
Siang ini Marinka sudah bersiap untuk pergi. Ia memiliki rencana untuk putra bungsunya itu. Ia menghampiri Rion yang masih bermalas-malasan di kamarnya.
"Astaga! Kau ini sudah bukan anak kecil lagi! Apa ibumu ini harus selalu membangunkanmu, huh?!" sungut Marinka yang melihat Rion masih bergelung diatas tempat tidur.
Marinka menggoyang-goyang tubuh Rion.
"Bangun! Dan cepat bersihkan dirimu lalu antarkan ibu!"
"Duh, ibu! Ibu pakai supir saja!"
"Sudah, jangan membantah! Cepat bangun! Bagaimana kau dapat jodoh jika bangunmu saja siang! Bisa-bisa jodohmu di patuk ayam!"
"Ibu!" Rion bangkit dari tidurnya. "Mana ada jodoh dipatuk ayam? Yang ada jodohnya dipatuk teman!"
"Nah, itu kau tahu! Ayo, bangun! Ibu ingin mengajakmu makan siang diluar." Marinka berlalu setelah membangunkan putranya.
Dengan malas Rion bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Rion keluar dari kamarnya dan turun menemui Marinka. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat putranya yang sudah rapi dengan setelan kemeja lengan pendek dan celana jeansnya.
"Kau sangat tampan, putraku," puji Marinka dengan membelai wajah Rion.
Rion hanya membalas dengan seulas senyum. Mereka berdua pun pergi mengendarai mobil Rion yang sudah lama tak dipakainya.
"Mobilnya masih enak dipakai, Bu. Apa kalian merawatnya dengan baik?"
"Tentu saja. Semua barang-barangmu selalu ibu rawat dengan baik."
Ada rasa sesak di hati Rion mendengar jawaban Marinka. Sungguh selama ini ia telah menyakiti hati orang-orang yang peduli padanya.
Marinka meminta Rion berhenti di depan sebuah halte bus.
"Berhenti disini, Nak!" perintah Marinka.
"Eh?" Rion mengernyitkan dahi ketika melihat Marinka keluar dari mobil.
Marinka menemui seseorang yang sedang menunggu di halte bus.
"Shelo!" panggil Marinka.
"Eh? Bibi Marinka?" balas Shelo sambil melepas headset di telinganya.
"Kau sedang menunggu bus?"
"Iya, Bi. Bibi mau kemana?"
"Bibi sengaja ingin mengajakmu. Ayo ikut dengan Bibi. Bibi akan mengantarmu pulang ke rumah."
"Tapi, Bi..."
"Bibi sudah izin dengan mamamu."
Tanpa bisa menolak, Shelo pun mengikuti ajakan Marinka.
Shelo terkejut karena Marinka memintanya untuk di bangku depan. Ia makin terkejut setelah melihat sosok yang sudah lama tak dilihatnya.
"Kak Rion?" sapa Shelo yang melihat Rion sedang memainkan ponselnya.
"Eh?" Rion menoleh dan mengingat-ingat siapa gadis yang duduk di sampingnya.
"Rion, ini Shelo, putrinya kak Julian dan Kak Tika," papar Marinka.
"Oh, Shelo?" Rion baru menyadari jika Shelo yang dulu dikenalnya masih anak-anak kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.
Shelo menganggukkan kepala seraya menjawab keingintahuan Rion.
"Aku baru tahu kalau Kak Rion sudah kembali ke kota ini," batin Shelo.
Mobil pun kembali melaju ke sebuah rumah makan yang sudah dipesan oleh Marinka.
"Jadi, saudara sepupu Boy sudah jadi anak SMA? Apa aku coba bertanya padanya saja tentang Boy? Ah, tidak tidak! Rasanya aneh jika aku tiba-tiba bertanya pada Shelo," batin Rion.
Tiba di sebuah rumah makan, Marinka menuju ke sebuah ruang pribadi yang biasa ia gunakan saat sedang berkumpul bersama teman-temannya. Shelo merasa canggung dengan situasi ini.
"Untuk apa Bibi Marinka mengajakku makan siang? Ditambah lagi dengan kehadiran Kak Rion. Sebenarnya apa yang direncanakan oleh Bibi Marinka?" Batin Shelo terus bertanya-tanya.
Selama makan siang berlangsung, tak banyak kata yang terucap dari bibir Rion maupun Shelo. Tentu saja ini adalah sesuatu yang janggal. Rion juga merasa ada yang tidak beres dengan sikap ibunya yang begitu baik dan perhatian pada Shelo.
......***......
Malam itu, Maliq dan Marinka datang berkunjung ke rumah Julian dan Kartika. Sebelumnya Marinka sudah menghubungi Kartika jika malam ini mereka akan berkunjung sekedar untuk makan malam bersama.
Di sela-sela perbincangan hangat yang terjadi, Maliq tiba-tiba mengutarakan niatnya untuk menjodohkan putranya, Rion dengan Shelo. Sontak hal itu membuat Julian dan Kartika cukup terkejut.
"Putri kami masih 17 tahun, Maliq," balas Julian.
"Iya, kami tahu. Tapi entah kenapa, aku merasa sangat menyukai Shelo. Dia gadis yang baik dan manis. Bahkan dia sudah menolong kami di saat orang lain malah tidak peduli dengan sekelilingnya," sahut Marinka.
Julian dan Kartika saling pandang.
"Masa depan Shelo masih panjang. Dia bahkan belum lulus sekolah," ujar Kartika.
"Kami mengerti. Kami akan menunggu hingga Shelo siap. Yang terpenting adalah restu dari kalian sebagai orang tua Shelo. Kami sangat berharap jika Shelo bisa mengisi kekosongan hati Rion selama ini," imbuh Marinka. Sepertinya Marinka sangat bersemangat untuk menjodohkan Rion dengan Shelo.
