
...Sepertinya aku akan selalu terikat denganmu...
...Iya, kamu...
...Dan selalu hanya kamu...
......***......
Suasana makin terasa canggung diantara Rion, Aleya dan Nathan. Rion menatap Nathan dengan penuh kecurigaan.
Untungnya Aleya kembali masuk ke dalam kamar karena Andra memanggilnya. Rupanya Nathan memperhatikan interaksi antara Aleya dan Andra.
"Kak, apa anak itu benar-benar anaknya Aleya?" tanya Nathan menyelidik.
"Bukan urusanmu!" jawab Rion sinis.
"Ayolah, Kak. Aku bukan kakakku. Aku tidak akan menyakiti Aleya. Aku hanya ingin tahu saja. Jadi, dia sudah menikah? Kenapa dia terlihat sangat dekat dengan Kak Rion?" Nathan tidak mudah menyerah untuk mendapat sebuah jawaban.
"Apa kau menyukainya?" tanya Rion.
Nathan tersenyum. "Awalnya iya. Untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang aneh dengan hatiku adalah saat melihatnya. Tapi, saat aku melihat kakak dan Kak Rion berdebat karena dia, aku sadar jika aku masuk juga dalam kehidupannya, maka akan makin memperburuk keadaan."
"Lalu bagaimana kau bisa mengantarnya kesini?"
"Aku melihatnya berlarian panik dan aku menawarkan bantuan. Itu saja!"
Tiba-tiba seorang perawat datang dan menghampiri Rion. Rion berpamitan pada Nathan.
Tak lama Aleya keluar dari kamar dan mendapati Nathan masih disana.
"Kau masih disini?" tanya Aleya.
"Yeah. Aku ... Ingin meminta maaf untuk kejadian waktu itu."
"Lupakan saja!" Aleya duduk di bangku depan kamar rawat Andra.
Nathan merasa jika Aleya tidak menyukainya. Ia memutar otak untuk mencairkan suasana.
"Umm, apa kakakku tidak pernah bercerita tentangku padamu?" Hanya itu saja yang bisa terucap dari bibir Nathan.
"Kami tidak sedekat itu untuk saling bercerita soal masalah pribadi masing-masing." Aleya memalingkan wajahnya.
"Benarkah? Jika kalian tidak dekat bagaimana bisa kakakku hampir membatalkan pernikahannya karena dirimu."
"Eh? A-apa?" Aleya tercengang.
"Kami memang tidak dekat seperti kakak adik pada umumnya. Tapi entah apa yang dirasa olehnya, dia tiba-tiba bercerita setelah kembali dari desa. Dia bilang dia bertemu dengan seorang gadis disana. Dia merasa jika Kak Tasha bukan lagi jantung hatinya seperti dulu yang pernah ia rasakan. Aku tidak paham maksudnya karena saat itu aku masih 16 tahun. Tapi kurasa apa yang dirasakan kakakku bukan sekedar cinta sesaat yang tumbuh lalu hilang begitu saja. Kurasa hingga sekarang pun kakakku masih menyimpanmu dalam hatinya."
Aleya hanya diam mendengarkan cerita Nathan. Entah kenapa Nathan mengatakan semua itu pada Aleya.
Ponsel Nathan berdering. Sebuah panggilan dari Shelo seperti biasa.
"Aku harus pergi. Aku harus menjemput adikku. Semoga putramu lekas sembuh. Aku permisi!" Nathan sedikit membungkukkan badan kemudian berlalu.
Aleya memegangi dadanya yang terasa sesak. Kenapa di saat dirinya ingin membuka hati untuk pria lain, ia justru mendengar hal tak terduga seperti ini?
Aleya menahan diri agar tidak menangis. Bahkan menangis sekarang pun rasanya percuma. Takdirnya dan Boy sudah berjalan sendiri-sendiri. Tak ada lagi kata bersama disana.
Aleya memutuskan masuk ke dalam kamar. Ia melihat Nathan telah terpejam.
"Dia sudah tidur?" tanya Aleya.
"Iya, Nona. Tuan kecil tertidur setelah bicara dengan Nona Zetta di panggilan video," jelas Imah.
"Astaga! Aku lupa menghubungi Kak Zetta!" Aleya menepuk jidatnya.
"Tadi Nona Zetta bilang ia menghubungi Nona Aleya tapi tidak tersambung. Makanya Nona Zetta menghubungi saya dan bicara dengan tuan kecil."
Aleya merogoh ponsel di tasnya.
"Maaf, Bi. Aku lupa mengisi daya ponselku. Apa kau membawa pengisi daya?"
"Iya, Nona. Ini Nona pakai saja."
Aleya segera mengisi daya baterai ponselnya.
"Bi, aku ingin ke kantin, apa kau ingin kubelikan sesuatu?" tanya Aleya.
"Tidak perlu, Nona."
"Hmm, kubelikan beberapa camilan saja untuk disini. Aku pergi dulu."
Aleya berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju ke sebuah resto yang ada disana. Ia memesan coklat hangat untuk menetralkan hati dan pikirannya.
Aleya menyesap sedikit demi sedikit coklat panas yang dipesannya.
"Kenapa aku harus mengetahui semuanya sekarang? Kenapa disaat aku mulai bisa menerima Kak Rion dalam hidupku. Kenapa harus ada kenyataan yang seperti ini?" gumam Aleya dalam hati.
"Aleya!" Sebuah suara membuyarkan lamuannya.
