Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 44. Cerita dari Gerald


Perhatian : Part ini mengandung bombay, mohon siapkan tisu atau kanebo kering. Terima kasih.


......***......


Belinda terbangun dari tidurnya kala mendengar seseorang masuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama Gerald. Meski satu ruangan namun disana ada beberapa brankar yang dibatasi dengan tirai. Setiap hari ada pelayan yang mengantarkan makanan dan juga pakaian untuk Belinda dan Gerald. Persis seperti pasien di rumah sakit, Belinda memakai setelan piyama yang biasanya dipakai pasin rumah sakit.


Seperti biasa Belinda mencoba mengejar pelayan yang mengantar makanan untuk mereka, namun sepertinya mereka sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Sehingga saat Belinda terbangun, pelayan itu sudah keluar dari ruangan.


"Ah, sial! Aku terlambat lagi! Sepertinya mereka memang sudah merencanakan semua ini. Mereka datang disaat aku masih terlelap. Mereka pasti memasang CCTV di kamar ini." Belinda mengedarkan pandangan mencari keberadaan kamera pengawas yang pasti terpasang disana.


"Hmm, aneh? Kenapa tidak terlihat ya? Pasti mereka menyembunyikan kamera pengawasnya dengan sangat baik. Makanya aku tak bisa menemukannya."


Belinda mendengar suara batuk dari arah brankar Gerald. Ia segera menghampirinya dan memeriksa kondisi Gerald.


"Profesor!" Belinda segera mengambil air minum untuk Gerald. Ia merawat Gerald seperti kakeknya sendiri.


"Terima kasih, Nak." ucap Gerald.


"Profesor, makan dulu ya! Setelah itu minum obat. Profesor harus sembuh. Banyak orang yang menanti kehadiran Profesor."


Belinda dengan telaten menyuapi Gerald hingga membuatnya terharu.


"Terima kasih, Nak."


"Jangan berterimakasih. Bukankah kita harus saling tolong menolong." jawab Belinda sambil mengulas senyumnya.


Tangan Gerald terulur mengusap puncak kepala Belinda.


"Kau adalah gadis yang baik. Tapi kami sudah sangat jahat padamu."


Belinda terdiam. Ia memang masih menyimpan kekesalan di hatinya karena ulah keluarga Avicenna dan juga Gerald. Namun melihat kondisi Gerald yang tak berdaya, membuatnya tak tega untuk menyakitinya. Selama ini pasti Gerald juga sangat menderita karena dikurung di tempat seperti ini.


Setelah semua makanan telah tandas, Belinda mengambil obat dan meminumkannya pada Gerald. Belinda tahu jika saat ini Gerald dalam keadaan sakit yang cukup parah.


Belinda mengatur posisi brankar agar lebih nyaman dibuat bersandar oleh Gerald. Gerald mengatur nafasnya yang tersengal.


"Sebenarnya siapa yang melakukan semua ini pada Profesor?" kata-kata itu sangat ingin Belinda tanyakan. Tapi rasanya bibirnya tak mampu bicara. Ia akan memberi kesempatan pada Gerald untuk mengatakannya sendiri.


Belinda menatap Gerald yang sedang menerawang jauh ke depan.


"Maaf..."


Satu kata berhasil lolos dari bibir Gerald. Belinda hanya mendengarkan apa yang ingin Gerald katakan.


"Maaf karena kami sudah membuat luka yang dalam untukmu, Nak." mata Gerald berkaca-kaca.


"Sebenarnya, aku melakukan proyek rahasia itu secara tidak sengaja. Aku hanya ingin menguji kemampuanku dalam hal medis. Dan membuktikan jika kita membuat manusia dari benih yang unggul, maka akan didapatkan manusia yang unggul pula."


Belinda nampak terdiam mendengar setiap kata dari Gerald.


"Saat itu aku menguji coba kecerdasan yang dimiliki Roy. Ternyata hasilnya luar biasa. Sejak kecil Roy dan kakaknya memang memiliki kecerdasan yang luar biasa."


"Kakak? Jadi dokter Roy memiliki seorang kakak?" batin Belinda bertanya-tanya.


"Aku penasaran apakah kita bisa membuat kecerdasan buatan yang didapat dari benih orang-orang genius ini. Aku ingin menguji coba keduanya, tapi..." Gerald menjeda kalimatnya.


"Tapi kakak Roy memutuskan pergi dari rumah dan tak pernah kembali hingga sekarang."


Belinda menganguk-anggukkan kepalanya.


"Aku pikir aku tidak akan bisa melakukan proyek ini karena dunia kedokteran dan pemerintah menentangku. Karena ini akan memiliki dampak buruk pada wanita yang menjadi ibu pengganti dari calon benih genius ini."


Belinda memalingkan wajahnya kala mengingat kesakitannya beberapa tahun silam.


"Namun ternyata takdir berkata lain. Donald Avicenna, sahabatku, mendatangiku dan berkata jika aku harus tetap melanjutkan proyek ini."


Belinda membulatkan mata.


"Ia bercerita jika... Jika ia harus memiliki pewaris pengganti yang harus lahir setelah Roy."


"Memangnya kenapa dengan dokter Roy? Bukankah dia sudah menjadi pewaris untuk Tuan Donald?" tanya Belinda.


Gerald tersenyum getir. "Aku tidak ingin membohongimu soal ini, tapi... Ada kalanya ada hal yang tak bisa diceritakan, Nak."


"Tolong katakan padaku, Profesor!" pinta Belinda.


