Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 143. Ada Apa Denganmu?


Rion menatap layar ponselnya nanar. Tidak biasanya Aleya tidak menjawab panggilan darinya.


"Ada apa dengan Aleya?"


Rion memutuskan untuk menuju ke kampus Avicenna. Ia bertanya pada para mahasiswa disana karena tidak menemukan Aleya di kelasnya. Tentu saja dia tidak menemukannya karena kelas Aleya sudah selesai sejak pukul 10 pagi dan sekarang sudah pukul 12 siang.


"Kau dimana, Aleya?" Rion memijat pelipisnya pelan.


"Apa dia sudah kembali ke rumah Zetta?"


Dengan penuh harap, Rion mengemudikan mobilnya menuju rumah Zetta.


Tiba disana rumah itu terlihat sepi. Meski ragu, Rion akhirnya memberanikan diri untuk menekan bel pintu rumah Zetta.


"Selamat siang," sapa Rion sopan.


"Selamat siang. Maaf, tuan mencari siapa?" tanya Imah.


"Saya mencari Aleya. Apa dia ada di rumah?" tanya Rion.


"Kau siapa?" Andra tiba-tiba datang dengan berkacak pinggang berhadapan dengan Rion.


"Heh?! Siapa anak ini?" Batin Rion.


"Tolong panggilkan Aleya! Saya harus bertemu dengannya." tegas Rion yang mulai tterbawa emosi.


"Jadi Paman yang sudah membuat Bunda menangis!" teriak Andra.


Rion melongo. "Bunda? Menangis?" Rion menatap Andra dengan tatapan tak percaya.


"Siapa anak ini? Siapa yang dia maksud dengan bunda? Apakah Aleya?" Lagi-lagi batin Rion bermonolog ria.


Karena tak ingin semua semakin rumit, Rion memutuskan untuk masuk ke rumah Zetta tanpa mempedulikan Andra dan juga Imah.


"Aleya! Aleya dimana kau? Aleya!" teriak Rion yang membuat Andra makin naik pitam.


"Paman ini siapa? Masuk kerumahku tanpa izin! Dasar tidak sopan!" Andra menendang kaki Rion.


"Aw!" pekik Rion.


"Cepat keluar! Bi Imah, suruh Paman ini keluar," titah Andra.


"Bibi, katakan dimana kamar Aleya? Aku harus bertemu dengannya!"


Imah bingung harus memilih membela siapa.


"Tuan kecil, sebaiknya kita izinkan saja Tuan ini menemui Nona Aleya. Mungkin dia bisa membuat Nona Aleya tidak menangis lagi," usul Imah.


"Katakan dimana kamar Aleya, Bi? Aku mohon!" Rion memohon dengan memelas.


Imah menatap Andra dengan meminta persetujuan bocah kecil itu.


"Huft! Baiklah, tunjukkan dimana kamar bunda."


Imah segera menuntun Rion menuju kamar Aleya.


Tiba di depan kamar Aleya, Rion segera mengetuk pintu.


"Aleya! Ini aku! Buka pintunya! Aleya!" Rion berteriak di depan kamar Aleya.


Aleya yang terduduk di belakang pintu segera menutup mulut agar suara tangisnya tidak sampai terdengar oleh Rion.


"Pergilah, Kak. Aku tidak apa-apa." jawab Aleya dengan menahan tangisnya.


"Aleya, kau baik-baik saja kan?" tanya Rion cemas.


"Aku baik-baik saja, Kak. Tolong pergilah! Maaf karena aku tidak bisa makan siang bersamamu."


Rion tidak menjawab lagi. Ia menatap Imah dan Andra bergantian.


"Jadi bukan Paman yang sudah membuat Bunda menangis?" Andra merasa menyesal sudah menuduh Rion.


Rion tidak menjawab dan malah pergi meninggalkan Andra dan Imah. Karena merasa tidak enak hati, Imah mengejar Rion untuk meminta maaf.


"Tuan, tunggu sebentar!"


Rion menghentikan langkahnya.


"Tolong maafkan Tuan Andra. Dia masih kecil jadi tidak tahu masalah orang dewasa." ucap Imah.


"Sebenarnya dia anak siapa?" tanya Rion yang sedari tadi penasaran dengan Andra.


"Dia adalah putra Nona Zetta. Dia memang memanggil Nona Aleya dengan panggilan bunda."


Rion bernapas lega. Ia sudah berpikiran buruk tentang Aleya.


"Saya sudah memaafkannya. Bi, tolong hubungi saya jika terjadi sesuatu dengan Aleya." Rion menyerahkan kartu namanya pada Imah.


"Baik, Tuan."


Rion segera berlalu dari rumah Zetta. Sungguh ia masih tak tega meninggalkan Aleya sendiri di saat ia sedih seperti ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" Rion memijat pelipisnya pelan sambil melajukan mobilnya perlahan.


......***......


Nathan masih mencari keberadaan gadis yang menarik perhatiannya. Ia kehilangan jejak gadis itu karena Shelomita menghubunginya.


"Ah, sialnya! Ini gara-gara Shelo. Aku jadi kehilangan gadis cantik itu kan!" sungut Nathan dengan memukul udara.


"Ada apa? Apa kau sedang kesal, sayang?" Lian datang menghampiri Nathan.