"Kak Dion?" Aleya menatap Dion yang sedang membawa satu cup kopi di tangannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Dion.
"Keponakan? Siapa?" Dion merasa ingin tahu. Dan Aleya sengaja memancingnya.
"Anaknya Kak Zetta."
"Anaknya Zeze? Kenapa dengan anak itu?" Dion panik saat mendengar nama Zetta disebut.
"Kak Rion bilang kemungkinan dia salah makan. Tapi dia akan memeriksanya lebih lanjut. Makanya dia meminta agar Andra dirawat inap hingga beberapa hari," jelas Aleya.
Dion nampak memikirkan sesuatu. Tergambar jelas di wajahnya jika ia sedang merasa cemas.
"Kak Dion? Kakak baik-baik saja?" Suara Aleya menyentak lamunan Dion.
"Eh? Iya, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku permisi dulu."
Dion pergi dengan terburu-buru dan meninggalkan tanda tanya besar di benak Aleya.
"Aku merasa sikap Kak Dion berubah aneh setelah mendengar kabar soal Andra. Apa benar yang aku dan Kak Rion curigai jika Kak Dion adalah ayah kandung Andra? Dilihat dari raut wajahnya yang cemas, sudah bisa dipastikan ada sesuatu diantara mereka," batin Aleya.
......***......
Boy kembali ke rumah dan disambut oleh ibu dan ibu mertuanya. Raut wajah mereka terlihat cemas dan membuat Boy curiga.
"Ada apa ini?"
"Ah, Nak. Akhirnya kau pulang juga. Cepat kau temui putrimu. Sejak siang tadi Aurel terus mengurung diri di kamarnya dan dia juga tidak mau makan," cerita Lian.
"Ya Tuhan! Kenapa memangnya? Apa terjadi sesuatu dengannya?" Boy ikut panik.
"Entahlah, Nak. Dia tidak mau bicara dengan kami. Mungkin dia hanya mau bicara denganmu." Kini giliran Riana yang menyahut.
"Tentu saja Aurel hanya mau bicara dengan ayahnya. Karena apa? Karena putrimu itu tidak pernah peduli padanya. Dia hanya mementingkan karirnya saja," timpal Lian dengan nada sinis.
"Tolong kalian jangan mulai lagi perdebatan ini!" lerai Boy.
"Sudah, Nak. Ayo kita ke kamar Aurel saja," ajak Lusi dengan menggandeng tangan Boy.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakan mama dan ibu mertuamu itu. Kau pikirkan saja tentang Aurel," nasihat Lusi.
Tiba di depan kamar Aurel, Boy dan Lusi masih diam.
"Tadi Nenek meminta Nathan untuk membujuk Aurel. Semoga saja dia berhasil."
Boy mengangguk.
"Nak, apapun yang terjadi dengan rumah tanggamu, hanya kau dan Natasha saja yang berhak menentukan masa depan kalian. Baik nenek, orang tuamu, dan juga ibu mertuamu, mereka tidak berhak mencampuri urusan kalian. Jadi, jangan dengarkan mereka ya!" Lusi merangkum wajah Boy.
"Iya, Nek. Boy mengerti."
Nathan keluar dari kamar Aurel.
"Bagaimana?" tanya Lusi.
Nathan menggeleng. "Sepertinya dia hanya mau bicara dengan ayahnya saja. Kak, masuklah! Kasihan dia!"
Boy mengangguk paham kemudian masuk ke dalam kamar Aurel.
Aurel masih cemberut ketika melihat Boy menghampirinya.
"Ada apa kesayangan Papa? Kenapa wajah cantiknya ditekuk begitu?"
"Pa, aku sudah melakukan kesalahan."
"Eh? Kesalahan? Kesalahan apa?"
"Tadi aku mengajak temanku untuk makan camilan di luar sekolah. Setelah itu dia mengalami kesakitan lalu sekarang dia dirawat di rumah sakit. Ini semua karena aku, Pa," tutur Aurel dengan polosnya.
"Ada kemungkinan temanmu itu mengalami alergi. Lalu, apa yang Aurel inginkan?"
"Aku ingin menjenguknya di rumah sakit. Bisakah Papa mengantarku kesana? Dia di rawat di rumah sakit Papa."
Boy tersenyum. "Iya, sayang. Besok Papa akan mengantarmu menjenguk temanmu itu. Nah sekarang, Aurel harus makan dulu ya! Nenek bilang kau belum makan sejak siang."
Aurel mengangguk dan langsung membuka mulutnya. Ia pun makan dengan lahap. Setelah melahap habis makanannya, Aurel terlelap tidur.
Boy memperhatikan wajah damai Aurel saat terpejam.
"Andai saja Aleya lah yang menjadi ibumu. Kau pasti tidak sesedih ini karena menyimpan rasa bersalah," lirih Boy sambil mengusap puncak kepala Aurel dan memberi kecupan disana.
Bayangan akan kelembutan hati Aleya dan betapa cerianya gadis itu saat bermain bersama anak-anak, kembali memenuhi pikiran Boy. Hal itu membuatnya menarik sudut bibirnya keatas.
...B E R S A M B U N G...
*Bagaimana nanti saat Boy dan Aurel bertemu Aleya dan Andra di rumah sakit?
Duh, kok aku lagi2 deg2an ya menantikan pertemuan mereka, hi hi hi
...Selamat Hari Selasa...
Semoga berkah untuk kita semua, aamiin.