Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 23. Kekhawatiran Belinda


Belinda hanya terdiam selama perjalanan menuju butik Jimmy. Hatinya memikirkan Roy yang sudah ia bohongi. Sungguh ia tak ingin berbuat begini. Tapi rasanya sulit untuk bisa mencerna semua rangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalunya dan juga masa kini. Ia ingin dunia tahu jika dirinya adalah Putri Berlian. Tapi ketakutan akan kehilangan banyak orang yang disayangi membuat Belinda teguh pada pendiriannya untuk menyembunyikan identitasnya.


Patrick memandangi Belinda dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Meski semua yang mereka lakukan adalah hanya sandiwara semata di depan Roy. Namun dalam hatinya Patrick ingin bisa meraih rasa itu dengan arti yang sebenarnya.


"Bels! Kita sudah tiba di butik Jimmy."


"Eh? Sudah sampai ya? Maaf ya aku melamun."


"Tidak apa. Aku tahu perasaanmu pasti berkecamuk."


"Iya, Pat. Aku tidak tega harus membohongi dokter Roy. Tapi di satu sisi, aku tidak mau ada yang ingin mencelakai Boy."


"Hu'um, kau tenang saja. Ada aku dan Kenzo."


Belinda mengangguk. "Aku pergi dulu ya!"


"Oh ya, Bels. Mana jepit rambut yang kuberikan padamu? Kau tidak memakainya?"


"Oh, aku membawanya di tasku."


"Kalau bisa kau harus memakainya, Bels."


"Eh? Kenapa?"


"Tidak ada. Hanya saja kau terlihat cantik jika memakainya jepit rambut."


Belinda tertawa. "Terima kasih atas pujiannya."


"Itu kenyataan, Bels."


"Hati-hati menyetirnya." Belinda turun dari mobil lalu melambaikan tangan pada mobil Patrick.


Tanpa Belinda sadari, sebuah mobil sedari tadi mengikutinya dan menatap Belinda dalam diam.


"Kenapa harus dia? Kenapa harus dia yang menjadi ayah Boy? Apa karena itu Boy mirip denganku? Karena ada darah yang sama yang mengalir dalam tubuh Boy." batin pria yang tak lain adalah Roy.


Roy kembali melajukan mobilnya dan menuju ke rumah sakit.


......***......


Belinda tak bisa fokus dalam bekerja. Berkali-kali Jimmy mengingatkan Belinda. Akhirnya ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya.


"Ada apa, Bella? Kau sedang ada masalah?"


"Tidak, Jim. Aku hanya..."


"Sudahlah. Istirahat saja dulu. Kita akan lanjutkan pekerjaanmu nanti."


"Terima kasih, Jim." Belinda merebahkan diri di sofa. Banyak hal yang saat ini ia pikirkan. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Conrad Webster, pimpinan FBI.


Ditempat berbeda, Roy sedang memandangi hasil temuan Boy dan juga beberapa foto masa kecil Roy yang sangat mirip dengan Boy.


"Aku sangat yakin jika kau adalah putraku. Tapi bagaimana dengan ibumu yang menyangkalnya? Dia bahkan bilang jika kau adalah anak Julian. Ada apa ini sebenarnya?"


Roy memijat pelilpisnya pelan sambil memejamkan mata. Roy mendengar pintu ruangannya diketuk. Munculah Ben dari balik pintu.


"Tuan memanggilku?" tanya Ben.


"Iya, Ben. Aku ingin kau menyelidiki sesuatu."


"Apa itu, Tuan?"


"Tolong kau selidiki sejak kapan Julian ada di kota ini."


"Julian? Kakak Tuan?" Ben cukup terkejut dengan permintaan Roy.


"Iya. Aku baru bertemu dengannya tadi. Dan ternyata dia tinggal satu apartemen denganku."


"Eh?"


"Dan juga, cari tahu semua tentang wanita bernama Belinda. Dia adalah ibunya Boy. Dia bekerja sebagai model di butik milik Jimmy Choo, desainer terkenal di kota ini."


"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan!"


"Terima kasih, Ben."


Roy menatap ke depan menerawang jauh.


"Aku tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlarut. Sudah bertahun-tahun aku tak menemukan titik terang. Kini aku harus bisa menemukan jawabannya." ucap Roy dengan penuh keyakinan.


......***......


"Apa, Pat? Pembatalan misi? Yang benar saja?!" Kenzo berseru didepan Patrick.


