Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 45. Berita Kematian Gerald


Kenzo dan Boy masih berusaha melacak keberadaan Eric Kim dengan meretas nomor ponsel yang di pakainya. Tak lupa Patrick juga meminta bantuan Danial, si kepala polisi untuk menyebarkan foto wajah Eric di beberapa tempat umum.


Entah kenapa perasaan Roy mengatakan jika Eric berencana kabur ke luar negeri. Maka beberapa orang kepercayaannya ia tempatkan di tempat umum seperti stasiun, terminal maupun bandara.


Roy sangat yakin jika hari ini dia pasti menemukan keberadaan Belinda. Tak lama, Kenzo mendapat telepon dari anak buahnya yang ia tempatkan di bandara.


Semua orang menatap kearah Kenzo. Mereka menunggu kabar baik darinya.


"Bagaimana, Ken?" tanya Patrick.


"Orang-orangku berhasil menemukan Eric. Mereka sudah menangkapnya."


"Baiklah, kalau begitu mari kita langsung datang kesana." ajak Roy.


Patrick mengangguk. Roy menghampiri Boy yang sedari tadi cemas.


"Nak, kau disini dulu bersama Bibi Riana. Papa janji papa akan membawa Mamamu pulang."


Boy mengangguk. "Baik, Pa."


Tanpa menunggu lama lagi, Roy, Patrick dan Kenzo segera menuju ke lokasi yang anak buah Kenzo sebutkan.


Begitu tiba di tempat yang ditunjukkan oleh Eric, itu adalah sebuah rumah yang sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Polisi dan Patrick menyisiri ke seluruh tempat itu dan tak menemukan satu orang puj disana.


Roy masuk dan membuka pintu ruangan yang ada disana. Dan akhirnya ia berhasil menemukan Belinda sedang terduduk di lantai dengan pandangan yang kosong.


Roy segera meraih tubuh Belinda dan membawanya pergi dari sana.


......***......


Riana keluar dari kamar Belinda usai memeriksa kondisinya. Semua orang sudah menunggu dengan harap-harap cemas.


"Ri, bagaimana kondisi Belinda?" Roy tak sabar menunggu pernyataan Riana.


"Belinda baik-baik saja. Ia hanya mengalami syok. Sepertinya kejadian beberapa hari ini cukup menguras emosinya." jelas Riana.


Roy mengangguk paham. Ia lalu menghampiri Boy.


"Nak, Mamamu sudah selamat. Sekarang jangan mencemaskan apapun lagi."


"Iya, Pa. Terima kasih karena sudah membawa mama pulang. Terima kasih, Paman Patrick, Paman Kenzo."


"Iya, Nak. Sudah menjadi tugas kami untuk memberantas kejahatan." balas Kenzo.


Setelahnya, Patrick dan Kenzo pamit undur diri untuk kembali ke apartemen mereka. Sedang Roy masih ada disana untuk menemani Boy.


.


.


.


Beberapa hari kemudian,


"Bagaimana, Ri? Apa sudah ada perubahan?" tanya Roy.


"Belum ada, dokter Roy. Belinda masih bungkam dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Sepertinya ia mengalami trauma yang mendalam."


Roy menghela nafas kasar. "Sebenarnya apa yang terjadi di rumah itu? Aku tak bisa menemukan apapun karena Belinda masih bungkam." gumam Roy.


Tiba-tiba ponsel Roy berdering. Sebuah panggilan dari Ben.


"Halo, Ben. Ada apa?"


"Tuan, coba tuan nyalakan televisi."


"Apa? Televisi? Ada apa memangnya?"


"Cepat nyalakan saja, Tuan!" perintah Ben.


"Baiklah." Roy mengakhiri panggilan.


Roy segera bertanya pada Riana dimana remote TV. Riana mengambil dan menyerahkannya pada Roy.


"Ada apa, Dokter Roy?" tanya Riana.


"Aku juga tidak tahu. Ben memintaku untuk menonton televisi."


Begitu televisi menyala, terlihat stasiun tv tengah memberitakan tentang kematian seorang profesor dari Universitas Avicenna, Gerald Rayyan.


Roy dan Riana menutup mulutnya tak percaya. Roy juga sangat terkejut mendengar berita ini. Ia segera berpamitan pada Riana dan Boy.


