Julian!"
Suara Lusi membuat Julian kembali berbalik badan.
"Bibi?"
"Maaf mengganggu. Ada yang ingin aku sampaikan pada Nak Julian."
"Apa itu, Bi?"
"Ini!" Lusi menyerahkan sebuah map pada Julian.
"Ini adalah proposal milik ayah Lian. Rencananya kami ingin mematenkan produk kami. Aku minta tolong pada Nak Julian. Pasti Ar-Rayyan Grup bisa membantu kami untuk mengembangkan produk kami ini."
"Oh, begitu. Tentu saja, Bi. Aku akan mempelajarinya lebih dulu. Jika ada hal penting, aku akan menghubungi kalian."
"Tapi, tolong jangan beritahu soal masalah ini." pinta Lusi.
"Baiklah, Bi. Kalau begitu aku permisi dulu."
"Ah iya, Nak. Hati-hati di jalan."
Lusi melambaikan tangan melepas kepergian Julian diiringi senyum kebahagiaan.
Keesokan harinya di Ar-Rayyan Grup, Julian sangat sibuk selama beberapa hari kedepan. Peluncuran produk kali melibatkan perusahaan lain jadi, ini adalah proyek besar.
"Oh, Noel. Aku ingin berdiskusi denganmu tentang proposal yang diajukan oleh ayahnya Lian. Tapi, kita sangat sibuk akhir-akhir ini. Jadi, aku akan diskusikan jika sudah senggang saja." Julian menunjukkan map pemberian Lusi pada Noel lalu meletakkannya diatas meja kerjanya.
Noel hanya mengangguk kemudian bersama Julian pergi ke pertemuan.
"Ayah Nona Lian? Apa maksudnya ini?Jadi, Nona Lian sengaja mendekati Tuan Julian karena ada maksud tertentu?" Batin Noel.
Noel yang penasaran dengan proposal yang diajukan oleh ayah Lian, akhirnya mengendap-endap ke ruang kerja Julian.
"Aku ingat dia menaruhnya diatas meja," gumam Noel.
Noel mengacak berkas di atas meja Julian. Membaca satu persatu apa yang ada disana.
Mata Noel berbinar. "Ini dia!" Noel tersenyum menyeringai.
"Kurasa ini bisa kujadikan boomerang untuk mereka berdua. Setelah ini hubungan mereka tidak akan sedekat dulu lagi. Aku yakin itu!"
...B E R S A M B U N G...
"Waaah , babang Noel jahara nih! Hmm, apa yang akan dia lakukan ya? Lalu, Esther? Kira2 apa yang dilakukan Roy untuk menguak identitas asli Esther?"