Kartika kembali melirik kearah Julian.
"Terima kasih atas niat baik kalian. Sebenarnya, kami juga senang karena Shelo akan mendapatkan jodoh yang baik seperti Rion," sahut Julian.
"Syukurlah jika kalian menerima putra kami. Semoga perjodohan ini akan berjalan dengan baik nantinya," ucap Maliq dengan wajah sumringah. Ia juga sudah tak sabar ingin melihat rona bahagia dari wajah putranya.
Sementara di ruangan berbeda, Shelo mendengar semua percakapan antara orang tuanya dan orang tua Rion.
"Dijodohkan? Yang benar saja! Aku bahkan masih 17 tahun." Shelo menghela napasnya pelan.
"Kak Rion memang orang yang baik. Tapi... Kenapa mendadak begini?" Shelo melangkahkan kembali kakinya menuju kamar.
Shelo merebahkan diri diatas ranjang empuknya. "Bukankah selama ini Kak Rion menyukai Kak Aleya? Kenapa juga mama dan papa menyetujui perjodohan ini?"
Shelo bergulang-guling diatas ranjang. "Ah, entahlah! Aku tidak akan memikirkan itu lebih dulu. Saat ini aku harus bersiap untuk ujian akhir lalu mendaftar ke universitas. Jangan pikirkan apa pun, Shelo!" ucap Shelo pada dirinya sendiri.
......***......
Di sisi Rion, ia amat terkejut setelah ayah dan ibunya mengatakan semuanya pada pria itu. Sebenarnya ia ingin memberontak, tapi rasanya sangat akan menyakiti hati ibunya yang terlihat sangat menyukai Shelo.
Maka Rion menolak dengan mengatakan alasan-alasan yang logis.
"Bu, gadis itu baru berusia 17 tahun. Mana bisa aku menikah dengan gadis di bawah umur!"
"Kalian akan menikah ketika dia sudah siap, Nak. Lagi pula, kalian bisa saling mengenal dulu sebelum kalian menikah. Dia adalah gadis yang baik. Ibu yakin dia adalah gadis yang terbaik untukmu," balas Marinka.
Rion tak bisa berkata-kata lagi. Ia tak ingin kembali menyakiti perasaan Marinka. Cukup dengan kepergian dirinya selama beberapa tahun ini.
Maliq mengusap punggung Marinka agar lebih tenang. Ia juga memberi kode pada Rion untuk tidak membantah apa pun keinginan Marinka. Rion mengalah dan memilih pergi.
.
.
.
Dan disinilah Rion sekarang, sebuah tempat yang sudah lama tidak ia datangi bersama teman-temannya. Rion memesan sebuah minuman dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi.
Tak lama sebuah tangan menepuk pelan bahu Rion. Setelah Rion tiba, ia menghubungi Kenji yang ia tahu kini sudah kembali ke kota ini.
"Sejak kapan kau jadi suka minum, huh?!" ucap Kenji yang langsung memposisikan dirinya duduk di sebelah Rion.
Kenji memberi kode pada bartender memesan minuman kesukaannya.
"Hei, kawan. Kau tidak menjawabku!" kesal Kenji.
"Aku hanya sedang ingin minum saja," balas Rion.
"Cih, jika kau hanya ingin mengabaikanku sebaiknya kupanggil wanita saja!"
"Kau masih belum berubah, Ken. Kau masih suka main perempuan?" Sorot mata Rion menatap tajam kearah Kenji.
Kenji tertawa. Ia hanya ingin menguji kesabaran temannya saja.
"Tidak, kawan. Aku sudah berhenti. Lagi pula aku malu pada putraku." Kenji menyesap minumannya.
"Jadi, kalian mengasuh Andra bersama-sama?" tanya Rion.
"Yup. Aku, Zetta dan Dion sudah sepakat."
"Baguslah. Semua orang sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing. Hanya aku yang masih menyendiri dengan nasib burukku!"
"Jangan bicara begitu! Kau juga bisa merasakan kebahagiaan."
"Entahlah..." ucap Rion pasrah.
Kenji melihat ada yang tidak beres dengan temannya ini. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Aku tahu kau bukan orang yang terbiasa datang ke klub malam."
"Aku sudah dijodohkan."
"What?! Bukankah itu kabar gembira? Dengan siapa, kawan?" Kenji terlihat sumringah dengan pernyataan Rion.
"Sepupunya Boy."
"Sepupu Boy? Shelo maksudmu?" Kenji memastikan.
"Yeah, siapa lagi."
"Itu bagus, kawan. Dia adalah gadis yang baik dan manis."
"Dia masih 17 tahun, Ken. Apa kau gila? Usia kami terpaut 13 tahun!"
"Apa yang salah dengan itu? Banyak juga yang mendapat lebih muda darimu."
Rion menghela napasnya.
"Terimalah dan jangan kabur seperti Boy!" Kenji menepuk bahu Rion.
Rion terbelalak. "Apa katamu? Boy kabur?"
Kenji menatap Rion dengan mata yang menyipit.
"Kau tidak tahu? Apa Dion tidak memberitahumu?"
Rion menggeleng.
"Dan kau tidak bertanya?" Kenji memastikan lagi.
Kembali Rion menggelengkan kepalanya. Banyak sekali pertanyaan yang ada di benaknya.
"Apa yang terjadi dengan Boy?" Akhirnya Rion menanyakan apa yang menjadi ganjalan hatinya.
"Dia...."
...#bersambung...
*Wah kira2 apa yg sebenarnya terjadi dengan Boy ya?
*Maap UP nya dikit karena makthor lagi gak enak body. Kalo udah sehat makthor akan kembali dgn crazy up, hehehehe