
Zara mendengus kesal usai mendapat tamu tak diundang yaitu Roy, mantan tunangannya. Sebenarnya ia tak ingin bersikap buruk pada Roy. Sesungguhnya hatinya masih menyimpan nama Roy. Tapi karena Roy membahas soal kematian kakeknya, ia tak bisa membiarkan Roy bersikap melunjak.
"Tuan Roy sudah pergi, Nona." lapor seorang pengawal Zara.
"Baguslah! Kalian jaga dengan ketat rumah ini. Aku tidak mau orang-orang yang tak kuinginkan datang kemari."
"Baik, Nona." Pengawal itu memberi hormat kemudian meninggalkan Zara.
Zara berdiri mematung sambil memikirkan cara untuk membuat Roy tidak terus-terusan menaruh curiga padanya. Dan memang kematian kakeknya adalah murni karena penyakit yang sudah lama di deritanya.
Saat sedang bergelut dengan pikirannya, Zara kembali dikejutkan dengan kedatangan salah seorang pelayannya.
"Maaf, Nona. Ada pengacara Tuan Gerald datang." ucap si pelayan.
"Pengacara kakek?" wajah Zara langsung memancarkan keceriaan.
Zara langsung bergegas menemui sang pengacara tanpa mau menunggu waktu lagi.
"Selamat siang, Nona Zara." sapa si pengacara.
"Selamat siang, Tuan...?"
"Daniel Hazar. Panggil saja Daniel." mereka pun saling berjabat tangan.
"Silahkan duduk, Tuan Daniel." ucap Zara sopan.
"Jangan panggil 'tuan'. Panggil saja Daniel."
"Ah, begitu. Baiklah, Daniel. Omong-omong ada perlu anda datang kemari?"
"Begini, Nona. Ini terkait dengan ... Surat wasiat yang ditinggalkan Tuan Gerald. Beliau pernah meminta saya untuk mengesahkan surat wasiat yang beliau tulis."
Zara mendengarkan dengan seksama.
"Lalu, apa wasiat kakek saya, Daniel?" Zara nampak antusias.
"Masalah itu ... Akan kita bicarakan besok di gedung Ar-Rayyan Grup."
"Eh? Kenapa begitu?"
"Karena ini berkaitan dengan jatuhnya Ar-Rayyan Grup pada pewaris selanjutnya. Untuk itu saya kemari untuk memberitahukan itu."
"Kenapa harus besok? Bukankah saya adalah pewaris tunggal Ar-Rayyan Grup?"
Daniel tersenyum penuh arti. "Kita lihat saja besok, Nona. Karena sesuai dengan amanat yang diinginkan Tuan Gerald. Pembacaan surat wasiat dilakukan setelah beliau meninggal selama 3 hari."
Zara memutar bola matanya malas.
"Baiklah, aku mengerti. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, silahkan keluar!" kini Zara berubah menjadi Zara yang tak memakai topeng.
"Baiklah, Nona. Kalau begitu, saya permisi." pamit Daniel.
"Hmm." Zara hanya membalas dengan dehaman.
Daniel kembali kedalam mobilnya dan mendesah pelan.
"Bagaimana bisa wanita berhati busuk seperti dia akan mewarisi seluruh harta Ar-Rayyan Grup?" gumam Daniel sebelum akhirnya melajukan mobilnya.
......***......
Hari ini Zara bersiap untuk datang ke Ar-Rayyan Grup. Selama ini ia jarang datang kesana karena menurutnya bukan bidangnya berada di dunia bisnis. Zara merasa jika dunianya adalah bersama Roy di dunia medis. Saat itu hanya tentang Roy yang dia pikirkan.
Namun kini semua telah usai dan tinggalah Zara di landa dendam dan kebencian.
Kedatangan Zara disambut oleh anak buah Gerald. Bahkan mereka sedikit heran karena selama ini Zara jarang menginjakkan kakinya di gedung ini. Beberapa diantara mereka ada yang berbisik dan bergosip.
"Jangan-jangan Nona Zara akan menggantikan kakeknya untuk memimpin Ar-Rayyan Grup?"
"Iya, benar juga. Tapi lihatlah dia! Dia sama sekali tidak pantas menggantikan posisi kakeknya."
"Kudengar hubungannya dengan Dokter Roy sudah berakhir."
"Oh ya? Ini pasti karena sifat buruknya itu. Makanya dokter Roy sampai meninggalkan dia."
Dan berbagai macam bisik-bisik yang dilakukan oleh orang-orang disana, sama sekali tidak menyurutkan langkah Zara untuk terus melangkah.
"Terserah saja kalian mau bilang apa. Tapi yang jelas, aku akan tetap menjadi bos kalian setelah ini." seringai menyeramkan Zara ketika mengingat tentang surat wasiat kakeknya. Ia sangat yakin jika kakek pasti memilihnya.
