Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 52. Putri Berlian is Back!


"Zara? Apa yang dia lakukan disini?" gumam Roy dalam hati.


"Mom, kenapa ada Zara disini?" tanya Roy.


"Kenapa? Selama bertahun-tahun Zara sudah seperti anggota keluarga ini, bukan? Ayah, tidak apa 'kan Zara ikut bergabung makan malam disini? Dia kini hidup sebatang kara. Bahkan Julian hanya memberikannya rumah yang kecil untuk Zara tinggali." Helena berkata selembut mungkin di depan ayah mertuanya.


"Jika Belinda tidak keberatan maka aku juga tidak keberatan." balas Donald.


"Eh?" Belinda tertegun karena harus memutuskan tentang keberadaan Zara.


"Ayah! Wanita ini bahkan belum resmi menjadi istri Roy. Kenapa ayah memintanya mengambil keputusan?" Helena mulai geram.


"Silahkan, Belinda. Putuskanlah!" Donald tidak menggubris Helena dan tetap bertanya pada Belinda.


"Tidak apa, Kakek. Lagipula, Nona Zara dan Dokter Roy bukankah sudah menjadi teman sejak dulu?" jawab Belinda.


Zara mengepalkan tangannya. "Teman katanya? Dasar wanita ja'lang tidak tahu diri. Awas saja kau!" sungut Zara dalam hati.


Makan malam pun berlangsung. Semua orang menikmati sajian yang tersedia.


"Roy, Mommy menyiapkan makanan kesukaan kamu. Mommy dan Zara yang memasaknya sendiri khusus untukmu." Helena menyendok steak ikan salmon ke piring Roy.


Belinda hanya memperhatikan apa yang dilakukan Helena.


"Dan kamu!" Helena menunjuk Belinda.


"Apa kamu tahu makanan apa saja yang disukai Roy dan tidak dia suka? Kamu bilang kamu adalah calon istrinya. Hal-hal seperti ini harusnya kamu ketahui. Jangan hanya menginginkan harta milik Roy saja."


BRAKK!!


Donald menggebrak meja makan.


"Jangan berdebat di depan makanan. Aku mengundang Belinda kesini karena dia akan segera menjadi bagian dari keluarga kita. Bersikaplah yang baik didepannya!" geram Donald.


"Maaf, ayah. Aku hanya mengingatkannya jika dia harus bisa menjadi istri yang baik untuk Roy." bela Helena.


"Tidak apa, Kakek. Yang Mommy katakan memang benar." Belinda ikut menjawab.


Dan perdebatanpun akhirnya terhenti. Helena menatap tak suka kearah Belinda begitu juga dengan Zara.


Usai makan malam, anggota keluarga berkumpul di sebuah ruang keluarga yang cukup luas, sementara para wanita menyiapkan jamuan teh untuk teman mengobrol. Seperti biasa Boy bermain bersama Mike.


"Kakek, apa kakek tidak mengundang Kak Julian?" tanya Roy.


"Tidak, Nak. Kakakmu itu sangatlah sibuk dengan perusahaannya."


"Tapi, apa kakek tahu kenapa Kakek Gerald memberikan perusahaan pada Kak Julian?"


"Entahlah. Kakek juga tidak tahu."


Helena datang dengan membawa berbagai macam camilan dibantu Zara dan Belinda. Helena menata teh untuk para pria yang duduk disana. Sementara Belinda dan Zara kembali ke dapur.


Belinda menyiapkan cangkir teh dan juga gula. Sedangkan Zara hanya memperhatikannya saja.


"Berani sekali kau datang ke rumah ini, huh!" Zara tak ingin berbasa basi lagi didepan Belinda.


"Harusnya aku yang bicara begitu padamu. Kau bahkan tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Mas Roy." Belinda memilih berhadapan langsung dengan Zara. Sedari tadi ia sudah geram dengan sikap Zara.


"Mas Roy? Panggilan macam apa itu? Dengar ya! Aku sudah mengenal Roy selama bertahun-tahun. Jadi aku tahu meski sekarang Roy memilihmu, tapi aku yakin jika Roy pasti akan kembali padaku!"


"Jangan mimpi! Aku dan Mas Roy bahkan memiliki hal yang tidak kau miliki. Kami memiliki Boy!" tegas Belinda.


"Dasar ja'lang! Kurasa kau sama saja dengan pemilik nama sebelummu yang juga seorang ja'lang!"


Zara mengangkat tangannya dan hendak menampar Belinda. Namun dengan sigap Belinda memegangi tangan Zara dengan cukup kuat.


"Namaku bukan Belinda. Namaku adalah Putri Berlian. Aku memang gadis desa yang miskin dan tak punya apapun. Tapi aku tidak bisa membiarkan kau terus menghinaku dan juga pemilik nama Belinda yang telah tiada."


Berlian mendorong tangan Zara kasar hingga tubuh Zara hampir terjatuh. Putri Berlian telah kembali. Kini ia berani mengambil sikap jika ada yang berbuat tak adil padanya. Ia merasa sudah mendapat dukungan dari Roy dan juga Donald.