Gerald menatap Belinda yang nampak penuh harap.


Gerald menghela nafas. "Roy divonis tidak bisa memiliki keturunan."


"Apa?! Bagaimana bisa?"


"Hanya itu yang aku tahu, Nak." Nafas Gerald mulai tersengal.


"Lalu, apa Profesor tahu dimana orang tuaku? Siapa yang sudah mengusir penduduk desa tempat aku tinggal?"


Gerald menggeleng. "Tidak, Nak. Aku tidak tahu soal itu."


"Pasti ada orang lain yang tahu soal proyek ini. Katakan padaku siapa yang sudah mengurung profesor disini? Aku yakin profesor pasti tahu siapa orangnya."


Gerald menatap Belinda dengan tatapan iba.


"Maafkan aku, Nak!" Gerald menangkupkan kedua tangannya dan memohon ampun pada Belinda.


Belinda pun tak kuasa menahan tangisnya. Kini air mata sudah membanjiri mata dan wajahnya. Sungguh ia ingin mengumpati orang-orang yang sudah melakukan semua ini padanya. Namun melihat kondisi Gerald yang tidak baik, membuat Belinda merasa teriris. Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan.


"Aku tahu Patrick Hensen pasti akan menjagamu dengan baik. Dia akan menjagamu dan juga anakmu..."


"Dari mana profesor mengenal Patrick?"


"Dia sudah seperti cucuku sendiri." Nafas Gerald kembali tersengal.


"Profesor! Apa yang terjadi?" Belinda panik dan berusaha membantu Gerald.


"Tolong maafkan aku, Nak."


"Iya, aku sudah memaafkan profesor. Profesor tenanglah! Aku akan mencari bantuan."


Belinda segera berlari kearah pintu dan menggedornya.


"Tolong!!! Buka pintunya! Profesor Gerald butuh bantuan! Dia sekarat! Tolong!!!" teriak Belinda.


Berkali-kali Belinda menggedor pintu namun tak ada respon dari luar ruangan. Ia pun kini sudah menangis meraung-raung melihat kondisi Gerald yang bertambah parah.


"Profesor, bertahanlah! Profesor harus kuat!" ucap Belinda di tengah tangisnya.


"Aku berdoa semoga kau hidup bahagia, Nak. Kau harus hidup bahagia..."


Hanya itu kata-kata terakhir Gerald sebelum memejamkan mata.


"Tidak!!! Profesor!! Bangun!! Tidak!!!" Belinda mengguncang tubuh Gerald yang mulai kaku.


Belinda kembali menggedor pintu dan meminta bantuan. Kondisinya sendiri sudah kacau dengan deraian air mata.


Belinda terduduk lemas di lantai. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana lagi menolong Gerald.


Tak lama, akhirnya beberapa orang membuka pintu dan langsung menghampiri Gerald yang terbujur kaku. Mereka memeriksa kondisi Gerald yang ternyata sudah tak bernyawa.


Tubuh Belinda melemas saat mendengar pernyataan orang-orang itu. Tubuh Gerald langsung mereka bawa.


Belinda bangkit dan menghampiri mereka.


"Mau dibawa kemana tubuh Profesor Gerald? Tidak!!! Kalian tidak boleh membawanya! Cepat panggil ambulans saja! Panggil dokter!" teriak Belinda sambil memegangi tubuh kaku Gerald.


Orang-orang itu yang merasa jika Belinda sangatlah mengganggu akhirnya memegangi tubuh Belinda. Ia meronta meminta dilepaskan. Ia yakin jika mereka akan melakukan sesuatu pada jasad Gerald.


"Tidak!!! Berhenti kalian!!!" teriak Belinda sambil terus berontak.


Setelah tubuh Gerald dibawa keluar, mereka melepaskan cengkeraman pada Belinda dan menghempaskannya ke lantai hingga ia tersungkur di lantai. Mereka meninggalkan Belinda begitu saja.


......***......


Belinda masih terdiam di posisinya dengan pandangan yang kosong saat Roy dan beberapa orang dari kepolisian menemukannya. Roy memegangi kedua bahu Belinda dan mengguncangnya pelan.


"Bels, ini aku! Bels!!!" panggil Roy yang tak mendapat respon dari Belinda.


Roy segera membawa tubuh lemah itu dalam dekapannya.


"Semua sudah berakhir, Bels. Semua sudah berakhir. Aku ada disini! Jangan takut lagi!"


Roy mengecup berkali-kali puncak kepala Belinda namun Belinda tetap tak merespon. Roy segera membawa Belinda keluar dari tempat itu dan membawanya ke apartemen.


Selama perjalanan, Roy terus mendekap tubuh Belinda yang kaku dan seakan tak bernyawa. Tatapan matanya pun masih kosong dan tak merespon apapun dari orang-orang di sekelilingnya.


Roy amat cemas melihat kondisi Belinda.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Bels. Kumohon sadarlah! Ada aku disini! Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi." gumam Roy dalam hati.


Sementara itu, Patrick yang duduk dibalik kemudi hanya bisa menatap sekilas dari kaca spion. Ia tersenyum getir melihat Roy yang amat mencintai Belinda.


"Mungkin kita memang tidak di takdirkan bersama, Bels. Semoga Roy bisa membuatmu bahagia. Aku berjanji akan memastikan Roy hidup lebih lama dan membuatmu bahagia sepanjang hidupmu." janji Patrick dalam hatinya.


......***......


#bersambung


"😭😭😭 emak mewek 😭😭😭"


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE


...THANK YOU...


Belinda versi Mak Thor