Tiba di ruangan Gerald, Zara di sambut oleh Daniel yang sudah lebih dulu datang.
"Silahkan duduk, Nona." ucap Daniel.
"Terima kasih." Zara mengedarkan pandangan menyusuri ruangan kakeknya yang tak banyak berubah.
"Hmm, teh saja."
"Baiklah." Daniel memerintahkan seorang office girl untuk membuatkan teh.
Tak lama teh sudah tersedia di meja.
"Nona, silahkan diminum dulu tehnya."
"Berhenti bersikap basa-basi denganku! Cepat bacakan wasiat kakek Gerald!"
Daniel tersenyum. "Maaf, Nona. Tapi kita masih menunggu satu orang lagi."
"Hah?! Apa? Siapa?" tanya Zara dengan membulatkan mata.
Munculah sosok yang mereka tunggu. Ia berjalan tegap menghampiri Zara dan Daniel.
Zara amat terkejut melihat siapa yang datang.
"Julian? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Zara was-was.
"Kenapa? Daniel yang mengundangku datang kemari." jawab Patrick enteng.
"Apa?!! Ada apa ini sebenarnya?!" Zara mulai tak sabar membongkar teka teki ini.
"Tenanglah, Nona. Saya akan mulai bacakan surat wasiat dari Tuan Gerald Rayyan." ucap Daniel.
Daniel membacakan isi surat wasiat Gerald yang membuat Zara mengepalkan tangannya.
"Dan dengan ini maka, saya menyerahkan kepemimpinan Ar-Rayyan Grup kepada saudara Julian Patrick Avicenna. Sekian dan terima kasih."
BRAKK!!!
Zara menggebrak meja. "Apa-apaan ini?! Kau ingin mengerjaiku, huh?!"
"Nona, tolong tenangkan diri Nona. Semua yang saya bacakan adalah benar. Itulah isi surat wasiat Tuan Gerald Rayyan." terang Daniel.
"Omong kosong macam apa ini?! Bagaimana bisa kakek menyerahkan semua hartanya pada orang asing?!"
"Aku bukanlah orang asing, Zara." kini Patrick mulai bersuara. "Sejak kecil, Kakek Gerald sudah kuanggap seperti kakekku sendiri. Kau yang tidak pernah menyayangi kakekmu sendiri. Kau selalu melakukan apapun yang kau sukai dan membantah kakekmu."
"Tidaaaaakkk!!!! Ini tidak mungkin!!!" Zara merebut kertas wasiat kakeknya dan membaca kembali apa yang sudah dibacakan Daniel.
Zara merobek kertas itu. Zara sudah tidak terkontrol lagi.
"Meski nona merobeknya, yang asli masih saya simpan, Nona." terang Daniel.
"Hah?!"
"Sebaiknya nona tenang. Jika tidak, saya akan panggilkan security untuk mengeluarkan anda dari sini."
Zara mulai mengatur nafasnya. "Tolong jelaskan padaku kenapa Julian yang dipilih kakek untuk memimpin Ar-Rayyan Grup? Aku adalah cucu kakek. Kenapa kakek memilih orang lain?"
"Nona Zara. Apapun yang jadi keputusan Tuan Gerald, saya harap Nona bisa menerimanya."
Zara tersenyum seringai. "Tidak! Aku tidak akan menerimanya. Julian! Kau lihat saja. Aku akan menghancurkanmu!!!" ucap Zara sambil mengangkat jari telunjuknya kearah Patrick kemudian ia berlalu dari ruangan Gerald.
Patrick hanya menggeleng pelan dengan sikap Zara.
"Maafkan atas sikap Zara, Daniel. Sejak kecil kakek selalu memanjakannya, jadi beranjak dewasa sikapnya sangat sulit ditebak."
"Tidak apa, Tuan. Saya sudah terbiasa menghadapi klien yang berbeda-beda tiap harinya. Omong-omong, selamat ya atas terpilihnya Anda menjadi pimpinan Ar-Rayyan Grup selanjutnya. Setelah ini, saya akan menyiapkan acara pengangkatan untuk Tuan Julian."
"Terima kasih, Daniel. Aku sangat membutuhkan bantuanmu." Patrick berjabat tangan dengan Daniel.
"Terima kasih kembali, Tuan Julian. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Daniel.
Patrick hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Ia tersenyum penuh arti memandangi seluruh sudut ruangan Gerald.
"Akhirnya aku ada di titik ini juga. Bersiaplah! Satu persatu akan kuhancurkan kalian!" gumam Patrick dengan seringai yang tak pernah diperlihatkannya pada siapapun.
......***......
#bersambung
"Hmm, misteri apa yg dibawa oleh Patrick?"
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan ππππ
Yuk ramaikan lapak ini dengan VOTE berjamaah. Agar mak thor lebih semangat ngehalunya ππππ