Donald Avicenna? Ya, benar. Beberapa hari lalu, Donald mendatangi Berlian dan bicara empat mata dengannya.


Saat itu, Berlian tidak tahu jika yang mendatanginya adalah Donald Avicenna, kakek Roy.


"Halo, Belinda. Aku Donald Avicenna. Kakek Roy dan juga kakek buyut Boy, putramu. Kita pernah bertemu kurang lebih tujuh tahun silam saat kau mengikuti proyek rahasia milik Gerald, sahabatku."


Belinda mengangguk paham.


Belinda hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Donald.


"Cucuku, Roy. Dia sudah mengutarakan niatnya untuk berkumpul bersama denganmu dan juga Boy. Dengan begitu maka ... kalian harus meresmikan hubungan kalian dalam ikatan pernikahan."


"Apa Tuan menyetujui hubungan kami?" tanya Belinda pada akhirnya.


"Tentu saja aku menyetujuinya. Aku yang harusnya meminta maaf padamu karena keluarga kami sudah banyak menorehkan luka padamu dan juga keluargamu. Atas nama keluarga Avicenna, aku meminta maaf padamu."


Belinda terenyuh dengan permintaan maaf Donald. Pria tua yang berkuasa ini memohon maaf pada wanita biasa seperti Belinda.


"Meski rasanya sulit, tapi saya mencoba berdamai dengan masa lalu saya. Saya mencintai Dokter Roy, Tuan. Terima kasih karena Tuan bersedia menerima saya dan anak saya."


"Jangan memanggilku 'tuan'. Panggil saja kakek."


Belinda mengangguk.


"Lalu untuk masalah hilangnya kedua orang tuamu. Aku janji akan membantumu untuk menemukan mereka. Bersabarlah! Kita pasti bisa menemukan mereka."


"Terima kasih, Kakek."


Kepercayaan diri Belinda meningkat setelah mendapatkan dukungan dari Donald dan juga Roy. Kini Dandy juga nampaknya berpihak padanya.


PRANG!!!


Zara sengaja menyenggol cangkir teh yang harusnya dihidangkan untuk anggota keluarga.


"Aw!!" Zara memekik kesakitan.


Belinda menyilangkan tangannya melihat tingkah Zara yang kekanakan.


"Apa begini caramu untuk mendapatkan perhatian keluarga ini? Menjijikan sekali!"


"Tidak! Jangan lakukan itu, Belinda!" Seru Zara yang akhirnya memancing keingintahuan para anggota keluarga.


"Ada apa ini?" Tanya Helena yang melihat Zara tersungkur di lantai dengan pecahan gelas disampingnya.


"Kau! Apa yang sudah kau lakukan pada Zara?" Helena hendak maju dan memukul wajah Belinda.


"Hentikan!" Donald menghentikan aksi Helena.


"Zara, bangunlah, Nak. Kau tidak perlu berpura-pura seperti ini. Apa kau kini menurunkan harga dirimu hanya karena ingin diakui oleh keluarga ini?" ucap Donald.


"Ayah, wanita ini pasti sudah mencelakai Zara." Helena masih tak mau kalah.


"Cukup, Helena! Aku yakin Belinda tidak menyakiti Zara. Roy, cepat kau antar Belinda dan Boy pulang." titah Donald.


"Baik, Kakek." Roy segera membawa Belinda dari area dapur.


Roy menggendong tubuh Boy yang ternyata sudah terlelap karena kelelahan bermain bersama Mike. Roy merebahkan tubuh kecil Boy di kursi belakang.


Selama perjalanan pulang, Belinda hanya terdiam karena melihat Roy juga terdiam. Belinda takut jika Roy berpikiran sama seperti ibunya.


"Mas, aku benar-benar tidak melakukan apapun pada Zara," ucap Belinda memecahkan keheningan.


"Kamu panggil aku apa tadi?" tanya Roy.


"Eh? Aku panggil 'mas'. Kenapa? Tidak cocok ya?"


"Tidak, aku suka kok." Roy tersenyum dan meraih tangan kanan Belinda kemudian mencium punggung tangannya.


"Aku percaya padamu, Bels. Aku yakin Zara hanya ingin mencari perhatian. Kuharap kamu bersabar menghadapi Mommy dan Zara."


"Iya, aku mengerti. Dia sudah bertahun-tahun mengenal keluargamu, sedangkan aku baru saja masuk kesana." balas Belinda dengan menunduk.


"Jangan berkecil hati, Berlian. Kita akan menghadapinya bersama," ucap Roy meyakinkan Belinda.


"Benar. Namaku adalah Putri Berlian. Aku akan kembali menjadi Lian."


Sejurus kemudian, Roy dan Berlian tersenyum bersama. Kisah yang panjang akan mereka ukir mulai dari sekarang.


......***......


#bersambung


"Baiklah, karena Berlian sudah kembali. kisah mereka pun akan dimulai dan mulai berliku. Apa kalian siap mengikuti cerita mereka? 😎😎"