Roy dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit Avicenna. Tak lupa ia menghubungi Patrick.


"Halo, Jul. Apa kau sudah melihat berita hari ini?"


"Sudah, Roy. Ini aku sedang ada di pemakaman."


"Apa? Pemakaman?"


"Kau segera kesini saja. Aku dan Kenzo sudah ada disini."


"Baiklah." Roy mengakhiri panggilan.


"Julian..." sapa Roy.


"Kau sudah datang?"


Roy mengangguk. "Bagaimana bisa langsung dilakukan pemakaman tanpa adanya proses otopsi?"


"Entahlah. Itu adalah keinginan pihak keluarga Profesor Gerald." jawab Patrick.


"Keluarga Kakek Gerald hanyalah Zara. Apa Zara yang meminta untuk langsung dimakamkan?"


Patrick mengangguk.


"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?"


"Tentu saja ada. Tapi biarlah. Kita akan lihat nanti seperti reaksi Zara saat penyelidikan polisi dan FBI berakhir."


"Kau harus mengusut tuntas kasus ini, Jul. Aku yakin ada yang tidak beres disini."


"Aku tahu, Roy. Kau tenang saja. Sebaiknya kau temui keluargamu." ucap Patrick sambil menunjuk Dandy dan Donald dengan dagunya.


Roy tersenyum tipis. "Mereka adalah keluargamu juga, Julian." Roy menggeleng pelan kemudian berjalan menghampiri ayah dan kakeknya yang ada di barisan paling depan.


Sedangkan Zara, ia bersimpuh di makam kakeknya dengan berurai air mata bersama Helena yang terus menenangkannya.


"Bagus sekali aktingmu, Zara. Kau sudah menculik Belinda dan kini kau juga melenyapkan Kakek Gerald. Kau harus menerima balasannya." Kalimat Roy yang hanya bisa ia ungkapkan dalam hati.


Roy menyapa ayah dan kakeknya bergantian.


"Roy, kau datang, Nak?" ucap Donald.


"Iya, Kek. Aku melihatnya di televisi. Berita tentang kematian Kakek Gerald."


Donald mengangguk paham.


......***......


Roy tiba di apartemennya dan merebahkan diri usai menghadiri pemakaman Gerald. Ia memijat pelipisnya pelan. Baru saja ia merasa tenang karena Belinda sudah ditemukan. Namun kini hatinya kembali resah karena kematian Gerald yang terkesan mendadak setelah menghilang selama satu tahun.


"Aku harus mencari cara agar jasad Kakek Gerald bisa di otopsi." gumam Roy.


Roy memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum melanjutkan pekerjaannya. Tak butuh waktu lama untuk Roy karena ia merasa ia dikejar oleh waktu.


Kemudian Roy menuju ke ruang kerjanya dan memeriksa beberapa file di notebooknya. Baru sebentar membuka file, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Riana.


"Halo, Ri. Ada apa?"


"Dokter, kemarilah segera!" ucap Riana dengan panik.


"Ada apa?"


"Belinda, Dokter..."


"Ada apa dengan Belinda?"


"Dokter cepatlah datang kemari saja!" Riana memutus sambungan telepon secara sepihak.


Roy mengusap wajahnya. "Ada apa lagi ini?"


Dengan tergesa Roy segera keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar Belinda.


Roy menekan bel saat tiba di depan apartemen Belinda.


"Dokter Roy!!" seru Riana.


"Ada apa, Ri? Kenapa kau terlihat panik begitu?"


"Dokter, aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa menyuntik Belinda dengan obat penenang. Dia terus berteriak dan aku tidak tahu harus berbuat apa."


Roy mendengarkan penjelasan Riana dengan seksama. Ia mengerutkan keningnya setelah mendengar jika Belinda histeris saat melihat berita kematian Gerald.


"Dia terus berteriak, mereka membunuhnya, mereka membunuhnya!" jelas Riana dengan memperagakan kalimat yang diucapkan Belinda.


Roy terdiam dan terhenyak. Otaknya dipaksa bekerja lebih keras.


"Jangan-jangan Belinda mengetahui tentang penyebab kematian Kakek Gerald. Makanya dia sampai syok seperti ini." gumam Roy.


......***......


#bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘


👍LIKE


💋COMMENTS


🌹GIFTS


💯VOTE


...THANK YOU...