"Apa kau tidak merasa aneh?"


"Aneh bagaimana?"


"Apa mungkin Belinda ada di balik semua ini?"


"Kau jangan bicara sembarangan, Ken. Mana mungkin Belinda...." Patrick menghentikan kalimatnya.


"Kau benar. Meski aku sudah bilang padanya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Boy karena ada aku dan kau yang akan menjaganya. Tapi sepertinya Belinda tidak bisa dibujuk dengan mudah." Patrick berkacak pinggang.


"Lantas apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


"Entahlah. Kita tunggu perintah selanjutnya saja. Nanti malam aku akan bicara dengan Belinda. Kuharap dia bisa mengerti."


Kenzo mengangguk paham.


.


.


.


Malam pun tiba, Belinda menyiapkan makan malam spesial hari ini. Semua menu makanan kesukaan Boy telah ia masak. Karena tadi ia pulang lebih awal, jadi Belinda bisa menyiapkan menu spesial hari ini.


"Wah, Mama memasak semua makanan kesukaan aku. Terima kasih, Ma."


"Iya, Nak. Mama sengaja membuatnya untukmu." balas Belinda dengan tersenyum manis.


Patrick dan Kenzo hanya bisa saling pandang. Sepertinya mereka tahu apa maksud Belinda yang sebenarnya.


Usai makan malam, Kenzo dan Riana mengajak Boy bermain bersama. Patrick meminta waktu untuk bicara dengan Belinda. Belinda membawa Patrick ke kamarnya.


"Bels, aku ingin bicara soal..."


"Aku sudah tahu. Kau pasti ingin membujukku agar tidak membatalkan misi Boy. Benar 'kan?" Belinda melipat tangannya kedepan dada.


"Bels, kau tahu jika Boy sangat menyukai pekerjaannya."


"Tapi aku lebih tahu mana yang terbaik untuk anakku. Kumohon mengertilah, Pat. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan putraku. Sudah cukup aku mengalami semuanya tujuh tahun lalu. Aku tidak mau putraku juga ikut menderita."


"Aku akan menjaga putramu dengan baik, Bels. Kau tahu aku sangat menyayangi Boy."


"Tidak, Pat. Aku tetap tidak bisa melakukannya. Mereka mengincar putraku. Bahkan mereka tega menghancurkan kampung halamanku hanya untuk mencariku. Akan lebih baik jika aku tidak pernah kembali kemari." Belinda memalingkan wajahnya.


"Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik, Bels. Kau tidak bisa memutuskan secara sepihak apa yang menjadi keinginan Boy."


"Boy masih terlalu kecil, Pat. Jadi aku yang akan memutuskan apakah dia perlu melanjutkan pekerjaannya atau tidak. Dan kurasa dia tidak perlu melanjutkannya."


"APA?! Jadi Mama membatalkan misiku?" Tanpa Belinda sadari, Boy mendengar pembicaraan ibunya dan Patrick.


Boy marah dengan keputusan sepihak Belinda. "Kenapa, Ma? Bukankah Mama tahu aku sangat menyukai pekerjaanku?" Boy berbalik badan dan menuju kamarnya.


Dengan cepat Belinda mengikuti langkah Boy. Boy menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Sayang, tolong dengarkan Mama dulu!" Belinda menggedor pelan pintu kamar Boy.


"Jangan begini, Nak. Berikan kesempatan mamamu untuk menjelaskan semuanya." Patrick membantu Belinda. Namun semua percuma. Boy masih terdiam di kamarnya.


Belinda meringkuk di depan pintu kamar Boy. Air matanya kini luruh mambasahi pipi.


"Tolong dengarkan Mama, Nak. Mama sangat menyayangimu. Mama tidak ingin kau celaka." ucap Belinda dengan sesenggukan.


"Bels, sebaiknya kita biarkan Boy sendiri dulu. Dia pasti butuh waktu untuk menerima semua ini." ucap Patrick.


Belinda mengangguk.


"Sebaiknya kau istirahat, Bels. Kondisimu tidak memungkinkan untuk membahas lebih jauh."


"Terima kasih, Pat."


Patrick memapah tubuh Belinda masuk kedalam kamarnya. Belinda memberikan senyum yang indah untuk Patrick.


......***......


#bersambung...


*😡😡😡😡


*Terima kasih untuk yg sudah setia menanti cerita ini UP πŸ™πŸ™πŸ™


*jangan lupa tinggalkan jejak ya genks 😘😘