"Eh, Mama! Tidak ada, Ma."


"Kau sudah tidak ada jam kuliah, Nak?"


"Dari ruang administrasi. Memeriksa berkas penerimaan mahasiswa baru."


"Oh ya, Ma. Aku ingin meminta tolong pada Mama."


"Minta tolong apa?"


Saat akan mengutarakan maksudnya, tiba-tiba ponsel Nathan kembali berdering. Sebuah panggilan dari Shelo.


"Iya, Shel. Kakak akan segera menuju kesana." Nathan langsung menutup panggilan tanpa mendengar penjelasan Shelomita.


"Ma, aku harus pergi."


"Iya. Pergilah, Nak. Shelo pasti sudah menunggumu. Hati-hati menyetirnya."


Nathan mengangguk kemudian meninggalkan Lian.


.


.


.


Seperti biasa Shelo meminta Nathan untuk mentraktir eskrim di kedai eskrim langganannya.


"Kak, aku mau eskrim vanilla dan stroberi," seru Shelo.


"Iya, iya, terserah kau saja."


Shelo langsung menuju kasir dan memilih eskrim kesukaannya. Sedangkan Nathan menunggu Shelo duduk di bangku dan memainkan ponselnya.


"Astaga! Dimana-dimana aku harus bertemu denganmu!"


Suara khas seorang gadis membuat Nathan menoleh kearahnya.


"Kau!" tunjuk Nathan dengan sengit. "Kau sendiri sedang apa disini? Mengganggu pemandangan saja!"


Gadis yang tak lain adalah Ivanna menggelengkan kepala mendengar pernyataan Nathan.


"Kaulah yang merusak pemandangan! Apa sekarang kau jadi penyuka anak-anak, huh! Kau bersama dengan gadis kecil yang masih lugu. Apa kau ingin membodohinya?"


"Hei! Jaga bicaramu! Dia adalah sepupuku, anak Paman Julian."


"Ups, sorry jika aku salah. Habisnya tampangmu ini memang tampang pedofil sih!"


"Aku tidak paham kenapa Bibi Fajira dan Paman Irfan bisa memiliki putri yang bar-bar sepertimu. Kau benar-benar sangat berbeda dengan orang tua dan kakakmu!"


"Apa katamu?! Dasar pedofil!" Ivanna melenggang pergi meninggalkan Nathan.


"Ish! Awas saja dia! Jika dia bukan adik Kak Fajri, sudah kuberi pelajaran!" geram Nathan.


"Kakak, ada apa? Kenapa kakak kesal?" tanya Shelo dengan memegang dua eskrim ditangannya.


"Kau lihat dia!" Nathan menunjuk kemana arah Ivanna berjalan.


"Oh, bukankah dia adiknya Kak Fajri?"


"Iya, tapi dia sangat menyebalkan! Entah kenapa aku selalu bertemu dengannya di saat yang tidak tepat!"


"Ciyee! Jangan-jangan kakak berjodoh dengannya!" Shelo menyenggol lengan Nathan.


"Apa yang kau bicarakan? Kau masih 13 tahun dan sudah membicarakan hal yang tidak masuk akal. Sudah, ayo pulang!" Nathan segera berjalan menuju mobilnya.


......***......


Ivanna pulang ke rumah dengan menekuk wajah cantiknya.


"Sayang, kau sudah pulang? Ada apa dengan wajahmu? Kenapa cemberut begitu?" tanya Fajira.


"Aku sedang kesal, Buna. Aku bertemu dengan orang yang menyebalkan di kedai eskrim tadi."


"Siapa yang sudah berani membuat anak ayah yang cantik ini kesal?" Irfan ikut bergabung dengan istri dan putrinya.


"Ayah! Aku sangat kesal pada Nathan! Dia benar-benar menyebalkan! Dia bilang aku adalah gadis bar-bar!" keluh Ivanna yang kini berada di pelukan ayahnya.


Fajira dan Irfan menahan tawanya.


"Sudah jangan dipikirkan. Nathan adalah anak yang baik. Mungkin kau perlu mengenalnya lebih dekat," nasihat Fajira.


"Baik apanya? Dia selalu membuatku kesal."


"Sudah, sebaiknya kau istirahat dulu. Kau pasti lelah."


Tanpa menjawab lagi, Ivanna segera berlalu menuju kamarnya.


"Sayang, entah kenapa aku merasa jika Ivanna akan cocok bersama Nathan. Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka? Aku akan bicara dengan Roy dan Lian," usul Irfan.


"Ish, Mas. Ivanna masih terlalu muda untuk menikah," tolak Fajira.


"Dia tidak akan menikah sekarang, sayang. Kita hanya mengenalkan mereka saja dulu. Biasanya pasangan yang selalu bertengkar ujung-ujungnya mereka berjodoh."


"Entahlah, Mas. Biarkan saja Ivanna memilih jalan hidupnya sendiri. Kita hanya mengarahkan saja."


"Iya, sayang. Ini kan baru rencana." Irfan membawa Fajira kedalam pelukannya.


...B E R S A M B U N G...


*Kisah Irfan dan Fajira ada di karya milik Bucin fi sabilillah. Terima kasih dedek bucin sudah bersedia collab 😬😬


...Jumuah barokah,...


Semoga hari ini membawa berkah untuk kita semua. Aamiin.